
"Ternyata memang benar dong.. aku lebih tua darimu satu bulan, jadi mulai sekarang panggil aku nuna ya," kataku tersenyum manis padanya,
"Tak bisakah aku jadi selingkuhanmu saja, bukan adikmu," pinta Baek Hyun bercanda, lalu melirik Taejun mengejeknya,
"Kamu cari mati ya," canda Taejun menggelutinya, aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka,
"Hei, aku cuma bercanda," keluh Baek Hyun, Taejun melepas belitannya,
"Jadi kau harus memanggil Jessa apa sekarang?" ancam Taejun pura pura,
"Nuna," kata Baek Hyun cemberut, kami berdua tertawa melihatnya,
"Itu baru adikku," kataku tersenyum, "Duh... gemasnya," kataku mencubit kedua pipi Baek Hyun, lalu mengusap kepalanya dengan lembut, Baek Hyun tersenyum padaku,
Setelah turun dari train kami berdua berpencar dengan Baek Hyun, karna arah rumah kami yang berbeda arah, Baek Hyun sangat menggemaskan, dari dulu aku memang sangat ingin mempunyai seorang adik, syukurlah Baek Hyun mau aku anggap sebagai adik, sesampainya di rumah aku langsung ganti baju dan berkutat dengan laptopku, untuk mempelajari dan memahami lebih dalam lagi hasil kerja kelompok kita, aku juga berlatih cara memaparkannya dengan benar untuk di presentasikan, selain itu aku juga mengerjakan beberapa tugas lain dari dosen, ku lihat Taejun juga sibuk dengan laptopnya mungki dia juga sedang mengerjakan tugas, setelah selesai mengerjakan tugas, aku meletakkan laptopku, meregangkan otot ototku, lalu merebahkan diri di atas kasur, Taejun ikut ikutan meletakkan laptopnya lalu naik ke atas kasur, menarik pinggangku pelan membawaku kepelukannya, dan sentuhannya tak pernah gagal membuat jantungku berdetak kencang,
"Apa kau sudah menggunakan kontrasepsi atau sejenisnya?" tanya Taejun, aku mendengus tak percaya dengan pertanya'annya,
"Kamukan seharian bersamaku, pastinya kamu sudah tau... aku gak punya waktu untuk itu," keluhku, lalu Taejun bangun,
"Ayo kita ke dokter sekarang saja, atau bagai mana kalo aku beli silikon (kondomm) saja," kata Taejun bersemangat,
"Gak ada silikon silikonan, pikiranmu sungguh menjijikkan, aku akan ke dokter saja, tapi tidak sekarang, karna sekarang sudah malam, dan lagi pula ada prosedurnya, kita harus telfon dan atur pertemuan dulu dengan dokternya, lalu baru bisa konsultasi, jadi kamu sabar dulu, aku tanya mama dulu, karna aku belum mengerti, aku belum pernah melakukan ini sebelumnya," tolakku menjelaskan, Taejun menghembuskan nafas sebel, menatapku,
"Baiklah, tapi berikan aku satu ciuman sebelum tidur," pinta Taejun tersenyum,
"Baiklah," kataku menyetujui, lalu dengan senyum girang Taejun menggeser tubuhnya, menindih tubuhku pelan, lalu menciumi bibirku melumatnya pelan, aku melingkarkan kedua lenganku ke lehernya, membalas ciumannya, bibir kami saling ******* seirama, salah satu tangan Taejun masuk ke dalam kaosku meraba payudaraku yang terbalut bra, lalu meremasnya pelan, aku mendesah pelan, mendengar desahanku membuat sekujur tubuh Taejun memanas, Taejun semakin memper dalam ciumannya di bibirku, lalu bibirnya beralih menciumi leher, bahu, dan tulang selangkaku, membuatku menggigit bibir, semalamanpun tak cukup bagi Taejun hanya untuk menciumku saja, jika bukan aku yang harus menyudahinya dia pasti tidak akan berhenti, apa dia setergila gila itu padaku?,
"Taejun.. kita harus tidur aku sangat lelah," kataku mendorong dadanya pelan, lalu Taejun menatap wajah lelahku,
__ADS_1
"Baiklah," kata Taejun mengalah, aku tersenyum lalu tidur menyamping membelakanginya memejamkan mata, Taejun memelukku,
"Tidurlah," suruh Taejun, sambil menciumiku, pipiku, leherku bahuku, aku mengabaikannya, tetap memejamkan mata, hingga akhirnya aku terlelap tidur,
Ke'esokan harinya saat aku terbangun Taejun masih terlelap tidur, aku turun dari kasur mengambil baju ganti, lalu masuk ke kamar mandi, aku membuka semua pakaianku, aku sedikit kaget saat melihat diriku di cermin, begitu banyak bekas merah merah di sekitar leher bahu dan payudaraku, wah... ini benar-benar mengerikan, aku jelas harus memakai baju dengan kerah leher panjang, agar menutupi leherku, karna jika kak Taerang sampai melihatnya pasti dia akan mengejekku habis habisan, karna kelihatan banget kalo merah merah ini bekas cuppang, setelah selesai mandi, aku membangunkan Taejun lalu pergi ke kamar mama, untuk membicarakan masalah tentang aku yang ingin memakai KB atau alat kontrasepsi, mama langsung menelfon dokter kenalannya, dan sudah di jadwalkan, aku akan konsultasi besok ke dokter, setelah itu kami sarapan bersama,
"Apa mau jalan jalan hari ini?" tanya Taejun padaku setelah selesai makan,
"Tidak, karna aku ingin ikut mama ke kafe hari ini," tolakku, memberitahu,
"Jadi kamu akan meninggalkanku sendirian di rumah?" keluh Taejun cemberut,
"Kamu kan sudah setiap hari bersamaku, sedangkan aku jarang menghabiskan waktu bersama mama, boleh ya," pintaku,
"Baiklah," kata Taejun cemberut,
"Taejun.. kau jangan terlalu menempeli Jessa, kalau kau terlalu menempelinya bisa-bisa Jessa cepat bosan padamu dan malah lari darimu," komentar papa memberi saran,
"Benarkah? apa kau akan meninggalkan aku jika aku terus menempelimu?" tanya Taejun padaku, terlihat serius, aku memutar bola mataku,
"Aku gak akan meninggalkanmu.. tapi bener kata ayah jangan terus menempeliku seperti anak kecil yang manja," keluhku,
"Yaudah sana berangkat," kata Taejun, mama tersenyum melihat tingkahnya, aku memutar bola mata,
"Yaudah, aku dan Jessa berangkat dulu, dah..." kata mama melambai, aku ikut melambai, sambil mengejek Taejun, Taejun masih terlihat cemberut,
Sesampainya di kafe, aku langsung bantu-bantu tante di kafe, aku sangat senang karna sudah lama aku jarang menghabiskan waktu seperti ini bersama tante, sorenya aku menelfon Taejun agar menjemputku di kafe, Taejun langsung menjemputku ke kafe lalu kami langsung pulang,
"Apa saja yang kamu lakukan seharian ini di rumah?" tanyaku pada Taejun ingin tau, saat dalam perjalanan pulang,
__ADS_1
"Tidak ada yang menarik, hanya mengerjakan beberapa tugas dan main game bersama kak Taerang, setelah itu kak Taerang keluar bersama teman temannya, sedangkan papa berangkat meeting ke luar kota, jadi aku sendirian saja di rumah," jawab Taejun betek,
"kan ada bibik... " kataku,
"Iya sih.. tapi kan tetep aja... " keluh Taejun,
"Akukan sudah pulang sekarang... " kataku menggelayuti lengan Taejun, lalu meletakkan kepalaku ke bahu Taejun dengan manja, Taejun mengecup keningku.. kurasa dia sudah tidak kesal lagi, aku tersenyum,
Sesampainya di rumah aku langsung mengenyahkan diri ke sofa merasa sangat lelah,
"Ayo kita masuk ke kamar saja," ajak Taejun,
"Memang apa yang mau di lakukan di dalam kamar... " tanyaku, pertanya'an yang salah,
"Banyak sekali yang bisa kita lakukan," jawab Taejun tersenyum padaku, aku memutar bola mata,
"Aku capek, duduklah di sini dulu dan mengobrol denganku," ajakku sambil menuang air ke gelas lalu meminumnya,
"Baiklah, memang apa yang mau kau obrolkan," kata Taejun ogah ogahan lalu duduk di sampingku, aku menghadap padanya bersemangat,
"Katakan padaku, sejak kapan kau mencintaiku?" tanyaku tersenyum,
"Entahlah.. tapi aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu," jawab Taejun tersenyum padaku,
"Kau bilang kau menyukaiku sejak pertama kali kita bertemu? aku tidak percaya.. karna kita pertama kali bertemu saat aku baru masuk sekolahkan? saat itu kita berangkat bareng ke sekolah, dan jelas jelas sikapmu sangat dingin padaku.. bahkan di sekolah kau pura-pura tidak kenal padaku, apa kau ingin membodohiku?" kataku tak percaya menggeleng gelengkan kepala,
"Sumpah aku gak bohong.. kamu mana tau perasa'anku yang sebenarnya, dan sejujurnya aku udah pernah melihatmu, sebelum pertemuan pertama kita," ungkap Taejun,
"Benarkah? di mana?" tanyaku exaited, Taejun tersenyum melihat reaksiku,
__ADS_1