Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 47


Langkah kaki ini berjalan menembus teriknya matahari. Mual dan pusing kini sering sekali aku rasakan. Aku tidak akan mengeluh, karena aku tahu seperti memang seperti inilah bawaan hamil muda. Lambat laun pasti akan hilang sendirinya jika kandungan sudah semakin besar.


Diri ini sudah berdiri di depan pintu rumah. Dengan nafas tak beraturan, aku mengatur nafas terlebih dahulu. Agar semua terlihat baik baik saja.


Ku ketuk pintu dan ku ucapkan salam. Tak berselang lama pintu terbuka. Ibuku menyambut kedatanganku. Tak lupa ku cium punggung tangannya sebagai bakti anak kepada ibunya. Senyum ramah membuat aku ingin memeluk ibu.


Aku segera masuk ke dalam dan merebahkan diri di kursi. Walaupun perjalanan hanya butuh waktu satu setengah jam, tapi punggung ini rasanya sangat lelah sekali.


Ibu datang dengan membawakanku teh hangat dan biskuit. Rasanya sangat bahagia sekali dengan perlakuan ibu. Begitu besar rasa sayangnya padaku.


Saat aku tengah menikmati teh hangat buatan ibu, aku teringat akan sesuatu. Tujuan aku pupang ke rumah dengan membawa sebuah berita. Karena rasa lelah, aku menunda untuk menceritakannya. Aku memilih untuk istirahat terlebih dahulu.


"Bu, sebenarnya niat aku pulang ada sesuatu yang mau aku bicarakan."


"Kamu mau bicara apa, nak?"


"Panjang bu ceritanya. Aku akan cerita nanti. Sekarang aku lelah bu, ingin istirahat dulu."


"Kamu nggak makan dulu, nak?"


"Nanti saja, bu."


Aku masuk ke dalam kamar lalu merebahkan diri di kasur. Sebelum memejamkan mata, aku mengambil ponsel. Ingin membuka aplikasi whatsap, siapa tahu ada pesan penting.


Dan benar saja, setelah aku buka ternyata ada beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab. Diantaranya dari Rohman, Rere, dan bu Rita.


Deg'


Astaga, bu Rita menelponku tadi. Ingin aku hubungi kembali tapi aku takut. Aku takut jika dia menghubungiku dan ada hubungannya dengan Rendy.


Lebih baik aku diamkan saja. Dan aku segera membalas pesan yang lain. Dari mas Arman dan dari Rere.


[say, apa kamu sudah sampai?] Rere.


[Alhamdulillah, baru saja aku masuk kamar ingin istirahat.]


[Sukurlah, ya sudah kamu istirahat saja.]


[Iya, say.] Ku akhiri chat denga Rere dan segera membalas pesan dari mas Arman.


[Sayang, apa kamu jadi pulang kampung?]

__ADS_1


[Jadi mas, ini aku baru saja sampai dan mau istirhat dulu sebentar.]


[Maaf ya, aku tidak bisa mengantar kamu.]


[Iya mas, tidak apa apa.]


[Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Aku tunggu kabar baik kamu nanti.]


[Iya mas, nanti segera aku kabari jika sudah bicara dengan keluargaku.]


[Iya, sayang.]


Tak ku balas lagi pesan dari mas Rohman. Karena mata sudah tidak sanggup untuk terjaga, aku memutuskan untuk tidur. Berharap nanti setelah tidur rasa pusing sudah tidak ada lagi.


*********


Aku terbangun dari tidurku. Ku perhatikan jam dinding ternyata sudah menunjukkan pukul empat sore. Aku menggeliatkan tubuh sebentar. Lalu beranjak dari tempat tidur dan menuju ruang tamu.


Rumah tampak sepi. Entah pada kemana tumben sekali. Ku nyalakan tv guna mengusir rasa sepi. Rasanya haus sekali tenggorokan ini. Gegas aku menuju dapur untuk mengambil minum.


Tiba tiba aku dikejutkan suara dering ponsel yang aku bawa. Jantungku berdetak kencang kerena sangat terkejut. Sebuah panggilan masuk. Kuperhatikan layar ponsel terdapat nama bu Rita.


Kali ini aku sedang dilanda kebingungan. Jika aku angkat firasatku pasti ini ada hubungannya dengan Rendy. Disisi lain, aku tidak enak jika mengabaikannya lagi. Tapi aku juga penasaran, ada apa bu Rita dari tadi menelpon aku.


[Hallo, assalamualaikum bu.]


[Waalaikumsalam, nak.]


[Ehm, maaf bu, ada apa? Tumben sekali ibu menelpon aku.]


[Nak, sebenarnya ibu mau bicara sama kamu.]


[Iya bu boleh, silahkan bicara saja bu.]


[Apa bisa kita bertemu, nak?]


[Maaf bu, untuk saat ini sepertinya belum bisa. Karena sekarang aku sedang pulang kampung.]


[Kamu puoang kampung? Kapan balik lagi ke Semarang?]


[Belum tahu, bu. Mungkin sejitar satu mingguan aku di kampung.]


[Lama sekali, apa ada kepantingan kamu di kampung?]

__ADS_1


[Iya bu, membicarakan lamaran mas Arman.]


[Apa nak? Kamu mau menikah?]


[Insyaallah bu, mohon doanya.]


[Secepat itu kamu melupaka Rendy, nak?]


[Bukan itu bu, ada alasan lain.]


[Apa karena kamu hamil?]


[Maaf bu, saya ada urusan. Bicaranya nanti lagi ya.]


[Nak, mulutmu bisa saja berbohong. Tapi hatimu tidak. Ibu yakin kalau anak dalam kandungan kamu itu bukan anak calon suami mu.]


[Maaf bu, saya tidak ada waktu lagi. Lain kali kit sambung lagi. Assalamualaikum.]


Sambungan telepon aku matikan secara sepihak. Rasanya aku seperti dikejar oleh sesuatu. Rasa takut yang amat mendalam menghantui diriku. Takut jika sebuah kebohongan akan terungkap. Aku bingung harus bagaimana untuk menghindari keluarga Rendy.


Sepertinya bu Rita sangat berharap banyak padaku. Aku tahu beliau selama ini memperlakukan aku dengan sangat baik. Menganggap aku seperti anaknya sendiri.


Namun jika teringat akan Rendy, sakit begitu mendalam yang aku rasakan. Mengingat bagaimana dia ketika di Rumah Sakit. Dia sama sekali tidak mengingat siapa aku. Luka yang tak berdarah, namun sakit sekali yang aku rasakan.


Astaga, apa yang sedang aku fikirkan sekarang. Kenapa fikiranku hanya ada Rendy. Aku segera bangkit dan bergegas untuk mandi. Dengan begitu mungkin fikiran ini akan kembali fresh.


**********


Malam ini keluargaku berkumpul di depan tv. Aku, ibu, kakak, adik, dan nenek. Terkecuali ayah, karena memang ayahku sudah meninggal beberapa tahun silam. Sembil menonton tv dan kebetulan sedang berkumpul, aku memberanikan diri untuk mulai bercerita.


Ku atur nafas terlebih dahulu, lalu aku mulai berbicara dengan ibu. Ku ceritakan semuanya yang terjadi padaku. Tentang keadaan Rendy, dan tentang Jimmy. Tapi tidak aku ceritakan tentang kehamilanku. Aku takut ibuku marah padaku.


Ibu yang mendengar ceritaku memberikan nasehat, agar aku sabar terlebih dahulu. Dan ibu juga berpesan lebib baik aku bantu Rendy untuk mengembalikan ingatannya. Namun aku menolak pendapat ibu.


"Untuk apa dipertahankan bu, jika Rendy sudah tidak ingat aku lagi. Bahkan ketika aku tiba di Rumah Sakit, dia sedang bersama wanita. kata ibunya itu dulu mantannya. Bayangkan saja bu, kenapa di saat Rendy lupa ingatan, tidak ingat siapa siapa. Justru dia malah ingat sama mantannya. Aku nggak bisa, bu."


"Nak, semua pasti ada waktunya. Ibu yakin sekali kalau Rendy bisa sembuh. Hanya perlu waktu dan butuh dukungan dan proses."


"Maaf bu, aku tidak bisa. Lagian aku akan dilamar seseorang."


"Apa nak? kamu mau dilamar orang?"


"Iya bu. Dia laki laki baik yang berasal dari keluarga baik baik juga kok bu. Rencana akan melamar aku jika aku sudah memberi kabar padanya dalam waktu dekat ini."

__ADS_1


__ADS_2