
Eps. 25
Hari sudah pagi, aku bergegas untuk membersihkan diri. Setelah itu aku beberes dan menyiapkan keperluanku untuk pulang kampung siang nanti. Kamar sudah tertata rapi dan juga bersih. Semua sudah aku persiapkan.
Aku bersantai sejenak sambil membuka aplikasi untuk memesan makanan melalui ojol. Sambil menunggu pesanan datang, aku merebahka diri. Tak berselang lama ada panggilan masuk dari Rendy. Aku segera mengangkatnya.
[Hallo, mas.]
[Hallo sayang, nanti kamu mau berangkat jam berapa?]
[Kamu yakin mas, jadi mau ikut?]
[Ya jadi dong sayang. Aku sama Arya sudah bersiap siap. Tinggal nunggu kabar dari kamu saja.]
[Oh, gitu. Kalau jam sebelas gimana, mas? Ini aku masih nunggu makanan. Lapar mau makan dulu.]
[Ya sudah, kamu makan dulu. Nggak usah buru buru.]
[Iya, mas.]
Ku tutup sambungan telepon, lalu ku buka pesan whatsap. Ternyata pesanan makananku sudah sampai di depan kost. Aku bergegas keluar untuk mengambilnya.
**********
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Aku segera bersiap siap. Ku ambil ponsel lalu mengurumkan pesan untuk Rendy.
[Mas, aku sudah siap. Bisakah kita berangkat sekarang saja?] Tak butuh waktu lama, pesanku langsung dibaca kemudian dibalas oleh Rendy.
[Iya sayang, tunggu sebentar. Aku segera menjemput kamu.]
[Iya, mas]
Aku berjalan ke depan dan duduk di bawah pohon sambil menunggu Rendy. Ku mainkan ponsel untuk mengusir rasa jenuh. Saat tengah asik dengan ponselku, seseorang turun dari motor dan berjalan ke arahku.
Aku pura pura tidak melihatnya, dan hingga akhirnya orang itu berdiri tepat di depanku. Ku mendongakkan kepala, betapa terkejutnya aku. Ternyata orang yang ada di hadapanku adalah Rohman.
Aku tengah gugup dan bingung harus bagaimana. Aku berusaha tenang dan basa basi untuk menanyakan kabarnya.
"Ka kamu apa kabar?"
"Kabar baik, non."
__ADS_1
"Ehm, ada keperluan apa setelah sekian lama tidak ada kabar tiba tiba datang ke mari."
"Aku ingin bicara sama kamu."
"Mau bicara apa? Bicara saja mumpung aku masih di sini."
"Non, dari dulu aku mau bicara sama kamu kalau aku.."
Saat Rohman tengah berbicara, terdengar suara klakson mobil. Akupun sontak terkejut. Dan Rohman berhenti berbicara.
Rendy turun dari mobil dan menghampiriku. Dia mecengkeram lenganku dengan kasar. Tatapannya sangat tajam. Seolah menunjukkan jika dia sedang marah. Aku tidak berani menatapnya. Hanya bisa menundukkan kepala.
"Aduh, mas. Sakit, jangan kenceng kenceng."
"Kamu ngapain berduaan di sini sama cowok lagi. Kamu itu calon istriku. Tidak seharusnya kamu berduaan dengan laki laki lain seperti ini."
"Ma maaf, mas. Aku tadi hanya berniat nungguin kamu saja di sini. Ta tapi aku tidak sengaja bertemu mas Rohman. kita juga nggak ngapa ngapain kok. Hanya sekedar tanya kabar saja."
"Sudah tidak perlu banyak alasan. Ayo cepat masuk ke mobil dulu. Aku ada sesuatu yang mau aku selesaikan sama dia."
"I.. iya mas."
Aku berjalan pmeninggalkan mereka berdua. Ku buka pintu mobil, dan masuk ke dalam. Ternyata di jok belakang ada Arya, adiknya Rendy.
"Iya, mbak. Mas Rendy yang nyuruh. Lagian aku juga libur, pengen jalan jalan juga. Suntuk di rumah."
"Oh, gitu. Iya deh boleh."
Saat aku tengah asik mengobrol dengan Arya, ku perhatikan Rendy sedang berhadapan dengan Rohman. Seolah mereka berdua sedang berbicara serius.
Tak berselang lama Rendy masuk ke dalam mobil. Aku duduk bersebelahan dengannya. Ku perhatikan wajahnya sangat memendam amarah. Tidak ku perhatikan dirinya. Karena aku tahu, jika dia sedang marah.
"Mas, kamu kenapa?"
"Sudah berapa kali aku bilang, aku nggak suka kamu deket deket sama cowok lain. Apa lagi sama dia."
"Kenapa kamu begitu bencinya sama Rohman, mas. Emang dia ada masalah apa sama kamu? Aku hanya ingin tahu saja ada apa diantara kalian."
"Aku akan bercerita tapi tidak sekarang. Suatu saat aku akan memberitahumu ada apa aku dengan dia. Pesanku hanya jangan pernah dekat dekat dengan dia, apalagi di depan mataku. Kamu faham?"
Tak ku balas ucapannya. Aku hanya menunduk dan memalingkan pandangan ke samping. Baru kali ini Rendy memarahiku. Begitu tegas ucapannya hingga aku kena mental. Karena aku tidak pernah dibentak. Dan baru kali ini perlakuan Rendy kasar.
__ADS_1
Aku lebih memilih diam sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya Rendy menggenggam tanganku. Dia meminta maaf atas perlakuan kasarnya padaku.
"Maaf sayang, aku tidak ada maksud untuk kasar padamu. Aku hanya terbakar api cemburu saja. Aku hanya tidak ingin orang yang aku sayang direbut oleh seseorang. Aku harap kamu memahaminya."
"Iya."
"Kamu marah sama aku, sayang?"
"Enggak."
"Kenapa jawabnya hanya singkat seperti itu. Aku minta maaf, sayang."
Tak kubalas ucapannya. Aku menyibukkan diri dengan ponselku. Terdapat beberapa chat masuk dari teman dekatku. Siapa lagi jika bukan Rere dan Andry. Mereka selalu membuat aku tersenyum.
Sebuah pesan dengan nomor baru masuk. Ku buka, dan ku baca. Sepertinya orang ini tidak asing buat aku.
[Cha.]
[Ini siapa?]
[Haruskah aku memberitahumj siapa aku.]
[Baiklah aku mengerti.]
[Kamu sedang apa?]
[Maaf pak Jimmy, aku sedang bersama calon suamiku.]
Tak ada lagi balasan pesan darinya. Aku memasukkan ponselku ke dalam tas. Mengingat perjalanan yang sudah semakin dekat, aku memberi arahan pada Rendy.
Alhamdulillah kini aku sudah sampai di depan rumah. Keluargaku sudah menyambut kedatangan kami. Rendy menyalami satu persatu anggota keluargaku diikuti dengan Arya.
Kami duduk sambil berbincang. Tak jarang kita juga saling becanda. Keluargaku menyambut Rendy dengan baik dan ramah. Sunggu ini adalah sebuah anugrah terindah buat aku.
"Ehm, begini ibu dan mas semuanya yang ada di sini. Saya Rendy Argawinata, dan ini adik saya Arya Hadinata. Menyampaikan maksud dan tujuan datang kemari, ingin melamar putri Ibu. Mohon maaf, karena bapak dan ibu saya masih di luar kota, jadi belum bisa ke mari. Sekiranya ibu dan mas memberikan ijin untuk saya meminang Melissa.
"Nak, ibu senang sekali maksud kedatangan kamu kemari. Begini nak, semua saya serahkan sama Lissa saja. Karena nanti yang akan menjalani kalian berdua. Tapi asal kamu tahu, Lissa ini dari keluarga tidak mampu dan bapaknya sudah meninggal. Ya, begini keadaan keluarga kami. Sekiranya kamu sudi menerima Lissa apa adanya, kami sangat bahagia. Kamu gimana nduk, apa mau menerima lamaran nak Rendy?"
"Bismillah, iya bu. InsyaAllah saya bersedia."
"Alhamdulillah jika begitu."
__ADS_1
"Alhamdulillah. Sebagai simbol ikatan, aku mau memakaikan cincin buat kamu. Untuk ke depannya bagaimana, nanti tunggu bapak sama ibuku pulang dulu. Nanti akan aku bicarakan lagi. Aku ingin kita cepat menikah. Karena aku tidak mau menunggu terlalu lama."
Semua yang menyaksikanpun turut berbahagia. Semua memberi ucapan selamat padaku. Serasa seperti mimpi disiang hari.