
"Boleh aku mengajak Taejun bicara berdua saja denganku sebentar?" pinta mama Rio.
"Tidak! tidak boleh," larangku cemas.
"Taejun?" tanya mama Rio menatap Taejun, Taejun menoleh padaku menatapku, tatapannya terlihat sedih, aku menggeleng padanya, cemas.
Taejun tersenyum padaku, senyum yang di paksakan, "Aku tidak apa-apa, tenanglah," kata Taejun menenangkanku, aku mencengkram lengannya erat, menatapnya kawatir, "Percayalah padaku," pinta Taejun mengelus pipiku. Aku mengangguk terpaksa.
"Mari," kata Taejun pada mama Rio, memberi isyarat untuk mengikutinya ke ruangan lain untuk bicara, mama Rio langsung mengikuti Taejun.
Aku menunggu dengan gelisah, apa yang mereka bicarakan? kenapa lama sekali..
Tak lama kemudian mereka kembali ke ruang tamu, aku terus memperhatikan Taejun, aku tidak mengerti dengan expresinya, expresi Taejun terlihat hampa, sedangkan expresi mama Rio terlihat lega.
"Taejun," seruku cemas, Taejun kembali duduk di sampingku.
"Jessa, tinggalah di rumah orang tua Rio," suruh Taejun hampa, perkata'annya bagaikan petir di siang bolong.
"Apa maksudmu Taejun.. kenapa menyuruhku tinggal Di rumah orang tua Rio??" tanyaku menatapnya sedih. "Aku tidak mau meninggalkan-mu sendirian disini," keluhku dengan mata berkaca-kaca.
"Kau tidak perlu kawatir, aku akan kembali ke korea," sahut Taejun, menahan expresi kesedihannya,
"Tidak! jangan tinggalkan aku Taejun.. bawa aku bersama-mu," rengekku mulai menangis menatap Taejun dengan berlinang air mata, Taejun menghindari tatapanku, tak mampu menatapku, expresinya tampak tersiksa. Sebenarnya apa yang di katakan mama Rio pada Taejun hingga Taejun mengambil keputusan seperti ini...
"Ku mohon Taejun.. jangan tinggalkan aku.. aku tak sanggup hidup tanpamu," pintaku lirih, menggenggam tangan Taejun, expresi Taejun tampak terluka, menatapku sedih.
"Jika kamu ikut Taejun ke korea, apa yang akan kau katakan pada keluarga Taejun, jika keluarganya sampai tau, kamu tengah mengandung anak dari pria lain? apa kau sudah memikirkan hal itu?" potong mama Rio padaku. Kata-kata mama Rio sungguh melukai perasaanku hingga membuatku menunduk sedih tanpa bisa mengatakan apapun, mama Rio benar.. apa yang akan aku katakan nanti pada keluarga Taejun.. Tante Yura pasti akan sangat kecewa padaku.. ku rasa aku pantas mendapatkan hukuman ini, Taejun pantas meninggalkanku, karna aku tak lagi pantas menjadi istri Taejun, yang ku berikan pada Taejun selama ini hanyalah penderitaan dan kesedihan, Taejun berhak hidup bahagia, tanpa di bayangi wanita seperti aku di sampingnya yang hanya akan membuatnya sedih, lagi pula aku tak bisa terus-terusan memaksa Taejun agar terus berada di sampingku. Baiklah, aku akan melakukannya, jika memang itu yang Taejun mau.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan tinggal di rumah orang tua Rio seperti yang kau minta, kau pantas meninggalkanku, karna aku tak pantas menjadi istrimu," bisikku lirih menatap Taejun dengan expresi hampa, Taejun menggeleng sedih, air matanya mengalir. "Bawa aku sekarang juga ke rumah anda, aku sudah siap," kataku pada kedua orang tua Rio, mereka tersenyum lega.
Taejun menggenggam tanganku erat, menahanku yang hendak beranjak dari dudukku, "Jessa jangan salah faham.. bukan itu maksudku," kata Taejun menatapku cemas.
"Tidak apa-apa Taejun, kau berhak meninggalkanku, aku pantas mendapatkan hukuman ini," kataku lirih, melepas genggaman tangan Taejun, aku sudah memutuskan! jadi aku tidak boleh lemah, ini semua demi kebaikan Taejun, karna tidak masuk akal bagi Taejun jika tetap bersamaku.
"Tidak Jessa..." seru Taejun tak mampu menahan air matanya.
"Anda sudah membuat keputusan, jangan bilang anda akan merubah kembali keputusan anda," potong papa Rio pada Taejun, hingga membuat Taejun tak mampu meneruskan kata-katanya,
"Ayo," ajak mama Rio padaku, dengan berat hati aku mengikuti ke dua orang tua Rio keluar rumah, Taejun menunduk terpaku di tempatnya berdiri, Taejun baru ikut keluar rumah setelah aku berada di dalam mobil kedua orang tua Rio. Papa Rio langsung melajukan mobilnya, expresi Taejun tampak cemas dan menyesal, ku lihat sekilas dari kaca spion mobil Taejun tampak mengejar mobil yang kita tumpangi, rasanya ingin sekali aku turun dari mobil dan memeluknya, tapi ku tahan sekuat tenaga agar tidak melakukannya, aku sudah terlanjur membuat keputusan, semuanya sudah berakhir, rasanya hatiku sangat hampa, air mataku mengalir deras tanpa bisa kutahan, akhirnya aku mendapat hukumanku.
Sesampainya di rumah orang tua Rio, semua pelayan mereka langsung menyambutku.
"Kau tampak sangat lelah, istirahatlah dulu, kau tidak boleh stres," komentar mama Rio, aku mengangguk tanpa expresi, "Cepat antarkan nona kalian ke kamar yang sudah aku siapkan," suruh mama Rio pada para pelayannya.
Siangnya mama Rio membangunkanku sendiri tanpa menyuruh pelayan,
"Makan siang dulu, ayo," suruh mama Rio lembut, dia menatap wajahku prihatin, mataku pasti bengkak karna banyak menangis.
"Baiklah, aku cuci muka dulu," kataku hampa, mama Rio mengangguk, ku akui mama Rio sangat perhatian padaku, apa karna aku mengandung anak Rio? tapi memang sebenarnya mama Rio orang yang baik, bahkan dulu sebelum aku mengandung anak Rio, dia sudah sangat baik padaku.
Setelah memcuci muka, aku mengikuti mama Rio ke meja makan, ternyata Rio sudah ada di sini, dia juga duduk di meja makan bersama papany.
"Jessica," sapa Rio tersenyum bahagia, aku langsung duduk, mengabaikan sapaannya. kedua orang tua Rio tak menegurku meski aku sudah bersikap dingin pada anaknya, mencoba memaklumi, mungkin mereka tak ingin ikut campur dalam masalah kita. Dan Rio-pun tak terlihat kesal meskipun aku mengabaikan sapaannya.
Mama Rio mengambilkanku nasi,
__ADS_1
"Makanlah yang banyak, kau terlihat kurus," kata mama Rio meletakkan piring yang sudah berisi nasi itu padaku, aku mengambil beberapa lauk, mama Rio langsung menaruh lauk-lauk yang ku ambil tadi di depanku.
Setelah makan mama Rio mengajakku keluar untuk jalan-jalan sekalian belanja, aku berusaha menolaknya, karna aku sedang malas keluar, tapi mama Rio tetap memaksaku, dengan enggan aku meng-iyakan akhirnya ikut, Rio yang menyetir, kenapa tidak suruh supir aja sih, kenapa Rio juga harus ikut? bikin tambah bad mood saja.
Kami jalan-jalan, belanja ini itu, jalanku mulai pelan karna kecapean,
"Apa kau kecapean? mau aku gendong?" tanya Rio terlihat kawatir.
"Tidak perlu," tolakku mentah-mentah.
Mama Rio langsung menggandeng tanganku, "Ayo kita duduk dulu, sambil makan, maaf mama tidak sadar kalau kamu kecapean sayang," kata mama Rio penuh kasih, tanpa di buat-buat, hingga membuatku tidak enak, aku mengangguk. Mereka terlalu memanjakanku, menawariku ini dan itu, membuatku tidak nyaman saja.
Kami pulang setelah matahari mulai gelap, Setelah selesai makan malam, aku langsung izin ingin tidur pada mama Rio, karna merasa kelelahan, mama Rio bahkan sampai mengantarku ke kamar, kurasa itu agak berlebihan, tapi aku mencoba untuk tidak berkomentar, sebahagia itukah orang tua Rio karna akan memiliki cucu? jika di pikir-pikir lagi mungkin sikap mereka tidak berlebihan.. karna tak ada yang bisa di harapkan dari Rio pada awalnya karna Rio adalah seorang gay, dan akhirnya selera menyimpang Rio sembuh setelah menikah denganku, tapi aku malah menggugat cerai dia saat dia mulai mencintaiku, hingga membuatnya tak mau menikah dengan wanita lain meski kedua orang tuanya sudah memaksanya, dan akhirnya aku malah hamil anak Rio, kedua orang tua Rio pasti bernafas lega setelah mendengar aku hamil anak Rio, tak heran mereka sangat memanjakanku.
Suara ketukan di pintu membangunkanku, aku menggeliat menatap ke arah jendela, ternyata sudah pagi, dengan enggan aku turun dari kasur lalu membuka pintu kamarku, ternyata Rio, aku mendesah kesal, mau apa sih dia?
"Kenapa?" tanyaku jutek.
"Aku hanya ingin memberikan teh ini padamu," jawab Rio tersenyum, hendak masuk ke kamar untuk meletakkan teh-nya, aku buru-buru mendorongnya untuk mencegahnya masuk hingga membuat teh yang ada di tangannya tumpah ke lengannya.
Jessica
Rio Dewanto
__ADS_1