
"Aku harus pulang," kataku,
"Biar aku antar," kata Ga In, bagaimana kalo sampai ada yang lihat kebersama'an kami?dan memotret kami lagi? Taejun pasti akan tambah marah padaku,
"Tidak perlu Ga In, aku perlu waktu sendiri.. gak papakan," kataku menatapnya sedih,
"Baiklah," kata Ga In terlihat kecewa,
"Maaf... " kataku sedikit merasa bersalah lalu pergi meninggalkannya, aku berkeliaran sebentar untuk menenangkan perasa'anku sebelum akhirnya pulang,
Sesampainya di rumah, ku lihat Taejun sudah tertidur di atas kasur, dia bahkan tidak menelfon atau menungguku pulang.. hatiku rasanya sakit saat menyadari hal itu, setelah berganti pakaian aku berbaring ke atas kasur sambil menangis tanpa suara, aku menangis hampir semalaman sampai akhirnya terlelap tidur,
Ke'esokan harinya aku lega karna wajah Taejun sudah tidak terlihat marah lagi, tapi Taejun masih mendiamkan aku, masih tak ingin bicara padaku, dan akupun tidak mau memaksanya bicara padaku, biarlah dia tenang dulu baru aku akan bicara padanya, kami berangkat ke kampus sambil berdiam diri, saat sampai di kampus Taejun kembali terlihat marah lagi saat melihat Ga In menungguku di depan gedung, Taejun langsung berjalan cepat dengan kesal meninggalkan aku sendiri masuk ke dalam gedung kampus, aku menghembuskan nafas sedih,
"Pagi Jessa," sapa Ga In menghampiriku, aku berusaha tersenyum padanya meski tak ingin, karna tidak adil jika aku malah marah padanya,
"Pagi," balasku, "Ayo masuk ke kelas," ajakku pada Ga In, saat aku masuk ke dalam kelas aku melihat ke sekeliling ternyata Taejun belum masuk ke dalam kelas, kemana dia? aku duduk dengan expresi sedih, Ga In duduk di sampingku, saat dosen datang Taejun juga datang berjalan masuk di belakang dosen lalu duduk sejauh mungkin dariku, semarah itukah dia? rasanya hatiku serasa di remas, sakitnya membuatku ingin menangis tapi ku tahan agar tidak sampai menangis,
Saat jam makan siangpun dia terus menghindariku masih tak mau bicara padaku, dia makan sendirian tanpa mengajakku, aku berdiri sambil memegang nampan nasi menatapnya dari kejauhan, dia sadar aku sedang menatapnya tapi dia acting seolah olah tidak melihatku, mengabaikan aku,
"Jessa sedang apa berdiri saja disini, ayo," ajak Ga In menarik lenganku, mengajakku duduk dengannya, lalu Baek Hyun dan juga Rin Ah juga duduk bersama kami, aku makan sambil mengobrol dengan mereka sesekali melirik Taejun sedikit takut, Taejun menatap kesal ke arah kami lalu dia mengalihkan tatapannya saat tau aku melihat ke arahnya, lalu ku lihat Soo Hyeon dan 3 temannya menghampiri Taejun lalu mereka duduk dengan Taejun, mereka mengobrol sambil makan dengan Taejun terlihat akrab, aku mengalihkan mataku dari mereka merasa sangat sedih dan kesal, tega sekali.. aku tak mau melihat mereka lagi, aku benar-benar tak selera makan,
**********
__ADS_1
Setelah kuliah usai aku keluar dari kelas tanpa menoleh ke arah Taejun, masak bodoh! terserah, aku akan pulang sendiri tidak akan menunggunya seperti orang bodoh, Ga In ikut keluar denganku berjalan di sampingku,
"Aku akan pulang denganmu naik bus," kata Ga In tersenyum padaku,
"Lalu gimana dengan mobilmu? gak perlu menemaniku.. aku bisa pulang sendiri," kataku merasa tidak enak,
"Tenang saja.. aku akan menyuruh orangku untuk membawa mobilku pulang, atau.. bagaimana kalo kamu aku antar pulang dengan mobilku saja," usul Ga In berharap,
"Aku tidak mau," kataku,
"Baiklah gak papa, kita pulang naik bus saja," kata Ga In melirikku, lalu dia menggandeng tanganku,
"Ga In.. jangan seperti ini, gimana kalo ada yang lihat dan memotret kita lagi, dan menulis berita yang tidak tidak kalo kita itu pacaran.. nanti mereka akan menggosipkan kita lagi," keluhku mencoba menarik tanganku darinya, Ga In tak mengizinkannya dia malah semakin erat menggenggam tanganku,
"Apa?" kataku tak percaya,
"Aku ingin kau beneran jadi pacarku, Jessa aku mencintaimu jadilah pacarku," ungkap Ga In, apa? yang benar saja.. aku menatapnya kaget, Ga In terlihat sangat serius, menunggu jawabanku.. lalu tiba-tiba saja Taejun datang dan melepas genggaman tangan Ga In dari tanganku,
"Jessa tidak bisa jadi pacarmu," kata Taejun menatap Ga In marah,
"Apa apa'an sih kamu? jangan ikut campur masalahku dan Jessa, kau tidak berhak ikut campur.. kau bahkan bukan pacar Jessa!" bentak Ga In mendorong dada Taejun, aku melirik Taejun merasa kawatir dia akan memberitahu Ga In bahwa aku sebenarnya adalah istrinya, Taejun melirikku melihat wajah kawatirku, semoga saja dia mengerti apa yang ku kawatirkan.
"Tentu saja aku punya hak! kau tidak tau apa apa.. Jessa adalah milikku, aku mencintainya," bentak Taejun pada Ga In, aku tertegun menatap Taejun bahagia bukan main saat mendengar Taejun bilang bahwa dia mencintaiku, karna ini pertama kalinya Taejun menyatakan cintanya padaku, aku sudah lama menunggunya mengatakan hal itu, dan akhirnya hari ini dia mengatakannya,
__ADS_1
"Jessa?" kata Ga In masih menunggu jawabanku,
"Ga In maaf.. tapi aku mencintai Taejun," kataku merasa bersalah, Ga In menghembuskan nafas kesal merasa tak percaya,
"Kau dengar itu, jadi mulai sekarang jangan mengganggunya lagi, Jessa adalah milikku," kata Taejun pada Ga In dingin, lalu Taejun menarikku pergi, Taejun buru-buru menyetop taxi saat melihat taxi lewat, lalu Taejun menarikku masuk ke dalam taxi untuk pulang, kenapa tidak naik bus saja, perhentian busnya kan sudah dekat, ah.. terserahlahlah, di dalam taxi Taejun masih menggenggam tanganku tapi dia tidak bicara sepatah katapun padaku,
"Tadi... " kataku ragu ragu, Faejun melirikku, "Tadi saat kau bilang kau mencintaiku apakah itu benar? apakah kau benar-benar mencintaiku?" tanyaku menatapnya,
"Tentu saja, kau pikir itu lelucon," kata Taejun malu lalu melepas genggaman tangannya di tanganku, aku berusaha menyembunyikan senyumku, aku merasa sangat bahagia karna Taejun mengakuinya,
"Kau tadi juga bilang kau mencintaiku.. apakah itu benar?" tanya Taejun melirikku, aku mengangguk, Taejun tersenyum sekilas lalu buru-buru berpaling dariku,
Sesampainya di rumah saat masuk ke kamar, kami berdua jadi salah tingkah,
"Eh aku mau ke kamar mandi, mau ganti baju," kata Taejun wajahnya memerah, lalu buru-buru masuk ke kamar mandi, aku mengibas ngibaskan tanganku merasa gerah.. wah... kenapa rasanya panas sekali.. jantungku tidak mau melaju pelan meski sudah ku paksa, aku tidak tau harus bagaimana, lalu aku duduk di atas kasur menunggu Taejun selesai dari kamar mandi, tidak tidak! kenapa aku duduk di atas kasur.. bagaimana kalau Taejun salah faham, aku cepat-cepat berdiri menjauh dari kasur, aku mengumpat kaget saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, aku melirik rambut Taejun yang basah, kenapa tiba-tiba dia terlihat sexi ya? aku menelan ludah gugup rasanya aku sulit bernafas, Taejun terlihat sama gugupnya denganku, aku buru-buru mengambil baju ganti saat Taejun keluar dari kamar mandi, lalu aku masuk ke kamar mandi, setelah mandi dan ganti baju, aku keluar ragu ragu dari kamar mandi, ku lihat Taejun berdiri di depan kaca lalu mataku dan mata Taejun saling bertemu pandang, aku buru-buru mengalihkan mataku darinya, lalu berjalan melewatinya mengitari kasur, tiba-tiba saja Taejun memelukku dari belakang, aku kaget menelan ludah dengan suara berisik,
"Aku mencintaimu," bisiknya di telingaku, aku tersenyum bahagia, aku berbalik menatapnya, Taejun juga menatap mataku begitu dalam, lalu dengan perlahan Taejun mendekatkan wajahnya padaku dan mengecup bibirku lembut, jantungku berdetak tak karuan aku merasakan panas di sekujur tubuhku, panas yang menyenangkan, aku membalas kecupannya, lalu Taejun merengkuh kedua pipiku langsung ******* bibirku, kedua tanganku merangsek naik ke bahu Taejun melingkarkan kedua lenganku ke lehernya, kedua tangan Taejun turun ke pinggangku menarikku lebih dekat lagi padanya, bibir kami saling ******* seirama, sambil berciuman Taejun menggiringku berjalan ke arah kasur, kakiku membentur pelan pinggiran kasur di belakangku membuatku jatuh ke atas kasur bersama Taejun, membuat tubuh Taejun menindih tubuhku, nafasku memburu, Taejun menatapku tersenyum, aku juga tersenyum, lalu Taejun kembali ******* bibirku, dan.. tiba-tiba pintu kamar terbuka, aku dan Taejun sontak kaget buru-buru bangun, aku duduk di atas kasur sedangkan Taejun berdiri turun dari kasur, ternyata kak Taerang,
"Uuuups maaf, kakak menyuruh kalian untuk makan malam," kata kak Taerang berusaha menahan tawa,
"Baiklah," sahut Taejun, aku menunduk malu tak berani menatap kak Taerang karna dia pasti akan mengejekku,
"Lain kali jangan lupa mengunci pintunya," kata kak Taerang mengejek, lalu keluar dan menutup pintunya,
__ADS_1