
Badanku gemetar hebat saat melihat lelaki itu duduk di sebelahku. Nafas begitu tersengal. Reflek aku membuang muka ke arah jendela. Detakan jantung terasa tak beraturan. Tanganku meremas erat botol minuman yang sedari tadi di genggaman. Aku menelan saliva. Berat. Seandainya saja aku bisa keluar dari pesawat ini, mungkin sudah kulakukan saat melihatnya menyapa si bapak tionghoa. Namun apa daya aku harus tetap di sampingnya, setidaknya selama 2 jam perjalanan.
"Assalamualaikum Kalila."
Ah, ucapan itu. Seketika hatiku runtuh. Tak terasa bulir bening jatuh ke pipi.
'Waalaikumsalam'
Lidahku kelu. Hanya bisa menjawab salam itu dalam hati.
Tanganku tak berhenti mengusap air mata yang terus - terusan jatuh.
Aku masih tak berani menoleh ke arahnya.
"Kamu apa kabar?"
Tanyanya.
Aku kembali mematung. Terpekur diam tak menjawab pertanyaannya. Bibirku terasa berat untuk terbuka. Nafasku masih tak beraturan.
"Kalila.."
Ucapnya lirih.
Dan aku masih saja membisu. Tak berani menatap lelaki itu.
Kuambil tisu di dalam tas. Mengusap kasar pipi yang telah basah oleh air mata.
Sungguh dada ini terasa sesak. Menahan agar suara tangis ini tak keluar dari mulut.
"Maafkan aku Kalila"
Ucapan lelaki itu kali ini sedikit bergetar.
Suaranya terdengar parau menandakan ada kepedihan yang dia rasakan.
Dan aku juga merasakan yang sama. Perih.
"Aku masih mencintaimu sampai detik ini Kalila."
Sontak ucapan Azzam, lelaki yang duduk disamping berhasil menjebol pertahananku. Tangisku pecah. Aku tergugu. Kedua tangan membekap mulut dengan gumpalan tisu agar tangis ini tak membuncah. Tak terdengar oleh penumpang lain terutama kakek di sebelah Azzam yang memperhatikanku sejak tadi.
Sejenak aku menoleh ke arahnya.
Lelaki itu tengah memandangku dengan mata teduhnya.Tatapan itu masih sama seperti 3 tahun lalu. Dan entah ini hanya perasaaanku saja, aku melihat di dalamnya masih ada cinta yang tersirat.
Kulihat kaca - kaca di netra itu.
Pipinya basah.
Gemeretak rahang seperti menahan tangis agar tidak tumpah.
Kupalingkan kembali mukaku darinya. Sungguh aku tak kuat menatapnya. Ingin rasanya memeluk tubuh di sampingku. Menumpahkan segala kerinduan yang begitu menyesakkan. Namun aku tak berhak atas dirinya.
Untuk beberapa saat, hanya keheningan yang hadir di antara kami. Tenggelam dalam kepedihan yang menyayat sampai ke ulu hati.
"Maafkan aku yang tak mampu memperjuangkan cinta kita."
Ucap Azzam berat.
"Aku telah kalah Kalila."
Lelaki itu menghela nafas dalam. Menatap nanar sandaran kursi di depannya.
"Kemana saja kamu selama ini. Kenapa kamu menghilang begitu saja?"
Tak ada kabar."
Berondongku penuh emosi.
Lelaki itu menghela nafas dalam. Kemudian menatapku lamat - lamat.
"Haruskah aku menceritakan semua?"
"Harus!"
Jawabku sedikit ketus.
__ADS_1
Azzam mendesah perlahan. Membenarkan posisi duduknya. Kemudian meneguk air di dalam botol air mineral berukuran 500 ml.
" 3 tahun lalu, saat aku memberimu cincin dan berjanji melamarmu. Sebenarnya aku telah mempersiapkan semua. Hantaran berisi baju, cincin dan lainnya telah kupersiapkan. Ibuku begitu senang saat mengetahui anaknya akan melamar sorang gadis yang dicintainya."
Perlahan aku mulai berani menatap lelaki itu.
"Setelah itu Bapakmu datang ke rumah. Berbicara panjang lebar denganku dan ibu. Beliau benar, pemuda miskin ini tak layak menikahimu. Selain miskin, pemuda itu juga anak mantan narapidana."
Deg!
Jantungku terhunjam mendengar perkataan Azzam. Jadi selama ini Bapak yang menyebabkan semua ini.
"Beliau memintaku meninggalkanmu, karena anaknya akan dinikahkan dengan seorang pegawai di pemkab yang lebih segalanya daripada aku."
"Ibuku berusaha meyakinkan, bahwa kita saling mencintai. Dan aku tak seperti almarhum Bapak. Beliau berkata bahwa aku pasti bisa membahagiakanmu. Namun itu tak membuat Pak Sugeng berubah pikiran. Bapakmu tetap berprinsip bobot bibit bebet."
Aku menyeka air mata yang lagi - lagi tumpah.
Tenggorokan serasa tercekat. Mataku memanas.
Kulihat mata lelaki itu kembali basah. Pandangannya masih lurus ke arah sandaran kursi di depannya.
'Ah, Bapak kenapa begitu tega dengan anakmu'
Rutukku dalam hati.
"Lantas kenapa saat aku ke rumahmu tak ada seorangpun yang memberi tahuku? Aku bisa meyakinkan Bapak atas cinta kita."
Ujarku sesenggukan.
"Aku terpaksa tak menemuimu karena larangan ibu. Apa gunanya percintaan yang tak berujung pernikahan. Beliau tahu betul bagaimana sifat ayahmu."
Azzam tersenyum getir.
"Akhirnya aku memutuskan pergi ke Kalimantan. Aku berusaha melupakan semua tentangmu. Namun ternyata hatiku tak bisa berbohong."
Aku terdiam. Hatiku rapuh membayangkan saat Bapak menemui keluarga Azzam. Orang tua itu memang selalu memegang prinsipnya dengan begitu kuat. Ditambah watak yang keras. Sikap dan perkataannya terkadang bisa melukai seseorang yang tidak sejalan dengannya.
Memang aku sempat bersitegang dengan Bapak, tatkala beliau tahu aku berhubungan dengan Azzam. Beliau tidak suka aku menjalin kisah dengannya. Namun aku tidak berpikir sejauh itu. Bahwa bapak akan melakukan tindakan itu pada Azzam dan ibunya. Aku bisa merasakan betul, bagaimana perasaan keluarga lelaki ini yang tercabik karena omongan orangtuaku.
Bapak, aku akan menagih penjelasanmu nanti.
Ah, kenapa hati ini tiba - tiba begitu nyeri saat mendengar nama ustad Bahrul. Seseorang yang mejembatani proses taaruf Azzam dan Nisa.
"Ah sudahlah, Lila. Biarlah itu menjadi pelajaran hidup untukku."
Berat Azam menelan saliva.
"Oh ya kamu cuti hari ini?"
Tanyanya berusaha mencairkan suasana.
Aku mengangguk.
"Apa Nisa tahu tentang kita?"
Tanyaku hati - hati.
Lelaki itu menggeleng. Kemudian meneguk kembali air dari botol yang dipegangnya.
" Dia tak perlu tahu."
Ucapnya tegas.
Azzam terlihat merogoh saku wearpacknya.
"Makanlah .. "
Sembari tersenyum dia menyodorkan roti srikaya. Roti kesukaanku.
Aku menatapnya lekat.
"Ayo keburu masuk perut ini."
Ujarnya terkekeh.
Dia paling tahu bahwa aku suka sekali dengan makanan itu.
__ADS_1
Dengan malu-malu aku mengambil dari tangannya.
"Aku selalu membawa roti itu saat di perjalanan seperti hari ini."
Ujarnya tersenyum.
Makanan kecil itu memang begitu berkesan dalam perjalanan kisah kami.
Pertemuan pertama kami dimulai saat Azzam berlari menyusulku yang sudah jauh berjalan meninggalkan tempat foto kopi dimana dia bekerja. Hanya untuk menyerahkan 2 bungkus roti srikayaku yang tertinggal di meja foto kopi. Sejak saat itu aku mulai berkenalan dengannya. Mahasiswa yang juga bekerja paruh waktu sebagai tukang foto copy itu berhasil mencuri hatiku. Pria itu tak terlalu tampan, namun dia adalah sosok yang sederhana, gigih, cerdas dan soleh. Dia mengerti bagaimana memperlakukan seorang wanita dengan baik.
"Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu kemarin. Aku pikir kamu sudah menikah dengan pilihan ayahmu dan aku gak bisa lahi bertemu dengamu."
"Aku juga nggak nyangka suami Nisa ternyata kamu"
Ucapku sedikit sinis.
"Kamu tahu, kemarin aku sempat berdebat dengan SPku. Aku protes kenapa harus aku yang dikirim ke smelter Gresik, padahal aku baru saja menikah sehari yang lalu."
Ada perih kembali singgah saat mendengar kata nikah dari mulut Azzam.
"Tapi SPku ngotot aku harus berangkat dengan tim yang lain. Rupanya Allah yang mengatur semua ini. Agar aku bisa bertemu denganmu dan menjelaskan semuanya."
Kembali dia menatapku dengan matanya yang teduh.
"Apa kamu mencintainya?"
Tanyaku seraya membuang muka ke arah jendela. Sejujurnya aku tak kuasa menanyakan ini.
"Aku sedang berusaha mencintainya."
Perih kembali menjalari hatiku
"Aku baru bertemu dengan Nisa 3 kali sebelum akhirnya kami menikah. Mungkinkah cinta untuknya sudah tumbuh dalam waktu yang singkat?"
Ujarnya beretorika.
Hening kembali menyapa kami.
Kudengar Azzam berbincang dengan bapak di sebelahnya. Dari percakapan mereka, aku tahu bahwa rupanya si bapak menyimak dengan seksama perbincangan kami yang dibumbui dengan air mata. Sesekali kudengar mereka tertawa. Bapak dengan rambut yang sudah memutih itu berkata kepada Azzam. Bahwa jodoh itu sudah diatur oleh Tuhan. Jika memang dia jodohmu, sepahit dan sesulit apapun jalan yang ditempuh pasti akan bersatu suatu hari nanti.
'Aamiin'
Reflek aku mengamini perkataan itu dalam hati.
Ah, betapa naifnya diri ini.
Sudah jelas - jelas lelaki itu kini suami sahabatku, tapi masih juga aku ngeyel pada Allah dengan mengamini kalimat si bapak.
Sejurus kemudian suasana sudah sedikit mencair. Aku memutuskan untuk bertanya tentang kisah Azzam di Kalimantan. Aku tak mau terkungkung dalam kebisuan yang kami ciptakan, meskipun sikap ini masih canggung. Kini kami larut dalam perbincangan tentang pekerjaan, tentang hiruk pikuk kota Batam. Tak sedikitpun kami berkisah tentang keindahan masa lalu saat masih bersama. Karena aku sadar statusku dan Azzam kini sudah berubah.
2 jam sudah burung besi ini mengudara, dan kini sudah mendarat sempurna di bandara internasional Juanda.
Penumpang satu persatu keluar dari badan pesawat. Sampai hanya tinggal sekitar beberapa orang di sini, termasuk aku dan Azzam. Kami kemudian melewati garbarata kembali untuk menuju ruang pengambilan bagasi.
"Hati-hati Kalila, kita berpisah di sini."
Ucapnya saat aku sedang mengamati pergerakan koper - koper yang berjalan di atas konveyor bagasi milik maskapai oranye.
Aku menatap wajah itu.
Seulas senyum mengembang dari bibirnya.
Hatiku dijejali berbagai macam rasa yang tak bisa kudefinisikan.
Ingin rasanya kucegah lelaki itu pergi. Namun aku sepenuhnya sadar bahwa sekarang dia adalah surga sahabatku.
Aku mengangguk perlahan.
"Kalila..jika Allah masih mentakdirkan kita untuk berjodoh. Aku akan menunggu saat itu tiba. Entah untuk berapa lama."
Ujarnya lirih.
Kemudian bergegas melangkah menuju kawan - kawannya yang tengah berkumpul di dekat pintu keluar.
Deg!
Apa maksud perkataan Azzam barusan.
__ADS_1
Aku terperangah.
Ingin sekali mengejarnya untuk meminta penjelasan, namun lelaki itu sudah menjauh. Melambaikan tangan ke arahku yang kini terpaku menatapnya dari kejauhan.