Tak Terduga

Tak Terduga
Kembali bersama


__ADS_3

"Jessa," kata Taejun tersenyum saat melihatku.


"Taejun bisa bicara sebentar? ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu," pintaku, Taejun mengangguk terlihat penasaran karna expresiku sangat serius. Taejun minta izin pada bosnya sebentar, lalu membawaku ke luar Kaffe.


"Ada apa?" tanya Taejun penasaran. aku begitu gugup tidak tau bagaimana caraku menyampaikan hal ini pada Taejun. Tapi Taejun berhak taukan?. Taejun mengangkat kedua alisnya menunggu, karna aku masih diam, aku menelan ludah memberanikan diri untuk bicara.


"Sebenarnya Taejun.. aku hanya mau bilang.. aku hamil, sudah mau 3 bulan," kataku gugup.


"Benarkah? apa aku akan menjadi ayah?" seru Taejun menggenggam kedua tanganku, terlihat sangat bahagia.


"Tapi... " kataku tertahan.


"Tapi apa?" tanya Taejun ingin tau, aku menatapnya takut-takut.


"Aku tak yakin ini adalah anakmu atau anak Rio, jadi aku memutuskan untuk tes DNA janinku, maukah kau ikut tes DNA?" jawabku menelan ludah, expresi Taejun yang tadinya bahagia langsung berubah kecewa, genggaman tangannya langsung terlepas dari tanganku, dia tampak sangat terluka, Taejun mengalihkan pandangannya dariku, berusaha menyembunyikan matanya yang berair dariku, maafkan aku Taejun...


"Baiklah aku akan ikuti tes-nya," kata Taejun dengan suara bergetar. "Tapi.. jika ternyata aku bukan Ayah dari anak yang kau kandung, apakah aku akan kehilanganmu? selamanya?" tanya Taejun terlihat sedih. Aku menatapnya, juga tak mampu menyembunyikan kesedihanku. Aku harap bayi dalam kandunganku ini adalah anak Taejun, ku mohon tuhan... kabulkan Do'aku.


"Entahlah.. aku harap ini anakmu," sahutku sedih tak mampu menahan air mata yang terlanjur mengalir ke pipi. Expresi Taejun tampak sangat tersiksa, tiba-tiba Taejun langsung memelukku sangat erat, aku membalas pelukannya, aku begitu merindukan pelukan ini yang sudah lama tak pernah aku rasakan.


"Aku tidak sanggup jika harus melepaskanmu, aku tidak mau," kata Taejun menciumi dahi dan rambutku. "Sudah cukup aku merasa kehilanganmu sekali, aku tak mau jika harus kehilanganmu lagi, aku takkan sanggup menjalaninya," lanjut Taejun semakin erat memelukku. Aku menengadahkan wajahku menatap Taejun.


"Kalo begitu sehabis kerja, kau langsung tes, hem," pintaku.

__ADS_1


"Baiklah, sebentar lagi jam shif kerjaku selesai," kata Taejun memberitahu.


"Kalo begitu aku akan menunggu, kita pergi sama-sama," kataku, Taejun mengangguk, akupun ikut masuk ke dalam Kaffe, memesan minuman sambil menunggu Taejun selesai bekerja. Taejun kembali bekerja sambil sesekali memperhatikanku sambil melempar senyum, aku membalas senyumnya.


Setelah Taejun selesai bekerja, kami langsung pergi ke rumah sakit, dan mengambil sempel darah Taejun untuk di tes DNA. Kami makan malam bersama sebentar di sebuah lestoran, kemudian aku mengantar Taejun pulang.


"Jessa, tinggalah di sini bersamaku," kata Taejun tiba tiba, saat mobilku berhenti tepat di depan rumahnya.


"Apa?" kataku kaget, sontak menoleh padanya.


"Kau sedang hamil.. kurasa tidak akan baik jika kamu tinggal sendirian," jelas Taejun.


"Kenapa? lagi pula kitakan masih suami istri..." keluh Taejun, karna aku diam saja. Kurasa kita memang masih suami istri, kami tidak pernah bercerai kami hanya berselisih faham yang membuat kita sedikit ada jarak. Dan tidak ada alasan juga untuk aku menolak.. karna sekarang kita sudah berbaikan.


"Baiklah, tak masalah, apapun yang membuatmu nyaman," kata Taejun tersenyum lalu mengecup pipiku, "Tunggu di sini sebentar, aku akan mengemas barangku," pinta Taejun, aku mengangguk tersenyum padanya.


Setelah Taejun selesai berkemas kita langsung pulang ke rumahku.


Sesampainya di rumah.


"Apa kamu akan memintaku tidur di kamar yang terpisah?" tanya Taejun saat melewati ambang pintu, aku tersenyum geli mendengar pertanyaan polosnya.


"Buat apa tidur di kamar yang terpisah, kitakan suami istri," sahutku sedikit menggodanya.

__ADS_1


"Kau benar," kata Taejun tersenyum, lalu memeluk pinggangku dari belakang, meletakkan dagunya di bahuku. "Aku mencintaimu jessa, sangat mencintaimu," bisik Taejun di telingaku.


"Aku juga mencintaimu," kataku tersenyum, aku sangat rindu momen-momen seperti ini, saat aku dan Taejun dulu. aku berbalik menghadapnya, lalu melingkarkan lenganku di lehernya sembari menebar senyum manisku padanya. Taejun menatapku dengan expresi berseri-seri, perlahan menundukkan kepalanya lalu mengecup bibirku lembut, sekali.. dua kali.. kemudian ******* bibirku dengan semangat menggebu-gebu, aku membalas ciumannya sama menggebu-gebunya, seolah-oleh kita saling meluapkan rasa rindu kita masing-masing yang selama ini kita pendam.


"Di mana kamar kita?" tanya Taejun tersenyum sembari membopong tubuhku dengan kedua tangannya. aku tertawa memukuli bahunya,


"Sebelah sana," kataku memberitahu masih tertawa, Taejunpun membawaku masuk ke kamar, lalu membaringkanku dengan lembut ke tempat tidur, Taejun tersenyum lalu mengecup dahiku. Dan dia sendiri naik ke atas kasur, Taejun merentangkan tangan kirinya padaku, aku tersenyum langsung merangsek kepelukannya. Aneh dia tidak minta melakukan hubungan suami istri denganku, mungkin dia sudah tau kalo lagi hamil muda sebaiknya memang jangan melakukan hubungan suami istri dulu demi keamanan si jabang bayi. Aku memejamkan mata semakin mempererat pelukanku, Taejun mengelus rambut dan punggungku, entah bagaimana belaiannya selalu mampu membuatku merasa tenang.


Ke'esokan harinya saat aku bangun Taejun sudah tidak ada di kamar. Kemana dia? apa udah berangkat kerja sepagi ini? aku turun dari kasur lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mengganti pakaian aku keluar dari kamar, aku mencium aroma masakan yang super harum dari dapur, aku langsung pergi ke dapur, ternyata Taejun sedang memasak, Taejun langsung tersenyum saat melihatku, aku menghampirinya.


"Kelihatannya enak," komentarku tersenyum.


"Tentu saja, aku memasaknya dengan cinta," rayu Taejun mengedipkan matanya, aku tersenyum, "Duduklah," suruh Taejun sembari menata semua makanan yang di masaknya di meja makan, aku duduk, dan kami sarapan bersama. Semua makanannya sangat enak, ternyata Taejun sangat pandai memasak, sejak kapan dia pandai memasak, aku kok baru tau...


"Aku berangkat kerja dulu ya," kata Taejun setelah selesai memasak, aku mengangguk, "Kamu tidak apa-apakan aku tinggal dulu sendirian di rumah?" tanya Taejun sedikit kawatir.


"Jangan kawatir.. aku gak papa," kataku menenangkannya.


"Kalo begitu aku berangkat," kata Taejun berjalan ke arah pintu aku mengikutinya, Taejun berangkat dengan sepeda motornya setelah mengecup dahiku di depan pintu, aku tersenyum sembari melambai padanya.


Saat aku hendak masuk ke dalam rumah, tiba-tiba seseorang mencengkram pergelangan tanganku. Sontak aku menoleh karna kaget ternyata Rio.


"Rio? mau apa kau kesini?" tanyaku heran.

__ADS_1


"Kenapa? menemuimu saja aku tidak boleh! sedangkan Taejun tinggal denganmu di rumah ini boleh," protes Rio menatapku kesal.


__ADS_2