Tak Terduga

Tak Terduga
Menerobos


__ADS_3

"Rio? mau apa kau kesini?" tanyaku heran.


"Kenapa? menemuimu saja aku tidak boleh! sedangkan Taejun tinggal denganmu di rumah ini boleh," protes Rio menatapku kesal.


"Tentu saja, karna Taejun suamiku," kataku sinis, sembari menyentakkan lenganku dari cengkraman tangannya.


"Tapi aku juga suamimu," kata Rio. Aku mendengus tersenyum miring.


"Kita sudah bercerai! memangnya kamu lupa ingatan?" sahutku tak habis pikir. Rio memejamkan mata terlihat begitu marah dengan apa yang ku katakan tadi.


"Tapi bagaimanapun kita sudah pernah menikah," kata Rio kembali membuka matanya, menatapku tajam, "Lalu mengapa menemuimu saja aku tidak boleh? apa sebenci itu kamu padaku?" tanya Rio penuh amarah.


"Memangnya kau lupa? apa yang sudah kau lakukan padaku? kau memberi obat bius di makananku, lalu kau memperkosaku! jadi wajar jika aku bersikap seperti ini padamu!" kataku merasa sangat kesal.


"Aku melakukan semua itu, karna kamu tidak mau melakukannya secara suka rela," dalih Rio, aku mendengus tak percaya.


"Kenapa aku harus melakukannya secara suka rela? pernikahan kita hanyalah sebuah kebohongan! dan aku juga tidak mencintaimu!" kataku sinis, expresi Rio tampak terluka.


"Tapi aku sangat mencintaimu," kata Rio dengan raut wajah sedih.


"Cukup Rio! aku sudah lelah terus terusan membahas masalah ini, pergilah." kataku dingin, berbalik masuk ke dalam rumah lalu menutup pintunya keras-keras.


"Awas saja! jika nanti hasil tes-nya keluar dan ternyata anak itu adalah anakku.. Akan ku pastikan membuatmu jadi milikku selamanya, takkan ku biarkan Taejun sampai mendekatimu!" teriak Rio dari luar rumah. Aku mengepalkan kedua tanganku merasa marah dan juga resah, bagaimana jika ternyata janin dalam kandunganku ini adalah anak Rio? aku bergidik ngeri membayangkannya, tidak tidak, tidak boleh! aku sangat yakin anak dalam kandunganku ini pasti adalah anak Taejun. Menyebalkan! kenapa aku harus terlibat dengan pria seperti dia?!.

__ADS_1


Alhasil aku murung seharian di rumah gara-gara memikirkan apa yang Rio katakan tadi. Kepalaku sungguh pusing, aku menunggu Taejun datang dari kerjanya dengan tidak sabar. Kenapa Taejun belum datang-datang juga sih? Aku buru-buru menghambur ke pintu saat mendengar bunyi bel, langsung membuka pintunya.


"Taejun kau sudah pulang," seruku merasa sangat senang.


"Apa kau menungguku pulang?" tanya Taejun merasa senang. Aku mengangguk menggelayuti lengannya.


"Aneh, kelihatannya kau jadi tambah manja saat hamil," kata Taejun mengejekku, aku meliriknya sebel.


"Kenapa? kamu gak suka?" tanyaku betek.


"Tidak ada yang tidak aku suka dari dirimu," sahut Taejun menggombal sambil tersenyum menggoda, aku menunduk malu, Taejun terkekeh memelukku erat.


"Apa kau sudah makan malam?" tanya Taejun. aku menengadah menatapnya.


"Ayo, akan ku buatkan makan malam untukmu," ajak Taejun menarik lenganku, aku tersenyum bahagia mengikutinya.


"Tapi apakah kamu tidak capek? kamu kan baru datang kerja..." kataku merasa tidak enak, saat kami sampai di dapur.


"Aku tidak capek, jangan kawatir, duduklah dulu, akan ku masakkan sesuatu yang enak untukmu," pinta Taejun tersenyum, aku menurutinya, duduk dengan patuh sambil memperhatikannya mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas. Entah mengapa saat melihat Taejun rasanya moodku jadi sangat baik, beda halnya saat melihat Rio tadi, moodku langsung jellek.


Aku terus memerhatikan Taejun merasa senang, hingga dia selesai memasak.


"Sudah selesai, ayo kita makan," kata Taejun sembari meletakkan sepiring pasta dengan saus jamur di depanku, lalu meletakkan piring yang lainnya di depannya.

__ADS_1


"Terima kasih," kataku menyunggingkan senyum, Taejun mengelus rambutku tersenyum. Aku makan dengan lahap, pastanya sungguh lezat. Setelah selesai makan Taejun membantuku mencuci piring.


"Selesai..." seruku sambil mengelap tanganku yang basah dengan lap. Taejun tersenyum sembari menarik lenganku mendekat padanya, melingkarkan kedua lengannya di pinggangku, menatapku hingga membuatku menunduk karna malu, Taejun mengangkat daguku membuatku kembali menatapnya, matanya yang indah menatapku penuh hasrat membuatku kehabisan nafas. Tangan Taejun terangkat mengelus pipiku.. bibirku...


"Aku mencintaimu," bisik Taejun lalu ******* bibirku lembut, aku membalas lumatan bibirnya dengan hasrat menggebu-gebu, Taejun mengangkat tubuhku lalu mendudukkan-ku di atas meja sambil terus menciumiku, aku melepas ciumannya karna kehabisan nafas menempelkan dahiku pada dahinya, sama-sama berusaha memelankan deru nafas kami yang sama-sama memburu, lalu aku kembali ******* bibirnya mendekapnya erat, Taejun meremas pinggangku, bibirnya turun menelusuri leherku yang sensitif salah satu tangannya masuk ke dalam kaosku maraba payudaraku lalu meremasnya pelan, aku mendesah. Taejun mendorong bahuku membaringkan tubuhku di atas meja, lalu dia menindih tubuhku pelan melanjutkan ciumannya di bibirku, kami menghabiskan sore kami di dapur, hingga menjelang malam, saling menyalurkan hasrat kami yang menggebu-gebu.


************


Ke'esokan harinya seperti kemarin, setelah memasakkan-ku sarapan, Taejun berangkat kerja, aku mengantarnya sampai depan rumah, Taejun pergi setelah memberi kecupan di dahiku, aku melambai. Setelah Taejun pergi, Rio muncul dari arah yang berlawanan masuk ke halaman rumahku hendak menghampiriku, aku menatapnya kesal langsung berbalik masuk ke dalam rumah berniat langsung menutup pintunya tapi Rio menahan pintunya agar tidak tertutup, Rio menatapku dengan pandangan tajam dari balik pintu memaksa untuk masuk ke dalam rumah, aku menahan pintunya sekuat tenaga, tapi Rio berhasil menerobos masuk ke dalam rumah.


"Apa yang kau lakukan! apa lagi maumu heh?" bentakku merasa kesal.


"Aku sungguh tak tahan dengan semua ini! tahukah kau? hampir semalaman aku berada di depan rumahmu! aku sungguh tak tahan membayangkan kau tidur sekamar dengan Taejun! rasanya aku ingin mendobrak pintu rumahmu!" kata Rio dengan amarah meluap-luap. Aku mendengus tertawa sinis.


"Kenapa kamu harus merasa seperti itu? kau bukan siapa-siapaku!" kataku sinis. Rio begitu marah dengan apa yang ku katakan tadi, hidungnya kembang kempis menahan amarah. Dengan kasar Rio merengkuh wajahku menciumku secara paksa, aku mendorong dadanya lalu menampar pipinya dengan keras, dengan marah Rio menarik lenganku kembali mencium bibirku dengan kasar, aku kembali mendorongnya dan menampar pipinya sekali lagi, Rio mengangkat tubuhku dengan kedua tangannya,


"Apa yang kau lakukan! turunkan aku!" teriakku, mencakar wajahnya, Rio tak mendengarkanku tetap berjalan ke arah sofa lalu menghempaskan tubuhku ke sofa, Rio merangkak ke atas tubuhku aku menendangnya dengan dengkulku hingga membuatnya jatuh ke lantai, Rio bangun hendak menghampiriku lagi, aku buru-buru menahan tubuhnya dengan kekuatanku, membuatnya terpaku tak mampu bergerak.


"Apa kau sudah gila? berani sekali kau melakukan hal semacam ini padaku? kau sudah tau, aku bisa saja menyakitimu dengan mudah!" bentakku dengan amarah meluap-luap, membuat tubuh Rio melayang di udara, lalu menggiring tubuhnya ke luar rumah, cepat-cepat melemparnya ke halaman rumah, sebelum ada orang lain yang melihatnya, Rio meringis menahan rasa sakit, aku mengabaikannya, siapa suruh dia bersikap kurang ajar padaku, aku berbalik masuk ke dalam rumah, mengunci pintunya rapat-rapat.


Rio menggedor pintu rumahku, memanggil-manggil namaku aku mengabaikannya.


"Jessica, tak bisakah kau melihatku sebagai pria walau hanya sekali? setidaknya kau harus memberiku kesempatan..." pinta Rio terdengar sedih.

__ADS_1


__ADS_2