Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 30


Setelah sekian lama perjalanan, akhirnya kendaraan Jimmy masuk di sebuah objek wisata yaitu Pantai Marina. Tempatnya cukup bagus dan bersih. Kebetulan juga sudah lama sekali aku tidak jalan jalan ke pantai. Hitung hitung untuk melepaskan beban fikiran.


Aku berjalan beriringan dengan Jimmy, tanpa sepatah katapun. Pandangan ku lurus ke depan, namun hatiku tertuju pada seseorang. Ketika sebuah kebahagiaan sudah di depan mata, kini tiba tiba lenyap bak ditelan bumi.


Aku terus berjalan hingga menemukan tempat untuk istirahat. Aku duduk di sebuah bebatuan kecil sambil menikmati ombak di bibir pantai. Semilirnya angin membuat aku terasa adem. Hingga aku terbawa suasana nyaman sampai larut dalam lamunan. Tidak sadar jika saat ini aku sedang bersama seseorang.


Sebuah tepukkan di pundak menyadarkan aku dari lamunan. Seketika aku menoleh dan menatap dalam wajah Jimmy. Dia tersenyum padaku, lalu menggenggam tanganku dengan erat. Dia mengerti jika saat ini aku sedang tidak baik baik saja.


Aku tertunduk diam tanpa kata. Ingin sekali aku meneteskan air mata. Namun aku sedikit malu dengan keadaan. Sebisa mungkin aku tahan agar air mata ini tidak jatuh. Namun usaha itu ternyata sia sia. Buliran bening mengalir begitu saja. Dengan sigap dia mengbapus air mataku.


"Menangislah Cha, jika itu bisa buat kamu lega. Tidak perlu kamu tahan. Yang ada nanti kamu bakal merasa sesak."


Apa yang Jimmy katakan ada benarnya. ku keluarkan air mataku hingga aku merasa lega. Hingga akhirnya aku terhenti seketika hatiku sedikit lega.


Jimmy merogoh saku jaketnya, seolah sedang mencari sesuatu. Dan benar saja, dia mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna biru. Tidak tanggung tanggung dia bahkan mengusap air mataku.


"Sudah Cha, jangan menangis lagi. Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Saat ini lupakan saja yang sudah sudah. Yang kamu butuhkan sekarang adalah menghibur diri. Agar kamu tidak ada beban fikiran. Inget saat ini ada aku di sini, Cha."


Aku tidak mampu untuk membalas kata kata Jimmy. Dia menggenggam erat tanganku. Ingin sekali aku menyandarkan diri di pundaknya. Namun aku takut akan terbawa suasan. Hingga aku lali jika dia hanyalah masalalu.


"Cha, kamu sudah makan belum."


"Aku tidak lapar, Jim."


"Cha, jangan terus terusan menyiksa diri. Jaga kesehatanmu, jangan seperti ini. Nanti kamu bisa sakit. Please Cha, jangan seperti ini."


Jimmy menarik tanganku dengan sedikit paksa. Hingga aku merasakan sedikit kesakitan. Hingga akhirnya aku memilih berdiri dan mengikutinya.


"Aduh Jim, sakit tanganku."


"Maaf Cha, aku tidak bermaksud kasar sama kamu. Tapi kalau kamu tidak dipaksa, kamu bakal terus nyakitin diri kamu."

__ADS_1


Aku hanya diam tertunduk. Aku tidak mengerti apa yang sedang aku fikirkan. Sebuah nama telah merusak otakku. Hanya dia sekarang yang sedang aku fikirkan saat ini.


"Ayo, Cha."


Jimmy menggandeng tanganku layaknya seorang kekasih. Dan akupun mengikutinya. Dia berjalan menuju sebuah kedai makanan. Kami duduk bersebelahan dengan menghadap ke pantai untuk menikmati pemandangan.


"Kamu mau makan apa, Cha?"


"Apa aja, Jim. Samain saja sama kamu."


"Baiklah, kamu di sini dulu aku pesankan."


Sambil menunggu, aku mengambil ponsel di dalam tas. Karena memang sejak pagi aku tidak membuka ponsel. Ku geser layar ponsel, dan kubuka aplikasi whatsap. Banyak sekali pesan masuk.


Semua pesan sudah kubaca. Namun aku enggan untuk membalasnnya. Untuk saat ini memang yang aku butuhkan hanya menghibur diri.


Tak berselang lama, Jimmy kembali duduk di sebelahku. Dia tersenyum padaku, begitu pula sebaliknya. Aku membalas senyumnya.


"Cha, sebenarnya aku sudah mengerti tentang beritamu. Aku harap kamu bisa sabar ya. Dan aku juga berdoa semoga tunanganmu lekas pulih."


"Kamu tidak perlu tahu Cha, yang jelas aku tahu semua tentang kamu."


Saat aku akan berbicara, pandanganku mengarah pada seseorang. Dia sangat tidak asing buat aku. Seorang perempuan muda yang sedang bergelayut mesra dengan oom oom.


Perempuan itu adalah Chika, calon istri Rohman. Aku merasa jijik melihat kelakuannya. Segera aku ambil ponsel dan ku rekam kelakuan Chika. Sebenarnya aku tidak mau ikut campur urusan mereka. Hanya saja aku merasa kasihan dengan Rohman yang terus terusan dibohonginya. Apalagi dengan kehamilan Chika, sangat diragukan jika itu adalah anak Rohman.


"Kamu ngerekam apa sih, Cha?"


"Sudah kamu diam dulu, biar aku fokus sama perempuan itu."


Jarak kedai tempat aku makan dengan Chika lumayan dekat. Namun dia tidak menyadari keberadaanmu. Ku rekam terus setiap gerak geriknya bersama oom oom itu.


Setelah Chika menjauh, ku matikan rekaman dan ku masukkan ponsel ke dalam tas. Akan aku kirim pada Rohman nanti jika Chika terus terusan menggangguku.

__ADS_1


Setelah lumayan lama menunggu, akhirnya makanan yang kami pesan datang. Semangkuk bakso dan segelas es kelapa muda. Entah mengapa melihat makanan dan minuman dihadapanku, ingin sekali segera aku santap.


"Jim, kamu tau aja makanan ini penghilang rasa setres. Apalagi kalau ditambah dengan sambal, pasti mantap."


"Sambalnya jangan banyak banyak, Cha. Nanti kamu sakit perut."


"Iya iya, aku ngerti. Ayo Jim, kita makan."


Jimmy tersenyum melihatku sangat lahap menyantap makanan yang dia belikan. Diapun juga segera menyantap makanannya.


Usai manghabiskan makanan, kami berinisiatif untuk pulang. Karena memang situasi yang tidak memungkinkan. Langit yang mulai mendung, ditambah lagi hari sudah semakin sore.


Kami bergegas menuju parkiran dan segera pergi meninggalkan objek wisata. Kendaraan melaju dengan sedikit kencang. Mengingat langit yang semakin gelap dan tertutup awan hitam. Khawatir jika hujan tiba tiba turun.


Ku peluk erat tubuh Jimmy dari belakang. Dan pada akhirnya yang ditakutkan benar benar datang. Ku merasakan rintik rintik hujan dan pada akhirnya hujan turun dengan derasnya.


Jimmy membelokkan kendaraannya di sebuah hotel yang lumayan mewah. Pakaian yang kami kenakan lumayan basah, tapi belum parah. Jimmy segera memarkirkan kendaraannya.


"Cha, maaf hujan deres banget. Kita rehat dulu di sini, ya. Sambil nunggu hujan reda."


"Tali, Jim..


Belum selesai aku berbicara, Jimmy sudah memotong perkataanku. Lalu dia menarikku masuk ke dalam.


"Sudahlah kamu ikut aja. Kamu lihat kan hujannya gimana. Kamu juga basah, nanti bisa sakit."


Aku tak berkutik jika dia sudah menggandengku. Sebenarnya apa yang dikatakan Jimmy ada benarnya. Hujan memang sangat deras. Ditambah Lagi bajuku juga lumayan basah. Akmu masuk ke hotel dan mengikuti Jimmy yang telah memesan kamar.


"Permisi mbak, saya mau pesan dua kamar untuk satu malam."


"Baik pak, Tapi mohon maaf untuk saat ini kamar sedang penuh dan hanya tersisa satu kamar saja. Bagaimana, pak?"


"Ya sudah mbak, saya ambil."

__ADS_1


"Baik, silahkan data dirinya."


Aku yang mendengar percakapan mereka sedikit shock. Tapi memang untuk saat ini tidak ada pilihan lain, karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.


__ADS_2