Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 39


Walaupun hanya sebuah ketikan, namun aku sangat bahagia sekali. Banyak yang menyukai dan membaca tulisanku. Tidak jarang banyak yang berkomentar juga. Mereka memberikan sport atas apa yang aku alami.


Karena cerita yang aku tulis itu memang kisahku. Tanpa dibuat buat dan murni perjalanan cintaku. Jika teringat akan sangat sedih. Namun aku mencoba iklas dan menjadikan ini sebagai pelajaran hidup.


Sebuah pesan masuk melalui messenger. Aku perhatikan akun tersebut dengan foto wanita bercadar. Segera ku buka dan membacanya.


"Assalammualaikum kak, salam kenal. Saya Ifa dari Bekasi."


"Waalaikumsalam kak. Salam kenal kembali, saya Lisa" Ku balas pesannya dengan memberikan emoj senyum.


"Cerita kakak sangat menarik dan penulisan juga sangat rapi. Kenapa tidak menulis langsung saja di novel online perbayar kak. Lumayan hasilnya."


"Maaf kak, saya masih pemula dan belum mengerti tentang itu. Tadinya hanya iseng saja karena saya sedang tidak ada pekerjaan sehingga merasa bosan."


"Tapi asli kak, ceritanya benar benar menarik. Coba saranku tadi kak, pasti banyak sekali peminatnya."


"Baik kak, akan saya coba nanti. Terimakasih banyak sarannya kak."


"Sama sama, semoga sukses ya kak Lisa."


Ku beri emoj love di akhir balasan via messenger. Aku mulai berfikir sejenak. Apakah mungkin tulisanku akan disukai para pembaca. Bahkan aku sendiri belum yakin akan semua itu.


Ponselku berdering, tanda panggilan masuk. Sebuah nama muncul di layar. Mas Rohman, aku segera mengangkatnya.


[Hallo, mas.]


[Non, dari tadi aku kirim pesan tidak dibuka. Apa kamu sedang sibuk?]


[Ahh, itu.. Maaf mas, aku belum membuka whatsap. Tadi sedang asik baca novel.]


[Oh, aku kira sedang sibuk.]


[Tidak, mas. Oh iya, ada apa tumben telpon jam pas istirahat. Kamu sudah makan?]


[Oh sudah sayang. Ada yang mau aku bicarakan.]


Seketika aku terdiam, namun dada ini berdetak sangat kencang. Entah mengapa rasanya senang sekali mendengar Rohman memanggilku dengan sebutan sayang. Tidak biasanya, dan baru kali ini aku mendengar dia menyebut kata sayang untukku.


[Hallo sayang, kenapa diam. Kamu baik baik sajakan?]


[Ehh, mm anu iya mas. Ma maaf aku kurang fokus. Tadi bicara apa ya, aku nggak dengar.]


[Kamu kenapa sayang, seperti sedang memikirkan sesuatu. Apa kamu sedang ada masalah?]

__ADS_1


[Tidak mas, aku beneran nggak ada apa apa kok. Oh iya, tadi mau bicara apa?]


[Sepertinya nanti saja aku bicaranya.]


[kenapa gitu, mas?]


[Iya, nanti malam saja aku jemput kamu sekalian kita makan malam.]


[Ehm, begitu. Ya sudah, baiklah mas.]


[Aku sudah gajian, non. Kamu butuh apa? Apa nanti aku kasih uangnya saja kamu mau beli apa terserah.]


[Nggak mas, aku nggak butuh apa apa. Lagian aku juga masih ada uang kok. Uang mas ditabung saja untuk masa depan.]


[Masa depanku kamu, sayang. Sudah nggak usah ngeyel. Nanti jam tujuh aku jemput. Kamu istirahat dulu sana.]


[Iya, mas.]


Ku tutup sambungan telepon dengan mas Rohman. Seketika teringat ketika aku pertama kali berkenalan dengannya. Ternyata kita memiliki rasa yang sama. Namun terhalang oleh seseorang.


Tapi kini waktu akan segera mempersatukan kami. Aku hanya mampu berdoa, semoga dia yang terakhir. Mengingat kejadian yang sudah sudah. Dan aku juga tidak mau itu terjadi lagi.


Kebahagian yang sudah di depan mata, lenyap dengan tiba tiba. Membuat hidup ini sangat tidak bersemangat. Dan meninggalkan luka yang sangat mendalam. Sungguh berat derita hidup ini yang aku alami.


Walaupun itu hanya masa lalu, namun terlalu sakit jika diingat. Tak terasa mata ini meneteskan buliran bening. seketika aku teringat akan Jimmy. Cinta pertama di masa laluku. Saat kita sama sama masih duduk di bangku sekolah. Hingga kita berpisah karena suatu keadaan.


Ingin sekali aku melupakan semua kenangan itu. Namun selalu saja muncul dalam fikiranku. Begitu sulit melupakan semuanya. Sungguh batin ini sangat tersiksa.


Seandainya kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin kini kita sudah duduk di pelaminan. Dan kita menjalani kehidupan bersama. Menanti kelahiran buah hati yang ada di dalam kandunganku. Walaupun aku sendiri juga belum mengerti anak yang aku kandung ini anak siapa.


Tapi ya sudahlah, aku tidak ingin memperpanjang masalah ini. Yang ada di fikuranku sekarang adalah, menghadapi keluarga Arman.


Aku tetap harus jujur jika aku sedang mengandung bayi. Tapi bukan anak Rohman. Aku harus mengatakan yang sebenarnya. Entah mereka akan menerimaku atau tidak, jujur adalah hal yang utama.


Karena kata Rohman, dia mandul dan untuk memiliki seorang anak sangat kecil. Jadi aku terang terangan kepada keluarganya. Aku tidak mau terjadi konflik nantinya.


Kepalaku sedikit pusing karena terfikirkan suaty hal. Lalu aku memutuskan untuk istirahat. Mengingat nanti malam Rohman akan menjemputku, jadi aku berniat untuk tidur.


**********


Aku sudah bersiap siap, karena sebentar lagi Rohman menjemputku. Aku mempercantik diri dengan olesan makeup tipis.


Tak berselang lama sebuah panggilan dari Arman masuk. Aku segera mengangkatnya.


[Hallo, mas.]

__ADS_1


[Sayang aku sudah di depan.]


[Baik mas, aku segera keluar.]


Kututup sambungan telepon. Ku kunci pintu kamar kost dan aku segera menuju depan. Mas Rohman sudah menunggu dengan motor matiknya.


Senyum manis dengan lesung pipi menyambut kedatanganku. Dia segera memakaikan helm dan menyuruhku untuk naik.


[Kamu mau makan apa sayang?] Lagi lagi sebutan kata sayang membuatku tak berkutik. Entah apa yang ada difikiranku.


[Kenapa diam saja? Kamu mau makan apa?]


[Ehh, ehm maaf mas. Aku sedikit melamun jadi tidak mendengarmu.] Jawabku terpaksa berbohong padanya.


[Kamu kenapa? Apa kamu sakit?]


[Eehh, Enggak mas. Aku baik baik saja kok. Ya udah kita jalan saja. Terserah kamu makan di mana. Aku ngikut saja.]


[Kamu itu memang beda dari yang lain sayang.]


[Maksudnya apa, mas?]


[Sudah lupakan saja, itu tidak penting. Kita jalan sekarang ya.]


[Iya.]


[Bisakah aku minta tolong, sayang]


[Minta tolong apa, mas?]


[Maukah kamu memelukku?]


[Ba baiklah, mas. Akan aku lakukan.]


Ku peluk tubuhnya dari belakang. Kurasakan kehangatan yang membuat diriku nyaman . Hati dan fikirankupun menjadi tenang.


Rohman melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Semilirnya angin malam membuatku larut dalam lamunan. Tangan Arman mulai menggenggam tanganku.


Deg.'


Jantungku berdetak lebih cepat. Fikiranku sedikit kacau. Moment seperti ini mengingatkan ku pada seseorang. Tiba tiba saja mata ini meneteskan buluran bening.


"Jimmy, aku begitu merindukanmu. Apakah di sana kamu juga merindukanmu." Ucapku dalam hati.


Namun aku tak mampu menahan air mataku, justru semakin deras. Ku tatap langit yang gelap. Dan aku berdoa dalam hati.

__ADS_1


"Jimmy, semoga kamu tenang di sana. Aku akan selalu mengingatmu."


__ADS_2