
Eps. 53
Kami berdua mulai berjalan masuk menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota Semarang. Mas Rohman mengajakku untuk melihat lihat busana. Semua pakaian bagus, hingga aku sedikit bingung untuk memilihnya.
Namun netraku tertuju pada sebuah gamis berwarna biru dongker. Dan ukurannya juga sepertinya pas untuk ibunya mas Rohman. modelnya juga sangat berkelas. Mungkin ini cocok untuk bu Heni.
"Mas, lihat gamis itu. Sepertinya bagus dan ukurannya pas buat ibumu. Tapi aku nggak tahu ibu kamu suka atau tidak."
"Ibuku orangnya nggak pilih pilih, sayang. Mana yang pas pasti mau aja kok."
"Tapi bagus kok, mas."
"Iya, apapun yang menurut kamu bagus pasti ibu suka."
"Ehm, kalau untuk bapak mungkin batik ini cocok mas. Warnanya ada corak biru dongkernya. Hampir senada sama warna gamis ibu."
"Iya, ini juga bagus kok."
"Maaf mas, kalau untuk Mirna aku tidak tahu seleranya seperti apa."
"Kalau aku perhatikan, Mirna suka pakai yang simple. Dia tidak pernah pakai rok atau gamis. Mungkin kurang suka."
"Kalau begitu coba tunik sama batik ini, mas. Mana tahu dia suka. Warnanya juga netral kok."
"Iya sayang, coba dulu aja. Misalkan nanti nggak suka biar dia beli sendiri."
"Nah, itu boleh juga."
"Kamu nggak belanja sekalian buat keluargamu, sayang?"
"Eh, enggak mas. Besok saja aku belanja sendiri kalau sudah pulang sekalian ajak ibu. Biar ibu pilih sendiri mana yang disuka."
"Kalau begitu nanti aku kasih uanganya buat kamu belanja."
"Ja.. jangan mas, aku masih ada uang."
"Sudah sayang, kamu nurut saja. Aku sudah pernah bilang, jangan pernah menolak pemberian dariku."
"I.. iya mas. Aku hanya belum pantas saja terima uang dari kamu. Aku belum ada hak, karena belum jadi istrimu."
"Sudahlah sayang, aku nggak mau dengar kamu bicara seperti itu lagi."
"I.. iya mas." Aku menunduk dan mengikuti apa kata mas Rohman.
"Apa ada yang mau dibeli lagi, mas?"
"Sepertinya sudah tidak ada lagi, sayang. Kita ke kasir dulu bayar ini ya. Lalu kita cari makan dulu."
__ADS_1
"Iya, mas."
Setelah semua belanjaan terbayar, kami berdua kembali berjalan jalan mengelilingi pusat perbelanjaan. Mana tahu aku menemukan barang yang lucu.
Langkahku terhenti di toko hijab. Seketika teringat akan seseorang. Saat pertama kali aku bertemu Rendy, di sinilah tempatnya. Di mana aku menginginkan sebuah hijab yang bagus, namun kedahuluan Rendy yang mengambilnya.
'Astaga, kenapa aku jadi teringat Rendy lagi. Kenapa aku semakin sulit untuk melupakannya.'
"Sayang, kamu kenapa bengong di sini? Apa kamu mau beli hijab?"
"Ahh, apa mas?"
"Kamu kenapa sih, sayang?"
"A..aku tidak kenapa kenapa, mas."
"Aku tidak suka kamu masih memikirkan orang lain. Ingat, ada aku di sini."
"I..iya, mas. Aku minta maaf."
"Ya sudah, ayo jalan lagi. Kalau ada yang ingin dibeli, kamu tinggal bipang saja. Tidak perlu sungkan."
"Iya mas, aku mengerti."
Aku dan mas Rohman kembali berjalan beriringan. Sesekali kita bergandengan tangan. Saat aku melewati pusat tas dan sepatu, aku menghentikan langkah. Netraku tertuju pada sebuah sepatu yang sangat indah.
Aku ragu ragu untuk mengambilnya. Aku memutuskan untuk mengembalikannya. Meskipun sebenarnya aku menginginkannya. Namun sepertinya mas Rohman bisa membaca fikiranku.
"Kenapa tidak jadi, sayang?"
"Ehm, anu mas. Sepertinya kurang cocok jika aku yang pakai."
"Siapa bilang? Aku lihat bagus kok, anggun kalau kam yang pakai."
"Kita cari yang lain saja, mas."
"Sudahlah sayang, ambil saja. Aku tidak suka jika kamu nggak bisa dibilangin."
"I..iya, mas." Aku kembali mengambil sepetu tersebut. Lalu berjalan menuju kasir guna membayarnya. Namun saat melewati pusat tas, lagi lagi netraku tertuju pada satu buah tas yang sangat menarik.
Aku berhenti dan mengambilnya. Aku mencobanya dan melihat di kaca. Teenyata sangat cocok dan warnanya pun juga netral. Dan lagi lagi harga yang membuat aku ragu.
Kali ini harga tasnya lima ratus ribu. Tak heran sih jika mahal. Secara bahan, kualitas, dan modelnya sangat oke.
"Kamu suka, sayang?"
"Ini mahal, mas?"
__ADS_1
"Sudahlah, jangan memikirkan mahal atau murah. Selama ada aku, jika kamu ingin sesuatu bicaralah sayang. Sudah aku bilang jang segan."
"Tapi mas, ini lima ratus ribu. Aku tidak pernah membeli barang semahal ini."
"Ambilah, sayang."
"Aku takut uangmu habis."
"Selama kamu bahagia, aku tidak masalah. Uang bisa dicari, sayang. Ambilah, kita bayar di kasir."
"Iya mas, makasih." Mas Rohman mengusap kepalaku dan tersenyum. Senyum manus dengan lesung pipi membuatku bahagia. Sudah lama juga aku merindukan senyum itu.
Setelah semua terbayarkan, kami kembali berjalan. Walaupun sedikit lelah, tapi aku merasakan bahagia sekali. Bisa berjalan bersama mas Rohman di pusat perbelanjaan.
Kami memutuskan untuk menyudahi berbelanja dan memutuskan untuk keluar gedung. Kebetulan perutku juga sudah mulai lapar. Aku tidak mau telat makan karena bisa bisa aku muntah.
Saat kami berdua berjalan menuju parkiran, seseorang memanggil mas Rohman. Seorang wanita dengan perawakan semok dan rambut berwarna coklat menghampirinya. Kulitnya putih, dan tergolong cantik. Jika aku perhatikan, perawakannya hampir mirip dengan Chika.
'Astagfirullah, kenapa aku menyebut nama orang yang sudah meninggal. Maaf Chika, aku tidak sengaja.'
"Mas, apa kabar?" Sapa wanita ity sembari menjabat tangan mas Rohman.
"Aku baik, kamu dan kelyargamu bagaimana?"
"Alhamdulillah semuanya baik."
"Sukurlah kalau begitu. Kamu dari mana, Vin?"
"Aku mau ketemu teman, mas. Ada janji sama teman temanku. Kamu sendiri dari mana?"
Mas Rohman mengobrol dengan wanita itu dengan akrab. Hingga dia lupa kalau ada aku di sini. Jika aku fikir fikir, sepertinya mereka pernah ada hubungan kusuu dulu. Tapi aku tidak tahu apa hubungan mereka. Aku memilih diam dan menunggu mereka mengobrol tanpa mengganggunya. Seketika mas Rohman melihatku, dan sepertinya dia baru sadar jika aku menunggunya.
"Oh iya Vin, kenalin ini Lissa. Dia calon istriku. Satu minggu lagi kami akan menikah."
"Oh, jadi mas Rohman menikah."
"Iya Vin, aku minta doanya."
"Oh iya sayang, kenalin ini Vina. Ehm, dia mantan istriku."
'Deg, kenapa dada ini rasanya sakit sekali saat dengar mas Rohman menyebut dia mantan istrinya. Namun Aku tetap berusaha tersenyum dan menyalami wanita itu.'
"Hallo mbak, aku Lissa."
"Jangan panggil mbak, Vinna saja biar akrab."Sembari berjabat tangan dan tersenyum ramah padaku. Sepertinya dia wanuta baik jika dilihat dari bicaranya. Semoga saja dugaanku tidak meleset.
"Jangan lupa datang ya di acara pernikahan kami nanti, Vin." Sahut mas Rohman.
__ADS_1