
Eps. 80
Aku mengagumi dia sejak lama. Hanya kagum saja tidak ada yang lebih. Aku suka dia saat bermain angklung dan saat dia tersenyum. Sungguh manis sekali wajahnya.
Ingin sekali aku bertanya padanya, kenapa dia tidak ada kabar selama ini. Tapi aku takut dengan Mas Rohman. Aku dan Faqih dulu hanya sebatas teman curhat di dunia maya. Dan aku juga berharap tidak memiliki rasa padanya. Hanya sebatas mengagumi saja.
Banyak sekali Faqih bercerita tentang dirinya di masa lalu. Dia mengaku bahwa dirinya merupakan anak nakal. Suka mabuk mabukan, suka masuk masuk ke dunia hiburan, bahkan pernah juga melakukan sesuatu yang tidak semestinya dia lakukan. Yaitu tidur bareng sama pacarnya.
Dia menceritakan secara detail bagaimana masa lalunya yang sangat tidak baik. Dia mengaku saat ini juga masih suka mabuk mabukan. Tapi tidak separah dulu.
Sekarang dia sudah sedikit sadar. Dia fokus kerja untuk ibunya. Karena orang tuanya sudah berpisah dan dia ikut ibunya. Jika dia sedang tidak ada job main angklung, dia memilih untuk berkebun. Karena dia memiliki lahan yang luas dan dimanfaatkan untuk menanam sayuran.
Aku sangat salut sekali padanya. Itulah salah satunya yang membuat aku kagum padanya. Dulu dia pernah bilang suatu saat akan mampir di tempatku jika ada pengiriman sayur di dekat daerahku.
Aku mengiyakan saja apa kata Faqih. Aku berharap dia benar benar mampir jika ada waktu. Namun dari waktu ke waktu justru dia menghilang begitu saja. Tapi ya sudahlah, mungkin ada suatu hal yang membuat dia tidak menghubungi aku.
Dan aku juga berharap dia masih mau berteman denganku. Aku kangen sekali rasanya vidio call dengannya. Kangen saat bercanda dengannya melalui telepon. Bahkan dulu Faqih juga sempat bercanda akan menikahi aku. Aku masih sangat ingat betul kata katanya. Tapi itu hanya sebatas candaan saja.
Aku memberanikan diri meminta ijin dengan Mas Rohman untuk menemui Faqih. Aku hanya ingin berjabat tangan dan menanyakan kabar saja. Aku berharap Mas Rohman tidak marah dan memberikan ijin padaku.
"Mas."
"Iya, kenapa sayang?"
"Kamu marah nggak misalkan aku nyamperin cowok pemain angklung itu?"
"Emang kamu mau ngapain nyamperin dia?"
"Ya sekedar mau ngobrol saja, sama tanya kabar. Sudah lama aku nggak kontek sama dia."
"Oh, kamu kenal sama dia?"
"Ya, sekedar kenal saja. Dia Faqih, temen lama aku."
"Ya sudah, sana kalau mau disamperin. Aku duduk di sama, ya. Kalau sudah selesai, kamu langsung ke sana saja sayang."
"Iya, Mas."
Karena sudah dapat ijin dari Mas Roman, aku bergegas berjalan menghampiri Faqih. Aku tersenyum padanya dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Terdengar suara teman tan Faqih yang lain tampak menggodanya. Aku tidak mempermasalahkan itu. Mungkin mereka hanya iseng saja.
"Hai, Faqih. Kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah, aku baik. Kamu sendiri gimana?"
__ADS_1
"Alhamdulillah aku juga baik baik saja."
"Sukurlah kalau begitu."
"Ehm, perutmu kok agak besar?"
"Iya, aku hamil empat bulan."
"Hamil? Berarti kamu sudah menikah?"
"Iya, aku sudah menikah."
"Wah, sayang sekali. Aku kurang cepet melamar kamu."
Lagi lagi dia menggodaku. Aku tertawa mendengar ucapannya. Begitpula dengan Faqih, dia juga tampak tertawa. Sudah lama sekali tak melihat tawanya. Aku sangat merindukan saat saat seperti ini. Canda tawa dia saat sedang menghibur aku dulu.
"Oh ya, kamu kemana saja? Sudah lama nggak ada kabar."
"Bahkan aku dulu juga sempat kirim kamu pesan, tapi nggak dibales. Apa mungkin nomor aku sudah kamu hapus?"
"Bukan gitu, dulu ponsel aku jatuh pas lagi naik motor sama temen."
"Trus terlindas mobil, hancur deh. Lama banget aku nggak pegang ponsel."
"Sekarang aku udah beli ponsel baru, tapi nomer aku hilang semua."
"Maaf, ya."
"Oh, gitu. Ya udah nggak apa apa."
"Yang tadi itu suami kamu?"
"Iya."
"Lumayan juga. Gagah, ganteng."
"Gagah sama ganteng itu bonus. Yang penting kan tanggung jawabnya."
"Iya, bener juga kamu."
"Oh ya, kapan kapan main ke rumah aku. Sama temen temen kamu juga boleh, kok. Aku sekarang tinggal di Semarang."
"Beneran boleh main ke sana? Nanti suami kamu marah nggak kira kira?"
__ADS_1
"Nggak lah, asalkan ke sana pas ada suami aku. Nggak bakalan jadi masalah. Temanggung ke Semarang kan nggak jauh jauh banget."
"Iya, kapan kapan kalau ada waktu pasti aku main ke sana."
"Bener ya, aku tunggu."
"Iya, insyaAllah."
"Ya sudah, aku ke sana dulu mau nyamperin suami aku."
"Iya, hati hati."
"Iya, mari semuanya."
Teman teman Faqih dengan kompak menjawab dengan tersenyum. Alhamdulillah aku sudah lega dan senang sekali bisa ngobrol langsung sama Faqih. Ternyata dia orangnya juga asik. Masih juga suka bercanda, sama seperti dulu.
Akhirnya aku faham kenapa dia menghilang dan tidak membalas chat aku. Ternyata ponsel dia rusak. Dan sekarang nomor yang ada di kontaknya hilang karena ganti ponsel. Aku berinisiatif akan mengirim pesan melalui mesenger nanti jika aku tidak lupa. Hanya ingin meminta nomor ponselnya saja. Karena tadi aku ingin meminta tapi aku malu dengan teman temannya.
Aku berjalan meninggalkan para pemain angklung itu. Sesekali aku masih menoleh ke belakang untuk melihat Faqih yang ternyata dia juga melihatku. Aku tersenyum dan melambaikan tangan. Dia juga membalas senyumku dengan lambaian tangan juga.
Aku menghampiri Mas Rohman yang tengah duduk sambil memainkan ponsel. Tampak dia sedang membuka akun sosial medianya. Aku memang sengaja tidak menyapanya dulu. Aku hanya ingin tahu aktivitas dia yang sangat fokus pada ponselnya.
Lumayan lama aku berdiri di belakangnya. Tapi tidak ada tanda tanda yang mencurigakan darinya. Mas Rohman hanya sekedar melihat lihat beranda saja.
Aku menepuk bahunya dan memanggil namanya. Dia sedikit terkejut dengan kedatanganku. Padahal aku sudah lumayan lama berdiri di belakangnya. Hanya Mas Rohman saja yang tidak menyadarinya.
"Mas."
"Eh, sayang. Mas kaget kamu tiba tiba datang."
"Aku sudah dari tadi berdiri di sini, Mas."
"Masa sih, sayang."
"Iya, sengaja saja aku pengen tahu sama siapa kamu chatingan. Habisnya kamu serius banget, Mas."
"Aku nggak ada cahtingan sama siapa siapa, sayang. Hanya membuka akun sosial media saja. Karena sudah lama tidak membukanya."
"Ya kan mana aku tahu di belakang ku kamu gimana." Mas Rohman menatapku dengan mengerutkan kening. Mungkin dia heran dengan ucapanku.
"Kalau kamu nggak percaya, kamu bawa saja ponsel aku, sayang. Biar kamu percaya, aku nggak ada main di belakang seperti yang kamu tuduhkan."
Mas Rohman berbicara santai dengan nada halus dan tidak marah sama sekali. Aku jadi merasa bersalah padanya karena sudah berbicara seperti tadi. Bahkan jika aku perhatikan cara bicaranya, dia memang benar benar bicara apa adanya. Tapi semoga saja memang tidak ada apa apa.
__ADS_1