
"Tidak tante, itu tidak benar.. bukan seperti itu..," kataku menunduk, entah mengapa aku merasa bersalah, dan tak mampu menatap mata tante Yura. Apa benar aku bertambah cantik? hingga tante Yura berasumsi aku bahagia selama ini? padahal selama ini aku tak pernah merasakan kebahagiaan setelah Taejun menjauh dariku, perasaanku cambur aduk antara sedih, merasa bersalah dan menyesal,
Tante Yura menyentuh pundakku, "Baiklah Jessica tante mengerti, maafkan Tante, Tante hanya ingin tau," kata tante membelai pundakku, aku mendongak, tante tersenyum padaku, aku membalas senyumnya.
"Iya tante, maaf karna belum bisa ceritakan semuanya sekarang," kataku lirih.
"Baiklah, tidak apa-apa," kata tante mengangguk, "Yon chul bisakah bawakan kami minuman dan beberapa camilan?" kata tante Yura pada seorang pegawai, kurasa tante merekrut pegawai baru lagi, karna aku belum pernah melihat pegawai itu sebelumnya.
"Baik bos," kata Yon Chul tersenyum, melihat Yon Chul membuatku teringat pada boogum, membuat perasaanku tambah sedih,
"Tante tidak usah, kurasa aku harus pulang," kataku buru-buru.
"Kenapa terburu-buru.. tantekan masih kangen...," keluh tante.
"Masalahnya sudah terlalu malam tante, dan tempat tinggalku agak jauh dari sini, tenang saja aku akan mampir lagi kok, aku janji," kataku menjelaskan langsung beranjak dari kursi,
"Baiklah, kamu tinggal dimana? biar Tante antar," kata tante ikut beranjak.
"Tidak usah tante, aku akan pulang sendiri...," tolakku, langkahku langsung terhenti, jantungku berdetak kencang karna gugup dan terkejut saat melihat Taejun dan wanita itu masuk ke dalam kaffe, langkah Taejun juga terhenti membuat wanita itu melihat ke arah Taejun bingung lalu melihat ke arahku, expresi Taejun tampak tak percaya selebihnya tak ku mengerti. Aku bingung, apa aku harus menyapanya, apa langsung pulang saja?? ohhh.. kenapa harus bertemu Taejun sekarang sih!!
"Tante aku harus pulang sekarang," kataku buru-buru berjalan cepat melewati Taejun, Taejun langsung menangkap lenganku menghentikan langkahku memegangnya begitu erat membuat hatiku mencelos, apa yang Taejun lakukan sih!! bagaimana jika wanita di sampingnya itu sampai salah faham?
__ADS_1
"Taejun apa yang kau lakukan?" kataku melirik Taejun lalu melirik wanita itu,
"Kamu ternyata ada di korea? tapi kenapa kamu tidak mengabariku?" tanya Taejun terlihat kecewa, aku diam tak menjawab, secara terang-terangan melihat ke arah wanita yang berdiri di sampingnya agar Taejun mengerti alasanku tak mau mengabarinya, wanita itu menarik tangan Taejun yang memegang lenganku, Taejun terlihat sadar dan melepas lenganku,
"Aku Kim Jisoo, tunangannya Taejun," kata wanita itu sinis sambil menggandeng lengan Taejun, sudah ku duga, bahkan itu melampauwi duga'anku, aku kira mereka masih pacaran, tapi ternyata mereka bahkan sudah tunangan, kurasa sudah tidak ada alasan sama sekali aku harus ada disini, mendengar itu rasanya seperti hatiku mati rasa, perasaanku seperti kosong melompong, hampa.
"Aku Jessica, kenalan Taejun, kalo begitu aku permisi pulang dulu," kataku langsung pergi, entah mengapa expresi Taejun terlihat terluka sama seperti perasaanku saat ini, tapi mengapa Taejun harus berexpresi seperti itu! bukankah seharusnya dia merasa bahagia, karna sekarang dia sudah memiliki tunangan, dan sudah bisa melupakanku, aku terus berjalan cepat, berharap bisa segera kabur dari tempat yang membuat sesak ini.
Kami bahkan belum bercerai tapi tau-tau Taejun sudah punya tunangan, kami memang memutuskan berpisah tapi secara hukum kami berdua masih resmi sebagai suami istri karna belum mengajukan surat cerai, tapi apa hakku berpikir seperti itu? aku bahkan melakukan hal lebih jahat dari pada apa yang Taejun lakukan padaku saat ini!! aku pantas menerima ini, mungkin ini karmaku, sesakit inikah perasaan Taejun waktu itu, saat tau-tau aku punya suami lain tanpa sepengetahuannya? maafkan aku Taejun, aku pantas mendapatkan ini, tapi ini sungguh menyakitkan mungkin karna aku belum bisa merelakan Taejun, aku masih sangat mencintainya, aku akan berusaha melupakannya meskipun itu membutuhkan waktu yang sangat lama.
Ke'esokan harinya aku bangun dengan perasaan hampa, badanku terasa lemas, aku merasa aku tak mempunyai semangat hidup, tapi jika aku tetap di rumah dan bermalas-malasan itu hanya akan membuatku memikirkan perjalanan hidupku yang begitu menyedihkan, aku harus beraktifitas dan bekerja, dengan begitu aku akan sedikit melupakan perasaan kecewa dan sakit hati yang ku rasakan saat ini,
Setelah sarapan dan siap-siap aku langsung berangkat ke tempat kerja, di tempat kerja aku merasa sedikit lebih baik, berkat kesibukan dan juga karna rekan kerjaku sangat baik dan perhatian padaku, seolah-olah mereka mengerti bahwa perasaanku sedang hancur saat ini.
"Baiklah, ayo," kataku menyetujui, kurasa aku memang membutuhkan hiburan, kami nyanyi sambil makan dan minum-minum, Pak Ji Hyun terlihat sepertiku, seperti seseorang yang ingin melepaskan stres, ku rasa pak Ji Hyun juga sedang ada masalah sama sepertiku, sedangkan Sehun dia selalu ingin membuat kami bergembira, dia teman yang sangat baik.
"Aku ke kamar mandi dulu," kataku pada mereka.
Pak Ji Hyun mengangguk terlihat sedikit mabuk,
"Ok, jangan lama-lama, kita sudah harus pulang sudah malam, kurasa aku harus menelfon supir pengganti untuk pak Ji Hyun dia sangat mabuk," kata Sehun memberitahu.
__ADS_1
"Baiklah," kataku beranjak keluar, duuuh kepalaku pusing kurasa aku juga mabuk padahal dari tadi aku hanya minum soda, dan alkohol hanya minum seteguk, kurasa aku benar-benar tak bisa minum alkohol. Langkahku terhenti saat di koridor menuju toilet, ada seorang pria berdiri menyandar ke tembok di tengah-tengah koridor dengan tangan bersedekap, dan pria itu seperti Taejun.. apa aku salah lihat karna mabuk? apa jangan-jangan aku berhalusinasi? aku menatap pria itu mematung merasa bingung, expresi pria itu terlihat geram lalu berjalan cepat menghampiriku, sontak aku mundur terhuyung-huyung karna kaget, pria itu langsung memegangi tanganku saat aku hendak jatuh, aku menarik lenganku yang di pegangnya sambil memicingkan mata berusaha melihat pria itu dengan jelas.
"Taejun?? jadi benar kau? apa yang kau lakukan disini?" tanyaku tak percaya, ternyata benar-benar Taejun dan aku tidak sedang berhalusinasi.
"Seharusnya aku yang menanyakan hal itu, sebenarnya apa yang kau lakukan dengan 2 orang pria itu di tempat karaoke malam-malam begini," kata Taejun terlihat kesal, kenapa dia jadi marah?
"Mereka berdua itu rekan kerjaku, mereka orang baik, kami hanya menyanyi dan minum-minum di dalam, kami tidak melakukan hal-hal aneh di dalam sana," kataku juga merasa kesal, tunggu.. tapi bagaimana Taejun bisa tau aku bersama dua pria di dalam sana, dan bagaimana dia bisa tau kalau aku sedang disini? apa jangan-jangan dia mengikutiku?
"Tapi bagaimana kamu bisa tau kalau aku disini?" tanyaku menatapnya.
"Maaf, aku mengikutimu sejak semalam, karna aku ingin tau tempat tinggalmu, dan aku juga mengikutimu saat berangkat ke kantor karna aku ingin tau tempat kerjamu, aku berjalan-jalan di sekitar kantormu untuk menunggumu pulang, karna aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi kamu malah pergi dengan kedua pria itu, jadi aku mengikutimu kesini," jelas Taejun, aku menatapnya tak percaya.
"Dan aku tidak suka melihatmu berjalan dengan mereka, ke karaoke," kata Taejun kesal.
Aku mendengus, "Kamu memang tak perlu menyukainya, itu semua tak ada hubungannya denganmu, karna kita berdua sudah berpisah," kataku sinis, aku kaget karna untuk pertama kali sejak kita bersama aku bicara kasar padanya, mungkin karna aku sangat kecewa padanya.
Expresi Taejun tampak terluka, "Tapi secara hukum kau masih istri sahku Jessica, dan aku masih sangat mencintaimu," jelas Taejun terlihat sedih, bisa-bisanya dia mengucapkan hal semacam itu saat di sampingnya sudah ada Jisoo tunangannya.
Aku tertawa tak percaya, "Kau urus saja tunanganmu, minggir! aku mau ke kamar mandi," kataku dingin mendorongnya agar tak menghalangi jalanku.
Jessica
__ADS_1