
Eps. 44
Sepanjang perjalanan kami saling diam. Aku tidak peduli jika Rohman marah padaku. Karena aku memang merasa tidak bersalah.
Tak berselang lama akhirnya mobil Rohman sampai di depan kost. Aku melepaskan sabuk pengaman lalu membuka pintu dan hendak keluar. Namun Rohman menahanku, dan menatapku tajam.
Entah mengapa nyaliku mendadak menciut saat melihat tatapan Rohman. Aku sedikit takut, karena dari raut wajahnya dia nampak sedang marah.
"Aku perlu bicara sama kamu."
Aku berusaha tenang menjawab ucapannya. Aku tidak mau terpancing emosi hingga terjadi keributan.
"Mau bicara apa?"
"Bisa kita bicara di dalam saja?"
"Ya sudah, ayo masuk."
Aku berjalan menuju ke kamar kost dan diikuti oleh Rohman. Kamipun masuk dan duduk berdampingan. Sebenarnya aku sedikit tegang, tapi berusaha tetap tenang.
"Kamu mau bicara apa, mas?"
"Kamu tahukan kita sebentar lagi akan menikah?"
Aku menghembuskan nafas dengan kasar. Aku diam sejenak, menunduk dan mencoba tenang agar tidak terbawa emosi.
"Iya mas, aku tahu itu."
"Lalu, kenapa kamu berhubungan dengan keluarga Rendy?" Nada bicara Rohman sedikit kasar. Dapat kulihat jika dia sedang marah. Terlihat dari raut wajahnya dan tatapan matanya.
"Mas, aku hanya bertemu dengan ibunya saja. Aku nggak ketemu sama Rendy."
"Aku dengar sendiri ibunya menyuruhmu untuk menemui Rendy. Aku dengar semuanya."
"Kamu kenapa harus marah, mas? Oke ibunya menyuruhku untuk menemui Rendy Tapi apakah aku mengiyakan suruhan bu Rita?"
"Mungkin jika aku tidak datang kamu pasti akan menurutinya."
"Sudah mas, aku malas berdebat. Aku tidak mau terpancing emosi. Aku sedang hamil."
Rohman mengusap rambutnya dengan kasar. Dia terdiam dan menunduk. Akupun juga memalingkan wajah. Aku tidak mau masalah ini semakin panjang.
"Maaf sayang, mungkin aku terlalu cemburu. Sekali lagi maafkan aku."
"Sudahlah mas, tidak perlu diperpanjang lagi."
Rohman membelai rambutku dan mengecup keningku. Wajah yang tadinya terlihat marah, kini berubah kembali kalem. Senyum manis dengan lesung pipi menghiasi wajahnya.
"Besok jangan lupa sayang, kamu dandan yang cantik."
__ADS_1
"Sebenarnya aku belum siap,mas. Tapi jika ditunda terus aku takut perutku semakin membesar. Ini sudah masuk dua bulan."
"Aku juga berfikir seperti itu. Sudah jangan memikirkan yang lain. Semua akan baik baik saja."
"Iya, mas. Kamu nggak pulang, sudah malam."
"Kamu ngusir aku."
"Ehh, enggak gitu mas. Maksud aku .."
"Iya sayang aku ngerti. Ya sudah, aku pamit ya. Kamu jaga diri, jangan sering sering begadang."
"Iya mas, kamu juga hati hati di jalan."
*********
Hari adalah hari Minggu. Dan tepat hari ini aku harus menepati janji dengan Rohman. Aku diminta datang ke rumahnya dan bertemu dengan keluarga Rohman.
Aku berusaha merias diri sebisa mungkin. Dengan mengenakan gamis warna gold dengan hijab senada. Tak lupa ku oleskan makeup tipis. Agar wajar terlihat tidak pucat.
Saat aku tengah berdiri di depan cermin, sebuah panggilan masuk. Tertuliskan nama Rohman di layar ponsel. Aku segera mengangkatnya.
[Iya, haloo mas]
[Kamu sudah siap? Ini aku sudah mau jalan.]
[Iya mas, aku sudah siap kok.]
[Iya, hati hati.]
Sambungan telepon terputus. Rasanya sangat tidak tenang sekali. Ada rasa malu dan takut jika nanti aku bertemu keluarga Rohman.
Aku terfikirkan akan sesuatu. Tidak mungkin aku berkunjung tanpa membawa sesuatu. Tapi aku bingung, apa yang mau aku bawa nanti. Sebaiknya aku bertanya sama Rohman jika sudah sampai.
Sembari menunggu Rohman aku memainkan ponsel. Tiba tiba ponselku bergetar. Sebuah panggilan masuk dengan nomor tidak dikenal. Aku membiarkannya hingga sambungan terputus dengan sendirinya.
Aku buka whatsap, tidak ada foto profile. Aku takut akan seseorang meneror aku lagi. Tanpa fikir panjang aku menekan tombol blokir untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.
Suara seseorang mengetuk pintu. Aku berfikir jika itu adalah Rohman. Aku bergegas membukanya. Ternyata benar, Rohman yang datang. Senyum manis dengan lesung pipi selalu menghiasi wajahnya.
"Mas, masuk dulu."
"Langsung berangkat saja sayang, nanti takutnya kelamaan."
"Ya sudah, tunggu aku mau ambil tas sebentar."
Ku kunci pintu kamar kost lalu aku berjalan berdampingan dengan Rohrman. Dia menggunakan mobil yang semalam dipakai saat kami berdua keluar bersama. Rohman membukakan pintu lalu menyuruhku untuk segera masuk.
"Nggak usah berlebihan mas, aku bisa buka sendiri kok."
__ADS_1
"Spesial buat kamu, sayang."
Kami berdua saling tersenyum. Lalu aku masuj ke dalam mobil. Disusul Rohman yang kemudian masuk dan duduk di kursi kemudi. Rohman memasangkan sabuk pengaman untukku.
Seketika wajah kami berdekatan. Jantungku berdetak lebih kencang. Mata kami beradu pandang. Wajah Rohman semakin mendekat seolah memberikan suatu isyarat.
Aku memejamkan mata. Dan sebuah kecupan mendarat di bibirku. Begitu lembut dan penuh perasaan.
"Kamu tambah cantik saja, sayang. Aku tambah mencintaimu."
'Deg.
Kata kata itu mengingatkan aku pada seseorang. Lagi lagi fikiranku terganggu. Nama Rendy muncul lagi di benakku.
"Sayang, kenapa kamu malah melamun?"
"Eh, anu mas. A aku sedang memikirkan sesuatu."
"Memikirkan apa? Jangan bilang jika kamu sedang memikirkan laki laki lain."
Astaga, kenapa Rohman selalu saja bisa membaca fikiranku. Aku sedikit gugup dan takut jika dia marah lagi. Mengingat saat dia marah, tatapan matanya begitu tajam. Sebisa mungkin aku mencari alasan agar tidak menimbulkan masalah.
"Ehm, mas aku kan mau bertemu orang tua kamu. Bagusnya dibawakan apa? Sepertinya sangat tidak mungkin jika aku tidak membawa apa apa."
"Hmm, kamu ini ada ada saja. Sudah tidak perlu difikirkan, nanti jadi beban. Biar aku yang atur. Nanti kita mampir dulu ke toko kue.
"Ya sudah mas, aku ngikut kamu saja."
"Kita jalan sekarang, ya sayang."
"Baik, mas."
Rohman mulai melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Aku mengalihkan pandangan ke samping sambil memandang sepanjang jalan kota Semarang.
Rohman menepikan mobilnya di sebuah toko kue. Aku dan dia segera turun dari mobil lalu masuk ke dalam toko kue.
Rohman memesan tiga kotak kue brownis dengan aneka toping. Sementara netraku melihat sebuah cake yang sepertinya sangat enak. Bentuknya juga menarik, aku jadi ingin mencicipinya.
"Ehm, mas aku mau kue yang ini. Sepertinya ini sangat enak."
"Iya aku beliikan, sayang."
Aku tersenyum padanya dan mengucapkan terimakasih. Baru kali ini aku berani meminta pada Rohman. Ya, walaupun ini hanya sebuah kue.
"Mas, makasih ya."
"Iya, sayang. Aku malah seneng kamu seperti ini. Tidak perlu sungkan lagi, ya."
"Iya, insyaAllah mas."
__ADS_1
Kami sudah masuk ke mobil dan Rohman mulai melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke rumahnya. Karena jaraknya juga tidak terlalu jauh jika menggunakan kendaraan.
Mobil sudah terparkir di teras rumah sederhana dengan halaman yang lumayan luas. Aku dan Rohman turun dan berjalan hendak masuk ke rumah. Jantungku berdetak tak karuan dan sangat gugup untuk bertemu keluarga Rohman.