Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Bagian 9


__ADS_3

Ah, betapa bodohnya diri ini. Aku lupa mengeluarkan foto itu dari dalam tas.


Aku ingat, setelah menangis kemarin foto itu kumasukkan kembali ke dalam tas.


Harusnya kemarin foto itu langsung kubuang ke tempat sampah.


Nisa pasti menemukannya saat mengambil mukena.


Arrgghh!


Teledor sekali kamu Kalila.


Aku melangkah perlahan mendekati Nisa yang tengah bersandar di dinding masjid.


Menatap nanar ke depan.


"Nisa maaf."


Ujarku menunduk. Wanita itu tetap bergeming.


Aku memegang kedua tangannya erat.


"Maaf."


Ucapku sekali lagi.


Nisa melepaskan genggamanku.


"Jadi elu sudah mengenal Azzam jauh sebelum dia menjadi suami gue."


Suara wanita itu terdengar bergetar.


Aku mengangguk.


"Ada hubungan apa kalian?"


Aku terdiam.


"Jawab aja Lila."


Ucapnya datar.


"Aku pernah berpacaran dengannya. Azzam cinta pertamaku Nis."


Gumamku hati-hati.


Kulihat tubuh Nisa melemas.


Wanita itu menghela nafas dalam. Mengeluarkan secara perlahan. Matanya berembun.


"Tapi itu masa lalu Nis. Percayalah sejak kamu menikah dengannya Aku dan Azzam tidak ada lagi hubungan. Aku hanya bertemu Azzam 4 kali, 2x di rumah sakit dan sekali di pesawat dan yang kemarin."


"Lantas kenapa kalian seolah tak saling kenal sebelumnya saat di rumah sakit?" Nisa mulai menginterogasiku.


"Sejujurnya saat aku melihat undanganmu, aku kaget Nis. Aku bertanya-tanya apakah itu Azzam yang selama ini aku cari. Azzam menghilang tanpa kabar 3 tahun lamanya. Dan aku baru bertemu saat acara syukuran di rumahmu. Itulah kenapa aku shock dan pingsan. Karena ternyata benar suamimu adalah Azzam."


Tubuhku sedikit gemetar. Aku menggigit bibir sejenak. Tak terasa bulir bening hadir di sudut mata.


"Saat aku diam-diam cuti. Aku bertemu Azzam di pesawat. Kami sempat ngobrol lama. Disitu kami sepakat akan mengunci masa lalu itu. Biar kami berdua dan Allah yang tahu. Kami takut kamu kecewa dan berprasangka yang tidak tidak kepadaku jika tahu Azzam adalah mantan pacarku. Kami juga takut jika teman teman kantor tahu tentang masa lalu kami, elu dan gue akan jadi bahan candaan mereka. Demi Allah Nis, aku tidak ada maksud lain."


"Maafin gue Kalila."


Perempuan itu tiba-tiba memelukku. Air matanya menderas membasahi bahu.


Ah, kenapa Nisa yang harus minta maaf.


"Gue gak bisa bayangin gimana sakitnya perasaa elu saat melihat gue menikah dengan Azzam. Maafin gue yang bikin elu harus menahan sakit selama dua tahun lebih."


Wanita itu masih menangis tersedu-sedu.


Membayangkan kedua hati yang tercabik karena pernikahannya.


Aku menelan saliva berat. Mempererat pelukanku padanya. Mataku memanas untuk beberapa saat. Air mata jatuh dari kelopak. Detik ini, kami berdua sama rapuhnya.


"Elu nggak salah Nis. Gak ada yang salah disini. Allah udah mengatur semua. Gue udah ngiklasin Azzam, saat pulang cuti 2 tahun lalu."


Ya Allah, sejujurnya berat rasanya mengucapkan kalimat ini.


"Kalau memang kamu mencintai Azzam, kenapa kamu menolak proposal itu?"


Nisa masih terisak.


"Aku tidak mau menjadi madumu Nis. Akan ada yang sakit jika kita melakukan itu. Bisa gue, elu, bahkan bisa juga kita bertiga."

__ADS_1


Aku menghela nafas. Mencoba untuk tenang.


"Annisa Salmarani harus bahagia bersama Azzam. Azzam mencintai elu. Dia juga nggak keberatan dengan kondisi elu."


Ujarku mengelus-elus punggungnya.


Kami saling menggenggam erat. Aku tersenyum. Walau sejujurnya ada rasa perih dalam hati. Kembali wanita itu memelukku.


"Makasih banget Kalila."


Aku mengangguk perlahan. Menahan nafas yang tercekat. Menepis rasa sakit yang datangnya entah dari mana.


****


"Resign?!"


Tanya Pak Edi terkejut saat aku menyerahkan sebuah form putih di hadapannya.


"Gak salah kamu. Kenapa mendadak sekali."


"Iya Pak. Mendadak disuruh pulang sama Bapak."


"Mau disuruh kawin ya?"


Tanya Pak Edi menggoda.


"Ish Bapak.."


Aku mencebik. Lelaki paruh baya itu terbahak.


"Ya tapi tetap harus sebulan lagi, sesuai peraturan."


"Khan saya masih punya cuti 12 hari Pak. Jadi stay nya 2 minggu lagi ya."


Ujarku merajuk.


"Iyalah. Kalah aku kalau debat sama kamu. Nanti kusuruh aja si Andi gantiin kamu."


Aku meringis melihat pria itu menaruh formku di tray mejanya dengan sedikit bersungut.


"Makasih banyak ya pak."


Bosku mengangguk.


Aku tak bisa lagi bertahan. Aku menyerah untuk berpura-pura tegar saat Azzam berada di dekatku. Aku merelakan sebuah nama yang selalu kusebut dalam setiap munajatku kepadaNYA.


Biarlah kisah Azzam Kalila berakhir seperti ini.


***


Hari ini adalah hari terakhirku di Batam. Aku menunggu taksi yang akan membawaku ke Bandara.


Selamat tinggal Batam.


Kota yang penuh kenangan. Meskipun aku hanya 4 tahun di sini. Kota yang mengajarkanku betapa kerasnya hidup sebagai perantauan. Di sini aku mendapat teman, saudara dan pengalaman hidup yang sangat berarti. Di sini tempat aku mendapat berbagai ilmu. Ilmu kehidupan, pekerjaan dan agama.


Rasa sedih menyelinap ke dalam jiwa.


Inilah yang sudah menjadi keputusanku.


Meninggalkan kota ini untuk menghilang dari kehidupan Azzam dan Nisa.


Mungkin ini jalan terbaik bagi kami bertiga.


Aku meninggalkan kota ini tanpa berpamitan dengan Azzam dan Nisa.


Beberapa menit kemudian taksi berwarna biru itu datang. Segera aku menaikinya setelah sebelumnya sopir itu memasukkan barang bawaan ke bagasi.


Perjalanan dari kos ke Bandara memakan waktu selama 45 menit jika kondisi jalan normal. Namun sayang jalanan pagi ini sedikit tersendat.


"Aduh..kenapa pula jalanan macet macam ini!"


Kulihat abang sopir memukul setirnya dari balik kemudi.


Kami rupanya terjebak kemacetan saat melalui jalanan di simpang bandara.


"Bang ayo cepetan."


Pintaku pada sopir taksi di depan.


"Iya Kak. Ini udah cepat kali kurasa. Macet jalannya."


Jawabnya dengan logat khas Batak.

__ADS_1


Aku melihat jam di handphoneku.


08.00. Tiga puluh menit lagi pesawatku akan berangkat.


Ya Allah tolong hamba.


Mudah-mudahan hamba tidak ketinggalan pesawat.


Aku merapal doa berulang-ulang.


Sepuluh menit kemudian aku telah sampai di Hang Nadiem.


Dibantu abang sopir, cepat-cepat aku menurunkan barang dari bagasi.


Aku berlari mengambil troli. Kemudian menaruh koperku di atasnya.


Setelah semua barang sudah di atas troli, kudorong benda itu sekencang dan secepat mungkin.


"Kakak, kembaliannya!"


Teriak sopir itu saat menyadari aku memberinya dua lembar limapuluhribuan.


"Ambil aja!"


Balasku berteriak.


Aku berlari menuju counter check in setelah barangku keluar dari conveyor X ray.


"Bu cepetan ya. Pesawat 10 menit lagi berangkat. Gate 5."


Ujar petugas check in memperingatkan.


"Ini yang mau dibagasi yang mana?"


"Ini aja."


Jawabku terengah-engah sambil mengangkat 2 koper besar berisi pakaian dan buku-buku dan meletakkannya diatas meja bagasi.


Sementara tas laptop dan 2 kardus berisi oleh oleh kujinjing di tangan.


Petugas check in dengan sigap memproses boarding passku. Kemudian menyerahkan lembaran kertas itu padaku.


"Ya makasih mbak."


'Panggilan terakhir ditujukan kepada penumpang pesawat Lion Air JT 730 tujuan Surabaya atas nama Nona Kalila Putri Baskara dan Tuan Kamal Ibrahim. Dimohon segera menaiki pesawat karena pesawat akan lepas landas 10 menit lagi'


Spontan aku berlari sekencangnya. Menaiki lift ke lantai 2 bangunan ini. Kemudian bergerak cepat menuju gate 5.


Oh tidak!


Rupanya masih ada conveyor X ray yang harus di lewati barang-barangku di lantai dua. Aku seperti cacing kepanasan saat menunggu barangku keluar dari conveyor itu.


"Ayo cepeet.."


Gumamku tak sabar menunggu barang muncul dari rel bergerak itu.


Nafasku tersengal.


Secepat kilat kusambar barang-barangku saat melihatnya keluar dari X ray. Kemudian mengambil langkah seribu menyusuri lorong ruang tunggu menuju garbarata pesawat itu.


Brukk!


Aku tersungkur. Tas laptop dan 2 kardusku terlempar beberapa meter dariku.


"Aww..!"


Aku mengerang kesakitan.


Ya Allah bagaimana ini. Apa aku harus pasrah ketinggalan pesawat padahal jaraknya hanya beberapa meter lagi.


Tiba-tiba sebuah tangan kekar mencengkram lenganku dari belakang. Membimbingku agar berdiri. Aku mendongak menatap matanya. Kemudian dengan cekatan lelaki itu mengambil barang-barangku yang terserak.


"Ayo cepat.. lima menit lagi pesawat berangkat!"


Ujarnya menyemangati.


Tanpa pikir panjang aku segera


berlari di sampingnya. Lelaki berambut lurus itu berlari bersamaku seraya membawa semua barangku di kedua tangannya.


Siapa dia?


Apa dia yang bernama Kamal Ibrahim. Nama yang dipanggil oleh kru pesawat itu?

__ADS_1


__ADS_2