
Eps. 49
Usai acara lamaran selesai, kami semua makan bersama. Tidak lupa kami juga menyempatkan diri untuk berfoto bersama. Sebagai kenang kenangan dan akan aku unggah nanti di akun sosial mediaku.
Dan akhirnya keluarga mas Rohman berpamitan untuk pulang. Kami semua saling bersalaman. Rasanya aku sangat bahagia sekali hari ini. Dan tidak menyangka sebentar lagi aku akan menikah dengan mas Rohman. Aku berharap tidak akan ada lagi kejadian kejadian pernah terjadi di masa lalu. Aku tidak ingin itu terjadi lagi.
Mobil keluarga mas Rohman sudah berlalu dan menjauh. Ku lambaikan tangan hingga mobil itu sudah tak nampak lagi. Lalu aku bergegas masuk. Aku membantu ibu untuk membereskan sisa makanan yanga ada. Sebagian aku bagikan untuk tetangga terdekat.
Hari ini cukup melelahkan sekali dan sangat menguras tenaga. Namun disatu sisi aku sangat bahagia sekali. Dalam waktu dekat ini aku akan menikah. Aku harus mempersiapkan semuanya.
Aku berharap semoga mas Rohman benar benar tulus padaku. Aku juga ingin pernikahan ini terjadi hanya satu kali dalam hidupku. Yah, semoga saja. Karena jalan hidup setiap manusia itu tidak ada yang tahu.
**********
Sudah dua minggu ini aku pulang kampung. Rencana aku akan di sini hingga dulu hingga acara pernikahanku tiba. Tapi ternyata mas Rohman menyuruhku untuk kembali ke Semarang untuk beberapa waktu. Karena akan diajak untuk foto preweding dan memilih kebaya untuk acara pernikahan nanti.
Jika ada foto preweding itu artinya akan ada pesta. Tapi aku juga belum tahu pasti. Karena sampai sekarang mas Rohman juga belum memberi kabar untuk acara ke depan.
Sore ini aku akan berangkat ke Semarang. Sebenarnya aku juga malas untuk kembali ke kost. Karena aku merasa kesepian dan bingung karena tidak ada kesibukan.
Tepat pukul lima sore aku berangkat ke Semarang dengan menaiki bis. Seperti biasa selama perjalanan hanya menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam.
Karena aku berangkat dari rumah sudah sore, jadi aku tiba di Semarang sudah gelap. Turun dari bis aku oper angkutan umum kebetulan masih ada. Dan satu arah melewati gang menuju kost tempat aku tinggal.
__ADS_1
Sengaja aku tidak memberi kabar mas Rohman. Karena aku sedang malas untuk membuka ponsel. Sepuluh menit perjalanan, akhirnya aku sampai di gang. Aku turun kemudian membayar ongkos dan segera berlalu. Mengingat hari sudah gelap, meskipun baru jam tujuh malam aku percepat langkahku.
Jarak ujung gang menuju kostku sekitar dua ratus lima puluh meter. Yah, tidak jauh jauh sekali sebenarnya. Sepanjang jalan terlihat sepu dan lumayan gelap. Karena rumah penduduk baru nampak setelah melewati kostku.
Dari arah belakang terdapat sorot mobil. Aku berjalan santai karena ada penerangan. Namun langkahku terhenti seketika mobil itu berjalan sangat pelan. Aku menoleh ke belakang, dan mobil itu sedang berhenti dengan sorot lampu masuh menyala.
Tak ku hiraukan, lalu aku kembali berjalan dengan langkah agak cepat. Karena aku merasa ada yang aneh dengan mobil itu. Dan ternyata benar, saat aku berjalan mobil itu kembali berjalan seolah sedang mengikutiku.
Aku berjalan lebih cepat lagi. Namun tiba tiba mobil tersebut sudah ada di sampingku. Dua orang pria dengan memakai topi dan masker turun dari mobil. Saat aku akan berlari, mereka dengan sigap menangkap dan membekap mulutku.
Aku berusaha berontak, namun aku tak berani banyak bergerak. Mengingat aku yang sedang mengandung. Ingin sekali aku berteriak, namun mereka terus membekapku.
Tak ada satu orangpun yang melintas. Hingga tidak ada yang menolongku. Dua orang tersebut membawaku masuk ke dalam mobil. Karena aku kelelahan dan mulutku masih dibekap, akhirnya aku tak sadarkan diri.
*********
Rasanya ingin sekali aku berteriak meminta tolong. Namun apalah dayaku, dengan kondisi mulut ditutup aku hanya mampu diam. Berdoa semoga ada seseorang yang menolongku. Meskipun aku tidak tahu sekarang sedang berada di mana.
'Tuhan, apa salahku pada orang yang menyekap aku seperti ini? Kenapa cobaanku begitu sulit. Mampukah aku untuk melewati semua ini?'
Sampai saat ini aku masih belum tahu, siapa orang yang tega berbuat ini kepadaku. Aku bingung harus bagaimana. Aku tidak mau mati di sini tanpa ada orang yang tahu. Entah sudah berapa jam aku berada di sini. Sampai saat ini orang yang menyekap aku belum terlihat. Aku mulai meneteskan air mata.
Aku teringat akan tas yang aku bawa. Karena di dalamnya ada gunting dan ponsel. Mungkin jika aku menemukannya, aku bisa menghubungi seseorang. Dan aku juga bisa melarikan diri dar sini. Namun sampai saat ini aku belum menemukannya. Untung saja ponselku pola. Jadi orang yang membawa ponselku tidak akan bisa menggunakannya.
__ADS_1
Mata ini sudah sangat lelah untuk terjaga. Malam juga semakin larut. Hingga akhirnya aku tertidur dengan kondisi duduk dengan tangan terikat.
**********
Sorot sinar matahari masuk melalui celah dinding kayu yang bolong. Hingga aku terbangun dari tidurku. Rasanya sangat pegal sekali tubuh ini. Aku berusaha melepaskan ikatan tanganku. Namun hasilnya nihil, ikatannya sanga kencang hingga membuatku kesusahan.
Samar samar aku mendengar langkah kaki seseorang. Dan suara itu semakin mendekat sepertinya menuju ke mari.
Dan benar saja, seseorang sedang berusaha membuka pintu. Dan Akhirnya dua orang pria yang menyekapku semalam masuk dan memoerhatikan aku. Mereka berdua memperhatikan aku.
Dari postur tubuh dan potongan rambut dari salah satu pria itu, aku seperti mengenalnya. Jika aku perhatikan perawakan dia mirip sekali dengan Andry, sahabatku. Tapi masak iya Andry tega melakukan ini padaku. Kuperhatikan sepatu yang dipakainya juga mirip dengan sepatu Andry.
'Deg.
Jangan jangan dia memang Andry. Astaga, sepertinya ini sangat tidak mungkin. Mungkin saja ini hanya sebuah kebetulan yang mirip saja. Namun dia tidak berani menatapku. Entah siapa pria tersebut di balik maskernya.
Tak berselang lama, ku mendengar langkah kaki seseorang menuju kemari. Dan semakin dekat dengan pintu masuk. Aku semakin penasaran, siapa sebenarnya dalang di balik semua ini. Apa masalah dia denganku. Aku sama sekali tidak mempunyai musuh.
Langkah itu semakin jelas terdengar dan semakin dekat. Seorang perempuan dengan mengenakan celana hitam, jaket hitam, masker, dan kaca mata hitam masuk ke ruangan di mana aku di sekap.
Dia terus berjalan terus mendekatiku. Dan berdiri tepat di hadapanku. Aku semakin penasaran, siapa dia sebenarnya. Dan apa maunya hingga aku di sekap seperti ini.
Perempuan itu melepakan penutup mulutku. Dan akhirnya aku bisa bernafas lega. Ku perhatikan perempuan tersebut, dan sepertinya aku juga mengenalinya. Tanpa ragu ragu aku mulai bersuara.
__ADS_1
"Siapa kamu? Apa salahku hingga kamu melakukan ini padaku?"