Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Bagian 11


__ADS_3

"Wa..alaikumsalam."


Aku tercengang menatapnya.


Semburat galau terpancar dari wajah lelaku itu. Sekilas kulihat Mas Kamal melihatku dan Azzam bergantian. Pria itu diliputi kebingungan. Perlahan aku melangkah menghampiri Azzam yang terpekur di pintu.


"Ada apa kamu kesini?" Tanyaku padanya.


Pria itu menghela nafas. Berat.


"Kalila, mending suruh masuk dulu tamunya,"


Saran Mas Kamal.


Sejenak aku menoleh ke arahnya. Sungguh aku merasa tak enak dengan pria yang kini duduk di sofa.


[Ah, Azzam. Kenapa kau datang di saat yang tidak tepat.]


Rutukku dalam hati.


"Masuklah."


Aku melangkah mendahului Azzam.


Kemudian duduk di sofa. Lelaki itu mengikuti dari belakang.


Mas Kamal beranjak dari sofa, kemudian menyalami Azzam yang kini tengah duduk.


"Kalila, sebaiknya aku pulang dulu. Sepertinya ada hal penting yang harus kalian bicarakan."


Pamit Mas Kamal kepadaku. Dari gestur tubuh Azzam, rupanya dia menyadari bahwa akan ada hal penting yang akan disampaikan pria itu padaku.


"Tapi Mas--,"


"Nggak apa, InsyaAllah besok aku kesini lagi."


Ujarnya seraya tersenyum.


Aku menatap matanya. Meminta maaf atas kejadian yang tidak mengenakkan ini. Lelaki itu mengangguk. Paham akan situasi yang kualami.


"Monggo Mas, Assalamualaikum,"


Pamitnya kepada Azzam.


"Waalaikumsalam," jawabku berbarengan dengan azzam.


"Ada apa kamu kesini?"


Tanyaku sedikit ketus.


Berat pria itu menelan saliva. Kemudian mengusap kasar wajahnya.


"Maaf Kalila. Aku ke sini atas permintaan Nisa."


Lelaki itu menunduk.


"Dua hari lagi Nisa akan menjalani operasi. Dia memintaku menjemputmu karena dia bilang sangat ingin ketemu kamu,"


"Maaf aku nggak bisa."


Tolakku.


"Aku mohon Kalila, sekali ini aja."


Pinta Azzam memelas.


Pria itu kemudian mengambil ponselnya. Membuka galery di benda pipih itu. Kemudian menyodorkan padaku.


"Ini, Nisa saat ini masih di Rumah sakit."


Aku mengambil benda itu. Di layar ponsel kulihat foto Nisa yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat.


Tangan kanannya tertancap infus.


Astaghfirullah.


Aku sungguh tak tega melihatnya.


"Apa yang terjadi sama Nisa?"


Tanyaku pada Azzam yang tengah bersandar lemah di sandaran sofa.


"2 hari yang lalu, dia pingsan saat hari pertama mens. Akhirnya kubawa ke rumah sakit. Dokter menyarankan Nisa tetap nginep, supaya kondisinya stabil dan bisa dilakukan tindakan operasi,"


Ujarnya.


Dada lelaki itu naik turun. Nafasnya tak beraturan. Wajahnya terlihat sangat lelah.


Lingkaran hitam terlihat jelas membayangi area matanya. Rambutnya tampak berantakan.


Nafasku mendadak ikut sesak melihat kondisi pria di sampingku. Ingin rasanya menggenggam tangannya. Menguatkan lelaki itu. Namun lagi-lagi, aku tak berhak atas dirinya.


Mataku tiba-tiba berembun.


Tak tega membayangkan Nisa merasakan kesakitan yang sangat dahsyat. Empat tahun, diri ini menjadi saksi betapa wanita itu selalu merintih di hari-hari pertama siklusnya. Sebelum menikah dengan Azzam, akulah sosok yang selalu diandalkan gadis yatim piatu itu. Aku yang selalu menemaninya di kos saat dia terbaring lemah.


"Pulanglah Zam."


Azzam menatapku. Ada gurat kecewa tergambar di raut wajah. Mengusap wajah dengan kedua tangannya.


"InsyaAllah besok aku ikut bersamamu,"


Ujarku lirih.


Seketika aku melihat netranya berbinar.


"Alhamdulillah ya Allah!"


Pekiknya.


"Terimakasih Kalila."


Kedua tangannya mengepal kuat di atas lutut. Seolah menahan agar tak sampai memegangku.


Aku mengangguk perlahan.


Tak berapa lama Azzam pamit meninggalkan rumah ini.


Kuambil ponsel untuk berkirim pesan ke Mas Kamal.

__ADS_1


[Assalamualaikum. Maaf atas kejadian barusan ya Mas]


Lima menit berlalu tak ada balasan. Aku menunggu dengan cemas. Khawatir lelaki itu kecewa padaku. Mas Kamal tak sempat bertemu bapak tadi.


Drrrt..drrt..


Gawaiku bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar.


[Nggak apa Kalila]


Ah, Aku menarik nafas lega.


[Besok aku harus ke Batam]


Balasku lagi


[Ok]


Singkat. Hanya itu balasan darinya.


Jantungku berdegup tak karuan. Hatiku kembali diliputi rasa cemas. Apa benar dia kecewa denganku?


Bahkan dia tak bertanya siapa lelaki yang datang barusan.


Ah .. sudahlah.


Kuletakkan kembali ponselku di atas meja. Gontai aku beranjak ke kamar untuk menyiapkan keperluan pergi ke Batam.


****


Hari ini aku akan pergi ke Batam menumpang pesawat jam 10 pagi bersama Azzam.


"Kita check in sendiri-sendiri ya."


Pintaku padanya


Aku khawatir jika kami check in berbarengan, akan mendapat tempat duduk yang bersebelahan. Aku tak sanggup bila harus di sampingnya selama dua jam lamanya.


Pria itu mengangguk pelan. Menyetujui permintaanku.


Lelaki itu kemudian mengambil jarak dariku. Kami terpisah diantara antrian beberapa orang. Aku di depan. Sementara Azzam di belakang.


"Gate 8 ya Bu,"


Ujar petugas check in.


Aku mengangguk seraya menerima boarding pass yang diserahkannya.


Kemudian melangkahkan kaki menuju lantai atas bandara. Sekilas aku melihat Azzam. Lelaki berswater navy itu tengah menatapku dengan mata teduhnya.


Ah, kenapa getaran itu masih ada.


Cepat-cepat kupalingkan muka darinya.


Bergegas menaiki eskalator menuju gate 8.


Untuk tiga puluh menit lamanya aku berada di ruang tunggu. Kulihat Azzam duduk di bangku panjang, jauh di seberang kursiku. Kami sengaja saling menjaga jarak, untuk menghindari bentrokan hati yang selalu hadir jika kami berdekatan. Terlihat Lelaki itu membuka sebuah alquran kecil kemudian membacanya.


Berat aku menelan saliva.


Lagi-lagi hati ini mendadak perih.


**


"Kursi nomer berapa Bu?"


Seorang pramugari bertanya padaku saat aku menyusuri lorong pesawat.


"16B,"


Jawabku.


"Oh silahkan sebelah sana."


Pramugari cantik nan modis itu mengarahkan telapaknya ke arah depan. Aku melangkah mengikuti arah tangannya.


Saat aku meletakkan barangku di kabin atas.


"Kalila,"


Deg!


Aku tersentak mendengar suara Azzam memanggilku. Dia sudah duduk di kursi dekat jendela. 16 A. Tepat di sebelahku.


Astaghfirullah!


Skenario apa lagi ini ya Allah?


"Kamu duduk di sini Zam?"


Tanyaku tak percaya.


Dia menyodorkan boarding passnya.


Ya Allah memang benar itu tempat duduknya.


[Jadi untuk apa aku tadi mengatur-atur dia agar menjauh dariku. Jika ujung-ujungya seperti ini]


Geramku dalam hati.


"Mau tuker kursi? Biar aku yang di tengah,"


Tawarnya.


Aku menggeleng.


Biar saja aku menghadapi takdirku kali ini.


"Permisi Pak."


Ucapku meminta izin kepada pemilik kursi 16c untuk melewatinya agar aku bisa duduk di tempatku.


Azzam menatapku lamat-lamat. Kemudian mengarahkan pandangannya lurus ke depan. Tak berani mengajakku berbicara.


Untuk beberapa saat lamanya kami hening. Aku memejamkan mataku. Berpura-pura tidur.


"Siapa lelaki itu?"


Tanyanya sejurus kemudian.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa."


Jawabku dengan masih memejamkan mata.


"Calon suami?"


"Apa urusanmu nanya kayak gitu."


Jawabku sedikit ketus.


Azzam menghela nafas dalam.


Kemudian bergumul lagi dengan keheningan yang hadir di antara kami.


Selintas kulihat lelaki itu kembali tenggelam dalam kitab kecil yang tadi dibacanya. Lirih lelaki itu melantunkan setiap ayat yang tertulis di dalamnya.


Membuat dada ini semakin bergemuruh.


**


Semerbak bau obat-obatan menguar menusuk hidung saat aku dan Azzam tiba di rumah sakit. Aku bergegas menuju ke kamar Nisa dirawat. Sementara Azzam menuju mushola untuk melaksanakan sholat duhur


"Assalamualaikum Nisa."


Ucapku seraya membuka pintu.


"Waalaikumsalam."


Wanita itu menjawab salamku.


Matanya mengerjap gembira saat aku merentangkan tangan untuk memeluknya.


"Terimakasih Kalila, akhirnya elu datang."


Ujarnya membalas pelukanku.


"Iya sama-sama."


Aku mengelus punggungnya. Nisa terlihat lebih kurus dibanding saat aku melihatnya terakhir kali.


"Gue takut Lila."


Nisa tiba-tiba terisak di bahuku.


Kembali aku mengelus kepalanya.


"Jangan takut, ada Allah, ada Azzam suamimu, ada aku. Percaya sama dokter insyaallah semua akan baik-baik saja."


Ujarku berusaha menenangkannya.


"Kapan operasinya?"


Tanyaku.


"Besok."


Jawab Nisa melepas pelukanku.


Wanita itu kemudian menggenggam erat tanganku.


"Lila, berjanjilah pada gue."


Aku mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.


"Apa?"


"Jika setelah operasi, kehidupan tak berpihak lagi pada gue, tolong dampingi Azzam."


Tangis Nisa kembali pecah. Dia tersedu-sedu sembari tetap memegang tanganku.


"Nisa, elu gak boleh mendahului takdir. InsyaAllah semua akan baik-baik saja."


Ujarku menyemangati. Mataku memanas. Hatiku berkecamuk mendengar permintaannya. Tak terasa air mata jatuh dari kelopak mata.


"Udah, sekarang elu tenangin diri. Bismillah ya."


Aku mengusap pipinya yang basah oleh air mata.


Perlahan Nisa mengangguk.


"Ini titipan Ibu, buat elu."


Aku tersenyum seraya menyerahkan bungkusan oleh-oleh berisi lapis Surabaya.


"Terimakasih. Taruh di situ aja."


Telunjuknya mengarah pada nakas di samping ranjang.


**


Pukul 14.00 operasi Nisa akan dilakukan.


Para dokter dan suster mondar- mandir menyiapkan peralatan. Terlihat Nisa duduk di atas kursi roda yang didorong suaminya. Wajahnya masih terlihat pucat.


Perlahan aku menghampiri.


"Bismillah ya Nis, Insyaallah semua baik-baik saja."


Ujarku seraya menggengam erat tangannya.


Nisa mengangguk sambil tersenyum.


Bebapa menit kemudian wanita itu telah masuk ke ruang operasi.


Tak berapa lama, lampu indikator ruang operasi menyala. Tanda proses histerektomi sudah dilakukan.


Aku dan Azzam menunggu dengan cemas di kursi panjang.


Semua doa dan sholawat kurapalkan. Berharap semua akan baik-baik saja.


Kulihat Azzam merogoh sakunya. Mengeluarkan quran kecil kemudian membacanya.


Aku tertegun menatap lelaki itu.


Ah Nisa, betapa beruntungnya dirimu bisa memiliki lelaki sepertinya.


***


Beberapa jam kemudian lampu ruang operasi padam.

__ADS_1


Seorang dokter keluar dari ruangan bercat putih itu. Menghampiriku dan Azzam yang tengah dilanda kecemasan


__ADS_2