
"Aku ingin kamar terpisah," pintaku pada Rio sesampainya di rumah baru kami.
"Kenapa? apa kamu takut aku apa apain kamu?," tanya Rio mengejekku, aku memutar bola mataku.
"Bukan seperti itu.. Aku merasa tidak nyaman saja," jawabku enggan, Rio terkekeh.
"Baiklah, gak masalah," kata Rio mengangkat bahu.
"Bagus," kataku tersenyum senang.
"Ini untuk mu, jika kau perlu sesuatu," kata Rio memberikan kartu Atm padaku, apa aku boleh menerimanya? tapi aku kan udah membantunya memulihkan nama baiknya, jadi kurasa gak masalah jika aku ingin menerimanya.
"Terima kasih," kataku menerima kartu ATMnya, "Tapi bolehkah aku menarik sejumlah uang dari ATM ini?," tanyaku meliriknya.
"Boleh saja, tapi buat apa,?" tanya Rio ingin tau.
"Aku ingin mengganti uang papa yang sempat aku pakai," jawabku, aku akan mengganti uangnya dan mengembalikan kartu ATM yang si brengsek itu berikan padaku.
"Tidak masalah, kau boleh melakukan apapun dengan ATM itu, atm itu milik mu." kata Rio.
"Terima kasih," kataku tersenyum, Rio mengangguk membalas senyumku.
Setelah memilih kamar masing masing, aku berbenah, mengeluarkan semua barang dari koper yang ku bawa dari rumah si brengsek, seperti laptop, alat pengintai, alat penyadap dan yang lainnya, aku menata semua barang itu di meja, sambil mengeceknya berharap aku menemukan sesuatu seperti bukti. tapi setelah aku mengecek semuanya aku belum menemukan bukti, aku tidak akan menyerah, besok aku akan berkunjung ke sana untuk mengembalikan atm nya sambil mencari cara untuk membuka brangkas rahasia miliknya, aku harus mencari orang profesional yang bisa membuka berangkas besi.
Setelah selesai beberes, aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tapi showernya tidak mau nyala, aku memanggil satu satunya pembantu yang ada di rumah ini, Rio tidak memperkerjakan banyak pembantu karna Rio ingin menjaga rahsia dan privasinya, dia hanya memperkerjakan satu pembantu yang sangat di percayainya, agar dia dengan bebas mengajak teman gay nya ke rumah ini.
"Ada apa?," tanya Rio,
__ADS_1
"Bibik kemana? shower nya tidak mau nyala," keluhku.
"Bibik masih keluar sebentar untuk membelikan ku sesuatu, ayo biar aku yang bantu ngidupin showernya," tawar Rio, aku mengangguk.
Rio lantas mengecek showernya, siapa sangka bos pemilik salah satu club terbesar dan kafe kafe kece di kota ini mau membetulkan shower untukku.
Tak lama kemudian akhirnya showernya menyala, aku mundur sedikit untuk menghindari percikan airnya.
"Udah beres," kata Rio menghidupkan lalu mematikan showernya berulang kali, mengecek.
"Sip," kataku tersenyum mengacungkan satu jempol padanya, Rio berjalan ke arahku hendak tos denganku, tapi tak di sangka sangka Rio malah kepeleset, menabrakku membuatku ikut jatuh bersamanya, tubuh Rio jatuh menimpaku menindih tubuhku, mata kami sama sama membelalak karna terkejut, Rio membeku di atas tubuhku, lalu dia buru buru bangun dari atas tubuhku.
"Maaf, apa aku melukaimu?," tanya Rio membantuku bangung, wajahnya memerah.
"Aku tidak apa apa," kataku mengibas ngibaskan bajuku yang basah karna jatuh tadi, Rio terlihat salah tingkah saat melihat bajuku yang basah kuyup, wajahnya semakin memerah.
"Ini," kata Rio mengambilkan handuk dan memberikannya padaku, "Bajumu sangat terawang saat basah," komentarnya, benarkah? aku buru buru menerima handuknya, lalu menutupi bajuku dengan handuk itu, aku melirik Rio merasa tidak nyaman. Rio menelan ludah terlihat gugup.
Aku melanjutkan mandiku, lalu makan malam dengan Rio, setelah mengobrol sebentar dengan Rio, aku masuk ke kamar untuk tidur, hari ini hari yang sangat melelahkan, tanpa sadar aku sudah terlelap tidur saking capeknya.
Keesokan paginya saat keluar dari kamar, aku melihat teman gay Rio keluar dari kamarnya, apa semalam Rio memanggil teman gaynya ke rumah ini? ah sudahlah! bukan urusanku, pemuda itu menyapaku saat hendak pulang, aku tersenyum membalas sapaannya, tapi kenapa wajahnya cemberut dan betek begitu?
Aku ke meja makan untuk sarapan, tak lama kemudian Rio keluar dari kamarnya dan kami sarapan bersama, sepanjang sarapan Rio terlihat gelisah, sesekali melirikku dia terlihat kebingungan, ada apa dengannya? apa dia punya masalah?.
"Kamu kenapa? apa ada masalah,?" tanyaku kawatir.
"Tidak, tidak ada," jawab Rio cepat, aku mengangguk anggukkan kepala, kembali memakan sarapanku.
__ADS_1
"Hari ini aku akan ke rumah papa," kataku pada Rio memberitahu, setelah selesai sarapan.
"Baiklah, tapi untuk besok kosongkan jadwalmu karna mama dan ayah meminta kita mengunjungi mereka di rumah," kata Rio memberitahu.
"Baiklah," sahutku.
"Ini, pakai mobil ini jika ingin pergi ke manapun, lain kali aku akan ikut mengunjungi ayahmu bersamamu, kalo sekarang aku tidak bisa, karna sudah ada janji, " kata Rio memberikan salah satu kunci mobilnya padaku, aku tersenyum senang, tapi sebenarnya dia tidak perlu repot repot mau mengunjungi si brengsek itu.
"Terima kasih, kalo begitu aku pergi dulu, dah... " kataku melambai padanya.
**********
Sesampainya di rumah si brengsek, aku buru buru masuk ke dalam ruang kerja si brengsek. berhubung dia dan yang lainnya sudah berangkat kerja dan sekolah, hanya ada pelayan yang tak perlu ku kawatirkan, aku melihat lihat beberapa dokumen di meja kerja dan rak raknya tapi tak ada yang mencurigakan, lalu aku memotret berangkas rahasianya, untuk ku tunjukkan ke ahli pembuka berangkas, tapi yang jadi masalah adalah bagaimana caranya aku membawa ahli pembuka berangkas itu kesini? agar bisa membongkar berangkasnya. salah satu pelayan di sini pasti ada yang akan melaporkannya. tapi yang aku heran mengapa si brengsek itu tidak memasang satupun CCTV di rumahnya? bukankah itu agak aneh, dengan rumah sebesar ini apa dia tidak takut rumahnya kemalingan? pasti begitu banyak rahasia di sini sehingga dia tidak mau memasang CCTV. pelayan di sini sangat banyak jika aku memasukkan orang ke ruangan ini pasti akan ada yang melihat dan langsung melaporkannya pada si brengsek, dan mungkin saja mereka juga akan melaporkan pada si brengsek itu jika aku masuk ke ruang kerjanya tanpa ada keperluan. tapi bukan aku namanya jika tidak punya alibi.
Setelah selesai dengan apa yang ingin ku lakukan, aku keluar dari ruangan itu, lalu menghampiri salah satu pelayan.
"Aku meninggalkan kartu ATM di meja papa, jadi bilang padanya jika sudah pulang, bahwa aku mampir kesini untuk mengembalikan kartu ATMnya dan sudah ku letakkan di meja kerjanya." kataku memberi alibi agar tidak di curiga'i.
"Baiklah non akan ku sampaikan," kata pelayan itu.
"Baiklah kalo begitu aku pulang dulu, sampaikan salamku pada David dan juga kak Harry, lain kali aku akan berkunjung dengan suamiku," kataku pada pelayan itu.
"Baik non akan ku sampaikan." kata pelayan itu mengangguk, "Apakah anda tidak mau makan dulu?" tanya pelayan itu.
"Tidak perlu, aku sudah makan tadi," tolakku, "Ok kalo begitu aku pergi," lanjutku sembari berjalan ke luar rumah, pelayan itu mengantarkanku sampai depan rumah, dia menundukkan kepalanya saat aku melambai dan melajukan mobilku keluar halaman rumah.
Setelah pulang dari rumah si brengsek itu, aku langsung ke rumah Rio alias rumah suami palsu aku, setibanya di rumah Rio aku langsung ke kamar dan memantau perkembangan kamera tersembunyi dan juga alat penyadap, yang sudah ku letakkan di beberapa titik untuk mengawasi gerak gerik si brengsek itu,
__ADS_1
Ada beberapa percakapan si brengsek itu dengan seseorang yang terekam alat penyadap suara, percakapan itu tentang ancaman pembunuhan dan beberapa ancaman lain juga, aku tersenyum karna rekaman ini juga bisa di jadikan salah satu bukti untuk memenjarakannya, tunggu saja.. aku akan mengumpulkan bukti kejahatan mu sedikit demi sedikit lalu aku akan sesegera mungkin menjebloskan mu ke dalam penjara.
"Jessica," panggil Rio mengetok pintu kamar, aku buru buru mematikan laptopku, kenapa Rio udah pulang?.