
"Terima kasih Jessica, karna sudah mengandung anakku," kata Rio bersungguh-sungguh, dan entah mengapa aku langsung teringat saat Rio memberiku obat bius ke makananku, lalu memperkosaku hingga membuatku mengandung anaknya hingga membuatku berpisah dengan Taejun.
Aku mundur menjauhi Rio, "Aku mau ke kamar," kataku kaku, lalu berbalik dan langsung pergi ke kamar, aku tidak peduli jika aku menyakiti perasaannya, tapi setiap kali aku teringat kejadian itu, membuatku marah pada Rio.
Seseorang mengetok pintu kamarku, "Apa aku melakukan kesalahan tadi?" tanyanya ternyata suara Rio. "Maaf jika aku melakukan kesalahan, jangan marah. Aku hanya sangat bahagia tadi karna untuk pertama kali dalam hidupku aku merasakan kebahagiaan seperti ini, merasakan pergerakan bayi kita dari dalam perutmu," ungkap Rio, terdengar tulus, tapi entah mengapa aku malah semakin benci dan marah saat dia mengatakan 'Anak kita'. Aku tak menanggapinya menatap pintu kamar dengan penuh amarah.
"Tolong maafkan aku.. tak bisakah kau buka pintunya?" pinta Rio memohon.
"Tidak mau, aku capek ingin istirahat, jadi tak bisakah kau berhenti menggangguku?" sahutku dingin.
"Maaf sudah mengganggumu. Baiklah, istirahatlah," sahut Rio terdengar sedih, lalu suaranya tak terdengar lagi, Apa aku terlalu jahat padanya? tidak! dia pantas mendapatkan itu.
*************
Ke'esokan paginya. "Ini teh-mu," kata Rio masuk ke dalam kamarku yang terbuka.
"Letakkan saja di meja," sahutku tanpa menoleh padanya, tetap melakukan aktivitasku di depan cermin, menyisir rambut.
"Baiklah," kata Rio, aku bisa melihat dari pantulan cermin, Rio masih mematung melihatku setelah meletakkan tehnya di meja, tapi karna aku tak lagi merespon, Rio keluar dari kamar dengan wajah sedih.
"Sini akan ku ambilkan nasinya," kata Rio mengambil piringku saat sarapan bersama, aku langsung mengambil piring yang lain.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri." kataku dingin, Rio langsung berhenti mengisi piring itu dengan nasi, expresinya tampak terluka, tapi meski begitu dia tidak mengeluh padaku, Kedua orang tua Rio terlihat sedih karna aku masih bersikap dingin pada anaknya meski sudah sekian lama, aku mengabaikan rasa bersalahku terhadap kedua orang tua Rio. aku mengisi piring yang ku ambil dengan nasi lalu meletakkannya di depanku. Kami sarapan dalam diam.
Semakin hari perutku semakin membuncit, dan kekesalanku terhadap Rio semakin membesar seiring dengan membesarnya perutku, aku terus bersikap dingin dan acuh padanya, tapi Rio tak pernah protes ataupun marah padaku.
Dokter sudah mengira-ngira jadwal kelahiran anakku, karna kandunganku sudah berumur 9 bulan, dan aku sudah memutuskan setelah bayiku lahir, aku akan langsung pergi dari rumah ini agar terbebas dari Rio, tapi keputusanku ini sangat membuatku sedih, karna aku pasti takkan bisa membawa bayiku pergi bersamaku karna orang tua Rio jelas takkan mengizinkannya, dan jika aku membawa bayiku lari diam-diam orang tua Rio jelas akan mengejarku meski aku lari ke ujung dunia, jadi dengan berat hati aku memutuskan setelah lahiran nanti aku akan pergi tanpa membawa bayiku bersamaku, aku sangat yakin kedua orang tua Rio akan merawat bayiku dengan baik tanpa kekurangan sesuatu apapun, karna bagaimanapun bayi yang ku kandung adalah cucu satu-satunya dan juga cucu lelaki pertama mereka, aku mencoba tidak sedih saat memikirkannya.
**********
"Aku ingin bicara dengan anda sebentar, bisakah ikut denganku sebentar ke dalam kamar?" pintaku dengan suara kecil pada mama Rio, agar Rio yang sedang membaca koran di sofa sebelah tidak mendengar. Mama Rio mengangguk lalu menuntunku berjalan ke kamar, karna kandunganku sudah sangat besar membuat jalanku jadi pelan, aku juga gampang kecape'an, kakiku juga agak membengkak.
"Biar ku bantu," kata Rio tiba-tiba sudah berada di sampingku, membuatku kaget. Rio hendak memegang lenganku.
"Tidak perlu, mamamu sudah membantuku," kataku langsung menepis tangannya. Rio menatapku dengan expresi sedih, aku langsung mengalihkan mataku darinya, karna aku takut akan mulai iba padanya.
Mama Rio kembali menuntunku berjalan hingga ke kamar, saat sampai di kamar, Mama Rio menutup pintu kamarku, lalu membantuku duduk di atas kasur,
"Aku ingin menyampaikan sesuatu pada anda," kataku memulai pembicaraan.
Mama Rio duduk di sampingku lalu menggenggam salah satu tanganku. "Katakanlah," kata mama Rio dengan wajah sabar, tersenyum padaku.
"Biarkan aku pergi setelah melahirkan bayiku," pintaku memohon. Mama Rio tampak kaget, "Tapi anda tidak perlu kawatir, aku tidak akan membawa cucu anda bersamaku," kataku sedih.
__ADS_1
"Kenapa harus pergi? aku tau, kamu tidak bahagia selama tinggal di sini.. tapi tak bisakah kau tetap tinggal demi anakmu?" pinta mama Rio dengan wajah sedih.
Aku menggeleng, " Maaf, tapi aku sudah memutuskan untuk pergi, ini sangat sulit untukku.. karna harus meninggalkan bayiku di sini, tapi aku percaya anda pasti akan merawat bayiku dengan baik, aku akan mempercayakan bayiku pada anda," jawabku tak mampu menahan air mata kesedihanku.
Mama Rio mengangguk, "Baiklah, aku tidak akan menghalangi keinginan-mu," kata mama Rio berjanji, lalu mama Rio memelukku aku membalas pelukannya merasa sedih, karna bagaimanapun mama Rio sudah sangat baik padaku selama ini.
"Tolong rahasiakan ini dari Rio," pintaku pada mama Rio, karna kalo Rio sampai tau jelas dia tidak akan membiarkanku pergi.
Mama Rio melepas pelukannya, "Aku akan merahasiakannya," kata mama Rio mengangguk. "jadi kamu tidak perlu kawatir," lanjutnya menenangkanku.
"Terima kasih," kataku tulus, mama Rio mengangguk tersenyum dengan expresi sedih.
************
Akhir-akhir ini perutku sering keram juga tiba-tiba mulas, pencernaanku juga sedikit terganggu.. apa aku sudah mau melahirkan? tapi perkiraan dokter kan masih satu minggu lagi. Aku berjalan perlahan ke kamar mandi karna merasa mual, aku menunduk ke wastafel rasanya mau muntah, tapi tidak muntah-muntah juga. Tiba-tiba perutku kembali mulas dan kram secara bersamaan, aku memegangi perutku karna merasa kesakitan, dan tanganku yang satunya berpegangan pada wastafel, aku menggigit bibirku saat menahan rasa sakit di perut dan juga pinggangku, lalu tanpa ku sangka cairan seperti air mengalir deras dari vaginaku, aku langsung panik.
"Mama!" teriakku, memanggil mama Rio, sedangkan kakiku rasanya tak sanggup melangkah.
"Mama! Rio!" teriakku sekali lagi, semakin panik, tak lama kemudian, Rio, mama Rio, dan juga para pelayan berhamburan masuk ke dalam kamarku, dengan wajah cemas.
"Jessica! kenapa sayang?" tanya mama Rio langsung memegangi lenganku.
__ADS_1
"Aku juga tidak tau, perutku tiba-tiba sangat mulas dan cairan bening mengalir deras," jawabku sedikit terengah menunduk ke bawah kakiku, mama Rio melihat ke arah yang sama, lalu expresinya tampak kaget.
"Sayang, ketubanmu pasti pecah!" kata mama Rio terlihat panik, membuatku tambah panik, "Rio kita harus segera membawa Jessica ke rumah sakit," kata mama Rio pada Rio yang juga terlihat panik.