
Eps. 21
"Apa apaan kamu, Jangan sembarangan ngomong. Bilang saja kamu iri sama aku, kan."
"Sory ya, nggak ada untungnya juga iri sama kamu. Buang buang tenaga saja. Heh, lebih baik kamu pergi saja dari sini. Nggak guna banget kamu ke sini."
Kuperhatikan wajah Chika nampak merah membara karena menahan amarah. Mungkin dia emosi atau ketakutan jika aku tahu sesuatu soal dirinya.
Diapun akhirnya pergi dari hadapanku. Aku hanya tersenyum sinis melihat kepergiannya. Sungguh tidak menyangka calon istri Rohman seperti itu.
Entah mengapa hati ini tiba tiba rindu dengannya. Ingin sekali aku menemuinya, namun sepertinya itu sangat mustahil. Karena sampai sekarang aku benar benar tidak tahu kabar dia. Bisa dibilang lost kontak sampai saat ini.
Aku segera masuk ke dalam kamar kost. Ku rebahkan tubuh ini di atas kasur. Ku buka aplikasi whatsap. Aku sedikit terkejut, sebuah pesan masuk melalui sms. Ku buka dan ku baca pesan tersebut. Isinya sebuah kata kata makian dari seseorang. Dan sepertinya aku juga tahu siapa pengirimnya.
[Heh, perempuan murah. Jangan aku tahu kamu iri kan sama aku karena sebentar lagi aku menikah dengan Rohman. Makanya jadi orang jangan sok kepedean. Kamu itu nggak ada apa apanya dibandingkan denganku. Makanya Rohman lebih memilihku dibanding kamu. Dasar cewek kampung. Jangan pernah mimpi kamu buat dapetin Rohman. Kamu bukan levelnya.]
[Untuk Chika yang terhormat, sudah cukup anda menghina saya. Dan untuk saat ini kesabaran saya sudah habis. Selama ini aku diam jika kamu memaki aku. Tapi untuk kali ini aku tidak akan tinggal diam. Sekali lagi kamu berani mengganggu, aku akan buat kamu batal menikah dengan Rohman.]
[Kamu mau buat aku batal menikah dengan Rohman? Hahaha, aku rasa itu sangat mustahil. Kamu itu cuma cewek kampung, yang kebetulan kenal Rohman. Bisa apa kamu?]
[Oke, kita lihat saja nanti. Lagian aku punya cukup bukti untuk membongkar kedok kamu. Agar semua orang tahu siapa kamu sebenarnya.
[Apa maksud kamu cewek kampung?]
[Sudah ya, aku malas sekali meladeni kamu. Menguras tenaga saja. Kamu tunggu saja tanggal mainnya. Pasti akan menjadi tontonan yang sangat lucu di hadapan semua orang.
[Sialan kamu, Jangan pernah macam macam kamu denganku. Aku bisa buat buat kamu hancur dan lenyap dari muka bumi ini.]
[Silahkan, aku sama sekali tidak takut dengan ancaman kamu wanita murah. Hahaha. Bye, selamat menikmati harimu, Chika. Semoga bahagia.]
[Hei, awas kamu ya jika macam macam denganku.]
Tak ku balas lagi pesan smsnya. Aku tak kuasa menahan tawa. Sepertinya dia nampak ketakutan akan sesuatu yang aku rencanakan.
Aku tak begitu memikirkannya lagi. Mata ini sungguh sudah tidak bisa terjaga. Ku pejamkan mata dan akhirnya aku dapat tertidur dengan nyenyak.
*********
__ADS_1
Alarm sudah berbunyi dan aku mulai membuka mata. Sebenarnya masih sangat mengantuk, namun aku harus bengun untuk bekerja. Aku mulai bangkit dari tempat tidur. Dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ku basahi seluruh tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Rasanya sangat segar sekali. Apalagi dicuaca yang sangat terik seperti ini. Ingin rasanya berlama lama berendam air dingin.
Sangat berbeda sekali ketika berada di kampung halaman. Ingin mandi saja kadang harus pakai air hangat. Karena di tempatku memang sangat sejuk. Berbeda dengan tempat rantauku ini, suhunya terasa panas.
Aku segera menyudahi aktifitasku di kamar mandi. Karena aku juga belum makan siang. Aku segera memakai seragam batik berwarna merah dan celana hitam. Seragam khas di Resto tempatku bekerja.
Ku keringkan rambutku yang basah menggunakan hairdreyer. Lalu aku merapikan tempat tidurku dan ku sapu kamar kostku ini.
Seketika aku teringat akan uang pemberian dari Rendy. Ku buka tas, dan ku ambil uangnya. Setelah aku hitung ternyata jumlahnya ada tiga juta. Ku simpan kembali uangnya.
Teringat aku belum makan siang, aku mengambil ponsel untuk memesan makanan melalui ojol. Namun sebuah pesan masuk dari Rendy. Ternyata dia sudah memesankan makanan melalui ojol.
[Sayang, aku sudah pesan makanan. Kamu tinggal tunggu saja.]
[Baru saja aku mau pesan, mas. Ya sudah terimakasih kamu sudah perhatian sama aku, mas.]
[Sama sama, sayang. Itu sudah kewajiban aku. Jangan lupa dihabiskan makanannya.]
[Iya, mas. Kamu juga jangan lupa makan siang.]
[Love you too Rendy.]
[Tumben kamu sebut namaku.]
[Kenapa? Nggak boleh, ya?]
[Ngak apa apa, sih. Cuma agak beda aja.]
[Ya sudah, kamu kerja dulu sana.]
[Iya, sayang.]
Tak berselang lama pesan dari ojol tiba. Aku segera membukanya. Ternyata makanan yang dipesan Rendy untukku sudah sampai di depan. Aku bergegas keluar untuk mengambilnya.
"Pemisi mbak, pesanan atas nama Lissa."
__ADS_1
"Iya pak, dengan saya sendiri."
"Oh baik mbak. Ini pesanannya."
"Apakah sudah dibayar?"
"Sudah mbak."
"Oh ya, terimakasih banyak pak."
"Baik mbak, saya permisi."
"Iya pak, silahkan."
Aku kembali masuk ke dalam kamar kostku. Segera ku buka makanan yang dibelikan Rendy. Lontong sayur dan jus mangga. Aku tersenyum kegirangan. Dalam hatiku berkata, sungguh dia sangat tahu aku menyukai makanan ini.
Segera aku santap makananku. Karena waktu sudah menunjukkan pukul dua belas tepat. Sedangkan jam satu aku harus sudah tiba di lokasi tempatku bekerja.
Usai makan aku segera ke kamar mandi untuk wudhu lanjut melaksanakan sholat. Dan setelah itu aku merias tipis wajahku agar telihat fresh. Ku kenakan hijab berwarna merah, agar senada dengan warna bajunya. Dan yang terakhir aku pakai flatshoes berwarna hitam.
Ku ambil tas kecilku dan aku bergegas menuju depan untuk menunggu dijemput temanku. Aku duduk di bawah pohon dekat dengan gerbang. Kebetulan di situ memang ada tempat duduknya.
Aku menunggu temanku sambil bermain ponsel. Tiba tiba seseorang turun dari motor dan menghampiriku. Setelah dia membuka helm dan berdiri tepat di depanku, aku terkejut bukan main.
Seorang laki laki yang pernah dekat denganku, dan mampu membuatku nyaman. Setelah menghilang tanpa kabar, kini dia ada di hadapanku.
Mataku memandang dia tanpa berkedip. Berharap ini adalah sebuah mimpi. Ku cubit lenganku, namun terasa sakit. Ternyata ini adalah nyata.
Lelaki tersebut adalah Rohman. Aku tak mampu berkata kata. Gugup yang aku rasakan sekarang. Ingin aku berkata walau hanya sebatas menanyakan kabar, namun bibirku terasa tertahan.
"Non, apa kabar?"
Saat aku akan menjawab pertanyaannya, Andry sudah datang untuk menjemputku. Aku segera pergi dari hadapannya.
Teringat akan calin istrinya yang bernama Chika, aku segera menghindarinya. Karena aku tidak mau terlibat masalah.
"Maaf, saya harus bekerja. Permisi."
__ADS_1
Aku segera naik di atas motor. Dan Andry mulai melajukan kendaraannya.