Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 42


"Rendy? Maaf bu, ada apa dengan Rendy?"


"Nak, sebaiknya kita bertemu dan berbicara langsung. Tidak enak berbicara lewat telepon. Lagipula, ibu juga kangen sama kamu, sayang."


"Oh, begitu."


"Apa ibu bisa bertemu, nak?"


"Mmm, i.. iya bu tentu bisa. Kapan bu, dan bertemu di mana?"


"Besok ibu kabari lagi. Kemungkinan kita bertemu sore hari saja, nak."


"Iya, bu. Saya usahakan."


"Ya sudah, kamu istirhata saja dulu. Ini sudah malam."


"Iya, bu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sambungan telepon ditutup secara sepihak. Dalam fikiranku bertanya tanya. Ada apa dengan Rendy. Kenapa dia kembali muncul saat aku akan bahagia bersama Arman.


'Kembali lagi dalam fikiranku bertanya tanya. Apakah keluarga Rendy tahu jika aku sedang mengandung. Aku hanya berharap mereka tidak tahu tentang kehamilan ini. Tanpa pikir panjang aku langsung menghubungi Rere. Sahabat terbaikku, sudah lumayan lama juga aku tidak menghubunginya. Aku juga sangat merindukan Rere dan Andry.


[Hallo Re, kamu belum tidurkah?]


[Hallo say, belum. Ada apa, nih malem malem telepon?]


[Kamu sama Andry sehat kan? Sudah lumayan lama aku tidak bertemu kalian. Aku kangen, nih.]


[Sama say, aku juga kangen. Gimana kamu, apa sudah bener bener sehat?]


[Alhamdulillah aku sudah sehat.]


[Sukurlah kalau begitu, oh ya saya apa ada yang mau dibicarakan? Sepertinya ada sesuatu yang penting.]


[Iya say, aku ingin menanyakan sesuatu.]


[Ya udah tanya aja, pasti aku jawab kalau aku tahu.]


[Ehm, say waktu ibunya Rendy menunggu aku saat masih koma di Rumah Sakit apa dia tahu jika aku sedang hamil?]


[Baik akan aku ceritakan say. Sebelumnya aku minta maaf jika aku menyebut nama Jimmy.]

__ADS_1


[Iya, aku tidak apa apa. Berceritalah, akan aku dengarkan.]


[Saat Jimmy meninggal dan kamu dalam keadaan shock lalu pingsan dan berujung koma, kebetulan Rendy dan ibunya lewat. Entah sedang apa mereka di situ. Bisa jadi sedang cek up kesehatan Rendy. Lalu ibunya Rendy sempat mendekat dan aku lihat wajahnya sedikit panik. Lalu dia bertanya padaku. Dan aku jawab saja jika kamu pingsan.]


[Lalu bagaimana dengan Rendy, say?]


[Ya, Rendy hanya berdiri melihatmu. Tapi tiba tiba dia memegang kepalanya dan mengeluh sakit. Setelah itu Rendy dan ibunya pergi. Tapi satu hari kemudian ibunya Rendy menjengukmu. Dia datang seorang diri. Kebetulan ada aku dan Andry. Dia bertanya keadaan kamu, dan aku jawab saja kamu koma. Tapi aku tidak bilang jika kamu sedang hamil.]


[Ohh, baiklah say. Aku sangat berterimakasih pada kalian.]


[Iya, sama sama.Ngomong ngomong ada apa kok tiba tiba tany soal itu.]


[Barusan ibunya Rendy telepon, katanya ada sesuatu yang mau dibicarakan. Dan ini juga menyangkut soal Rendy.]


[Ya sudah kamu temui aja dulu, nanti kalau ada apa apa kita siap bantu kok. Kamu tenang saja.]


[Iya say, kapa kita bisa bertemu. Aku pengen jalan bareng kalian. Kita makan bareng, aku bener bener kangen.]


[Nanti aku bilang Andry dulu, secepatnya kita agendakan.]


[Oke, aku tunggu kabar baiknya ya.]


[Siap. Ya sudah kamu istirahat sana. Jangan sering begadang. kasian keponakan aku nanti.]


[Iya iya, aku tutup ya say. Terimakasih buat semuanya.]


Sambungan telepon sudah terputus. Aku tidak ingin terlalu banyak fikiran. Dan akupun memutuskan untuk istirahat. Untuk menyambut hari esok dan seterusnya.


**********


Siang ini aku sudah mendapat kabar dari bu Rita. Jika dia mengajakku untuk bertemu di sebuah Restauran. Aku mengiyakan ajakkannya karena kemarin aku sudah berjanji.


Sebelumnya aku meminta ijin dulu pada Rohman. Awalnya dia tidak mengijinkan, karena takut akan terjadi sesuatu. Namun aku berusaha meyakinkan. Dan akhirnya aku diperbolehkan.


Jam setengah empat aku sudah bersiap siap. Sambil menunggu kabar dari bu Rita, aku memesan ojol. Karena jika naik angkutan harus berjalan dulu sampai jalan raya.


Tak berselang lama bu Rita sudah memberi kabar bahwa dirinya sudah otw. Dan tak butuh lama ojol yang aku pesan juga sudah sampai di depan kost. Aku segera memakai helm dan kendaraan mulai melaju dengan kecepatan sedang.


Lima belas menit kemudian, aku telah sampai di Restaurant tempat kami bertemu. Kubayar ongkosnya lalu aku bergegas masuk.


Ku perhatikan sekeliling belum terlihat bu Rita. Ku buka ponsel juga belum ada kabar darinya. Mungkin dia sedang dalam perjalanan. Namun saat aku hendak melangkah, terdengar suara seseorang memanggilku.


"Lisa..... Lisa...."


Aku menoleh ke belakang, ternyata bu Rita baru turun dari mobil. Dia melambaikan tangan sembari tersenyum padaku.

__ADS_1


Aku bergegas menghampirinya. Ku cium punggung tangan bu Rita sebagai bakti aku menghormati dia seperti ibuku sendiri. Diapun memelukku dengan penuh kasih sayang.


"Akhirnya ibu bisa ketemu kamu, nak. Ibu kangen banget sama kamu."


"Iya bu, alhamdulillah."


"Ya sudah, ayo masuk. Kita ngobrol sambil makan saja ya, nak."


"Baik bu."


Bu Rita menggenggam erat tanganku. Tampak dia begitu menyayangi aku seperti anaknya sendiri. Betapa bahagianya diriku, jika memiliki mertua seperti dirinya.


"Kamu mau pesan apa, sayang?"


"Apa saja, bu."


"Ya sudah biar ibu pesankan spesial buat kamu ya, nak."


Bu Rita memanggil pelayan. Dan dia memesan beberapa makanan. Ku perhatikan wajah bu Rita itu memang cantik dan kalem. Dia begitu baik sekali padaku. Sayang sekali aku tidak jadi menantunya.


'Deg.


'Astagfirullah, apa yang aku fikirkan. Sungguh ini sangat di luar kendali. Kenapa aku selalu mengingat yang sudah sudah. Maafkan aku mas Rohman, aku tidak ada maksud apapun.


"Oh iya bu, katanya kemarin ada sesuatu yang mau dibicarakan mengenai Rendy. Maaf bu, Rendy kenapa? Dia baik baik saja, kan?"


"Ibu bingung harus bercerita dari mana."


"Bu, cerita saja. Saya pasti dengarkan." Ku genggam erat tangan bu Rita.


"Nak, sudah beberapa hari ini Rendy mengeluhkan sakit kepala. Lalu dia juga pernah beberapa kali menyebut nama kamu."


"Iya kah, bu?"


"Iya nak. Ibu sempat membawa ke dokter. Lalu dokter bilang kemungkinan ingatan Rendy sedikit demi sedikit akan kembali."


"Alhmadulillah bu, jika Rendy secepatnya akan sembuh aku ikut bahagia."


"Tapi, nak. Apa kamu bisa bantu ibu?"


"Bantu apa, bu? Jika aku sanggup pasti akan aku bantu."


Saat bu Rita akan melanjutkan pembicaraan, makanan yang kami pesan datang. Dan bu Rita menyuruhku untuk makan terlebih dahulu. pembicaraan akan dilanjut nanti selesai makan.


Makanan yang dipesan sangat amat mewah menurut aku. Ya, aku akui keluarga Rendy memang tergolong mampu. Teringat dulu ketika aku dibawa ke rumahnya. Tinggal di kawasan perumahan elit.

__ADS_1


Ya, itu semua jelas membuat aku minder. Karena aku hanya wanita kelas bawah yang bekerja sebagai waiters di sebuah resto. Namun aku salut pada Rendy dan keluarganya. Karena mereka tidak memandang seseorang dari segi materi. Mereka semua baik padaku.


Teringat nada bicara Rendy yang sangat lembut dan kalem. Senyum manis dan perawakan tubuh yang tinggi. Semua tentang Rendy masih aku ingat.


__ADS_2