Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 52


Aku merasakan badanku sudah enakan. Dan hari ini aku dan mas Rohman berniat untuk fitting baju pengantin. Karena hari pernikahanku sudah sangat dekat. Kurang satu minggu lagi.


"Mas, acara kita kurang satu minggu lagi. Ini termasuk sangat dadakan. Apa ada perias pengantin yang mau terima?"


"Ada, sayang. Aku punya teman yang kebetulan tantenya perias pengantin. Dan aku juga udah menghubunginya. Alhamdulillah tantenya temenku bisa terima. Kebetulan minggu ini tidak ada job."


"Alhamdulillah kalau begitu."


"Tapi tempatnya lumayan jauh sayang. Apa kamu nanti tidak keberatan?"


"Insyaallah, mas aku tidak apa apa. Kan ini juga buat acara kita nanti."


"Ya sudah kita sarapan dulu. Habis itu kita langsung berangkat. Kalau masih pagi kan udara masih seger."


"Baik mas."


Aku dan Rohman memang semalam tidur dalam satu kamar dan satu ranjang. Namun aku sangat salut sekali padanya. Dia tidak berani melakukan apa yang pernah aku lakukan dengan Rendy. Sungguh dia sangat menjaga aku. Atau mungkin karena aku sedang hamil maka dia tidak berani melakukannya.


Astaga, kenapa fikiranku malah traveling ke hal yang tidak jelas. Lagi lagi nama Rendy muncul di benakku. Kenapa semakin dilupakan, justru dia sering mengganggu fikiranku. Padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengingatnya. Apakah mungkin aku masih mencintainya.


'Astaga, aku ini kenapa sih. Kenapa Rendy lagi yang muncul. Maafkan aku mas Rohman.'


Aku duduk di meja makan bersama keluarga mas Rohman. Ada ibu, bapak, dan juga adiknya. Lagi lagi aku ingat akan sesuatu. Moment ini sangat mirip saat aku makan bersama keluarga Rendy.


Suara panggilan mas Rohman membuyarkan aku dari lamuanan. Entah aku sendiri juga tidak tahu kenapa dia terus terusan muncul. Aku sudah berusaha menghapus memori tentang dia. Tapi lagi dan lagi muncul kembali.


"Sayang, ayo makan."


"I... iya mas."


"Kamu kenapa?"


"Oh, nggak kenapa kenapa mas. Maaf tadi aku sedikit melamun."


"Ayo makan, nggak usah mikirin yang lain."

__ADS_1


Aku tahu jika mas Rohman bisa membaca fikiranku. Namun dia tetap berusaha tenang. Dan menasehatiku dengan lembut tanpa ada emosi. Dan ini juga bukan untuk pertama kalinya dia bisa mengerti apa yang sedang aku fikirkan. Aku sangat merasa bersalah.


Namun ini semua juga bukan mauku. bayangan itu yang selalu datang dengan tiba tiba dan mengganggu fikiranku. Sungguh kacau sekali aku ini.


Aku mulai menyendokkan nasi dan sayur sop ke mulutku. Rasanya enak sekali masakan bu Heni, ibunya mas Rohman. Tau saja kalau ini sayur kesukaan aku.


"Sayurnya enak sekali, bu."


"Alhamdulillah kalau enak. Ayo makan yang banyak."


"Iya, bu."


*********


Aku dan mas Rohman sudah bersiap untuk fitting baju. Katanya lokasinya lumayan jauh. Tapi aku tidak keberatan. Hitung hitung sekalian jalan jalan.


Sebelum berangkat kami berpamitan pada ibu dan bapak. Tidak lupa aku mencium punggung tangan kedua orang tua mas Rohman. Sebagai bentuk baktiku kepada orang tua.


Aku dan mas Rohman sudah naik di atas motor. Tadinya mas Rohman mau pakai mobil. Tapi aku menolaknya, karena ingin naik motor saja biar cepat.


Ku peluk erat tubuh mas Rohman dari belakang. Dan kendaraan mulai melaju. Aku melambaikan tangan pada orang tua mas Rohman. Dan merekapun juga membalasnya.


*********


Setelah tiga puluh menit perjalanan, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Kami disambut ramah dengan tante Novita. Yang tidak lain tentenya teman dari mas Rohman. Orangnya murah senyum dan sangat kalem.


Setelah obrolan antara mbak Novita dan mas Rohman selesai, kami dipersiapkan untuk memilih baju yang sekiranya cocok. Semua baju sangat bagus dan elegan. Sehingga aku sedikit kesulitan untuk menentukannya.


Aku memilih tiga warna kebaya untuk dicoba. Warna biru muda, ungu muda, dan gold. Ketiga kebaya itu aku coba semua. Dan aku putuskan untuk memilih warna ungu muda. Aku merasa lebih pas ukuran di badanku, dan warnanya juga aku suka.


Mas Rohman setuju setuju saja apa dengan apa yang aku pilih. Dia bilang semua baju tadi tetap terlihat cantik jika aku yang pakai. Aku pun tersipu malu dengan ucapannya.


"Mas, aku suka yang ungu muda ini. Menurutmu bagaimana, apa kamu setuju?"


"Terserah kamu saja sayang, apapun pilihanmu aku ngikut. Semua baju ini cantik kok kalau kamu yang pakai."


"Mas bisa saja."

__ADS_1


"Beneran sayang, aku suka sekai jika lihat senyum kamu. Tak heran jika kamu jadi rebutan. Aku sangat menyesal kenapa tidak dari dulu aku mengutarakan perasaanku."


"Sudahlah mas, yang penting sebentar lagi kita akan menikah. Berdoa saja semoga semua nanti berjalan dengan lancar tanpa ada suatu halangan apapun."


"Iya sayang, amin."


Saat mas Rohman sibuk berdiskusi dengan tante Novita, aku menyibukkan diri dengan bermain ponsel. Karena kata mas Rohman aku tidak boleh sibuk ikut campur. Biar dia yang mengurus semuanya. Termasuk biaya pernikahan nanti.


Aku membuka pesan whatsap. Terdapat satu buah panggilan tidak terjawab. Ku lihat namanya ternya bu Rita, yang tidak lain adalah ibunya Rendy. Astaga, ada apa lagi ini. Kenapa bu Rita masih menghubungi aku.


Ingin aku kirim pesan padanya, tapi aku takut nanti dia kembali menghubungi aku lagi. Sementara sekarang aku sedang bersama mas Rohman. Situasi seperti ini membuatku sangat bingung.


Mas Rohman sudah memberikan dp untuk acara minggu depan. Dan mereka saling berjabat tangan. Setelah itu kami memutuskan untuk pulang.


" Ya sudah tante, kalau begitu kami permisi dulu."


"Iya Man, kamu tenang saja. Pasti nanti calon istrimu ini akan aku dandani dengan makeup yang membuat kamu jadi tidak mengenalinya. Tante bisa jamin itu semua, pokoknya kalian bakalan puas."


"Tante bisa saja."


Aku tersenyum menanggapinya. Kami saling berjabat tangan untuk berpamitan. Dan kendaraan mulai melaju meninggalkan rumah tante novita.


Mas Rohman membelokkan kendaraannya menuju sebuah mall terbesar di kota Semarang. Hatiku bertanya tanya, mau apa dia mempir ke sini. Apakah ada sesuatu yang akan dibeli.


Setelah kendaraan terparkir, akun turun dan akan bertanya tentang perihal mampir ke mari. Lagi lagi aku teringat dengan Rendy. Saat pertama kali bertemu dengannya di sini. Astaga, kenapa Rendy lagi Rendy lagi. Fikiranku semakin kacau saja.


"Sayang, kamu kenapa melamun?"


"Eh, emm anu mas."


"Kamu mikirin apa lagi?"


"Eh, enggak mas. Ini aku cuma heran saja. Kenapa kita mampir ke sini. Emangnya mas mau ada beli sesuatu?"


"Iya sayang, aku mau beli pakaian untuk keluargaku untuk acara nikahan di tempatmu nanti. Kan ijabnya nanti di tempatmu kan."


"Oh, iya mas."

__ADS_1


"Sekalian aku mau menyuruhmu untuk memilihkannya mana yang bagus untuk orang tuaku dan Mirna adikku. Aku rasa kamu bisa memilihkan yang bagus."


"Iya mas, insyaallah."


__ADS_2