
"Sayang, ketubanmu pasti pecah!" kata mama Rio terlihat panik, membuatku tambah panik, "Rio kita harus segera membawa Jessica ke rumah sakit," kata mama Rio pada Rio yang juga terlihat panik. Rio mengangguk, mereka berdua memapahku membantuku untuk berjalan, tapi saat melihatku kesakitan saat berjalan, Rio langsung mengangkat tubuhku dengan kedua tangannya, menggendongku. Aku tak perduli lagi saat itu, meski Rio menggendongku karna aku sudah sangat kesakitan.
Saat di mobil dalam perjalanan ke rumah sakit, nafasku mulai tak beraturan, perutku semakin mulas dan kram, mama Rio yang terlihat panik berusaha menenangkanku dengan menggengam tanganku, dan mengelus perutku.
Sesampainya di rumah sakit, Dokter yang selama ini menangani kehamilanku sudah menungguku di depan rumah sakit dengan beberapa perawat lengakap dengan brankar dorong. Rio langsung turun dari kursi pengemudi kembali menggendongku berjalan ke arah dokter, lalu membaringkan tubuhku ke brankar dorong, kemudian Dokter dan para suster langsung membawaku dengan brankar dorong ke ruang persalinan, setelah Dokter memeriksa keadaanku, Dokter langsung memutuskan akan langsung melakukan proses persalinannya, karna ternyata aku sudah melewati semua pembukaan kehamilannya, Hanya satu orang yang di perbolehkan masuk untuk menemaniku saat melahirkan, dan ternyata Rio yang akan mendampingiku selama proses melahirkan, aku sudah tidak peduli lagi siapa yang akan menemaniku saat proses persalinan, Dokter memintaku untuk mengatur nafasku, dan memberitahuku saat waktunya mengejan yang tepat.
"Tarik nafas dalam-dalam, buang perlahan dan dorong!" kata Dokter memberi aba-aba padaku, aku mengejan sekuat tenaga, meremas bantal dan tangan Rio yang memegangi tanganku, Dokter terus memberi aba-aba, sesekali suster mengelap keringat yang bercucuran di dahi dan leherku, aku tidak tau ternyata melahirkan bisa sesakit ini, rasanya aku mau pingsan rasanya. Aku menghela nafas saat merasakan bayiku akhirnya keluar dari vaginaku, nafasku sedikit tersengal-sengal, aku memejamkan mata merasa lelah, lalu aku merasakan sesuatu yang hangat dan lengket di letakkan di dadaku, aku membuka mata ternyata bayiku, aku tak sanggup menahan air mataku saat melihat bayiku untuk pertama kali.
"Mungil sekali..." bisikku lirih, mengelus bayiku, mulutnya yang mungil sedikit terbuka seperti mencari-cari sesuatu, membuatku tersenyum di buatnya, rasanya sepadan rasa sakit yang kurasakan saat melahirkan setelah akhirnya aku melihat bayiku yang mungil. Rio juga mengelus bayinya matanya tampak berkaca-kaca menatapku.
"Terima kasih karna sudah datang di kehidupanku, dan memberiku hadiah yang sangat berharga dalam hidupku," kata Rio lirih, expresinya campur aduk, aku menatapnya tak mampu berkata-kata, "Dan aku juga minta maaf, kau pasti sangat kesakitan tadi saat berusaha melahirkan anak kita, maafkan aku," lanjut Rio tulus, aku mengalihkan mataku dari tatapannya, entah mengapa walau Rio sangat baik padaku aku tetap tak bisa memafkannya, Dokter kembali mengambil anakku dari dadaku, untuk membersihkannya.
"Aku keluar dulu," kata Rio padaku setelah suster menyuruhnya untuk keluar dulu, karna para suster akan membersihkanku dan juga tempat persalinanku, setelah mengganti bajuku suster memindahkanku ke ruang perawatan.
__ADS_1
Selama 2 hari aku berada di rumah sakit karna kondisiku masih lemah, Rio dan mamanya bergantian menjagaku, papa Rio langsung memberiku hadiah mobil karna aku sudah melahirkan cucu yang sehat untuknya, sebenarnya itu berlebihan dan tidak perlu, toh sebentar lagi aku juga akan pergi, tapi papa Rio dan Rio tidak tau rencana tentang kepergianku, hanya mama Rio yang tau karna aku meminta beliau untuk merahasiakannya.
Keesokan harinya aku dan bayiku pulang dari rumah sakit, keluarga Rio sudah memilihkan nama untuk bayiku, dan namanya adalah Ricky Dewanto, aku berusaha untuk tidak keberatan karna bagaimanapun bayiku juga cucu mereka.
Aku berusaha menyusui anakku lagi meskipun ASI-ku belum bisa keluar, bayiku banyak menangis karna lapar jadi mama memberinya susu formula untuk sementara, aku tidak menyerah, kembali memompa payudaraku dengan pompa ASI, dengan di bantu mama Rio, sakitnya luar biasa saat payudaraku di pompa dengan pompa ASI, payudaraku rasanya sangat nyeri.
"Ma, apa perlu bantuanku?" tanya Rio terdengar kawatir dari luar pintu, mama Rio menatapku, aku menggeleng.
"Tidak perlu Rio, mama bisa mengurusnya, kau tenanglah tidak perlu kawatir," kata mama Rio, aku terus memompa ASI-ku mengabaikan rasa sakit yang teramat sangat, setelah beberapa lama kemudian akhirnya ASI-ku keluar juga.
"Baguslah, kalo begitu cepat susui anakmu," suruh mama Rio juga merasa senang, meletakkan bayiku di pangkuanku dengan di alasi bantal, bayiku minum ASI-ku dengan rakus, begitu lucu dan mungil, aku merasa nyeri dan geli saat anakku menyusu padaku, aku menatap bayiku penuh kasih sambil menyusui, lalu aku menyentuh tangan bayiku yang mungil, aku merasakan kebahagian tersendiri saat menyusui Ricky, mata mungilnya yang bening tanpa noda menatapku lucu, membuat hatiku berdebar.
Beberapa hari kemudian selama menyusui Ricky, nafsu makanku bertambah aku jadi banyak makan karna selalu lapar, mama yang memandikan Ricky karna aku sudah jelas tidak akan tau, setelah mandi Ricky langsung ku susui, untungnya bayiku tidak rewel, setelah mandi dan di susui dia kembali tidur, Rio masuk ke kamar, dengan expresi yang sudah pasti bisa ku tebak, seperti biasa dia pasti ingin menggendong bayinya.
__ADS_1
"Kemarilah Rio jika ingin menggendong anakmu," suruh mama Rio, aku memberikan Ricky yang sedang tertidur pulas pada mama Rio, lalu mama Rio memberikan Ricky pada Rio, seperti biasa Rio selalu terlihat sangat bahagia saat menggendong Ricky, lalu Rio keluar untuk membawa Rio berjemur di pagi hari di taman belakang rumah.
"Ma aku harus segera pergi," bisikku pada mama Rio setelah Rio keluar dari kamar,
"Tunggulah beberapa hari lagi..." kata mama Rio, terlihat sedih, "Apa kamu benar-benar akan meninggalkan anakmu sendirian di sini?" tanya mama Rio menatapku sedih.
"Aku sudah memutuskan.. jika aku menunda-nundanya terus, aku takut tidak akan sanggup untuk pergi dan meninggalkan Ricky sendirian disini, jadi ma.. ku mohon biarkan aku pergi," pintaku memohon, karna tanpa bantuan mama aku tidak akan bisa keluar dari rumah ini.
"Baiklah, setidaknya tinggallah dulu 3 hari lagi, setelah itu aku tidak akan menghalangimu lagi," pinta mama menggenggam tanganku, aku mengangguk. Baiklah, 3 hari lagi, tak masalah aku akan menunggu, apa aku sungguh sanggup meninggalkan Ricky? bagaimana kalo nanti aku merindukannya, tak masalah aku masih bisa menghubungi mama Rio diam-diam, dan memintanya untuk mengirimi foto serta video perkembangannya, aku berusaha menguatkan hatiku sendiri yang hendak hancur karna harus meninggalkan bayiku disini, maafkan mama Ricky... mama sangat egois.
Tempat tidur Ricky di letakkan di kamarku, karna Ricky masih menyusu padaku, jadi aku tidak perlu bolak-balik ke kamar yang lain, meskipun kamar Ricky sudah di siapkan.
Malamnya aku tidak bisa tidur, entah mengapa malam itu aku begitu merindukan Taejun... apakah Taejun juga merindukanku di sana? tapi apa hakku mengharapkan hal itu.. aku sudah membuat hati Taejun hancur berkeping-keping, aku bahkan merasa malu jika harus bertemu lagi dengannya.
__ADS_1
Aku bangun di tengah malam, merasa linglung karna baru bisa tidur sebentar, tadi aku bermimpi Taejun, mungkin karna aku sangat merindukannya.. seseorang berdiri di pinggir kasur memperhatikanku, yang bergerak-gerak gelisah di atas kasur, aku menyipitkan mata memperhatikan wajah orang itu dengan seksama dalam keremangan, dan aku kaget sekaligus senang ternyata orang yang berdiri memperhatikanku itu ternyata Taejun, aku tidak sedang bermimpikan, aku mengedip-ngedipkan mataku memastikan.
"Taejun?" seruku tak percaya, expresi Taejun tampak kebingungan, hendak pergi, aku langsung menyambar lengannya.