Tak Terduga

Tak Terduga
Mencari bukti


__ADS_3

"Kak," kata seseorang menepuk pundakku dari belakang membuatku terkejut, sontak aku menoleh ke belakang, ternyata temannya David, Iqbal sama Reza,


"Oh hai," kataku,


"Maaf kak membuatmu terkejut, tapi kenapa kakak berdiri di luar?" tanya Iqbal,


"Ehmm tadi aku dari suatu tempat, dan kebetulan baru pulang," jawabku asal, mereka mengangguk anggukkan kepala, lalu keduanya tersenyum padaku,


"Kalian mau ketemu David ya, ayo masuk," kataku cepat-cepat saat mereka menatapku nakal,


"Kalo sekalian masuk ke hati kakak boleh gak?" rayu Reza padaku, aku menggeleng gelengkan kepala tersenyum mendengar rayuannya yang norak, aku terus berjalan ke dalam tak menanggapi rayuannya, Iqbal menahan tawa karna aku tak menanggapi rayuan Reza,


"Duduklah akan ku suruh pelayan untuk memanggilkan David, kalian mau minum apa?" tanyaku berusaha ramah pada tamu adikku,


"Aku maunya kakak aja, boleh," rayu Reza tak mau menyerah, aku mendengus tersenyum,


"Boleh, tapi sebelum itu aku kirim kamu ke alam baka, mau?" sahutku mengejeknya,


"Mau, asalkan ke alam bakanya sama kakak," kata Reza, aku memutar bola mataku, wah... Reza benar-benar pintar membual,


"Kurasa aku tak akan menang adu bicara sama kamu, aku kesana dulu untuk meminta pelayan memanggilkan David dan membawakan kalian camilan dan minuman," kataku buru-buru,


"Mau kemana kak... disini aja temenin kita," pinta Reza, Iqbal hanya tersenyum,


"Ogah," kataku lalu pergi meninggalkan mereka berdua, aku meminta pelayan membawakan mereka camilan dan minuman, dan bertanya pada pelayan di mana David, aku buru-buru pergi ke David setelah pelayan memberitahu,


"David," panggilku mengetok kamar David, David langsung membuka pintunya, dan tersenyum padaku,


"Masuklah kak," kata David padaku,


"Gak usah aku cuma mau tanya, ruang kerjanya papa di mana ya? papa menyuruhku meletakkan sesuatu di ruang kerjanya," tanyaku berbohong,


"Oh.. ayo aku antar ke ruang kerja papa," kata David, aku tersenyum lalu mengikutinya, kenapa membuat rumah seluas ini sih.. merepotkan sekali,

__ADS_1


"Ini ruangannya," kata David memberitahu,


"Terima kasih David," kataku, apa David akan tetap di sini, bagai mana aku akan mencari bukti kalo dia masih disini, "Ehmm kamu ada tamu, Iqbal dan Reza, mereka sedang menunggumu di ruang tamu," kataku mencari alasan agar David, meninggalkanku sendiri di ruang kerja si brengsek itu,


"Oh baiklah, aku temui mereka dulu," kata David, aku mengangguk, lalu David pergi, akhirnya... semoga aku menemukan sesuatu, aku mulai mencari cari sesuatu yg bisa ku jadikan bukti, tapi ini sulit.. ruangannya penuh berkas, dan ada brangkas besi yang terkunci dan aku tak bisa mengecek isi di dalam berangkas itu, oh.. ini membuatku gila, aku harus cepat-cepat sebelum ada yang memergoki, aku hampir teriak kegirangan saat menemukan surat-surat keterangan bahwa perusahan asuransi milik si brengsek itu beberapa kali menghindari membayar uang pajak, aku harus segara mengumpulkan bukti kejahatan lainnya, tapi untuk hari ini, bukti ini sudah cukup, aku buru-buru keluar dari ruangan itu dan langsung pergi ke kamarku, dan menaruh bukti kejahatan si brengsek itu ke dalam lemari, ketukan di pintu membuatku terperanjat kaget, aku buru-buru mengunci lemarinya, lalu membuka pintu kamar, ternyata David,


"Oh David, ada apa?" tanyaku, berusaha bersikap biasa saja,


"Kami bertiga mau main-main keluar, kakak mau ikut gak? biar gak boring di rumah aja," tanya David mengajakku, boleh juga, kebetulan aku juga ingin membeli sesuatu yang penting,


"Baiklah, aku ikut, tapi aku mau mandi dan ganti baju dulu, boleh?" pintaku,


"Baiklah, kami akan menunggu," kata David tersenyum, aku buru-buru mandi setelah selesai siap-siap aku langsung turun menemui mereka bertiga di ruang tamu,


"Ayo, aku sudah siap," ajakku pada mereka, mereka menatapku terpana,


"Kenapa melikutku seperti itu? tidak pernah melihat wanita cantik?" kataku memutar bola mata, mereka semua tersenyum,


"David habis ini kita ke mall ya, aku ingin membeli sesuatu," kataku pada David,


"Ok, tapi beneran kakak gak punya hp?" tanya David penasaran, Iqbal dan Reza juga terlihat penasaran,


"Iya bener, aku gak ada hp," jawabku santai,


"Kalo gitu aku beliin hp ya," tawar David,


"Gak usah, aku akan beli sendiri, papa memberiku kartu ATM tadi," kataku enggan, rasanya aku mau muntah saja karna harus memanggilnya papa di depan David,


"Oh benarkah? baguslah kalo gitu, ayo kita ke mall sekarang, aku udah selesai makannya," kata David mulai beranjak dari kursinya, kami bertiga ikut beranjak,


**********


Sesampainya di Mall aku langsung ke konter untuk beli hp, mereka bertiga membantuku memilihkan hp yang bagus,

__ADS_1


"Aku ingin beli sesuatu yg agak pribadi, jadi kita misah dulu ya, nanti kalo udah mau pulang kalian langsung hubungi aku, kalian udah simpen nomer telfonkukan," kataku pada David dan teman-temannya,


"Kakak mau belanja pakaian dalam ya... " kata Reza mengejekku, David langsung menjitak kepala Reza,


"Yaudah kak gak papa, kita kesana dulu," kata David buru-buru lalu menyeret dua sahabatnya, memberiku privasi, untunglah adikku David begitu pengertian, ngomong-ngomong aku memang tidak bawa banyak baju ganti, mungkin aku beli beberapa baju dan pakaian dalam juga, lalu aku juga akan beli alat penyadap dan yang lainnya juga, setelah selesai belanja semua yang ku butuhkan, aku langsung menelfon David, kami ketemu di depan konter yang tadi,


"Kak di sebelah sana, ada toko aksesoris yang lucu-lucu, kakak mau aku belikan cincin couple gak," tawar Reza melirikku,


"Tidak usahlah, kalo couplelan-nya sama kamu," tolakku,


"Kenapa..., aku bukan tipemu ya," tanya Reza masih tak mau menyerah, David memelototinya,


"Aku gak suka cowok yang lebih muda dariku," kataku beralasan, David dan Iqbal sontak melirikku terlihat tersinggung, karna mereka bertiga tak ada yang lebih tua dariku,


"Oh yang benar saja.. masak karna itu.. paling kita cuma beda beberapa bulan saja," sindir Reza,


"Ya.. kan tetap saja kamu lebih muda dariku," dalihku, "Udahlah ayo kita pulang, kalian juga udah kan belanjanya?" kataku buru-buru,


"Emang kakak gak mau apa gitu dariku, bilang aja kak, aku akan belikan apapun yang kakak mau," rayunya aku memutar bola mata,


"Mau di hajar ya," kata David memplototinya, Reza terlihat masak bodoh,


"Aku udah punya ini, jadi aku bisa beli sendiri apapun yang ku ingingkan," kataku mengacung acungkan kartu kreditku, "Jadi kamu tidak perlu menawariku apapun, hem?" lanjutku mencubiti pipi Reza, pipi Reza langsung bersemu merah, dia langsung menggenggam tanganku yang mencubiti pipinya,


"Kak, jadilah pacarku? kakak mau kan?" tanya Reza tiba-tiba, membuatku menganga, David langsung menepis tangan Reza yang menggenggam tanganku,


"Kau gila ya," seru David pada Reza,


"Aku gak gila, aku beneran suka kakakmu," kata Reza terlihat serius, mereka terlihat bersitegang, aku dan Iqbal buru-buru merelai mereka, tidak tidak, tidak bisa seperti ini.. tidak akan ku biarkan David dan temannya bertengkar gara-gara aku, aku menggenggam kedua tangan David lalu menatapnya,


"Jangan bertengkar dengan teman baikmu karna aku, ya," bujukku, David menatapku cemberut, "Aku gak masalah jika memang Reza suka padaku.. tapi masalahnya mungkin aku gak bisa jadi pacarnya," jelasku pada David lalu melirik Reza saat kalimat terakhir,


"Jadi kakak gak mau jadi pacarku?" seru Reza terlihat kecewa,

__ADS_1


__ADS_2