Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 67


Aku menangis sejadi jadinya. Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Rendy benar benar tega padaku. Aku bingung harus bagaimana. Hidupku ini sekarang terasa terancam.


"Kamu kenapa tega melakukan ini padaku, mas Rendy?"


"Apa kamu nggak mikir ke depannya? Apa kamu nggak mikir aku ini istri orang?"


"Apa kamu nggak merasa berdosa udah nidurin aku?"


"Aku nggak perduli kamu mau istri orang atau bukan."


"Entah kapan kamu pasti akan aku miliki. Ingat Lis, aku tidak main main."


"Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini mas Rendy."


"Baiklah, aku akan pergi. Aku akan kembali lagi kapanpun aku mau."


Rendy bergegas pergi meninggalkan rumahku. Aku benar benar sangat berdosa dengan mas Rohman. Apakah aku harus menceritakan kejadian ini.


Tapi aku takut dia akan marah dan akan menimbulkan masalah baru. Aku takut terjadi perdebatan sengit antar keduanya. Pada siapa aku harus mengadu. Ini begitu sangat sulit untuk aku jalani.


Aku bergegas mandi agar fikiranku bisa tenang. Entah mimpi apa semalam tiba tiba hal mengejutkan terjadi padaku siang ini. Aku sangat tidak menyangka sekali Rendy berani berbuat senekat ini.


Apa sebaiknya aku bertemu dengan ibu Rita untuk menceritakan hal ini. Mungkin saja beliau bisa membujuk Rendy agar menjauhi aku. Ya, lebih baik aku menemui bu Rita. Semoga saja ada jalan keluar.


Aku mencoba menghubungi nomor ponsel bu Rita. Tersambung hanya saja tidak kunjung diangkat. Aku terus mencobanya untuk beberapa kali. Namun tetap saja tidak ada jawaban.


Aku menyerah dan meletakkan ponselku di meja. Saat hendak melangkah, ponselku bergetar. Tanda ada panggilan masuk. Ku perhatikan layar ponsel Ternyata dari bu Rita yang menelpon balik. Aku segera menganggkatnya.


"Hallo, bu."


"Iya hallo, nak. Ada apa kok tumben telepon ibu berkali kali. Apa ada sesuatu yang penting, nak?"


"Iya, bu. Sebenarnya ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama ibu."


"Apakah ibu ada waktu untuk bertemu. Sebentar saja, bu. Ini sesuatu yang sangat penting."

__ADS_1


"Baiklah, nak. Kita bertemu di mana?"


"Ngikut ibu saja enaknya di mana."


"Ya sudah, ke Resto Manado gimana?"


"Iya, bu. Aku siap siap dulu lalu berangkat."


"iya, nak. Nanti kabar kabar saja."


"Baik bu." Sambungan telepon terputus secara sepihak. Aku bersiap siap untuk segera berangkat menemui bu Rita. Semoga saja rencanaku berhasil.


Aku sengaja tidak memberitahu mas Rohman jika akan pergi. Kalau aku memberitahu pasti tidak akan diijinkan. Apalagi aku pergi untuk menemui ibunya Rendy. Pasti dia akan sangat marah sekali.


Selama bersama mas Rohman aku tidak pernah melihat dia marah. Apalagi sampai berbicara dengan nada tinggi atau mengeluarkan kata kata yang tidak pantas. Tidak pernah sama sekali.


Semarah apapun mas Rohman, dia masih bisa menahan emosi. Bahkan dia juga menasehati aku dengan nada yang pelan. Aku takut jika sewaktu waktu emosi mas Rohman memuncak dan dia akan marah besar karena suatu hal. Aku tidak ingin itu terjadi.


Aku berangkat bertemu bu Rita dengan menaiki ojeg online. Karena jika naik angkot akan memakan waktu yang lama. Sekitar lima belas menit pejalanan, akhirnya sampai juga di Resto Manado. Tempat di mana aku akan bertemu dengan bu Rita.


Ku kirimkan pesan melalui aplikasi wa, ternyata pesan tersebut langsung biru. Artinya pesan yang aku kirim sudah dibacanya. Ku kirimkan fotoku sedang duduk menunggu kedatangan bu rita.


Sepuluh menit kemudian, bu Rita sudah datang lalu duduk di depanku. Kebetulan alu sudah memesan makana dan minuman. Jadi tidak perlu menunggu lagi.


"Ibu, akhirnya datang juga. Aku fikir nggak mau datang."


"Ibu tidak mungkin tidak datang, nak. Jika untuk menemui kamu pasti akan ibu sempatkan. Sesibuk apapun ibu, pasti ibu akan tetap datang."


"Trimakasih banyak, bu. Sudah menyempatkan datang."


"Iya nak, sama sama."


"Oh ya, katanya kamu mau bicara penting. Bicara saja, jika ada sesuatu yang kamu merasa butuh bantuan. Ibu siap untuk membantu, nak. Kamu nggak usah sungkan untuk meminta sesuatu."


"Iya bu, terimakasih banyak."


"Ehm, jadi begini bu. Tadi siang Rendy datang ke rumah."

__ADS_1


"Raut wajahnya sudah menunjukkan orang yang tidak suka padaku. Awalnya baik, bu. Tapi lama lama dia itu marah sama saya."


"Dan di situ sedikit terjadi perdebatan kecil. Yang sebenarnya hanya masalah sepele. Tapi yang bikin aku bingung, kenapa Rendy bisa tahu rumah aku, bu. Padahal dia awalnya nggak tahu, kok tiba tiba datang "


"Bu, setelah itu rendy meniduri aku. Dan dia mengancam akan merebut aku dari mas Rohman. Aku takut bu, pernikahanku dengan mas Rohman nanti akan menimbulkan masalah."


"Bu, aku mohon tolong bujuk Rendy agar jangan mengganggu aku lagi. Aku takut, bu. Status aku sekarang ini adalah istri orang."


"Nanti ibu akan coba berbicara dengan Rendy. Semoga saja dia mau mendengarkan dan mau berubah."


"Bu, Lissa mohon tolong bantu aku."


"Iya, nak. Nanti ibu akan coba. Semoga saja Rendy mau mendengarkan."


"Iya, bu. Lissa sangat berterimakasih sama ibu yang sudah menyempatkan diri untuk datang."


"Iya, nak sama sama. Ya sudah kalau begitu ibu pamit dulu. Ada sesuatu yang harus ibi selesaikan."


"Kamu tenang saja, nanti ibu akan bujuk Rendy."


Bu Rita bergegas pergi menuju kasir untuk membayar makanan yang aku pesan tadi. Aku sangat merasa tidak enak, karena aku yang mengajak bertemu. Justru ibu Rita yang membayar makanan tadi.


Lalu setelah itu pergi meninggalkan Resto. Sedangkan aku masih duduk untuk menikmati satu gelas es jus alpukat. Minuman favorit aku.


Aku juga menghabiskan makanan yang ku pesan tadi. Sayang jika tidak dimakan. Usai itu aku bergegas segera pulang. Karena ku lihat sudah sangat siang.


Aku pulang dengan menaiki taxi online. Karena lagi lagi badanku sangat terasa capek. Jika menaiki mobil kan bisa sambil berbaring di belakang.


Sepanjang perjalananaku sibuk dengan ponselku. Tiba tiba aku merasakan kram pada perutku. Aku takut jika terjadi apa apa pada anak aku


Aku menahannya sambil meringis kesakitan. Padahal aku tidak melakukan pekerjaan yang berat berat. Tapi entah mengapa tiba tiba saja perutku kram.


Akhirnya aku sampai di rumah. Aku segera masuk dan merebahkan tubuh di kasur. Ku elus perutku hingga rasanya sedikit lega. Rasa sakit karena kram berangsur menghilang dengan sendirinya.


Mata ini sangat mengantuk sekali rasanya. Ingin sekali aku istirahat sebentar. Namun sebelum itu, aku menyempatkan diri untuk membuka ponsel. Karena dari tadi sewaktu bersama bu Rita aku tidak membuka pesan. Takutnya ada sesuatu yang penting.


Dan ternyata benar. Ada beberapa panggilan dari suami ku. Dan beberapa pesan masuk. Namun aku baru saja membukanya. Aku segera membalas pesan dari mas Rohman.

__ADS_1


__ADS_2