
"Ku mohon Jessica.. jangan tinggalkan aku," pinta Rio memohon, terlihat putus asa. Dan sesaat aku merasa iba padanya, tapi dia sudah bersikap keterlaluan padaku, Dia bahkan meniduriku tanpa izin dariku, aku tidak akan memaafkannya.
"Maaf, aku harus pergi," kataku kaku, lalu menyentak tangannya dari kakiku. Rio terlihat kecewa dan terluka, aku mengabaikannya melanjutkan langkahku tanpa menoleh ke belakang lagi.
Saat melihat taxi aku buru-buru menyetopnya.
"Mau kemana mbak?" tanya supir taxi itu,
"Sementara jalan saja dulu," kataku, supir itu mengangguk sembari menjalankan taxinya, aku berpikir akan tidur di mana malam ini.. aku tidak mungkin pergi ke rumah Taejun dengan keadaan tubuhku yang seperti ini, memar di beberapa bagian tubuh, dan merah-merah juga di beberapa bagian, Taejun pasti akan langsung tau apa yang terjadi padaku jika melihat tubuhku seperti ini, aku harus menunggu memar dan merah-merah di tubuhku menghilang dulu sebelum bertemu dengan Taejun, Rio brengsek! apa yang sudah dia lakukan pada tubuhku sehingga seperti ini, aku berusaha menahan air mataku yang menggenang, tapi tidak bisa. Supir taxi itu melirikku dari kaca spion, mungkin supir itu bertanya tanya mengapa aku menangis.
"Ke hotel Luxury pak," kataku memberitahu, dengan suara sedikit serak.
"Baik mbak," kata supir itu.
Sesampainya di hotel aku memesan satu kamar untuk aku tinggali beberapa hari, sesampainya di kamar hotel aku mengecek hpku, ada banyak panggilan tak terjawab dari Taejun dan juga Rio, aku langsung menonaktifkan hpku, lalu tidur mencoba melupakan sejenak masalah yang berkecamuk dalam kepalaku.
Keesokan harinya aku bersiap siap untuk melakukan rencanaku, setelah itu aku ketemuan dengan seorang pembuka berangkas profesional, lalu aku membawanya menuju ke rumah si brengsek itu, aku masuk lebih dulu dari pintu depan, aku pura pura meminta pelayan membuatkanku sarapan, lalu diam diam aku pergi ke pintu belakang rumah, untuk membukakan pintu untuk si pembuka brangkas yang sudah ku suruh menunggu di pintu belakang dan juga memakai baju pelayan rumah ini agar tak ada yang curiga, aku segera menyuruhnya masuk ke dalam, dan sesuai rencana dia langsung bergegas pergi ke ruang kerja papa sesuai peta rumah yang sudah aku berikan padanya, selagi dia mengerjakan pekerjaannya di dalam ruang kerja ayah, aku mengawasi dari luar sambil berinteraksi dengan para pelayan agar mereka tidak curiga, tak lama kemudian si pembuka brangkas keluar dari ruang kerja ayah, aku buru-buru mengalihkan perhatian pelayan itu agar tidak melihat ke arah ruang kerja ayah, si pembuka brangkas memberi kode yang menyatakan bahwa brangkasnya sudah terbuka, aku mengangguk, lalu si pembuka brangkas itu cepat-cepat pergi dan keluar dari pintu belakang.
__ADS_1
"Papa kapan pulang?" tanyaku pada pelayan itu.
"Besok pagi nona," jawab pelayan itu.
"Nona sarapanmu sudah siap," kata pelayan lainnya memberitahu,
"Baiklah aku akan ke ruang makan," kataku.
Setelah sarapan sebentar, aku langsung masuk ke dalam ruang kerja ayah, saat ku pikir para pelayan tidak sedang memperhatikanku, aku langsung membuka brangkasnya, melihat semua isinya, aku kaget saat menemukan hp mamaku di dalam brangkas itu, aku menghidupkan hpnya, ternyata hpnya terkunci kode, si brengsek itu pasti tidak bisa membuka hp mama karna terkunci kode, akan ku buka nanti aku tau kodenya pasti banyak bukti di dalamnya, lalu aku memeriksa beberapa dokumen yang berada di dalam brangkas itu, wah wah si brengsek itu bahkan memalsukan surat kepemilikan rumah ini dan juga kantornya yang sekarang dia kelola, pemilik aslinya sebenarnya adalah mama kandung david dan juga kak herry.. tak salah lagi mama david pasti meninggal karna pembunuhan berencana dan bukannya karna kecelakaan, benar-benar keterlaluan, aku cepat-cepat menutup kembali brangkasnya, lalu memasukkan hp mama dan surat kepemilikan yang palsu dan juga yang asli ke dalam tasku, tamatlah riwayatmu Norman! aku akan segera membawa semua bukti ini ke kantor polisi.
Aku buru-buru keluar dari ruang kerja si brengsek, lalu berjalan santai ke ruang makan,
"Baik non," kata pelayan itu, lalu mengantarku ke depan rumah, saat keluar dari gerbang aku buru-buru masuk ke mobil yang tadi mengantarku ke sini, si pembuka brangkas sudah menunggu di dalam mobil.
"Misi selesai, ini bayaranmu," kataku pada si pembuka brangkas, sembari menyerahkan amplop besar yang berisi setumpuk uang, si pembuka brangkas itu mengecek isi amplopnya, lalu mengangguk.
"Ok kalo gitu tugasku sudah selesai, aku pergi," kata si pembuka brangkas, aku mengangguk, lalu si pembuka brangkas keluar dari mobil,
__ADS_1
"Antarkan aku ke hotel luxury," pintaku pada supir itu,
"Baik mbak," kata supir itu.
Sesampainya di kamar hotel aku buru-buru mengecek hp mama, membuka kodenya, ternyata mama meninggalkan banyak sekali uang di rekening Banknya untukku, dia bahkan sempat melakukan ini untukku.., dan aku menganga kaget saat mendengar semua rekaman suara dan beberapa video yang merekam kejahatan si brengsek itu, aku tak mampu menahan air mataku saat mendengar rekaman suara detik detik kematian mamaku, dadaku rasanya sangat sesak saking marahnya, dasar monster! tamatlah riwayatmu kali ini,
Setelah memeriksa hp mama, aku langsung berangkat ke kantor polisi sambil membawa semua bukti yang selama ini sudah aku kumpulkan bersama pengacara yang baru aku sewa, sesampainya di kantor polisi aku langsung melaporkan semua kejahatan Norman, aku bahkan mengakui pernah di paksa norman untuk menyelundupkan narkoba saat di bandara, tapi tidak dengan jual beli berlian yang uangnya di ambil tapi berliannya tidak di serahkan, karna itu bukan ranahku untuk melaporkan, karna yang di rugikan saja tidak melaporkan jadi aku gak punya hak untuk melaporkan, setelah menulis laporan aku kembali ke hotel, polisi akan segera menangkap Norman karna bukti-bukti kejahatannya sangat banyak dan jelas, beberapa kasus pembunuhan, pemalsuan dokumen kepemilikan, penggelapan uang, penyelundupan narkoba dan juga sering mangkir membayar pajak, mungkin Norman akan menyewa pengacara handal untuk melindunginya, tapi aku tidak peduli, aku akan bertarung hingga akhir.
Sesampainya di hotel aku menghempaskan tubuhku ke kasur, merasa sangat lelah dan juga lega, aku berharap aku bebas dari hukuman karna membantu Norman menyelundupkan narkoba, aku sudah menjelaskan pada polisi bahwa Norman mengancam akan membunuh keluargaku jika tidak menurutinya, ku harap ada sedikit kelonggaran untukku seperti bebas bersyarat.
Taejun pasti sangat kawatir padaku karna sudah hampir dua hari aku tidak memberinya kabar, aku masuk ke kamar mandi mengecek memar dan merah-rmerah di tubuhku, syukurlah ternyata sudah tak terlalu tampak.
Setelah mandi, aku pergi tidur merasa tak sabar menunggu hari esok, ingin segera mendengar kabar tentang tertangkapnya Norman.
Ke'esokan harinya, setelah mandi aku buru-buru ke rumah Taejun, aku buru-buru masuk ke dalam rumah Taejun saat mendengar suara berisik. Aku kaget bukan kepalang saat mendapati Taejun tengah berkelahi dengan Rio, aku buru-buru melerai mereka berdua.
"Apa apa'an sih kalian ini?" bentakku.
__ADS_1
"Jessica," seru Rio tersenyum langsung menyambar lenganku. Taejun langsung melepas tangan Rio dari lenganku, lalu menarikku padanya, menatapku dengan raut sedih.
"Jessa jawab aku, apa benar yang di katakan pria gay itu, bahwa kau sudah tidur dengannya?" tanya Taejun dengan expresi sangat terluka