
"Kenapa?" tanyaku jutek.
"Aku hanya ingin memberikan teh ini padamu," jawab Rio tersenyum, hendak masuk ke kamar untuk meletakkan teh-nya, aku buru-buru mendorongnya untuk mencegahnya masuk hingga membuat teh yang ada di tangannya tumpah ke lengannya.
"Shitt," seru Rio kepanasan, apa sikapku sudah sangat keterlaluan? aku bener-bener wanita jahat,
Karna tak tega, aku menarik lengan Rio, "Sini," kataku menariknya ke kamar mandi, lalu menyiram lengannya yang ke tumpahan teh panas dengan air di wastafel, aku mengambil salep untuk luka bakar, lalu mengoleskannya ke lengan Rio, dari tadi Rio terus menatapku tapi aku mengabaikan tatapannya.
"Sudah," kataku kaku, setelah selesai mengoles salep, Rio masih menatapku tertegun antara sadar dan tidak sadar expresinya terlihat bahagia dan tak menyangka.
"Rio?" keluhku.
"Oh, terimakasih," kata Rio terbata-bata mulai sadar,
"Kau boleh keluar," singgungku, karna Rio tak juga mau beranjak,
"Oh baiklah," kata Rio terlihat sedikit bingung, lalu dia keluar dari kamarku. Setelah Rio keluar dari kamar, aku masuk ke kamar mandi untuk mandi.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan lagi di pintu kamarku saat aku menyisir rambutku di depan kaca, aku beranjak lalu membuka pintu kamar, ternyata salah seorang pelayan.
"Nona anda di suruh turun untuk sarapan bersama," kata pelayan itu.
"Baiklah, aku akan segara turun," sahutku, pelayan itu mengangguk lalu pergi, setelah selesai mengeringkan rambut, aku turun ke bawah untuk sarapan. Makanan yang terhidang di meja, semuanya makanan kesukaanku, melihatnya membuatku mengangkat kedua alisku.
__ADS_1
"Duduklah sayang," kata mama Rio tersenyum, yang sudah menungguku untuk sarapan bersama Rio dan juga papa Rio, kenapa Rio masih disini sih? kenapa gak tinggal di rumahnya sendiri saja! dia kan sudah beli rumah sendiri saat menikah denganku dulu. Aku mengangguk duduk.
Setelah sarapan, mama Rio mengajakku olah raga untuk ibu hamil di ruangan gym-nya, sedangkan papa Rio berangkat ke kantor, sedangkan Rio tetap di rumah, memerhatikan kami olah raga, membuatku jengah saja.
Setelah capek berolah raga dan melakukan hal lainnya bersama mama Rio, aku masuk ke kamar untuk istirahat. Suara kegaduhan membuatku terbangun dari istirahat siangku, aku mendengar suara teriakan dan perdebatan samar-samar dari dalam kamar, kenapa aku merasa seperti mendengar suara Taejun memanggil namaku? apa jangan-jangan memang benar Taejun datang kesini untuk menemuiku? aku buru-buru turun dari kasur lalu keluar dari kamar, sedikit berlari menuju ruang tamu, tapi setelah aku sampai di ruang tamu, aku hanya melihat Rio dan mamanya di sana dan beberapa pelayan dan penjaga rumah juga, expresi Rio dan mamanya tampak resah.
"Ada apa? siapa yang bertamu?" tanyaku ingin tau, mama Rio langsung menghampiriku, menggenggam tanganku.
"Bukan siapa-siapa sayang, hanya pegawai dari kantor yang di suruh papa Rio untuk mengambilkan berkas di rumah," jelas mama Rio tersenyum, aku merasa sedikit kecewa, tapi kenapa aku merasa ada yang mama Rio sembunyikan dariku? aneh, jika hanya ingin mengambil berkas, kenapa gaduh sekali? apa tadi aku hanya salah dengar? saat mendengar suara Taejun? mungkin aku hanya sangat merindukannya, makannya sampai merasa mendengar suaranya.
"Benarkah? lalu kemana sekarang pegawainya?" tanyaku.
"Dia sudah pergi," jawab mama Rio.
"Oh," sahutku, tanpa expresi.
"Aku ingin makan rujak buah," jawabku polos, menunduk merasa malu,
Mama Rio tersenyum pengertian, "Kau dengar itu Rio, Jessica ingin makan rujak buah, cepat belikan," kata mama Rio, pada Rio yang berjalan di belakang kami. Sebenarnya tak perlu menyuruh Rio untuk membelinya.. kenapa tidak menyuruh pelayan saja.. membuatku tidak nyaman saja
"Baik ma, aku akan segera membelinya," kata Rio bersemangat, tersenyum padaku, aku berpaling pura-pura tak menatapnya.
"Jangan lama-lama belinya," kata mama Rio pada Rio,
__ADS_1
"Baiklah," kata Rio riang langsung berangkat.
Setelah makan siang bersama mama Rio. Rio datang membawa rujak buahnya, dengan expresi malu-malu Rio memberikan rujak buahnya padaku, ada apa dengan sikapnya? kenapa tiba-tiba bertingkah seperti anak kecil? aku menerima rujak buahnya dan langsung memakannya karna aku memang lagi pengen banget.
Aku menjalani hari-hariku kurang lebih seperti itu setiap harinya, dengan selalu di perhatikan dan di manja, aku merindukan Taejun, aku pikir Taejun akan menjengukku sesekali, tapi dia tak pernah datang, kurasa Taejun benar-benar sudah kembali ke korea, aku menatap ke luar jendela kamar dengan wajah murung, ternyata Taejun benar-benar sudah meninggalkanku, mungkin dia sudah sangat kecewa padaku, aku menahan diriku agar tidak menangis, tapi air mataku lolos begitu saja dari kedua sudut mataku, bagaimanapun aku harus bisa menerima kenyataan, tapi itu sungguh tidak mudah untuk bisa ku jalani.
Hari ini hari cek up kandunganku ke dokter, aku pergi dengan mama Rio ke rumah sakit, dan juga Rio yang menyetir mobilnya. Rio dan mamanya tampak takjub saat ikut melihat aku yang sedang di USG, takjub melihat perkembangan bayiku yang semakin membesar, setelah terakhir kali cek up. karna umur kandunganku sudah 7 bulan lebih. keluarga Rio sangat senang saat pertama USG dan tau bahwa anak yang ku kandung berjenis klamin laki-laki, dan aku juga tak bisa membohongi diriku sendiri.. akupun juga merasa senang saat tau bayi yang ku kandung dalam perutku berjenis klamin laki-laki.
Setelah pulang dari rumah sakit, mama Rio mampir di sebuah lestoran untuk membelikan makanan favorite-ku, untuk di bawa pulang.
Sesampainya di rumah, kami semua makan malam bersama beserta papa Rio juga. Saat hendak beranjak dari kursi setelah makan, bayi dalam perutku menendang perutku agak keras.
"Aduh," kataku reflek langsung memegangi perutku karna terkejut.
Mama Rio langsung menghampiriku terlihat kawatir, "Kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya terkejut saja, karna bayinya tadi menendang perutku cukup keras," kataku tersenyum, menenangkan mama Rio yang terlihat kawatir.
"Benarkah?" kata mama Rio tersenyum sembari menyentuh perutku, lalu menelengkan kepalanya keperutku, mencoba merasakan pergerakan bayiku yang sedang aktif di dalam perutku,
"Aku bisa merasakan pergerakannya!" kata mama Rio memberitahu terlihat senang, "Rio sini, kau coba rasakan juga pergerakan anakmu," suruh mama Rio exaited, senyum Rio langsung lenyap, menatapku kawatir, takut aku tidak akan menyukainya.
"Bolehkah?" tanya Rio padaku dengan expresi siap di tolak. mama Rio ikutan menatapku berharap. Aku mengangguk terpaksa karna tak tega, mereka berdua langsung tersenyum, dan untuk pertama kalinya Rio menyentuh perutku sejak ke hamilanku, Rio berlutut bertumpu pada tumitnya, dengan lembut Rio meletakkan kedua tangannya di perutku, lalu dia menempelkan salah satu pipinya ke perutku yang membuncit, merasakan pergerakan bayi yang ada dalam perutku.
__ADS_1
"Aku juga merasakan pergerakan bayiku," kata Rio mendongak menatapku tersenyum dengan expresi bahagia, matanya tampak berkaca-kaca, dan entah mengapa rasanya hatiku langsung terenyuh, dan untuk pertama kalinya sejak kemarahanku pada Rio, aku tersenyum padanya, air mata Rio bergulir saat melihat senyumku.
"Terima kasih Jessica, karna sudah mengandung anakku," kata Rio bersungguh-sungguh, dan entah mengapa aku langsung teringat saat Rio memberiku obat bius ke makananku, lalu memperkosaku hingga membuatku mengandung anaknya hingga membuatku berpisah dengan Taejun.