
"Selamat, ternyata anda sedang hamil, 2 bulan," kata Dokter itu tersenyum padaku, memberitahu,
"Apa?" kataku kaget, benar-benar tak menyangkanya. Apa? aku hamil 2 bulan? tapi anak siapa? Taejun kah? tapi bagaimana kalo ini anak Rio. Aku mendesah lelah, kenapa aku harus hamil setelah semua ini.. tidak tau lagi harus mensyukurinya atau tidak. Dokter itu bingung saat melihat expresiku,
"Terima kasih Dok," kataku berusaha tersenyum,
Setelah menerima obat dan vitamin serta arahan dari Dokter, aku kembali pulang ke rumah. Aku berbaring di kasur dengan perasa'an gelisah, gimana ini? aku tak mau mereka berdua sampai tahu kalo aku sedang hamil, karna aku sendiri tidak yakin dalam rahimku ini sebenarnya anak siapa.. oh! bisa-bisa aku gila! haruskah aku membesarkan anak ini tanpa seorang ayah?. Suara bel di pintu seketika membuyarkan lamunanku. Siapa? dengan enggan aku turun dari kasur berjalan tersaruk-saruk ke arah pintu. Ternyata kurir pengantar barang.
"Barangnya sudah sampai bak, tolong tanda tangani disini," kata kurir itu, aku mengangkat ke dua alisku bingung.
"Tapi aku tidak pesan apa-apa," kataku.
"Tapi ini alamatnya mbak kan?" tanya kurir itu memperlihatkan sebuah kertas padaku, aku mengangguk.
"Berarti ini punya Mbak, mungkin seseorang mengirimkan paket ini untuk Mbak. Tolong tanda tangani disini," kata kurir itu, aku menandatangani kertas itu lalu menerima paketnya. Aku menutup pintunya setelah kurir itu pamit pergi. Siapa yang mengirim paket untukku? penasaran aku membuka paketnya, ternyata isinya sepatu cantik berwarna putih, aku mengambil surat yang ada di dalamnya. Membacanya,
Saat melihat sepatu ini aku langsung teringat padamu, aku juga membeli satu untukku, ini sepatu couple, aku berharap kamu menyukainya ☺
Taejun
__ADS_1
Ternyata dia masih berusaha keras untuk mendapatkan hatiku lagi. Kenapa sih Taejun? kenapa kamu tidak kembali ke korea saja, kenapa kamu harus membuang-buang waktumu hanya untuk wanita seperti aku!.
Hampir seharian aku uring-uringan di rumah merasa gelisah karna memikirkan satu masalah lagi yang baru muncul. Karna merasa bosan aku pergi ke usaha rumah makan padang milikku yang resmi aku buka setengah bulan yang lalu, untuk sekedar melihat-lihat sekaligus mengecek usaha rumah makan padang milikku.
Sesampainya di rumah makan padang, aku buru-buru memarkir mobilku lalu keluar dari mobil, menatap kesal pada taxi yang juga ikut-ikutan parkir di sebelah mobilku, dari tadi taxi ini mengikuti mobilku. Pintu belakang taxi itu terbuka, ternyata Taejun. Aku memutar bola mataku sambil bersedekap, Taejun menghampiriku sambil tersenyum, bahkan meskipun hatiku sudah sangat tersakiti olehnya, hatiku ini masih berdebar kencang saat melihat senyum menawannya.
"Ada apa lagi Taejun? kenapa kau mengikutiku, kenapa kau bisa tau aku akan kesini? apa dari tadi kau mengintai rumahku?" tanyaku pura-pura cuek.
"Maaf, itu karna aku sangat merindukanmu," jawab Taejun tersenyum, sebenarnya aku juga rindu padanya, entah mengapa aku merasa sangat senang saat melihatnya, "Apakah kau menyukai sepatunya?" tanya Taejun ingin tau.
"Ya, sepatunya bagus, tapi seharusnya kau tidak perlu repot-repot membelikanku sepatu Taejun..." protesku, "Apa kamu gak kerja hari ini? kamu bolos kerja ya?" tanyaku,
"Aku tahu kesalahanku tidak terma'afkan... tapi please Jessa, berikan aku satu kesempatan, aku akan berusaha memperbaiki semuanya," pinta Taejun memohon, aku terdiam memikirkannya, lalu menatap Taejun.
"Aku akan memikirkannya dulu," kataku acuh tak acuh, Taejun tersenyum bahagia karna akhirnya hatiku mulai sedikit luluh, Taejun seperti hendak memelukku tapi mengurungkannya, mungkin dia takut aku takkan menyukainya. Kami sama-sama tersenyum.
Taejun mengikutiku kesana kemari saat aku melihat-lihat dan mengecek usaha rumah makan padangku, walau usaha rumah makan padangku masih baru, ternyata pelanggannya sudah lumayan banyak. Setelah hari hampir menjelang malam aku mengantar Taejun ke tempat kerjanya. Taejun memintaku untuk mampir ketempat kerjanya, tapi aku menolaknya.
"Ayolah Jessa... " paksa Taejun, "Sebentar saja, walau setidaknya hanya minum kopi, aku akan mentraktirmu," ranyunya sok manis,
__ADS_1
"Baiklah baiklah, tapi aku tidak bisa lama lama," kataku akhirnya menyetujui. Kami masuk bersama-sama ke dalam Kafe, tempat kerja Taejun.
"Kamu mau minum apa?" tanya Taejun, aku melihat daftar menunya.
"Berikan aku Milk Tea saja," pintaku.
"Baiklah, tunggu sebentar," kata Taejun dengan senyum manis menghiasi bibirnya, lalu dia pergi membuatkanku Milk Tea.
"Terima kasih," kataku saat Taejun meletakkan Milk Teanya di depanku.
"Minumlah, aku layani pelanggan lain dulu," kata Taejun terlihat bersemangat, aku mengangguk tersenyum. Aku meminum Milk Teanya sambil memerhatikan Taejun bekerja, Taejun sudah banyak berubah, dia terlihat lebih dewasa sekarang. Aku menatap Taejun sebel saat sadar kebanyakan pelanggan-pelanggan wanita yang datang ke Kafe ini kelihatannya hanya ingin melihat dan bertemu dengan Taejun. Bahkan beberapa pelanggan dengan terang-terangan mencoba merayu Taejun. Tak hanya pelanggan saja.. bahkan temen kerja Taejun juga, dadaku membara saat melihat temen kerja Taejun menggelayuti lengan Taejun, rasanya ingin ku jambak rambut kritingnya itu. Taejun berusaha melepas gelayutan tangan teman genitnya itu, tapi teman genitnya itu malah makin menggelayutinya. Amarahku membara, tanganku gatal ingin mengacak rambutnya. Aku langsung berdiri dan menghampiri mereka karna ku lihat temen Taejun itu sudah keterlaluan, keterlaluan! bisa-bisanya wanita itu bersikap murahan seperti itu di depan umum, dasar gak tau malu! ku tarik lengan wanita itu dengan kasar lalu mendorongnya jauh-jauh dari Taejun.
"Hey! apa masalahmu!" seru cewek genit itu padaku merasa kesal. Taejun menatapku, aku tak mengerti expresinya, tapi yang pasti dia tidak terlihat marah walau aku bertindak seperti ini.
"Masalahku adalah.. aku gak suka lihat kamu genit-genit sama Taejun seperti tadi," bentakku merasa kesal.
"Terserah aku dong! apa urusannya denganmu? memangnya kamu siapanya Taejun?" seru wanita genit itu, nyolot, pertanyaannya membungkamku, aku juga tidak mengerti aku siapanya Taejun, tak masalahkah jika ku katakan aku adalah istri Taejun? bukankah aku memang masih istrinya.. karna sebenarnya kami memang belum bercerai, tapi jika ku katakan aku adalah istri Taejun.. rasanya seperti menjilat ludah sendiri, aku gak akan punya muka di depan Taejun jika sampai mengatakan itu.
"Hello.. aku bertanya, kenapa diam saja? aku tanya kamu siapanya Taejun sampai-sampai berani bersikap seperti itu padaku!" Tanya wanita genit itu sekali lagi, wanita genit itu menertawaiku meremehkan. Aku menunduk tak tahu harus menjawab apa, seharusnya aku diam saja tadi dan tidak perlu ikut campur.. kenapa aku jadi posesif gini sih sama Taejun.
__ADS_1
"Dia istriku," sahut Taejun, aku mengangkat wajahku menatap Taejun tak percaya, wanita genit itu bahkan sampai menganga mendengar sahutan Taejun,