
Eps. 43
'Astaga, kenapa aku jadi memikirkan soal Rendy lagi. Ya Tuhan, aku sangat berdosa sekali. Maafkan aku Rohman, fikiranku sangat kacau. Aku tidak ada maksud apa apa. Hanya tiba tiba saja dia muncul di fikiranku.
Tiba tiba saja perutku terasa mual. Aku bergegas menuju toilet. Hingga akhirnya aku mengeluarkan isi di dalam perutku. Rasanya sangat lega tapi badan jadi sedikit lemas. Setelah itu aku kembali ke meja makan.
"Maaf bu, tadi perutku sedikut mual. Jadi aku ke toilet tanpa pamit."
"Tidak apa apa, nak. Tapi kok wajah kamu jadi pucat. Apa kamu sedang sakit?"
"Hah, masak sih bu? Tapi aku sedang tidak sakit. Aku baik baik saja kok, bu."
"Hmm, begitu ya. Ya sudah, lanjutkan makan dulu nak."
"Maaf bu, tiba tiba aku tidak nafsu makan. Rasanya sudah kenyang."
"Kamu yakin baik baik saja, nak?"
"Iya bu. Oh ya, ibu mau cerita apa tadi?"
"Oh, soal Rendy. Apa kamu bisa bantu ibu untuk mengembalikan ingatan Rendy?"
Saat aku memegang gelas dan hendak minum, tiba tiba aku menjatuhkannya. Hingga gelas itu pecah sehingga mengotori lantai. Aku shock mendengar ucapan bu Rita.
Salah seorang pelayan menghampiriku. Aku segera meminta maaf karena sudah memecahkan gelas. Aku juga berkata jika akan menggati rugi gelas yang sudah aku pecahkan.
"Ada apa mbak?" (Ucap seorang pelayan)
"Maaf mas, saya tidak sengaja menjatuhkan gelas hingga pecah. Biar nanti saya ganti rugi, mas."
"Sudah nak, nanti biar ibu yang urus kamu duduk saja. Tenangkan fikiran kamu. Ibu tahu kamu sedang panik."
"Tidak apa apa, mbak. Permisi biar saya bersihkan dulu, mbak."
"I..iya, mas. Silahkan."
Aku kembali duduk dan pecahan gelas sudah dibersihkan. Aku sangat malu dengan kejadian ini. Sungguh begitu cerobohnya diriku.
"Kamu baik baik saja, nak?"
"Hah, mmm.. aku baik baik saja, bu."
"Ya sudah, boleh ibu bicara lagi?"
"Iya bu, silahkan."
__ADS_1
"Begini nak, ibu pernah dengar Rendy menyebut namamu. Ibu ingin sekali minta tolong sama kamu, tolong kamu temui dia. Siapa tahu dengan bertemu, ingatan Rendy sedikit demi sedikit akan kembali. Dan kamu pasti tahukan maksud ibu, jika ingatan Rendy kembali kamu bisa bersatu lagi. Kamu bisa segera menikah sama Rendy. Ibu tahu kamu masih mencintai Rendy."
"Maaf, saya melarang Lisa untuk bertemu Rendy." Terdengar suara seorang laki laki berbicara tepat di belakangku. Suaranya sangat tidak asing dan akupun seperti mengenalinya.
'Deg. Jangan jangan.
Aku menoleh ke belakang. Dan ternyata dugaanku benar, itu adalah Rohman. Aku segera berdiri dan menyapanya. Aku sedikit takut dan gugup, karena dari raut wajahnya dia sudah menunjukkan tidak suka.
"Eh, mas Rohman. Duduk dulu, mas."
Bu Rita berdiri dan menatap Rohman dengan tatapan sinis. Mungkin dia terheran, dan belum tahu tentang Rohman. Tampak sekali bu Rita tidak menyukai kehadiran Rohman dari raut wajahnya.
"Maaf kamu siapa? Saya sedang ada urusan sama Lissa. Tolong jangan ikut campur."
"Maaf bu, urusan Lissa sudah jadi urusan saya. Karena Lissa calon istri saya dan sebentar lagi kami akan menikah."
"APA?" Terlihat raut wajah bu Rita tampak shock.
"Maaf bu, mas ARohman ini calon suamiku. Dan memang benar sebentar lagi kami akan segera menikah."
"Ini pasti tidak mungkin, nak. Apa kamu sudah menyerah? Apa kamu sudah lupa sama Rendy?"
"Bukan begitu bu, justru Rendy yang melupakan aku bu. Dia sama sekali tidak ingat aku. Rendy hanya ingat sama perempuan itu."
"Tidak, nak. Rendy itu hanya sedang sakit. Dia pasti akan sembuh. Ibu tahu kalian berdua saling mencintai. Ibu mohon, nak tolong bantu ibu."
"Maaf bu, biarkan Lissa pulang dan istirahat. Tolong jangan buat Lissa banyak fikiran."
Tiba tiba saja aku merasa mual dan pusing. Dan tubuhkupun mulai sangat lemas sekali. Ya ini memang sangat wajar untuk bawaan hamil muda. Aku menutup mulut, karena merasa akan mengeluarkan sesuatu.
'Hoek..
"Mas aku tidak tahan, tolong tuntun aku. Rasanya lemas sekali."
"Iya, sayang. Lebih baik kamu aku gendong saja."
"Ibu, maaf aku harus permisi. Karena aku benar benar tidak kuat."
Saat kami akan melangkah pergi, bu Rita mencegahnya. Dia melontarkan satu pertanyaan yang enggan aku jawab. Karena aku takut masalah ini tambah panjang.
"Tunggu, nak. Dari ciri ciri kamu barusan, kamu mirip sepeti orang hamil. Apa kamu benar benar sedang hamil?"
Aku dan Rohman saling bertatapan. Bingung akan menjawab apa. Di satu sisi tubuhku benar benar tidak mampu lagi untuk berdiri.
"Maaf bu, aku harus pulang dan istirahat dulu. Lain waktu kita bertemu lagi."
__ADS_1
Namun lagi lagi bu Rita menghalangi langkah kami. Dia tidak mengijinkan aku pergi sebelum menjawab pertanyaanya.
"Bu, a.. aku..."
"Iya, bu. Lissa memang sedang hamil. Jadi tolong biarkan kami pergi."
"Hamil? Kamu hamil anak siapa, nak?"
"Mmm.. aku hamil..."
"Lissa hamil anak saya, bu." Rohman menjawab dengan tenang. Sedangkan aku merasa gugup.
"Nak, apa benar itu? Kamu tidak bohong, kan?
"I..iya bu, benar. Mmm.. aku hamil anak dari mas Rohman."
Bu Rita masih menatapku dengan tatapan penuh arti. Dia seakan tidak percaya jika anak yang aku kandung adalah anak Rohman.
"Bu, ijinkan aku pulang dulu. Lain kali pasti kita bisa bertemu lagi."
"Biar ibu antar saja, nak."
"Maaf bu, buar aku pulang sama mas Rohman saja."
"Ya sudah, kalau begitu kamu hati hati."
"Baik bu, aku permisi."
Akhirnya bu Rita mengijinkan aku untuk pergi. Rasa takut tentu masih menyelimuti diri ini. Aku yakin bu Rita pasti tidak percaya jika ini adalah anak Rohman. Karena memang aku pernah tidur sama Rendy. Kemungkinan besar ini memang anak Rendy.
Rohman menuntunku menuju sebuah mobil sedan berwarna hitam. Lalu dia membukakan pintu dan menyuruhku untuk masuk. Dalam hatiku berkata, apa ini mobil Rohman?'
Rohman masuk dan duduk di sampingku. Lalu dia memasangkan sabuk pengaman untukku. Ku perhatikan wajahnya tampak datar tanpa ekspresi. Mungkinkah dia sedang marah padaku.
Aku memutuskan untuk diam tidak akan berbicara jika dia tidak memulai bicara dulu. Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang. Lalu aku menyibukkan diri dengan bermain ponsel.
Tampak Rohman sesekali menoleh ke arahku. Namun aku acuh dan pura pura tidak tahu. Lalu dia menghembusakan nafas dengan kasar. Dan akhirnya mulai berbicara.
"Aku tidak suka kamu masih berhubungan dengan Rendy."
"Emang kenapa?"
"Kamu itu calon istriku. Kamu itu cuma milikku."
"Emang aku salah ya jika membantu bu Rita?"
__ADS_1
"Membantu kamu bilang? Membantu dengan bertemu Rendy?" Nadanya terdengar cukup kasar dan tatapannya sangat tajam.
"Sudahlah, aku malas berdebat." Aku memalingkan wajah ke kaca samping untuk mengalihkan pandangan.