Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 63


Hari ini aku melakukan aktivitas seperti biasa. Menyiapkan sarapan untuk mas Rohman, lalu lanjut dengan bersih bersih. Setelah semua beres aku bergegas mandi.


Kini usia kandunganku menginjak tiga bulan. Saat ini aku ingin sekali rasanya jalan jalan ke pusat perbelanjaan. Karena suamiku sedang bekerja, aku beranikan diri untuk berangkat sediri dengan menaiki taxi online.


Aku berjalan jalan di sebuah toko hijab. Sepintas di fikiranku teringat akan nama seseorang yang akan menikah denganku. Namun semua itu sirna sudah. Dia sudah tidak mengenalku lagi semenjak kecelakaan. Upaya untuk mengembalikan ingatannya pupus sudah. Akupun menyerah, dan memilih untuk mundur meskipun hati ini sangat teriris.


Semua kesedihanku selama ini sudah terbayar. Kini aku sudah menikah dengan seorang laki laki mapan dan juga baik padaku. Begitu pula dengan keluarganya yang juga bisa menerima aku dengan apa adanya. Aku sangat bahagia sekali menikah dengan mas Rohman.


Aku berjalan di area pakaian, dan netraku tertuju pada sebuah mini dress berwarna hitam. Aku mengambilnya karena memang aku suka. Kebetulan juga pas di badan aku. Saat akan melangkah ke kasir, aku melihat sebuah kemeja berwarna biru dongker. Warna yang sangat kalem. Aku mengambilnya untuk mas Rohman. Mudah mudahan saja dia suka.


Ku bayar belanjaanku tadi. Lalu aku bergegas untuk naik ke lantai atas. Tampak banyak sekali boneka boneka yang berjejer dan sangat lucu. Aku memilih milih dan hendak untuk membelinya jika ada yang aku suka. Aku berjalan dan akhirnya menemukan sebuah boneka yang sangat lucu dan imut.


Saat aku mengambilnya, samar samar aku mendengar suara seseorang yang suaranya sangat mirip dengan oarang di masa laluku. Suara itu semakin dekat dan semakin jelas sekali terdengar di telingaku.


'Deg.


'Suara itu benar benar sangat mirip dengan Rendy. Apakah benar itu dia.'


Niat hati ingin menghindar, namun sesuatu terjadi pada diriku. Saat aku hendak membalikkan badan, aku menabrak seseorang. Aku bergegas minta maaf karena buru buru dan tidak sengaja. Namun betapa terkejutnya aku, setelah tahu orang yang aku tabrak dan kin tengah berdiri tepat di hadapanku.


"Rendy."


Ya benar saja dia adalah Rendy dan wanita yang aku temui saat masih di Rumah Sakit dulu. Dia adalah mantan kekasihnya Rendy. Namun sulit dimengerti tentang hubungannya saat ini. Aku tidak ingin tahu tentang mereka berdua.


Rendy melihatku dengan tatapan yang keheranan. Sedangkan perempuan itu menatapku sangat sinis. Sangat terlihat jelas jika dia tidak menyukaiku.


"Ma.. maaf, aku tidak sengaja. Aku buru buru tadi. Sekali lagi aku minta maaf."


"Jalan tuh pake mata, jangan asal. Untung nggak ada yang lecet."


"Maafkan aku."


Aku tidak ingin berlama lama berhadapan dengan mereka berdua. Aku memutuskan untuk pergi. Namun saat akan melangkah, Rendy mencegahku.


"Permisi."


"Tunggu." Rendy mencengkeram erat lenganku hingga aku merasa kesakitan."

__ADS_1


"Maaf, ada apa? Saya sudah minta maaf. Apa itu masih kurang?"


"Tidak."


"Lalu kenapa? Tolong lepaskan tanganku, ini sakit."


"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Atau kita dulu pernah kenal?" Tiba tiba seorang Rendy yang sedang lupa ingatan melontarkan pertanyaan seperti itu. Aku bingung harus jawab apa. Mengingat dulu dia pernah berkata tidak mengenalku, adalah jawaban yang sangat menyakitkan.


"Sayang, kamu apa apaan sih? Jelas jelas dia nggak kenal kamu, begitu juga dengan kamu. Nggak mungkin kamu bisa kenal cewek sperti dia."


"Kamu bisa diam dulu, sebentar? Aku sedang ngomong sama dia?"


"Tolong jawab, apa kita pernah kenal sebelumnya? Karena aku merasa kamu itu sangat tidak asing."


"A..aku.."


"Rendy, ibu nyari kamu. Ternyata kamu di sini."


Ternyata Rendy sedang bersama ibunya juga. Kalau begini urusannya akan semakin panjang. Aku harus cepat cepat pergi.


"Permisi, saya buru buru karena ada urusan." Dan lagi lagi Rendy menehanku dengan mencengkeram lenganku lagi.


"Tolong jawab pertanyaanku. Apa kita pernah saling kenal sebelumnya?"


Sontak ibu Rita dengan cepat langsung menampar perempuan itu. Dia sangat tidak terima aku diperlakukan seperti ini hingga terjatuh. Karena bu Rita mengetahui jika aku sedang hamil.


Plaaakk...


"Dasar kamu kurangajar, ya. Kalau sampai terjadi apa apa kamu akan saya tuntut."


"Kok tante jadi belain dia, sih."


"Karena aku lebih suka Lissa dari pada kamu yang nggak punya atitut. Mungkin jika Rendy sadar, pasti dia juga akan memilih Lissa dari pada kamu."


Saat bu Rita hendak menolongku, tiba tiba Rendy mengeluh akan sakit kepala. Dia berontak dan berteriak karena merasakan sakit yang luar biasa.


Begitu pula sebaliknya dengan aku. Setelah terjatuh aku juga merasakan kram di bagianperut. Aku sangat takut dan panik jika terjadi sesuatu pada anakku.


Kami berempat menjadi pusat perhatian para pengunjung Mall. Ada beberapa karyawan yang membantuku. Tak berselang lama scuriti datang dan menggendong aku.

__ADS_1


Pandanganku mulai kabur. Tubuhku terasa sangat lemas sekali. Kepala mendadak menjadi pusing. Hingga akhirnya aku tak sadarkan diri.


**********


Ku buka mata perlahan lahan, lalu melihat sekeliling ruangan. Selang infus menancap di punggung tanganku. Ternyata aku sedang berada di rumah sakit. Aku baru ingat jika ada suatu kejadian saat aku di pusat perbelanjaan tadi.


Mas Rohman masuk dan menghampiri aku. Terlihat wajahnya yang sangat cemas karena aku. Ya, aku sangat merasa bersalah padanya. Karena tidak mendengarkan nasehatnya.


"Mas."


"Kamu jangan buat aku khawatir, sayang. Aku kan sudah bilang tunggu aku pulang kerja. Kan gini jadinya. Kamu bandeo banget dibilangi."


"Maaf mas, udah bikin kamu khawatir. Kan aku juga nggak tahu kalau bakal kejadian seperti ini."


"Untung semuanya baik baik saja."


"Gimana ceritanya sayang kamu bisa jatuh?"


"Sebenarnya tadi ada suatu kejadian, mas. Yang aku sendiri juga nggak tahu bakalan seperti ini."


"Kejadian? Emang ada kejadian apa, sayang?"


"Kalau aku cerita, apa kamu bakalan marah sama aku, mas?"


"InsyaAllah tidak, sayang."


Aku menarik nafas dalam dalam. Lalu mulai bercerita dari awal hingga kejadian yang sebenarnya. Mas Rohman tampak shock dengan ceritaku. Dia mengepal tangannya dan menunjukkan jika dia sedang marah. Dia sangat tidak terima aku diperlakukan seperti ini hingga mengancam nyawaku dan anakku.


"Ini sudah masuk tindak pidana, sayang."


"Apa kamu akan melaporkan perbuatan perempuan itu, mas."


"Mungkin. Ini sangat membahayakan nyawa sayang. untung kamu tidak apa apa."


"Sudah mas, jangan diperpanjang lagi. Aku takut jika nanti masalahnya semakin panjang."


"Baiklah. Untuk kali ini saja, sayang mas maafin. Tapi jika terjadi lagi, aku nggak segan segan buat jeblosin dia ke penjara. Biar jadi pelajaran dan harus diberi efek biar jera. Aku nggak terima kamu diginiin, sayang."


"Iya mas, aku ngerti. Kamu yang sabar ya. Jangan mudah terpancing emosi seperti ini. Semua harus difikirkan dulu sebelum bertindak."

__ADS_1


"Besok besok aku nggak kasih kamu ijin buat pergi sendiri."


"Iya, mas."


__ADS_2