Tak Terduga

Tak Terduga
rencana


__ADS_3

"Apa maksud semua ini? apa benar Jihun yang sudah membunuh Bogum?" tanyaku pada mereka, mereka terlihat kaget melihatku muncul tiba tiba.


"Sayang kau belum tidur," kata tante mengalihkan pembicaraan.


"Apa tante bermaksud merahasiakan ini dari ku?" tanyaku merasa kecewa.


"Jessica, kami melakukan ini karna tak ingin melihatmu bertambah sedih," jelas paman


"Tapi aku lebih baik merasa sedih dari pada tidak tau apa apa seperti orang bodoh, jadi ku mohon.. jangan merahasiakan apa apa lagi padaku, aku baik baik saja," kataku.


"Ya itu benar, Jihunlah yang sudah membunuh Bogum," kataTaejun memberitahu.


"Jadi memang benar.. mungkin Jihun sampai membunuh Bogum itu semua gara gara aku," kataku menangis,


"Sayang itu tidak benar," bantah tante.


"Bukan karna kecelakaan atau Jihun.. tapi Bogum mati karna aku... " kataku histeris tak bisa menahan diri.


"Sayang jangan seperti ini.. tenanglah, ini bukan karnamu ok, ini semua sudah takdir," kata tante memelukku berusaha membujukku agar tidak menyalahkan diri sendiri.


"Tante.. apa yang harus ku lakukan... " kataku menangis,


"Tak ada yang harus kau lakukan... " kata tante, "Ayo tidurlah, perbincangan ini tidak baik untuk kesehatanmu, " lanjut tante menggiringku masuk ke kamar, tante keluar dari kamar setelah membaringkanku ke kasur, aku penyebab kematian Bogum, kenapa Jihun membunuh Bogum.. seharusnya dia bunuh saja aku, aku akan mencari Jihun dan membuat perhitungan dengannya, kali ini aku tidak akan tinggal diam, lagi pula dia sudah tau tentang kekuatanku.. akan ku perlihatkan padanya apa yang bisa aku lakukan padanya, sebenarnya di mana dia bersembunyi?

__ADS_1


Ke'esokan harinya saat pulang sekolah aku tak sengaja melihat Jihun sedang memperhatikanku dari ke jauhan, aku hendak menyuruh sopir Taejun untuk memberhentikan mobil, tapi aku mengurungkan niatku, aku tidak akan bisa melakukan rencanaku untuk memberi pelajaran pada Jihun jika ada Taejun dan sopirnya, aku harus menemui Jihun secara diam diam tanpa memberitahu siapapun, Jihun pikir dengan memakai topi dan masker tidak akan bisa ku kenali? bodoh! berani sekali dia berkeliaran di sekitar sini.. padahal dia adalah seorang buron, dan parahnya polisi belum juga bisa menangkapnya padahal sketsa wajahnya sudah tersebar di mana mana? tunggu saja.. akan ku pastikan kau membusuk di penjara.


"Ada apa Jessica," tanya Taejun karna tiba tiba aku membuka kaca mobil, Taejun mengikuti arah pandangku yang sedang menatap keluar jendela,


"Tidak apa apa, ku pikir ada orang yang ku kenal tadi di jalan, mungkin aku salah lihat," kataku buru buru, lalu menutup kembali kaca mobilnya,


Malamnya, sekitar jam 23:26, aku keluar dari kamar, berjalan mengendap ngendap, setelah memastikan semua orang di rumah sudah tidur, aku buru buru keluar dari rumah diam diam dengan membawa tali kekang yang sudah ku siapkan sejak siang tadi, aku menaruh talinya di saku jaketku, aku berjalan berkeliaran di luar, ke tempat tempat di mana mungkin akan di datangi Jihun, bukannya bertemu Jihun aku malah bertemu dengan dua orang pria yang sedang menggebuki seseorang, aku mundur cepat cepat pergi, karna aku tak mau ikut campur, aku menghentikan langkahku, tapi apa iya aku harus tutup mata saat melihat seseorang di gebuki seperti itu, padahal sebenarnya aku bisa menolong, lagi pula aku memakai topi dan masker, mereka tidak akan mengenaliku dan suasananya juga agak gelap, baiklah akan ku lakukan, aku berbalik kembali ke tempat pria yang sedang di gebuki itu,


"Apa yang kalian lakukan? berhenti memukulinya," kataku berusaha terdengar berani, walau dalam hati sebenarnya aku merasa ketakutan, kedua pria itu menoleh padaku, wajah mereka terlihat sangat menakutkan, mereka tertawa meremehkan.


"Berani sekali kau seorang wanita ikut campur, mau cari mati!" bentak salah seorang dari mereka,


"Kenapa memangnya jika aku wanita hah?" kataku menantang.


"Aku tidak akan pergi sebelum kalian yang pergi dan melepaskannya," kataku keras kepala,


"Kenapa kau sangat ingin menolongnya, apa kau pacarnya? jadi kau tidak terima kami memukulinya," kata salah seorang dari mereka, lalu orang itu dengan sengaja menendang perut pria yang terduduk lemas sekujur tubuhnya memar dan luka luka karna di gebuki, pria itu mengerang kesakitan memegangi perutnya, aku tak sanggup lagi melihatnya aku memplototi kedua orang itu, kedua tanganku terangkat aku mengendalikan aliran darah kedua orang itu, membuat kaki mereka sedikit melayang di atas aspal.


"a.. apa yang kau lakukan," kata salah seorang dari mereka tanpa bisa bergerak, karna aku sudah mengunci otot otot mereka, mereka menatapku kaget dan ketakutan, lalu dengan menggabungkan kekuatan elemen angin, aku menghempaskan tubuh mereka jauh ke belakang, mereka menghantam tembok lalu jatuh ke tanah, mereka mengaduh kesakitan, lalu bangun perlahan dan melarikan diri, aku menghampiri pria itu yang sedang menatapku tidak percaya, aku jongkok di dekatnya,


"Kau baik baik saja?" tanyaku, pertanyaan bodoh, jelas jelas dia tidak baik baik saja, "Kau bisa bangun? ayo berdirilah, akan akan mencarikan taxi yang mungkin masih beroperasi di aplikasi," kataku, pria itu masih tertegun menatapku, pria itu berusaha bangun dengan susah payah, aku membantunya berdiri dengan menyanggah tubuhnya melingkarkan kan lengannya ke bahuku, lalu menuntunnya berjalan, kami berhenti di pinggir jalan menunggu taxi yang sudah panggil.


"Siapa kamu, kenapa kau menolongku? apa kau mengenalku?" tanya pria itu.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mengenalmu," jawabku datar.


"Lalu kenapa kau membantuku?" tanyanya lagi.


"Karna aku bisa membantu," jawabku.


"Bolehkah aku tau siapa kamu?" tanya pria itu, aku meliriknya, wajahnya memar dan luka luka, tapi walau wajahnya bonyok seperti itu anehnya dia masih terlihat tampan, tangannya terangkat hendak melepas masker yang menutupi wajahku, aku menghentikan tangannya dengan mencengkram pergelangan tangannya,


"Taxinya sudang datang," kataku dingin, "Masuk ke taxi dan pulanglah," suruhku, melepas cengkramanku di lengannya.


"Baiklah," kata pria itu, lalu masuk hati hati ke dalam taxi sambil memegangi perutnya meringis kesakitan, aku langsung pergi tanpa berpamitan saat dia masuk ke dalam taxi, aku berencana hendak pulang saat tiba tiba aku berpapasan dengan Jihun, dia melewatiku tanpa mengenaliku, jadi dia tidak mengenaliku?.


"Jihun," kataku, langkah Jihun terhenti, dia pasti mengenali suaraku, aku berbalik menoleh padanya, dan melepas maskerku, Jihun tersenyum melihatku.


"Apa kau sengaja berkeliaran malam malam begini untuk mencariku?" tanya Jihun, aku menatapnya penuh kebencian.


"Apa karna memiliki kekuatan kau jadi sok berani seperti ini?" tanya Jihun,


"Kenapa? apa kau takut padaku?" tanyaku kaku.


"Kenapa aku harus takut," katanya meremehkan.


"Bagus, ikuti aku," kataku pada Jihun, dia menatapku bertanya tanya, aku berbalik berjalan mencari tempat yang sepi dan gelap Jihun mengikutiku, setelah sampai ke tempat yang ku inginkan aku berhenti,

__ADS_1


"Apa kau berencana balas dendam, karna aku membunuh pacar mu?" tanya Jihun menatapku.


__ADS_2