Tak Terduga

Tak Terduga
Terlanjur


__ADS_3

"Apa ada yang mau berpartisipasi? dan maju untuk bernyanyi? " tanya salah seorang kelompok penyanyi yang sedang ku tonton, tak ada yang mengajukan diri, orang itu melihat kearahku, tidak! jangan sampai menunjukku, aku mundur 2 langkah, tapi orang itu malah menghampiriku, mati aku.


"Bagai mana dengan mu wanita cantik? kau mau maju? dan menyumbang satu lagu untuk para penonton? " tanyanya padaku.


"Apa? " kataku kaget, rasanya kakiku lemas banget, aku sangat malu karna sepertinya semua orang melihatku sekarang.


"Jes-si-ca," kata Bogum bersorak sambil bertepuk tangan dan yang lainnya ikut ikutan bersorak, Bogum.. awas kau! penyanyi itu menarikku ke depan, dengan langkah berat aku ikut maju ke depan rasanya perutku melilit karna gugup, aku sudah terlanjur maju ke depan jadi aku harus menyanyi dengan bersungguh sungguh, jangan sampai mempermalukan diri sendiri.


"Bolehkah," tanyaku pada penyanyi cowok yang satunya, yang tadi menyanyi solo dengan gitar, aku menunjuk gitarnya untuk ku pinjam.


"Tentu saja," katanya meminjamkan gitarnya padaku, lalu aku duduk, dan meletakkan mic nya di depanku, walau aku sudah agak lama tidak memainkan gitar, kurang lebih 2 tahunan lebih aku sudah tidak memain kannya, tapi aku masih tau dan masih sangat ingat cara memainkannya, dulu waktu kelas 3 smp aku pernah belajar gitar pada teman sekelasku, bahkan dulu aku sempat punya gitarku sendiri, tapi karna aku selalu berpindah pindah sekolah dan tempat tinggal, aku tak mungkin membawa gitarku kesana kemari,


Aku mulai memetik gitarnya mengalunkan nadanya, semua orang bersorak dan bertepuk tangan saat mengenali nada yg ku mainkan, dan aku mulai menyanyikan lagunya.. aku menyanyikan lagu milik Charlie Puth yang judulnya We Don't Talk Anymore, salah satu lagu yang sangat ku suka, suaraku yang husky dan nyaring menyatu dengan petikan gitar yang ku mainkan, di klimaks lagunya aku memainkan suara tinggiku yang bulat hingga menggema, lalu di akhir lagu aku mengakhirinya dengan suara lirih penuh dengan perasaan, semua orang bertepuk tangan dan bersorak untukku, aku kaget pada diriku sendiri karna tadi bisa menyanyi dengan PD di depan banyak orang, wah.. aku pasti sudah gila, semua musisi itu menyalamiku dan memujiku.


"Terima kasih," kataku membungkuk pada para musisi dan pada para penonton juga, lalu aku pergi ke Bogum,


"Kau sangat pandai menyanyi," kata Bogum berdecak kagum, "Dan suaramu wah.. gila! " menggeleng gelengkan kepala,


"Ya ya, makasih, ayo cepat kita pergi," ajakku menarik lengannya, aku tak begitu nyaman jadi pusat perhatian.


"Wah.. tadi kau sangat hebat! aku benar benar kaget," puji Bogum lagi sambil berjalan mengikutiku.


"Sudah sangat malam, sebaiknya kita pulang" kataku, tak menanggapi pujiannya.


"Baiklah ayo," kata Bogum tersenyum menyetujui,


"Bogum lain kali kau tidak boleh melakukan itu padaku.. kau malah menyuruhku maju, bagai mana kalo seandainya aku gak bisa nyanyi dan suaraku jellek? bisa jadi aku akan di permalukan di depan umum," tegurku pada Bogum,

__ADS_1


"Tapi tadi kamu bisa nyanyi, dan suaramu sangat bagus," elak Bogum.


"Aku bilangkan seandainya.. sebelumnya kamu kan belum tau suaraku enak apa enggak.. " debatku,


"Baiklah.. maaf, aku hanya penasaran ingin mendengar mu menyanyi, dan wow! aku benar benar terpana tadi," kata Bogum meminta maaf dan tak henti henti memujiku, aku memutar bola mata,


"Aku maafkan tapi jangan ulangi lagi," kataku padanya,


"Baiklah.., " kata Bogum menyetujui.


*****


"Terima kasih sudah mengantarku, selamat malam," kataku sesampainya di depan kafe,


"Tunggu," kata Bogum menahanku, memegang lenganku, aku berbalik mengangkat kedua alisku.


"Boleh aku mampir di tempatmu? " tanyanya penuh harap, aku kaget dan bertanya tanya mengapa dia mau mampir di tempatku, padahal dia tau aku wanita yang tinggal seorang diri, itu akan di anggap tabu kalo di indonesia.. tapi mungkin kalo disini berbeda,


"Kenapa? aku kan hanya ingin mengobrol dan melihat tempat tinggal mu," kata Bogum menjelaskan, tidak tidak, aku tidak mau kita berduaan dalam satu ruangan malam malam begini, kita masih muda dan masih di bawah umur, umur bogum aja masih 18 dan aku 17, hormon dan emosi di umur segini tak akan mudah di kontrol, aku tak ingin sampai terjadi suatu hal yang tidak di inginkan,


"Sudah malam kamu pulang aja ok, jika ingin lihat tempat tinggalku di siang hari aja, udah sana, pulang," kataku mendorongnya pelan agar pulang.


"Aku tidak akan macam macam, aku hanya akan melihat tempat tinggalmu," kata Bogum berusaha meyakinkanku, masih keras kepala walau sudah aku usir, dia berusaha melewatiku hendak menaiki tangga, aku menghalanginya.


"Apa kamu begitu tidak mempercayaiku? " tanya Bogum kesal,


"Aku percaya padamu, tapi aku tidak percaya pada diriku sendiri,, jadi please, jangan memaksa ok," pintaku, Bogum tertegun lalu tersenyum manis padaku memamerkan lesung pipinya.

__ADS_1


"Apa itu berarti kau menyukaiku? " tanya Bogum tersrnyum lebar, aku mendengus.


"Jangan GR, nafsu dan suka itu beda, nafsu bukan berarti suka, tapi kalo suka sudah pasti nafsu," ejekku, wah.. dia benar benar pede banget, bisa bisanya dia menyimpulkannya seperti itu.


"Udahlah ngaku aja gak usah malu," godanya, wah.. dia bener bener minta di hajar,


"Udah udah, pulang sana! aku gak mau denger omong kosong mu," kataku, mendorong Bogum agar menjauh dariku, aku cepat cepat naik lalu masuk dan mengunci pintunya.


"Baiklah aku akan pulang! semoga mimpiin aku," teriak Bogum di depan pintu, aku hanya tersenyum getir, dasar narsis, dan aku ingat harus menelfon tante Yura setelah pulang,, aku menelfon tante Yura, berdering tapi tak ada yang mengangkat, aku mencoba menelfon sekali lagi..


"Halo," jawab suara cowok di telfon, kok cowok yang angkat? apa aku salah nomer? aku melirik nomernya, bener kok,


"Ini siapa ya? ini bener nomernya tante Yurakan?" tanyaku memastikan,


"Iya bener ini nomernya mama," kata cowok itu membenarkan, oh.. ternyata anaknya tante Yura.


"Tante Yura ada? " tanyaku,


"Kayaknya mama masih di kamar mandi, ada perlu apa? katakan saja, aku akan beritahu mama," tanyanya dengan suara dingin, yaampun.. gitu amat ngomongnya,


"Katakan saja pada tante, kalo aku Jessica sudah sampai di rumah," pintaku.


"Baiklah, hanya itu? " tanyanya, cara bertanyanya membuatku kesal.


"Ya, hanya itu bye," kataku menutup telfon lebih dulu berharap membuatnya kesal,


******

__ADS_1


Setidaknya sudah 2 minggu lebih aku berada di Korea dan aku sudah bisa beradaptasi dengan sangat baik disini, dan bhs koreaku juga sudah sangat lancar aku bahkan tak perlu lagi meng mix nya dengan bahasa Inggris, aku juga belajar aksara Korea seperti tulisan tradisional Korea(hangul) , tapi mama belum juga menyusulku ke Korea, sebentar lagi hari ulang tahunku, apa mama akan melewatkan hari ulang tahunku kali ini?.


"Jessica," panggil tante Yura membuyarkan lamunanku.


__ADS_2