Tak Terduga

Tak Terduga
Cemas


__ADS_3

Keesokan harinya, Taejun bangun telat, biasanya dia selalu bangun sebelum aku, aku membangunkannya karna takut dia terlambat bekerja. Aku terkejut saat menyentuh kulitnya, karna kulitnya panas sekali, ternyata Taejun sedang demam, Taejun meringis seperti menahan rasa sakit, air matanya mengalir dari kedua sudut matanya yang tertutup, aku membekap mulut menahan tangisanku, Taejun pasti sangat menderita, ini semua salahku!.


"Taejun aku bersalah.. maafkan aku," bisikku, menahan tangisku yang hampir pecah, aku beranjak mengambil Telepon langsung menelfon Dokter kenalanku, setelah itu aku menelfon ke tempat kerja Taejun, untuk meminta izin tidak bisa masuk kerja untuk Taejun, karna Taejun sedang sakit.


Tak lama kemudian Dokter datang dan langsung memeriksa Taejun.


"Bagaimana Dok? bagaimana keadaan Taejun?" tanyaku bertubi-tubi merasa sangat cemas.


"Dia tidak apa-apa, hanya demam biasa, sepertinya dia terguncang, tapi tenang saja dia akan segera pulih," kata Dokter memberitahu, rasanya hatiku serasa di remas mendengarnya, tentu saja Taejun terguncang, dia sangat percaya bahwa anak dalam kandunganku adalah anaknya, tapi ternyata anak dalam kandunganku ternyata anak Rio, ini semua salahku hingga Taejun sakit seperti ini, aku mengutuk diriku sendiri ke neraka yang paling dalam, aku sungguh tak pantas jadi istrinya, tapi aku tak sanggup melepaskannya, aku tidak mau.


Setelah memberi obat untuk Taejun, Dokter pulang. Aku mengompres dahi Taejun agar panasnya sedikit menurun, lalu aku ke dapur membuatkan Taejun bubur.


"Taejun.. bangunlah, kau harus makan buburmu dulu," kataku mengguncang lengannya pelan. perlahan Taejun membuka matanya, tatapan matanya terlihat begitu lesu, rasanya aku ingin memaki diriku sendiri karna sudah membuat Taejun sakit, Taejun berusaha duduk, aku buru-buru membantunya untuk duduk, Taejun terlihat sangat lemas aku sungguh tidak tega. Tiba-tiba Taejun memelukku.


"Jangan tinggalkan aku Jessa.. jangan pernah tinggalkan aku..." lirih Taejun, hatiku rasanya teriris saat merasakan kesedihan yang Taejun rasakan, aku menahan air mataku yang mulai menggenang agar tidak tumpah. Seharusnya aku yang mengatakan itu Taejun.. bukan kamu, aku merasa tidak pantas mendapatkan cinta sebesar itu darimu, kamu bahkan masih mau menerimaku walau sekarang aku sedang hamil anak orang lain, seharusnya aku mati saja!.


"Aku tidak akan pernah mampu meninggalkan-mu, tidak akan," sahutku, memeluk Taejun semakin erat.


Aku menyuapi Taejun bubur, lalu membantunya minum obat, setelah itu Taejun kembali tidur, aku ke dapur untuk sarapan sebentar, lalu aku kembali ke kamar, menunggui Taejun, duduk di kursi samping Taejun. Mungkin karna kelelahan aku tertidur saat menunggui Taejun.


Aku membuka mata, saat merasakan tangan Taejun mengelus rambutku pelan, aku mengangkat kepalaku yang terbaring di kasur lalu menatap Taejun cemas, Taejun tersenyum lemah padaku, mencoba menyemangatiku, aku berusaha membalas senyumnya dengan mata berkaca-kaca.


"Tunggu sebentar, akan ku buatkan makanan untukmu," kataku buru-buru beranjak, Taejun langsung memegang lenganku, menahanku.


"Kita pesan makanan saja, kau sedang hamil, kau tidak boleh terlalu cepek.. nanti kau sakit juga," pinta Taejun terlihat kawatir, padahal dia sendiri sedang sakit, tapi sempat-sempatnya dia masih mengawatirkanku.


"Baiklah, kita pesan makanan saja," kataku tersenyum menggenggam tangannya.


Setelah makanan yang kita pesan datang, Taejun meminta ingin makan di meja makan saja, aku menuntunnya berjalan ke meja makan karna Taejun masih sedikit lemas,

__ADS_1


"Kau tau.. tadi malam aku bermimpi buruk," kata Taejun memberitahu, "Aku takut mimpi itu akan jadi kenyata'an," lanjut Taejun menatapku dengan tatapan kawatir.


Aku buru-buru menghampirinya, lalu memeluk kepala Taejun, mengelus rambutnya, Taejun memeluk pinggangku erat, "Itu hanya mimpi Taejun.. tenanglah, semuanya akan baik-baik saja," kataku mencoba menenangkannya, "Kau bisa menceritakan mimpimu itu padaku, jika mau," lanjutku.


Taejun menggeleng, "Aku tidak bisa," sahutnya terdengar sedih.


"Baiklah tidak apa-apa, kau bisa cerita padaku saat kau sudah siap, hemm," kataku tersenyum menatapnya, Taejun mengangguk.


Aku kembali menata makanan yang sudah kami pesan di meja, lalu kami makan bersama. Malamnya Taejun minta makan buah saja, aku mengupaskan beberapa buah untuknya lalu kita makan bersama.


Setelah makan malam kita tidur sambil berpelukan, seolah-olah kita takut akan kehilangan satu sama lain, hampir semalaman Taejun terus menciumiku, rambutku, keningku, hidungku, bibirku, hingga kami sama-sama terlelap tidur.


Ke'esokan harinya Taejun jauh lebih mendingan, dia bahkan memaksa membantuku memasak meski sudah ku larang, setelah selesai memasak kita sarapan bersama.


"Apa aku masuk kerja aja ya hari ini," kata Taejun melirikku, sambil meminum jusnya.


"Tidak boleh Taejun.. besok saja, kamu kan baru sembuh, kamu masih belum fit benar," larangku, "Dan tidak boleh membantah," kataku tegas, saat Taejun hendak mendebatnya. Akhirnya Taejun mengalah, menurut apa kataku.


Taejun hendak beranjak untuk membuka pintu, "Biar aku saja," kataku, lalu aku menarik lengan Taejun agar kembali duduk.


Aku membuka pintunya, dan aku kaget karna yang bertamu ke rumah kami adalah kedua orang tua Rio, mau apa mereka bertamu ke rumahku? kenapa perasaanku jadi tidak enak.


padahal dulu mereka sudah menyetujui permintaanku agar Rio mau menceraikanku dan melepaskanku, setelah tau aku sudah punya suami. Jangan bilang mereka berubah pikiran setelah tau aku mengandung anak Rio.


"Silahkan masuk," kataku dengan perasaan resah, mereka mengikutiku keruang tamu, aku mempersilahkan mereka duduk.


"Akan ku ambilkan minuman dulu untuk kalian," kataku hendak beranjak.


"Tidak perlu, kami tidak akan lama, kami hanya ingin bicara padamu dan suamimu," cegah mama Rio, membuatku urung beranjak.

__ADS_1


"Memang kalian ingin mengatakan apa pada suamiku? jika ingin menyampaikan sesuatu katakan saja padaku, tidak perlu bawa-bawa suamiku," kataku cemas,


"Jessa siapa?" tanya Taejun tiba-tiba muncul,


Aku menoleh pada Taejun merasa cemas, "Bukan siapa-siapa, masuklah ke dalam kamar, aku akan mengurusnya," pintaku pada Taejun.


"Bisakah anda duduk sebentar, aku juga ingin bicara pada anda sebentar," pinta papa Rio pada Taejun.


"Akukan sudah bilang, jangan melibatkan Taejun dengan urusan kita!" seruku.


"Ada apa Jessa? siapa mereka?" tanya Taejun bingung.


"Kami orang tua Rio, bolehkah kami minta waktumu sebentar?" kata mama Rio pada Taejun. Expresi Taejun seketika langsung berubah cemas,


Aku langsung menghampiri Taejun, "Taejun.. kau tak perlu terlibat, masuklah, aku akan mengurusnya," kataku menatap taejun cemas.


"Aku tidak apa-apa Jessa, aku ingin tau apa yang akan mereka samaikan padaku," kata Taejun menenangkanku, lalu menarik lenganku membawaku ikut duduk bersamanya. Kami menatap mereka, menunggu.


"Aku akan langsung ke intinya, kami ingin membawa Jessa ke rumah kami," kata mama Rio memberitahu.


"Maaf, tapi aku tidak bisa meninggalkan suamiku sendiri disini," sahutku dingin.


"Tapi kami tidak bisa diam saja, saat tau kau sedang mengandung ahli waris keluarga kami," kata papa Rio.


"Walaupun aku sedang mengandung anak Rio, tidak masuk akal rasanya jika aku harus tinggal di rumah anda, karna aku dan Rio sudah bercerai," dalihku.


"Aku tidak memintamu tinggal di rumah Rio, tapi tinggal di rumah kami, karna kami harus memastikan bayi yang ada dalam kandunganmu itu baik-baik saja hingga lahiran nanti, kami berhak meminta itu, karna bayi dalam kandunganmu itu adalah cucu kami satu-satunya," jelas papa Rio memohon.


"Boleh aku mengajak Taejun bicara berdua saja denganku sebentar?" pinta mama Rio.

__ADS_1


"Tidak! tidak boleh," larangku cemas.


"Taejun?" tanya mama Rio menatap Taejun,


__ADS_2