
"Indah sekali... " kataku menyentuh kalungnya, Taejun tersenyum,
"Sini, aku pakaikan," kata Taejun, mengambil kalungnya lalu mengalungkannya ke leherku, lalu Taejun menatapku meletakkan tangannya di bawah dagu seperti hendak menilai,
"Bagai mana kelihatannya?" tanyaku tersenyum,
"Cantik, kalung itu sangat cocok untukmu," kata Taejun tersenyum, lalu duduk di sebelahku, merengkuh wajahku lalu Taejun mencium bibirku melumatnya pelan, aku membalas ciumannya seirama, Taejun memperdalam ciumannya, dengan nakal Taejun memasukkan lidahnya ke dalam mulutku, ciuman kali ini agak panas, aku merasakan hal hal baru di ciuman ini yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya, kami sama-sama berhenti sebentar saling menempelkan dahi untuk mengambil nafas, lalu Taejun kembali ******* bibirku, aku yakin ciuman ini takkan berakhir jika aku tidak menyudahinya lebih dulu, aku mendorong dada Taejun pelan dengan nafas terengah-engah,
"Taejun kau membuatku sesak nafas," kataku terengah, mengapa dia begitu menggebu gebu,
"Maaf," kata Taejun juga sedikit terengah, "Jessa aku menginginkanmu, aku sungguh begitu menginginkanmu," kata Taejun menatapku dengan mata yang begitu membara, yeah.. kurasa memang terlihat jelas di matanya, jantungku berdetak makin kencang, aku menelan ludah gugup, bagaimana caraku bisa meredakan hasratnya yang begitu menggebu gebu padaku? aku tak tega melihatnya, tapi masalahnya aku sungguh belum siap, aku berdiri lalu memeluk Taejun yang terduduk, aku mengelus elus rambut dan juga punggungnya,
"Maaf Taejun.. aku belum bisa melakukannya," kataku merasa menyesal, Taejun memeluk pinggangku erat, mengubur wajahnya di perutku, aku sedikit geli,
"Mau ku carikan dokter yang bisa melakukannya lebih cepat?" tanya Taejun menengadah menatapku, lalu menarikku duduk di pangkuannya,
__ADS_1
"Bagaimana kalo kita keluar saja dari kamar? obrolan ini hanya akan membuat perasa'anmu tambah buruk," kataku buru-buru berdiri, Taejun memutar bola matanya,
"Sebentar lagi papa pasti datang, kita keluar saja agar kak Taerang tak perlu memanggil kita untuk makan malam.. ayo," ajakku menarik lengannya, dengan ogah ogahan Taejun mengikutiku keluar dari kamar, lalu kami duduk di ruang keluarga sambil menonton tv bersama kak Taerang,
"Tumben kalian nonton tv, biasanya mengurung diri di kamar," komentar kak Taerang melirik kami berdua,
"Yeah, kami berdua bosan di dalam," sahutku,
"Kamu bosan padaku?" tanya Taejun tersinggung suaranya naik satu oktaf,
"Jujurlah padaku Jessa, apa kau benar-benar mencintaiku? aku takut kau bilang cinta padaku karna terpaksa.. hanya karna tak ingin menyakiti perasa'anku.. karna setahuku kau dulu juga melakukan itu pada Bogum, jadi tidak menutup kemungkinan kau juga melakukan hal yang sama padaku," kata Taejun menatapku cemas dan gelisah...
"Taejun.. apa kau sama sekali tidak mempercayaiku.. aku benar-benar mencintaimu, ku akui memang cintaku padamu tak sebesar cintamu padaku.. tapi percayalah.. aku sungguh mencintaimu," jelasku berusaha meyakinkannya,
"Udah udah, kenapa kalian malah jadi bertengkar," kata kak Taerang menengahi, "Kau tidak perlu kawatir Taejun.. akupun bisa melihat bahwa Jessa juga mencintaimu," kata kak Taerang,
__ADS_1
"Ya, tapi seperti yang dia katakan barusan, cintanya padaku tak sebesar cintaku padanya," sindir Taejun padaku, aku menghembuskan nafas lelah.. kurasa aku salah ngomong lagi.. aku tak lagi berkomentar karna takut urusannya akan tambah panjang, kami makan malam bersama saat ayah datang, lalu kami mengobrol di ruang tamu sambil menunggu mama datang, tapi Taejun dari tadi hanya diam saja terlihat betek gak ikut ngobrol, hanya bicara bila ayah bertanya, setelah mama datang, kami ke kamar masing-masing, saat masuk ke kamar Taejun langsung ganti baju di kamar mandi dan langsung tidur di atas kasur, aku juga ganti baju lalu aku naik ke atas kasur, Taejun tidur membelakangiku/memunggungiku, aku benar-benar merasa bersalah padanya, aku mendekat padanya lalu memeluknya dari belakang, menciumi punggungnya,
"Taejun aku mencintaimu," kataku parau, Taejun langsung berbalik padaku lalu memelukku erat,
"Jangan pernah berpaling padaku, jangan pernah meninggalkanku," pinta Taejun,
"Aku tak akan pernah berpaling darimu, aku janji," kataku berjanji, Taejun menciumi rambut dan juga wajahku, aku memejamkan mata memeluknya semakin erat,
Ke'esokan harinya aku terbangun dalam pelukan Taejun, Taejun mendekapku begitu erat, pelan-pelan aku membuka tangannya agar tidak membangunkannya, setelah berhasil melepaskan diri dari dekapannya aku buru-buru mengambil baju ganti lalu masuk ke kamar mandi, setelah selesai mandi aku membangunkan Taejun, Taejun menatapku lalu dia mengecup bibirku sekilas sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi, setelah itu kami sarapan bersama dan berangkat kuliah,
"Hai Baek Hyun," sapaku pada Baek Hyun yang hendak masuk ke gedung kampus, Baek Hyun menoleh lalu tersenyum lebar saat melihatku,
"Hai nuna," sapanya tersenyum manis, aku merangkul bahunya, Baek Hyun tampak malu-malu, kami bertiga masuk bersama ke dalam kelas, kami bertiga mengobrol tentang kerja kelompok yang akan kami presentasikan di jam kedua dengan para mahasiswa mahasiswi senior, yang akan di pilih secara acak, Baek Hyun berharap bukan dia yang terpilih untuk presentasi, aku menertawainya, Ga In menyapaku sambil tersenyum saat masuk ke dalam kelas, aku balas tersenyum membalas sapa'annya, selama pelajaran berlangsung di jam pertama wajah Taejun terlihat betek, setelah jam pertama selesai, aku Taejun dan juga Baek Hyun makan di kantin bersama, Ga In ikut bergabung, membuat Taejun terlihat tambah betek, Ga In membahas tentang seseorang yang dengan sengaja menjatuhkan vas ke arahku, Taejun dan Ga In membahasnya dengan serius, mereka terlihat sangat ingin menemukan pelakunya, sebenarnya aku tidak terlalu dendam dengan pelakunya, tapi aku juga ingin pelakunya di temukan karna aku ingin tau siapa orangnya dan mengapa si pelaku melakukan itu padaku.. karna menjatuhkan vas dengan sengaja dari atas, itu bisa di bilang sangat berbahaya bila benar-benar mengenaiku, bisa di bilang itu kejahatan yang cukup serius, Taejun dan Ga In mencurigai tiga orang yang sama-sama memiliki sepatu yang mirip milik pelaku yang di pakai pelaku saat terekam kamera, orang pertama yang di curigai adalah senior cowok tingkat 1 yang pernah menawarkan diri untuk mengantarku pulang, saat makan malam bersama terakhir orientasi, orang ke2 yang di curigai adalah senior tingkat 2 yang pernah berkelahi dengan Taejun, dan orang ke tiga yang di curigai adalah murid junior yang bernama Jung IL Woo, seingatku dia adalah murid junior yang menawarkan diri minum untuk menggantikan Soo Hyeon, ketiga orang itu memiliki sepatu yang sama persis dengan milik pelaku, tapi kami masih tidak mempunyai bukti lain untuk mengetahui siapa di antara mereka bertiga pelaku sebenarnya.. atau malah bukan mereka bertiga pelakunya, entahlah.. Baek Hyun yang tidak tau masalah awalnya selalu cerewet dan bertanya, aku menjawabnya gemas, sedangkan Ga In dan Taejun tampak sedikit terganggu dengan ke akraban kami, setelah selesai makan siang, kami ke ruang yang akan menjadi tempat presentasi kerja kelompok kami bersama para senior, aku langsung duduk dengan ke lompokku, dengan kak Woo Bin dan juga Baek Hyun, sedangkan Taejun dan Ga In duduk dengan kelompok mereka masing masing,
Dosen datang, dan mulai menunjuk kelompok pertama yang akan melakukan presentasi,
__ADS_1