
Suamimu, Cinta Pertamaku
"Assalamualaikum, Kalila!"
Tepukan seseorang di bahu terasa agak kencang. Sukses mengagetkanku yang tengah serius memelototi email di inbox.
"Waalaikumsalam." Ujarku sembari memutar kursi. Kini aku berhadapan dengan gadis itu.
"Kaget tau!"
Gadis berhijab di hadapan hanya nyengir kuda.
"Lagian elu ya, jam segini udah serius di depan kompi."
Tangannya mengarahkan arloji tepat di depan muka.
"Ish..apaan sih."
Aku mengenyahkan lengan kanannya.
kulihat jam dinding di ruangan office memang masih menunjukkan pukul 07.00 Sementara jam kerja dimulai pukul 7.45.
Dari semenjak pertama kerja di perusahaan ini, aku memang terkenal paling rajin datang di antara penghuni ruangan departemen QA.
Setelah sarapan pagi jam 06.30 aku berangkat dari kos, dan sampai di kantor 15 menit kemudian. Setiap pagi berjalan kaki menuju kantor yang berjarak sekitar 1 Km dari tempat kos. Dan itu kulakukan sampai hari ini, dua tahun masa kerja.
Aku pikir, daripada di kos, ngapain juga. Mending di tempat kerja. Bisa ketemu sama orang-orang.
"Lil..ayo ke ruang meeting."
Ajak Nisa beberapa menit kemudian.
Tangan kanannya memegang sebuah agenda yang biasa dia gunakan untuk mencatat. Sementara tangan kirinya membawa sebuah tas kain yang ukurannya lumayan besar.
"Apaan itu?"
Telunjukku menunjuk tas berwarna hitam itu.
"Rahasia..he..he.."
Nisa menjawab sembari terkekeh.
"Ah elu main rahasia - rahasiaan, awas ya!"
Aku mencubit kecil lengan gadis yang seumuran denganku itu.
"Auu.." jerit gadis itu.
Sesaat kemudian kami berdua sudah berada di ruang meeting. Kemudian mengambil duduk bersebelahan.
Kulihat semua penghuni ruangan QA sudah siap di kursi masing-masing.
Pak Hamid, manager QA membuka meeting pagi dengan presentasi berisi beberapa customer complain yang kami dapat pekan lalu. Dan seperti biasa, beliau meminta agar secepatnya dicari penyelesaian dan segera dibuat laporannya.
"Saya rasa sekian dulu meeting pagi ini, nanti kalo ada update terbaru tolong segera diinfo."
Ujar pria berjenggot lebat itu.
"Oh ya Myr, tolong nanti diatur lagi ya untuk back up Nisa siapa saja."
__ADS_1
Titah Pak Hamid ke mbak Myra, atasan Nisa.
"Baik Pak, nanti saya omongin sama Nisa."
Jawab Mbak Myra.
Aku memandang heran ke Nisa.
"Elu mau cuti Nis?"
"Iya dong."
Ujarnya
Kulihat Nisa begitu sumringah. Gadis itu kemudian beranjak sambil membawa tas yang dijinjingnya tadi.
"Bapak - Bapak, Mbak - mbak semua, ini undangan saya ya."
Nisa terlihat senyum - senyum kecil seraya membagikan beberapa helai undangan.
"Jangan lupa dateng loo..bawa kado."
Guraunya. Tawa renyah terdengar dari mulutnya.
"Ih..elu jahat banget Nis, diem - diem bae."
Ucapku cemberut saat menerima undangan berwarna pink dusty dari Nisa.
"Biar surprise."
Kerlingnya manja.
"Wah..solmetmu udah laku lo Lil, tinggal kamu dong."
"Kayaknya Lila nunggu mang Sarmin, Pak."
Sahut Pak Edi, atasanku yang disambut gelak tawa semua orang seisi ruangan.
Mang Sarmin adalah jomblo sejati di perusahaan ini. Di usianya yang mendekati 50, lelaki itu belum juga terlihat tanda - tanda menikah. Setiap ada cewek yang jomblo di kantor ini, beliaulah yang jadi bahan candaan untuk dijodohkan dengan sang gadis.
"Haduh, amit - amit Pak."
Aku mengetok kepala beberapa kali dengan jemari. Berharap ucapan Pak Edi tak diaminkan malaikat.
"Makanya cepetan dong."
Ujar Pak Edi lagi. Lagi - lagi sambil tertawa penuh canda.
"Iya Pak, ini juga lagi usaha."
Jawabku asal hingga tak terasa bibir ini maju beberapa centi.
" Cariin lah Ed!"
Titah Pak Hamid sambil tergelak.
Disambut dengan gelak tawa seisi ruang meeting.
Aku hanya bisa manyun dijadikan objek bercanda para atasanku.
__ADS_1
" Oh..jadi calon suamimu namanya Muhammad Azzam Hasan, Nis."
Deg!
Seketika hatiku gemetar tak karuan saat mendengar mbak Myra mengucap nama suami Nisa.
Buru - buru kubuka undangan yang sedari tadi masih tersegel.
Segera mataku tertuju pada nama mempelai pria.
"Muhammad Azzam Hasan S.Si"
Tiba- tiba tubuhku terasa lemas.
Apakah ini hanya namanya yang sama, ataukah memang orang yang sama?
Kuteguk segelas air putih yang berada di meja depan kursi untuk menetralisir rasa gugup.
Terlihat Nisa masih membagikan undangan.
Matanya terlihat berbinar - binar. Senyum tak lepas dari bibirnya.
"Kenal dimana Nis?"
Tanya Mbak Myra.
"Nisa taaruf Mbak, guru ngaji yang ngenalin kami."
Jawab gadis berhijab lebar itu. Matanya berbinar memancarkan kebahagiaan.
"Kok gak ada fotonya, jadi penasaran."
Gumamku masih dengan nada sedikit gemetar.
"Ya makanya datang dong, biar tahu."
Ujarnya seraya menjentikkan jari tepat di depan muka. Membuatku mundur beberapa centi.
Kuteguk kembali air di depanku.
Aku menelan saliva. Menghela nafas dalam. Kemudian memasang senyum paling manis di depan sahabatku.
"Siap, insyaAllah."
Aku beranjak dari ruang meeting dengan pikiran yang berkecamuk.
Memikirkan nama yang tertera di undangan pernikahan Nisa.
Nama yang sama persis dengan seseorang yang 3 tahun lalu pernah memberiku harapan untuk melangkah ke sebuah pernikahan impian. Membangun rumah tangga yang harmonis dengan anak yang lucu nan menggemaskan.
Sesosok laki-laki yang menghilang secara tiba - tiba dari hidupku.
Pria yang selalu kusebut dalam doa agar aku bertemu lagi dengannya. Sampai akhirnya menyerah. Tak lagi menyebutnya dalam doa.
Hingga memutuskan mengubur semua kenangan bersamanya dengan hijrah ke kota ini. Mungkin dia memang bukan seseorang yang ditakdirkan Allah untuk mendampingiku.
Hatiku berkecamuk. Deretan pertanyaan memenuhi isi kepala. Apakah benar pemilik nama di undangan itu adalah orang yang sama dengan laki-laki itu?
Apakah benar calon suami Nisa adalah Azzam, cinta pertamaku?
__ADS_1
Ataukah hanya kebetulan namanya saja yang sama?
Bersambung.