Tak Terduga

Tak Terduga
Salah kira


__ADS_3

"Taejun?" seruku tak percaya, expresi Taejun tampak kebingungan, hendak pergi, aku langsung menyambar lengannya. tak mengizinkannya pergi, hatiku menggebu-gebu saking rindunya, aku menarik Taejun ke atas tubuhku, ******* bibirnya dengan penuh semangat, aku tidak peduli jika Taejun menganggapku wanita yang tidak tau diri, yang pasti aku begitu merindukannya. Dengan expresi yang masih terlihat bingung Taejun membalas ciumanku, sama-sama bersemangatnya denganku, Taejun tiba-tiba menjadi agresif, dengan cekatan dia langsung membuka semua pakaianku tanpa tersisa, begitu pula dengan pakaiannya, bibirnya menyusuri setiap jengkal tubuhku, kami saling meluapkan rasa rindu, menikmati setiap sensasi saat tubuh kita saling menyatu.


Keesokan harinya aku bangun dengan perasa'an bahagia, ternyata tadi malam bukan mimpi, Taejun bener-bener datang menemuiku, aku memperhatikan lengan Taejun yang sedang memelukku erat, merasa sedikit bingung, menurutku lengan Taejun sedikit berubah, lebih berotot dan kulitnya tampak lebih sawo, aku melepas pelukannya itu yang membelit tubuhku, lalu aku berbalik dan menoleh dari belakang punggungku, dan betapa kagetnya aku, saat melihat pria yang bercumbu denganku semalam bukanlah Taejun tapi ternyata Rio. Rio juga sudah bangun dan dia menatapku tersenyum, perutku mual tiba-tiba aku merasa ingin muntah saking jijiknya saat menyadari apa yang sudah terjadi, betapa bodohnya aku, aku bahkan tak bisa membedakan antara Taejun dan juga Rio.


"Apa yang sudah kau lakukan? kenapa kamu melakukan ini padaku!" seruku tak percaya, buru-buru duduk manarik selimut agar menutupi tubuhku yang telanjang. hingga membuat dada bidang Rio yang telanjang terekpos.


"Apa kau tidak ingat? kau yang menarik dan menciumku lebih dulu," sahut Rio beralasan.


"Tapi bukankah kau mendengar aku menyebut nama Taejun tadi malam? aku kira kau Taejun! seharusnya kau memberitahuku kalo kamu itu Rio dan bukannya Taejun!" protesku tak mampu menahan air mata kemarahanku.


"Aku tak peduli meskipun kau mengira aku Taejun tadi malam, aku tetap merasa sangat bahagia tadi malam, begitupun sekarang!" kata Rio, membuatku menganga tak percaya, dia benar-benar sudah gila! sampai-sampai aku tak mampu berkata-kata, aku tak lagi mampu menahan air mataku, aku menunduk menutupi wajahku dengan kedua tanganku menangis tersedu-sedu, betapa bodohnya aku, mengira Rio adalah Taejun, tanpa sadar aku bahkan sudah menghianati Taejun lagi, Taejun.. aku sangat merindukanmu.. maafkan aku...


Rio menyentuh pundakku, "Jessica..."katanya lirih, aku langsung menepis tangannya dari bahuku.


"Jangan pernah berani menyentuhku! dasar brengsek!" makiku menatapnya penuh kebencian.


"Kenapa kau jadi marah padaku? padahal tadi malam kita melakukannya secara suka rela! aku tidak pernah memaksamu!" kata Rio berusaha membela diri.


Aku menutup kedua telingaku, "Tutup mulutmu!" bentakku, "Jangan pernah mengatakan lagi hal semacam itu, karna aku sungguh jijik mendengarnya! cepat keluar dari kamarku!" teriakku begitu marah.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba mama Rio masuk ke dalam kamar, "Ada a..." langkah mama Rio terhenti saat melihat kami berada di atas kasur dengan Rio bertelanjang dada, hanya anggota tubuh bawahnya saja yang di tutupi selimut, mulut mama Rio menganga lalu dia buru-buru keluar dari kamar.


Aku mendengus kesal, benar-benar merasa frustasi, "Cepat keluar dari kamarku sekarang juga," kataku kaku menatapnya dingin, Akhirnya Rio turun dari kasur, aku mengalihkan mataku darinya,


"Lihat saja, ku pastikan akan menjadikanmu istriku lagi," kata Rio dengan percaya diri sambil memasang kancing kemejanya, lalu keluar dari kamar, aku menunduk menangis tersedu-sedu, menyesali kebodohan yang sudah aku lakukan, aku harus segera pergi sebelum Rio benar-benar melakukan niatnya itu untuk menikahiku, aku cepat-cepat mengenakan bajuku lalu menghampiri Ricky yang masih tertidur pulas di tempat tidur bayinya, untungnya Ricky tidak bangun meskipun aku sempat teriak-teriak tadi, aku menatap Ricky yang tertidur pulas tak sanggup menahan air mataku yang mengalir deras, kenapa hal-hal menyedihkan selalu terjadi padaku? seseorang masuk ke dalam kamarku, aku berbalik ternyata mama Rio, wajah mama Rio penuh dengan pertanyaan, dan yang pasti aku tak akan menyukai apapun yang akan mama Rio tanyakan,


"Bisakah anda menjaga Ricky dulu, aku ingin ke kamar mandi dulu," kataku buru-buru sebelum mama Rio menanyakan apapun padaku.


Aku menggosok badanku dengan kasar di bawah guyuran air yang mengalir dari shower, aku begitu membenci tubuhku sendiri karna sudah melakukan hubungan intim dengan Rio tadi malam, begitu menjijikkan! rasanya aku ingin lenyap dari bumi ini.


Setelah mandi aku menghampiri mama Rio yang sedang memakaikan baju ganti pada Ricky sehabis memandikannya.


"Kenapa sangat terburu-buru..." keluh mama Rio merasa keberatan.


"Aku tidak terburu-buru.. mama sudah tau sendiri, aku merencanakan pergi dari sini, sudah berminggu-minggu yang lalu..." kataku menjelaskan.


"Kau yakin? pikirkanlah sekali lagi," pinta mana Rio berharap.


"Mama pasti salah faham tentang kesalahan yang terjadi antara aku dan Rio tadi malam, aku mengira Rio adalah Taejun, jadi mama pasti mengerti apa maksudku, lagi pula mama sudah berjanji akan menolongku pergi dari sini... ma, jangan ingkari janjimu, jika aku tak bisa pergi malam ini, lebih baik aku bunuh diri saja," pintaku memaksa dan mengancam mama Rio.

__ADS_1


Mama Rio terlihat panik, "Jangan bicara seperti itu, baiklah, aku akan membantumu lari malam ini," kata mama Rio kawatir.


"Terima kasih," kataku, lalu mengambil alih menggendong Ricky untuk menyusuinya.


Diam-diam aku sudah mengepak baju dan barangku yang ingin ku bawa. Malamnya jam 1 malam mama Rio masuk ke dalam kamarku diam-diam, aku bernafas lega saat melihatnya karna aku sudah lama menunggunya.


"Ayo, saatnya," bisik mama Rio, aku mengangguk, rasanya aku ingin menangis lagi hatiku begitu sakit saat akhirnya akan meninggalkan anakku sendirian disini, aku menghampiri ricky yang tertidur lelap, lalu menciuminya lagi, aku sudah banyak mengambil potretnya tadi, setelah selesai memberi ciuman perpisahan pada anakku aku langsung berbalik dan pergi, sambil menahan sedu-sedanku serta sakit hatiku karna harus meninggalkan Ricky sendiri, mama Rio menggenggam lenganku, membawaku diam-diam keluar rumah, kami berdua terperanjat kaget saat melihat Rio berjalan ke arah dapur, mama Rio buru-buru menarikku untuk bersembunyi, setelah Rio kembali ke kamarnya, kami cepat-cepat keluar rumah, tumben di gerbang rumah gak ada penjaganya? setidaknya biasanya ada empat orang yang secara bergantian berjaga di malam hari, syukurlah mama Rio pasti sudah mengurus semuanya.


"Ma, terima kasih untuk semuanya, aku harus pergi sekarang," kataku menatapnya sedih.


"Ini kartu ATM, aku sudah mengisikan uang di dalamnya, bawalah," kata mama Rio memberikan kartu ATM padaku.


"Tidak usah ma," tolakku menggeleng, "Jika aku menerima uang dari mama, rasanya aku seperti menjual anakku sendiri, mama tidak perlu kawatir, mamaku meninggalkan banyak uang untukku sebelum meninggal, jadi aku masih punya banyak simpanan," jekasku.


"Tak akan ada orang yang akan berpikir sepeeti itu tentangmu, aku memberikan ini karna aku sudah menganggamu seperti anakku sendiri," bujuk mama.


"Tidak perlu ma, sungguh! terima kasih karna selama ini sudah menyayangiku seperti anakmu sendiri," kataku tulus, mama Rio menatapku sedih, lalu memelukku erat.


"Kamu harus pandai bersembunyi, atau Rio akan menemukanmu, sekarang pergilah," kata mama Rio lirih melepas pelukannya,

__ADS_1


__ADS_2