
Eps. 68
[Ya, mas. Maaf aku baru sempat buka pesan.]
Tak berselang lama pesanku sudah contreng biru. Artinya pesan yang aku kirim sudah dibaca Mas Rohman. Panggilan pun masuk dari mas Rohman. Segera ku tekan tombol hijau untuk segera mengangkat panggilan tersebut.
"Iya, hallo mas."
"Sayang, kamu nggak kenapa kenapa kan?"
"Aku nggak kenapa kenapa, mas. Aku baik baik saja."
"Syukurlah, aku punya sedikit rasa khawatir sama kamu. Telpon juga tidak diangkat, pesan tidak dibalas. Kamu dari mana saja, sayang."
"Ehm, aku tadi habis beberes lalu hp aku caz. Jadi aku nggak sempat pegang hp."
"Ya sudah, sayang. Kamu sudah makan belum?"
"Ini baru saja mau makan. Tapi mas telpon jadi aku angkat dulu. Takutnya ada yang penting."
"Tidak sayang, hanya ingin memastikan jika kamu baik baik saja."
"Aku baik baik saja, mas nggak usah khawatir."
"Ya sudah, kamu makan dulu saja. Jangan capek capek ya, sayang."
"Iya, mas juga jangan lupa makan siang."
"Iya sayang, pasti."
Sambungan telepon terputus secara sepihak. Aku semakin tidak mengerti dengan mas Rohman. Kenapa setiap ada apa apa denganku dia bisa merasakannya. Batinnya sungguh sangat kuat.
Mengingat kejadian pagi tadi, apakah aku harus menceritakannya pada mas Rohman. Aku tahu ini sangat berdosa. Tapi itu juga bukan keinginanku. Itu terjadi begitu saja dan akupun tak mampu untuk melawan.
Ingin sekali aku berteriak berharap agar ada yang menolongku. Namun semua sia sia karena Rendy membekap mulutku hingga bicarapun aku tak mampu.
__ADS_1
Aku sangat merasa berdosa sekali pada mas Rohman. Aku ingin bercerita tapi takut dia akan marah. Di sisi lain aku takut nanti terjadi pertarungan sengit antara mas Rohman dengan mas Rendy. Namun jika aku pendan sendiri, fikiranku sangat tidak tenang. Selalu teringat dan perasaan menjadi gelisah.
Aku merasa jika hidupku saat ini penuh beban. Disaat aku ingin bahagia dengan seseorang, ada saja sesuatu yang mengganggu. Kenapa fikiranku kali ini jadi mengarah pada mas Rendy.
Teringat ketika kami sedang bersama sama. Canda tawa kita lalui bersama. Keluarga mas Rendy juga sangat baik padaku. Sudah menganggap aku seperti anaknya sendiri.
Andai saja kecelakaan itu tidak terjadi. Mungkin aku sudah bersama mas Rendy saat ini. Dan aku juga sangat yakin jika anak yang ada dalam kandungan ini adalah anak mas Rendy.
Ya Tuhan, ada apa dengan fikiranku ini. Kenapa aku jafi memikirkan mas Rendy. Aku sudah punya mas Rohman. Dia suamiku yang mau menerima aku apa adanya.
Apakah saat ini aku sedang terjebak dengan cinta masa lalu. Ini sangat mustahil bagiku. Mungkin jika saat ini Jimmy masih ada, masalhku juga semakin sulit. Mungkin Jimmy juga akan mengakui jika ini adalah anaknya. Karena dia juga pernah meniduri aku saat itu.
Kenapa begitu sulit untuk menghapus bayang bayang di masa lalu. Semakin aku lupakan, semakin jelas teringat. Saat daat aku bahagia bersama dia. Fikiran itu sungguh sangat mengganggu aku.
Karena kejadian itu, saat ini makanpun aku jafi tidak berselera. Kepalaku mendadak pusing. Aku memutuskan untuk istirahat sebentar sambil menunggu mas Rohman pulang.
*********
Aku terbangun dari tidurku. Ku perhatikan jam dinding ternyata sudah pukul tiga sore. Lumayan lama juga aku tertidur. Alhamdulillah badanku sudah mendingan dan kepalaku sudah tidak pusing lagi.
Aku segera bangkit dari tempat tidur. Aku bergegas menuju dapur untuk mengambil air minum. Tenggorokan rasanya sangat kering sekali.
[Liss, aku mencintai kamu. Tidak bisakah kamu kembali padaku seperti saat itu?] Ya, aku sangat yakin jika ini adalah mas Rendy. Tak butuh waktu lama aku segera membalas pesan tersebut.
[Mas Rendy, maaf sekali. Tolong jangan ganggu aku lagi.]
[Kamu tahu kan jika aku sudah bersuami.]
[Ya, aku sangat tahu jika kamu sudah bersuami.]
[Tapi asal kamu tahu Liss, rasa cintaku sama kamu itu sangat besar. Aku masih mencintaimu dan masih berharap padamu hingga saat ini. Kamu itu sangat berbeda dengan gadis gadis yang lain. Itulah sebabnya aku sangat mengharapkan kamu.]
[Sudahlah mas, lupakan saja yang sudah berlalu. Kita ini hanya masa lalu.]
[Kamu tampan, mapan, banyak uang, dan punya jabatan. Hidup kamu sangat terjamin. Pasti di luar sana kamu akan sangat gampang mendapatkan wanita pujaan kamu.]
__ADS_1
[Iya Liss, aku tahu aku punya segalanya. Tapi untuk mendapatkan yang seperti kamu itu sangat sulit buat aku.]
[Sudahlah mas, jangan bahas lagi yang sudah sudah. Aku takut jika tiba tiba aku kembali memiliki rasa padamu.]
[Aku tidak mau terjebak cinta masa lalu kita, mas. Aku mohon tolong mengertilah aku.]
[Liss, tolong ijinkan aku untuk bertemu dengamu. Hanya sebentar saja, Liss. Aku sangat merindukan kamu.]
[Akan aku fikirkan dulu, mas.]
[Baiklah, aku mengerti. Aku akan tunggu kabar baik dari kamu.]
Tak ku balas lagi pesan dari mas Rendy. Aku semakin tak kuasa akan perasaan ini. Entah mengapa tiba tiba aku sedikit luluh dengan ucapan mas Rendy.
Aku semakin tersiksa sekali dengan keadaan yang sekarang Aku tak tahu harus bagaimana. Aku tidak mungkin menghianati mas Rohman, suami yang sangat baik padaku. Begitu juga dengan keluarganya yang juga baik padaku.
Namun di satu sisi perasaan ini mulai luluh pada mas Rendy. Teringat kata kata yang dia kirim melalui pesan whatsap. Aku semakin mengingatnya. Segera aku hapus pesan dari mas Rohman. Agar tidak menimbulkan kecurigaan pada mas Rohman.
Tak terasa susah pukul empat sore. Dan sebentar lagi mas Rohman pulang. Aku segera membersihkan diri dan setelah itu membuatkan camilan untuk mas Rohman.
Tepat pukul lima sore pekerjaanku sudah selesai. Kue bolu jadul dan teh hangat sudah tersedia di meja. Untuk hari ini memang mas Rohman pulang sangat sore. Karena dia ada acara menjenguk teman sekantornya di Rumah Sakit.
Tak berselang lama mas Rohman sudah pulang. Aku segera menyambutnya dengan mencium punggung tangan suami dan membawakan tas kerjanya. Dia tersenyum padaku dan memberikan kecupan mesar pada bibirku.
Mas Rohman duduk di ruang tamu sambil menyender. Sepertinya dia tampak kelelahan sekali. Aku bergegas mengambilkan teh hangat dan beberapa potong kue bolu jadul. Laku ku hidangkan di hadapan mas Rohman.
"Mas, diminum dulu selagi hangat."
"Iya, sayang. Makasih, ya."
"Iya, mas. Sepertinya kamu capek sekali, mas."
"Apa di kantor sedang ada masalah?"
"Tidak ada masalah sayang. Hanya saja aku merasa letih. Entah seperti ada sesuatu yang mengganggu fikiranku. Tapi aku tidak tahu itu apa."
__ADS_1
'Deg.'
Tiba tiba aku merasa gelisah. Entah kenapa aku sangat khawatir mendengar ucapan mas Rohman. Aku sangat merasa jahat sekali padanya. Sebenarnya aku juga tidak mau seperti ini. Dan juga tidak mau ini terjadi.