
"Aku akan mengantarmu pulang," kata Taejun mengikutiku keluar rumah.
"Tidak perlu Taejun, Karna kalo sampai ada yang lihat, akan jadi masalah... " tolakku.
"Tapi ini sudah larut malam," kata Taejun terlihat cemas.
"Tenang saja... aku bisa menjaga diri," kataku tersenyum, sambil memain mainkan jariku yang mampu mengendalikan beberapa element, Taejun tersenyum menanggapi candaanku.
"Baiklah, tapi telfon aku setelah kau sampai di rumah, ok, " pinta Taejun tersenyum lalu mengecup dahiku.
"Baiklah," kataku menyetujui, lalu buru buru pulang,
******
Sesampainya di rumah, aku melihat Rio sedang minum minum di konter dapur, inikan sudah malam kenapa Rio belum tidur? aku menghampirinya.
"Rio kenapa belum tidur?" tanyaku, Rio berbalik,
"Jessica... akhirnya kau pulang juga," seru Rio terlihat sangat mabuk, aku memutar bola mataku.
"Apa kau bersenang senang hari ini?" tanya Rio tersenyum seperti orang bodoh.
"Ya, tentu saja," jawabku enggan, "Sebaiknya kau istirahat ke atas Rio, kau sangat mabuk," kataku.
"Ya aku mabuk karna cintamu," kata Rio asal.
__ADS_1
"Kau malah bicara omong kosong, aku ke kamar dulu," kataku berbalik berjalan menuju kamar.
Saat aku hendak masuk ke dalam kamar tiba tiba saja Rio menyambar lenganku. Membuatku kaget.
"Rio! kau apa apa'an sih! kau mabuk, lepaskan!!" kataku menepis tangan Rio dari lenganku. Tapi Rio kembali menyambar lenganku.
"Taukah kau, tadi aku menunggumu pulang seperti orang bodoh?" kata Rio kesal.
"Aku kan sudah menyuruhmu untuk tidak menungguku," kataku kesal.
"Aku sudah mencobanya untuk tidak menunggumu, tapi aku tidak bisa.. ku rasa aku sudah jatuh cinta padamu jessica, aku tidak suka saat kau bilang kau ingin menemui pria lain..." kata Rio mabuk, apa dia sedang melucu? apa dia lagi mengejekku? seorang gay yang sedang mabuk menyatakan cintanya pada? sudah gila.
"Rio, berhentilah bicara omong kosong, pergilah! kau mabuk, " kataku kesal.
"Aku mencintaimu Jessica, aku mencintaimu! apa kau tidak mengerti!," teriak Rio, benar benar sudah gila, apa maksudnya dia bilang cinta padaku, padahal dia seorang gay.
"Apa kau sudah gila!" bentakku, Rio terlihat semakin marah nafasnya memburu menatapku, membuatku takut, lalu tanpa aba aba Rio mengangkat tubuhku, mengusung tubuhku di bahunya membawaku masuk ke dalam kamar,
"Apa apa'an kau! turunkan aku!" teriakku, memukuli bahunya, Rio lalu menghempaskan tubuhku ke atas kasur, lalu dia merangkak naik ke atas tubuhku menindihku, aku berusaha mendorong dadanya, tapi Rio langsung mencengkram kedua tanganku dan menekan kedua tanganku ke atas kasur, lalu ******* bibir dan leherku dengan ganas.
"Rio jangan!" jeritku. tangan Rio beralih ke bajuku, menyentaknya dengan kasar, hingga kancing kancing bajuku terlepas berjatuhan, spontan aku langsung mengendalikan aliran darah Rio saat Rio hendak meremass payudaraku, menghempas tubuhnya hingga menabrak lemari dan jatuh berdebam ke lantai, mataku nanar menatap tubuh Rio yang tergeletak di lantai tanpa bergerak setelah jatuh berdebam,
"Rio?" panggilku, tapi Rio tidak bergerak atau menyahuti panggilanku, apa aku terlalu kencang tadi saat menghempas tubuhnya? jangan jangan aku sudah membunuhnya, oh... tidak tidak tidak, aku buru buru turun dari kasur untuk mengeceknya.
"Rio?" kataku mengguncang tubuhnya, tapi tak ada respon, dengan tangan gemetar aku mengecek nafasnya dengan meletakkan jariku di bawah hidungnya, dan aku bernafas lega saat merasakan hembusan nafas dari hidungnya, ku rasa dia hanya pingsan, syukurlah.. ku kira aku akan masuk penjara karna sudah membunuh orang.
__ADS_1
Aku memanggil bibik untuk membantuku mengangkat tubuh Rio naik ke atas kasur, ternyata Rio sedang demam, aku menelfon dokter untuk memeriksanya, ternyata tidak ada yang serius dia hanya demam dan terlalu banyak minum, tapi kata dokter Rio juga sedang tertekan.
Aku mengompres Rio setelah dokternya pulang, sambil menatap wajahnya yang terlelap tidur, aku benar benar tak tega melihatnya, memang dia punya masalah apa hingga membuatnya tertekan? maafkan aku Rio karna sudah membuatmu terhempas hingga jatuh kelantai.
Aku terus menatapnya sambil memikirkan apa yang tadi Rio bicarakan padaku, apa benar Rio mencintaiku? apa itu masuk akal? lalu aku teringat ucapan mama Rio saat membuat kue di dapur rumah orang tua Rio, mama Rio berharap aku bisa menyembuhkan selera Rio yang menyimpang... jangan bilang permintaan mama Rio itu benar benar terjadi, bahwa selera menyimpang Rio sudah sembuh dan Rio benar mencintaiku? dan selera menyimpangnya sembuh gara gara aku? wah... bukan main! apa itu masuk akal?.
Aku mengompres Rio semalaman agar demamnya cepat turun hingga aku tertidur di kursi dengan kepala ku baringkan di atas kasur dekat tangan Rio.
Keesokan paginya aku terbangun karna sesuatu yang lembut menyentuh bibirku, aku mencoba membuka mataku yang sayu karna masih mengantuk, aku mengangkat kepalaku meregangkan otot ototku sambil menguap.
"Pagi... kau sudah bangun," kata Rio tersenyum padaku, ternyata Rio sudah bangun duduk di atas kasur. Aku berdiri lalu menyentuh dahinya untuk memeriksa apakah demamnya sudah turun, ternyata demamnya sudah turun.
"Syukurlah demammu sudah turun," kataku kaku, Rio terus menatapku terlihat bahagia, jika memang benar Rio mencintaiku, aku harus menjelaskan pada Rio bahwa percuma saja dia mencintaiku, karna aku tak akan pernah bisa membalas cintanya, karna aku sudah punya suami yang sangat aku cintai.
"Apa kau menungguiku semalaman untuk mengompresku?" tanya Rio tersenyum sambil melihat alat kompros di meja.
"Yeah.. tapi jangan salah faham, aku melakukannya karna aku merasa bersalah," jawabku enggan.
"Tapi aku masih tak percaya dengan apa yang ku lihat semalam, apa kau benar benar bisa melakukan hal semacam itu?" tanya Rio terheran heran, ternyata Rio mengingat semua kejadian tadi malam meskipun dia sudah mabuk berat? aku menghembuskan nafas lelah.
"Ya, aku bisa melakukan hal semacam itu, jadi kamu jangan pernah mengulangi lagi apa yang kamu lakukan tadi malam jika tak ingin tulang tulangmu itu patah," jawabku kesal.
"Tapi jessaica.. aku mencintaimu," kata Rio menatapku.
"Maaf Rio tapi aku gak bisa membalas cintamu, kamu kan sudah tau.. aku sudah punya suami dan aku sangat mencintainya," kataku tegas, Rio tampak sangat kecewa. "Dan aku juga tidak akan memaafkanmu untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku semalam," kataku marah. suara teleponku yang berdering mengintrupsi omelanku.
__ADS_1
"Aku angkat telfon dulu, aku akan menyuruh bibik membawakanmu sarapan," kataku sembari keluar dari kamar untuk mengangkat telepon. Ternyata Taejun, dia terdengar kawatir karna semalam aku tidak memberinya kabar, dan teleponku tidak ku angkat semalam. Aku menjelaskan semua yang terjadi pada Taejun kecuali Rio yang menyatakan cintanya padaku dan mencium paksa aku, aku tidak mungkin menceritakan itu pada Taejun, bisa bisa Taejun marah besar, tapi aku berjanji akan menceritakan semua pada Taejun setelah aku berhasil memenjarakan si brengsek itu dan kembali ke korea bersamanya.
"Rio aku akan keluar, aku ada janji dengan Taejun," kataku pada Rio setelah kembali ke kamar.