Tak Terduga

Tak Terduga
Tak sadarkan diri


__ADS_3

"Aku akan menunggumu di meja makan," kata Rio masih tersenyum,


"Ok," sahutku, lalu masuk ke kamar mandi setelah Rio pergi.


Setelah mandi aku pergi ke ruang makan, dan ku lihat Rio sudah duduk di meja makan tengah menungguku, dia langsung tersenyum saat melihatku, aku membalas senyumnya kaku, lalu duduk di meja makan, ada apa dengannya? kenapa dia terus tersenyum sepagian ini? seperti orang gila saja.


Aku makan sarapanku dengan lahap lalu aku juga meminum habis jus yang ada di depanku, setelah selesai sarapan aku bermaksud akan langsung pergi ke rumah si brengsek setelah mengecek alat pengintaiku apakah si brengsek sudah berangkat keluar kota atau belum, tapi belum sampai ke kamar untuk mengecek, langkahku terhenti karna rasa pusing yang tiba-tiba kurasakan, aku memegangi kepalaku karna sakit, aku sedikit terhuyung, semuanya terlihat berputar dan tiba-tiba gelap gulita, aku tak sadarkan diri.


Aku menggeliyat berusaha membuka mataku yang terasa sangat berat, kenapa tubuhku terasa sakit semua, rasanya aku tertidur sangat lama, aku mengerjap ngerjapkan mataku berusaha menjernihkan penglihatanku, ada di mana aku? ini bukan kamarku, dan betapa kagetnya aku saat menoleh ke samping dan melihat Rio duduk di sampingku tanpa busana, dia hanya menutupi bagian bawah tubuhnya dengan selimut yang sama denganku.


"Kau sudah bangun rupanya," kata Rio tersenyum padaku. Spontan aku duduk lalu melihat tubuhku di bawah selimut, dan ternyata aku tidak berpakaian, aku melihat ke bawah kasur dan ternyata pakaianku sudah berserakan di lantai beserta baju Rio, aku menatap Rio berapi api penuh amarah.


"Dasar brengsek! apa yang kau lakukan!" terikku padanya.


"Hanya melakukan apa yang seharusnya ku lakukan sebagai suami," sahut Rio tersenyum miring.


"Dasar gila! kau sudah gila!" jeritku memukuli dada Rio, Rio mencengkram kedua tanganku.


"Memangnya aku salah? bukankah ini hal yang wajar di lakukan sepasang suami istri," kata Rio menatapku.


"Sepasang suami istri?" kataku tak percaya, "Pernikahan kita hanya pernikahan palsu! yang di sepakati karna bisnis, apa kau pura-pura lupa?" kataku marah.

__ADS_1


"Tapi buku nikah kita asli, di mata negara kita sepasang suami istri yang sah, kita bahkan mengucapkan janji suci di depan pendeta dan banyak orang, lalu di mananya yang palsu," kata Rio mendebatku, membuatku semakin marah.


"Baiklah, tunggu saja! aku akan segera menggugat cerai kamu," kataku berapi api, "Aku akan pergi dari sini, aku sudah tidak sudi lagi tinggal satu rumah denganmu," teriakku, Rio menggeleng panik, aku hendak turun dari kasur, aku meringis saat merasakan sakit di kedua sisi pahaku, brengsek! benar-benar brengsek! aku tak sanggup lagi menahan air mataku, aku menangis merasa frustasi dan marah, tak sanggup memikirkan apa yang sudah Rio lakukan terhadapku selama aku tidak sadarkan diri, Rio merangkul bahuku berusaha menenangkanku.


"Maafkan aku Jessica, apakah sangat sakit?" tanya Rio cemas,


"Jangan sentuh aku! dasar brengsek!" makiku menyentakkan kedua tangannya dari bahuku.


"Sungguh aku benar-benar minta maaf, aku tadi terlalu bersemangat saat melakukannya hingga tidak memikirkan apakah itu akan membuatmu sakit nantinya," kata Rio merasa bersalah, aku menatapnya tak percaya.


"Kamu mencampurkan sesuatu ke minumankukan tadi? hingga membuatku tak sadarkan diri?" tanyaku berapi api.


"Karna jika aku tidak membuatmu pingsan dulu, kau pasti tidak akan mau melakukannya," jawab Rio tak merasa bersalah.


"Tidak Jessica, jangan pergi, jangan tinggalkan aku," kata Rio merebut semua pakaianku yang sudah aku pungut dari lantai. Rio sudah memakai celana joggingnya tapi dia malah tak mengizinkan aku memakai pakaianku, apakah dia sudah gila?, aku menatapnya tak percaya, aku mendengus marah tak mampu berkata kata, aku mengabaikannya, berbalik lalu berjalan ke arah pintu menarik selimut itu bersamaku, Rio memelukku dari belakang.


"Kumohon Jessica, jangan pergi... " pinta Rio terdengar sedih,


"Lepaskan aku," suruhku dingin.


"Tidak, aku tidak mau," kata Rio semakin mempererat pelukannya.

__ADS_1


"Aku tidak mau mengotori tanganku dengan membunuhmu, jadi lepaskan aku selagi aku memintanya baik-baik, kau sudah tau.. aku bisa saja membunuhmu dengan mata tertutup, " kataku kaku.


"Jessica aku sangat mencintaimu, aku tak mau kehilanganmu," kata Rio terdengar sedih,


"Aku sudah bilang padamu sebelumnya, kalo aku tidak akan bisa membalas cintamu, karna aku sudah punya suami dan aku sangat mencintainya, masalah perasaanmu.. itu adalah urusanmu aku tidak peduli," kataku dingin. "Jadi cepat kau lepaskan aku!" teriakku kesal.


"Aku bisa berbagi dengan suamimu, asalkan kau tidak meninggalkan aku... ku mohon Jessica jangan tinggalkan aku," rengek Rio, membuatku menganga tak habis pikir.


"Apa kau sudah kehilangan akal sehat? kau pikir aku barang bisa di bagi-bagi? kau pikir aku wanita apa'an!" kataku berapi api merasa sangat marah,


"Bukan begitu maksudku... "sahut Rio mencoba menjelaskan,


"Aku tidak perlu menggunakan kekuatankukan? agar kau melepaskanku," kataku kaku, akhirnya dengan perlahan Rio melepaskan pelukannya, lalu aku membuka pintu kamarnya lalu pergi ke kamarku tanpa menoleh padanya, ku dengar Rio mengikuti di belakangku.


Aku buru-buru masuk ke dalam kamarku lalu menguncinya, mengabaikan Rio yang mengetok pintu memohon untuk tidak meninggalkannya. aku melihat jam, ternyata sudah pukul 17:21, aku pingsan hampir seharian, brengsek! gara-gara Rio semua rencana yang sudah ku buat semalaman jadi berantakan, aku berusaha menanangkan amarahku yang meluap luap, ok Jessica tenanglah.. masih ada besok, kurasa si brengsek besok belum akan datang dari perjalanan bisnisnya dari luar kota, aku masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhku dengan kesal sambil menangis, bagaimana ini? apa yang akan aku katakan pada Taejun.. jika Taejun tahu dia pasti akan merasa jijik padaku dan mungkin akan meninggalkanku.. aku menangis sejadi jadinya mengasihani hidupku yang sangat menjijikkan.


Setelah selesai mandi dan perasaanku lebih tenang, aku mengemas peralatan pengintaiku memasukkan semuanya ke dalam koper, aku harus pergi dari sini apapun yang terjadi, dan pindah ke rumah Taejun, aku tahu.. aku sungguh tidak tahu malu, setelah apa yang sudah terjadi, aku masih ingin bersama Taejun.


Aku membuka pintu kamar, lalu menyeret koperku ikut bersamaku, saat mendengarku keluar dari kamarku, Rio langsung menghampiriku, dan memohon agar aku tidak meninggalkannya.


"Aku akan melakukan apapun untukmu asalkan kau tidak meninggalkanku," pinta Rio memohon sambil berjalan mengikutiku, aku mengabaikan apapun yang di katakannya. Karna merasa sudah tak ada lagi yang bisa dilakukannya untuk mencegahku pergi tak di sangka-sangka Rio berlutut di hadapanku sambil memegangi kedua kakiku.

__ADS_1


"Ku mohon Jessica.. jangan tinggalkan aku," pinta Rio memohon, terlihat putus asa. Dan sesaat aku merasa iba padanya, tapi dia sudah bersikap keterlaluan padaku, Dia meniduriku tanpa izin dariku, aku tidak akan memaafkannya.


"Maaf, aku harus pergi," kataku kaku, lalu menyentak tangannya dari kakiku.


__ADS_2