
Taejun akhirnya tau tentang kekuatanku.. apakah dia akan menganggap ku wanita aneh? dan tak akan lagi mencintaiku? dan Ga In.. pada akhirnya dia tau wanita yang dulu pernah menolongnya adalah aku.. aku cepat cepat berdiri dan lari meninggalkan mereka yang masih terbelalak karna tak percaya, aku lari secepat mungkin dan bersembunyi di toilet, bagaimana ini? mereka berdua sudah tau tentang kelebihan yang ku punya, bagaimana kalo mereka cerita pada orang lain? bagaimana caranya aku akan menjelaskan dan meyakinkan mereka agar tidak menceritakannya pada orang lain.. dan sebenarnya siapa tadi orang yang dengan sengaja menjatuhkan 2 vas itu padaku? apakah selain mereka berdua ada orang lain yang melihatnya? semoga saja tidak ada, tapi bagaimana dengan pelaku yang menjatuhkan vas bunga itu? apakah dia melihatnya? ku harap tidak.. ya tuhan.. gimana ini? aku tidak bisa ikut kuliah hari ini, aku belum siap menghadapi Taejun dan juga Ga In, aku menunggu di dalam toilet sampai jam masuk kuliahku mulai, setelah itu aku keluar dari kamar mandi dan pergi diam diam dari kampus, aku menyetop taxi dan meminta supirnya untuk mengantarku ke daerah myongdong, dari tadi hp ku bergetar dan berdering terus, tapi aku mengabaikannya.
Sesampainya di myondong aku turun dari taxi dan langsung masuk ke coffe pertama yang kulihat, aku langsung duduk di sudut coffe, setelah berpikir sebentar aku mengecek hpku, 46 panggilan tak terjawab dari Taejun, dan 32 panggilan tak terjawab dari Ga In, Baek Hyun juga? ada 7 panggilan tak terjawab darinya, kenapa dia juga menelfonku? apa karna aku tidak masuk kuliah? ada 5 pesan dari Taejun, 9 pesan dari Ga In, dan 1 pesan dari Baek Hyun, aku membuka pesan dari Baek Hyun,
(baek hyun)
kamu sakit ya?
kenapa tidak masuk
kuliah hari ini?
Syukurlah, berarti Baek Hyun menghubungiku bukan karna masalah tentang kelebihanku, tapi karna aku tidak masuk kuliah, lalu aku membuka pesan dari Ga In,
(Ga in)
kamu ada di mana?
(Ga in)
kita harus ketemu
dan bicara
(Ga in)
kamu wanita yang dulu
pernah menolongku kan?
aku pernah menyinggung
tentang masalah itu
tapi kenapa kamu tidak ngaku
dan pura pura tidak tau?
(Ga in)
jessa?
(Ga in)
jika kamu tidak mau angkat
telfon ku, paling gak tolong
__ADS_1
balas sms ku
(Ga in)
jessa ku mohon.. jangan
seperti ini
(Ga in)
jessa kau harus menghadapi
masalah, jangan malah
menghindarinya
(Ga in)
jessa balaslah
(Ga in)
jessa 😢
Maafkan aku Ga In.. aku belum siap menghadapimu, lalu aku membaca pesan dari Taejun,
(taejun)
(taejun)
kenapa tidak mengangkat
telfon nya? kita harus bicara
(taejun)
jessa cepat angkatlah
(taejun)
jika kamu tidak angkat
telfon nya, aku akan pergi
ke tempat mu
(taejun)
__ADS_1
jangan ke mana mana
tunggu aku
Oh sial, aku lupa! Taejun kan memasang GPS di handpondku dia pasti tau kalo aku saat ini berada di myondong, dan bahkan mungkin dia akan tau posisiku berada sekarang, aku harus mematikan hpku, setelah mematikan hpku aku buru buru keluar dari coffe, lalu menyetop taxi yang tiba tiba muncul, taxinya berhenti, saat aku hendak membuka pintu taxi, tiba-tiba Taejun keluar dari taxi itu, aku kaget bukan kepalang, aku bermaksud berbalik dan lari darinya tapi Taejun langsung mencengkram pergelangan tanganku.
"Kita harus bicara," kata Taejun menarikku masuk ke dalam taxi, di dalam taxi aku diam saja tidak mau menoleh padanya, sedangkan Taejun terus menatapku sepanjang perjalanan, tapi Taejun juga tidak bicara, belum membahasnya, mungkin karna ada sopir taxi, oh.... bisa bisa pipiku berlubang bila terus di tatap seperti itu sama Taejun, pikiranku campur aduk, tidak tau apa nanti yang akan ku katakan pada Taejun, Taejun menyetop taxinya lalu kita turun di pinggir jalan, Taejun menarik lenganku entah mau ke mana kita, mungkin dia mencari tempat yang sepi untuk kita bicara, setelah menemukan tempat yang dia inginkan Taejun berhenti lalu menoleh padaku.
"Jelaskan padaku, tentang apa yang ku lihat tadi pagi, vas itu.. bagai mana bisa?" tanya Taejun menuntut penjelasan expresinya masih terlihat tak percaya, aku menghembuskan nafas kesal.
"Ya, seperti yang kau lihat, aku memang bisa melakukan hal hal seperti itu," sahutku dingin, "Kenapa? apa kau merasa kecewa terhadapku sekarang? apa di matamu sekarang aku berubah menjadi seorang monster?" tanyaku kesal, ada perasa'an kecewa dalam hatiku saat menyadari mungkin saja apa yang ku tanyakan itu benar, Taejun menatapku tak percaya dengan pertanya'an-pertanyaan jahat yang ku lontarkan padanya.
"Jadi kamu berfikir seperti itu terhadapku?" tanya Taejun mendengus kesal.
"Lalu kenapa reaksimu seperti ini?" tanyaku dingin.
"Karna kamu merahasiakannya padaku, padahal kita sudah menikah.. tapi kau tidak cerita padaku, mungkin kalau bukan karna insiden itu.. mungkin aku tidak akan pernah tau!" jawab Taejun terlihat kecewa.
"Aku punya alasan.. merahasiakan ini padamu," jelasku kaku.
"Alasan apa? apakah kau juga tidak akan cerita padaku?" tuntut Taejun menyindir, aku memalingkan wajah darinya merasa kesal, aku menghembuskan nafas kasar lalu menatapnya, Taejun menunggu penjelasanku,
"Karna aku tidak mau kau terluka, aku tidak mau kau terlibat dalam masalahku! kau tau.. kenapa papa selama ini mengejarku? itu karna papa tau tentang kekuatan dan kelebihanku.. mungkin papa ingin memanfa'atkan kekuatanku untuk sesuatu yang buruk.. dan karna aku papa membunuh mama! mungkin aku pembawa sial, bahkan Bogum mati karna aku.. kau pikir aku akan lupa semua itu! aku hanya tidak ingin kehilangan orang yang aku sayang lagi.. jadi ku mohon.. berpura puralah kamu tidak tau, anggap kau tidak pernah melihatnya," jelasku panjang lebar tak mampu menahan tangisku, expresi Taejun berubah sedih dia menatapku prihatin.
"Maafkan aku Jessa, maaf karna sudah bersikap seperti ini padamu," kata Taejun memelukku, "Baiklah aku tidak akan mengungkitnya lagi, aku akan pura pura tidak pernah melihatnya," bisik Taejun memelukku lebih erat.
"Tolong jangan beritahu siapapun.. bahkan tante Yurapun jangan, aku tidak mau sampai ada yang terluka karna aku, aku tau kemungkinannya kecil papa akan menemukanku.. tapi hanya untuk berjaga jaga ya?" pintaku pada Taejun menatapnya, Taejun mengangguk, aku memeluknya erat.
"Terima kasih Taejun.. karna sudah mau mengerti," kataku masih tersedu sedu, Taejun mengusap usap rambut dan punggungku menenangkanku.
"Tentu saja Jessa.. aku bahkan ingin melakukan lebih untukmu," sahut Taejun, aku mempererat pelukanku, Taejun mengajakku kembali ke kampus, tapi aku menolak, aku belum mau ketemu Ga In, aku akan ke kampus besok saja setelah pikiranku sudah tenang, alhasil Taejun mengajakku kencan seharian ini, setelah hari mulai gelap kami pulang ke rumah.
"mmm Taejun... " kataku ragu ragu saat masuk ke kamar.
"Ya," sahut Taejun lembut, tatapannya penuh kasih.
"Kau tau sendiri.. selain kamu ada orang lain lagi yang tau tentang ini... " kataku ragu ragu, Taejun mengangguk.
"Jadi.. bisakah kau mengizinkanku bicara berdua saja dengan Ga In besok untuk memberi penjelasan padanya.. " pintaku ragu ragu, Taejun terdiam cukup lama.
"Baiklah," kata Taejun akhirnya, "Tapi tidak boleh genit genit ya," kata Taejun mengingatkan sambil menyipitkan mata, selalu... saja sangat cemburuan tapi masih saja tidak mau menyatakan cintanya padaku menyebalkan! setahuku saat dia pacaran dengan Hyuna dulu dia tidak seprotektif itu pada Hyuna,
"Apa'an sih Taejun.. aku kan hanya ingin bicara dengannya," kataku, "Kenapa memangnya kalo aku genit genit? kamu cemburu," tanyaku memancing.
"Tentu saja aku cemburu," jawabnya, hah? jadi dia mengaku kalo dia cemburu.
"kenapa?" pancingku lagi, berharap.
__ADS_1