Tak Terduga

Tak Terduga
Hasil tes


__ADS_3

Rio menggedor pintu rumahku, memanggil-manggil namaku aku mengabaikannya.


"Jessica, tak bisakah kau melihatku sebagai pria walau hanya sekali? setidaknya kau harus memberiku kesempatan..." pinta Rio terdengar sedih.


"Pergilah Rio! atau aku akan menelfon polisi agar menangkap-mu, karna terus menggangguku," sahutku dari dalam rumah, ketukan di pintu semakin melambat.


"Ingatlah, aku tidak akan menyerah segampang itu," kata Rio pelan dari balik pintu, lalu ketukan di pintu terhenti, mungkin Rio sudah pergi. Aku merosot terduduk di lantai, kenapa sih Rio.. kenapa kamu tidak mau melepaskan aku.. apa yang harus ku lakukan agar lepas darimu!.


Beberapa hari terakhir ini, aku sedikit bernafas lega karna Rio tak lagi menggangguku atau datang ke rumahku. Hingga aku bisa menikmati hari-hari bahagiaku bersama Taejun dengan tenang. Ternyata hamil tidak semenakutkan yang pernah aku bayangkan, memang kadang perutku sering keram, dan juga ada makanan-makanan tertentu yang bikin aku mual, padahal sebelum hamil aku bisa makan apa saja, dan tentang ngidam, ternyata itu bukan hanya bualan.. karna sekarang aku mengalaminya sendiri, pas lagi ngidam tu rasanya bener-bener harus makan apa yang lagi aku ngidamkan, rasanya gak bisa tidur sebelum aku bisa memakannya.. dan sikapku juga jadi lebih manja saat hamil, juga cepat ngambek, emosi naik turun, dan perutku sudah agak membesar sekarang dan kadang aku merasakan sudah mulai ada pergerakan janin yang ada di perutku. Aku sebel saat Taejun mengejekku tentang berat badanku yang bertambah semenjak hamil. Tapi aku sangat bersyukur memiliki Taejun di sampingku, dia begitu perhatian padaku, menjagaku dengan sangat baik, membuatku tambah mencintainya.


Hari ini tes DNA-nya akan keluar, aku begitu gugup, saat dalam perjalanan ke rumah sakit bersama Taejun, semoga hasilnya sesuai yang aku inginkan, Taejun tau aku sedang gugup, dia mencoba menenangkanku dengan menggenggam tanganku erat.


"Tenanglah, semuanya akan sesuai dengan ke inginan kita," kata Taejun coba menenangkan, aku mengangguk menarik nafas lalu menghembuskannya pelan, semoga hasilnya sesuai yang kita inginkan, seperti yang Taejun katakan, Taejun begitu percaya bahwa anak dalam kandunganku ini adalah anaknya, semoga aku tidak sampai mengecewakannya.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, aku langsung melengos saat bertemu dengan Rio, ternyata dia sudah datang duluan, kami bertiga duduk di ruang tunggu, menunggu dokternya datang. Kami bertiga langsung berdiri saat Dokternya datang.


"Bagaimana hasilnya Dok?" tanya Taejun dan Rio berbarengan, aku menelan ludah begitu gugup.


"DNA yang lebih cocok di antara kalian berdua dengan janin itu, adalah DNA milik Pak Rio," kata Dokter itu, aku langsung lemas, Taejun langsung memeganga tubuhku yang lemas, tidak, tidak mau, pasti ada kesalahan! aku menatap Taejun, expresinya tampak sangat kecewa matanya mulai berair sama sepertiku, sedangkan Rio tersenyum penuh kemenangan.


"Ini hasil tesnya," kata Dokter itu, menyerahkan hasil tesnya pada kita bertiga, saat kulihat ternyata memang benar, DNA Taejun dan janinku tidak cocok, tapi DNA Rio justru yang cocok dengan DNA Janinku, air mataku mengalir deras tanpa ku rasa, bagaimana caraku menatap wajah Taejun mulai sekarang.. aku takkan sanggup! aku sudah mengecewakannya.


"Kamu lihat? sekarang sudah jelas bahwa anak dalam kandunganmu itu adalah anakku, bukan anak Taejun!" seru Rio dengan expresi penuh kemenangan, rasanya ingin sekali aku mencakar wajahnya. expresi Taejun tampak terluka, tapi dia berusaha menyembunyikannya dariku.


"Taejun.. maafkan aku.., kau boleh meninggalkanku, aku tidak akan mengeluh, kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku," kataku menangis tersedu-sedu.


"Jessa.. apa yang kau katakan! aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi, aku tidak peduli meskipun anak dalam kandunganmu itu bukanlah anakku, bagiku kau tetap istriku," kata Taejun memelukku erat.

__ADS_1


"Apa maksudmu Taejun?" dengus Rio, "Jessica sedang mengandung anakku.. jadi aku akan membawanya bersamaku, aku bertanggung jawab atas anak yang ada dalam kandungannya, mulai sekarang aku yang akan menjaga Jessa dan anakku!" kata Rio pada Taejun dengan expresi arogan.


"Sebaiknya kau jangan bermimpi! aku tidak sudi tinggal denganmu!" seruku dengan amarah meluap-luap, "A' aduh.. perutku," keluhku memegangi perutku yang kesakitan,


"Jessa, Jessica!" seru Taejun dan Rio berbarengan, memegangiku terlihat sama-sama panik dan cemas.


"Sebaiknya cepat bawa bak Jessica ke ruang pemeriksaan," kata Dokter yang sedari tadi hanya bisa diam mendengar perdebatan kita bertiga, Rio hendak menggendongku, tapi aku mengkeret kepelukan Taejun, memegangi kerah baju Taejun kuat-kuat, Taejun langsung menggendongku lalu membawaku ke ruang pemeriksaan. Setelah selesai di periksa, Dokter memberitahu bahwa janinku untungnya tidak apa-apa, Dokter berpesan agar aku tidak terlalu setres, karna itu akan berpengaruh pada janin yang tengah ku kandung, aku melirik Rio saat Dokter mengatakan hal itu, Rio tampak merasa bersalah, aku berharap Rio tidak akan memaksaku lagi untuk tinggal bersamanya setelah mendengar apa yang Dokter katakan.


"Jessica tinggallah bersamaku.. aku janji tidak akan mengganggumu, aku hanya ingin merawatmu dan anak kita," pinta Rio saat aku hendak masuk ke dalam mobil bersama Taejun. "Jangan bersikap egois, bagaimanapun anak dalam kandunganmu itu adalah anakku, aku juga ingin terlibat merawat dan melihat perkembangan anak kita saat dalam kandunganmu," seru Rio dengan expresi memelas, rasanya aku tak tahan mendengar Rio mengatakan 'anak kita'. kenapa aku harus mengandung anak Rio! benar-benar tidak adil.


"Aku tidak mau! jadi jangan lagi memaksaku!" kataku dingin, lalu masuk ke dalam mobil tanpa menoleh ke arahnya, Taejun juga masuk ke dalam mobil tanpa sepatah katapun, lalu melajukan mobilnya, kami diam sepanjang perjalan pulang, karna kami masih sama-sama syok dengan kabar yang baru saja kita terima, maafkan aku Taejun.. ini sungguh tidak adil untukmu.


Sesampainya di rumah, Taejun menuntunku dengan sabar ke dalam rumah, perhatiannya padaku tidak berkurang sedikitpun meski dia sudah tau bahwa anak dalam kandunganku ini bukanlah anaknya, tapi yang membuatku resah, Taejun sekarang tak lagi banyak bicara seperti sebelumnya, aku benar-benar merasa bersalah, karna mengizinkan Taejun tetap bersamaku, itu hanya akan tambah melukai perasaannya, aku memang orang yang tidak tau diri.. tapi memikirkan Taejun akan meninggalkanku, aku sungguh tak sanggup!.

__ADS_1


Keesokan harinya, Taejun bangun telat, biasanya dia selalu bangun sebelum aku, aku membangunkannya karna takut dia terlambat bekerja. Aku terkejut saat menyentuh kulitnya, karna kulitnya panas sekali, ternyata Taejun sedang demam, Taejun meringis seperti menahan rasa sakit, air matanya mengalir dari kedua sudut matanya yang tertutup, aku membekap mulut menahan tangisanku, Taejun pasti sangat menderita, ini semua salahku!.


"Taejun aku bersalah.. maafkan aku," bisikku, menahan tangisku yang hampir pecah,


__ADS_2