
Eps. 90
[Enggak usah, Mas.]
[Nanti aku bisa pesan sendiri.]
[Ya sudah. Nanti kalau Mas pulang, kamu harus sudah di rumah.]
[Iya, Mas. Sebentar lagi aku mau pulang.]
[Nunggu Bu Rita tidur dulu, habis itu aku segera pulang.]
[Iya, sayang. Kamu hati hati, ya.]
[Iya, Mas.]
Sambungan telepon sudah terputus. Aku bergegas menemui Bu Rita di kamarnya. Aku akan meminta ijin untuk segera pulang. Karena mengingat hari juga sudah siang. Aku juga perlu istirahat agar tidak kecapekan.
Aku berjalan dengan sangat pelan menuju kamar Bu Rita. Ku lihat pintu kamarnya sedikit terbuka. Samar samar aku mendengar suara obrolan. Aku tidak langsung masuk, karena mendengar namaku disebut sebut oleh Bu Rita. Karena penasaran, aku mendengarkan pembicaraan Bu Rita dan Mas Rendy secara diam diam.
"Bu, sampai sekarang Rendy memang masih cinta sama Lisa."
"Tapi, tidak mungkin aku merebutnya dari suaminya."
"Aku sama Rohman dulu berteman baik."
"Itu, dulu nak. Tapi tidak untuk sekarang."
"Apa kamu tidak ingat bagaimana dia merebut pacar kamu dulu?"
"Apa kamu tidak ingat bagaimana dia meniduri pacar kamu dulu?"
"Tapi, bu.."
"Nak, Lissa itu gadis baik. Dari pertama dia ke mari, ibu sangat menyukai Lissa."
'Astaga, jadi selama ini Bu Rita tahu tentang Mas Rohman. Jadi Bu Rita tahu bagaimana pertemanan Mas Rendy dan Mas Rohman dulu.'
"Bu, jika memang aku dan Lissa berjodoh, pasti akan dipersatukan."
Aku segera mengetuk pintu untuk meminta ijin masuk. Karena aku sudah sangat lelah dan tidak mau lagi mendengar pembicaraan mereka berdua.
'Tok...tok...tok...'
"Permisi."
"Eh, nak. Kamu sudah dari tadi di situ?"
"Enggak, bu. Emangnya ada apa?"
"Enggak ada apa apa, sini masuk."
"Ehm, Ibu saya mau minta ijin pulang."
"Kenapa kamu buru buru sekali, nak?"
__ADS_1
"Kan ibu masih mau ditemani sama kamu."
"Ini bu, tadi Mas Rohman telepon menyuruhku untuk segera pulang."
"InsyaAllah besok jika diijinkan, Lissa akan ke sini lagi."
Dapat ku lihat raut wajah Bu Rita menjadi murung. Sepertinya beliau masih menginginkan aku untuk tetap ada di sini. Tapi bagaimana pun juga aku harus tetap pulang. Aku mencoba untuk bicara baik baik dan memberi pengertian.
Tak hanya itu, aku juga menasehati Bu Rita untuk makan tepat waktu. Agar lekas sembuh dar sakitnya. Dan juga aku ingin wajah Bu Rita kembali segar.
"Bu, maaf sekali. Lissa sekarang kan sudah punya suami. Jadi, apa yang suami katakan, Lissa harus nurut selama itu baik buat Lissa."
"Lissa janji, jika Mas Rohman mengijinkan pasti akan ke sini lagi buat nemenin ibu."
"Tapi, nak.."
"Bu, ibu tetap jaga kesehatan. Jangan lupa makan teratur dan berjemur di pagi hari biar cepet sembuh."
"Bu, ingat masih ada Mas Rendy. Apa ibu nggak kasian sama Mas Rendy?"
Bu Rita tertunduk setelah mendengar apa yang aku katakan. Sepertinya beliau mengerti dengan nasehatku. Aku berharap semoga Bu Rita lekas sembuh.
"Ya sudah, kalau begitu Lissa pamit pulang dulu."
Saat aku hendak melangkah, Mas Rendy menahan aku dengan memegangi lenganku. Aku pun menahan langkah kaki. Dan berdiri berhadapan dengan Mas Rendy.
"Tunggu, Lis."
"Iya, Mas. Ada apa?"
"Nggak usah, mas. Aku bisa pesan taxi online, kok."
"Lagian kalau kamu mengantar aku pulang, bagaimana dengan ibu?"
"Lebih baik kamu jaga ibu saja. Beliau jauh lebih membutuhkan kamu, Mas. Aku masih bisa pulang sendiri."
"Bukan begitu, Lis."
"Lalu apa, Mas?"
"Aku yang meminta kamu untuk ke sini. Aku juga yang tadi menjemput kamu."
"Mana mungkin bisa aku tega membiarkan kamu pulang sendirian.
"Apalagi kamu juga sedang hamil. Nanti kalau ada apa apa gimana?"
"Aku bisa jaga diri, Mas. Kamu jagain ibu saja."
"Nak, ibu nggak apa apa. Ibu akan istirahat saja."
"Biarkan Rendy mengantarkan kamu pulang. Lagian Ibu juga yang menginginkan kamu datang ke sini."
"Jadi ini salah satu bentuk tanggung jawab kami. Kamu nurut saja ya, nak."
"Ya sudah terserah kamu saja, Mas."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, ayo aku antarkan pulang."
"Bu, aku tinggal sebentar. Ibu istirahat, pintu akan aku kunci dari luar."
"Lissa pamit pulang, Bu."
"Iya, nak. Kalian hati hati di jalan. Jangan ngebut ngebut bawa mobilnya."
"Ya, Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aku dan Mas Rendy bergegas masuk ke dalam mobil. Dan Mas Rendy mulai melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Entah kenapa kepala ku sedikit pusing. Mungkin aku butuh istirahat sejenak.
Ku pijat kepala ku pelan pelan. Aku dan Mas Rendy sedari tadi juga saling diam tiada obrolan sama sekali. Ingin aku memulai obrolan, namun bingung harus mulai dari mana. Karena Mas Rendy juga fokus menyetir. Aku juga tidak ingin mengganggu konsentrasinya.
Namun setelah sekian lama kita saling diam, Mas Rendy dengan sendirinya memulai obrolan. Dia mengeluarkan kata kata yang sangat membuat aku sedikit shock. Entah apa yang ada di fikirannya saat ini, hingga dia secara tiba tiba berkata seperti itu.
"Lis."
"Iya, mas."
"Apa kamu mencintai Rohman?"
"Kenapa tiba tiba kamu bertanya seperti itu, Mas? Ada apa?"
"Tidak ada apa apa, hanya ingin tahu saja. Apa kamu mencintai Rohman?"
"Dia suami aku, Mas. Tentu saja aku mencintai dia."
"Kamu yakin?"
"Kamu kenapa sih, Mas?"
"Nggak ada apa apa, aku hanya memastikan saja."
Untung saja aku sudah sampai di mini market depan gang menuju rumah aku. Jadi aku juga tidak perlu lagi melanjutkan obrolan denga Mas Rendy. Sungguh pertanyaannya sangat menjebak.
"Aku turun di depan mini market itu seperti biasa, Mas.
"Tidak sampai rumah sekalian?"
"Tidak, Mas. Di sini saja, nggak enak nanti kalau ada tetangga yang tahu. Kasian Mas Rohman."
Alhamdulillah mobil sudah terparkir di depan mini market. Aku berpamitan dan segera turun dari mobil. Dan aku pun segera menyeberangi jalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Tak perduli jika Mas Rendy terus memandangi aku.
Panas yang sangat terik membuat keringat ini mengalir dengan derasnya. Sungguh aku benar benar merasa sangat lelah sekali. Mata ini juga sudah tidak bisa lagi untuk terjaga. Ku percepat langkah kaki ku, agar segera sampai di rumah. Ingin sekali aku merebahkan diri di atas kasur yang empuk.
Dan alhamdulillah, dengan nafas ngos ngosan akhirnya aku sampai di rumah. Bergegas aku segera membuka pintu dan lalu masuk. Ku basuh kaki dan tanganku setelah bepergian. Dan ku teguk segelas air putih untuk menghilangkan dahaga. Lalu aku menuju kamar untuk istirahat sejenak.
Ku rebahkan tubuh ini di atas kasur. Ku buka ponsel dan ku kirim pesan untuk Mas Rohman. Jika sekarang aku sudah berada di rumah. Dan aku juga berpesan jika aku akan istirahat.
[Mas, aku sudah di rumah. Nanti kamu buka pintu pakai kunci cadangan yang kamu bawa, ya.]
[Aku mau istirahat dulu.]
__ADS_1