Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 36


Kami saling melepas rindu hingga tak terasa tangis harupun pecah. Rere memberikan aku semangat agar aku tetap kuat dan demi bayi yang ada di dalam kandungan.


"Kamu yang sabar ya say, aku yakin kamu pasti kuat."


"Iya, insyaAllah. Aku terimakasih sekali sama kamu, dan Andry. Karena kata suster kalian rela bergantian nungguin aku di sini."


"Sudah tidak perlu difikirkan, yang terpenting sekarang kamu sudah sadar. Ingat pesanku ya, jangan banyak fikiran."


"Ehm, tapi kata suster ada ibu ibu perawakan tinggi cantik. Dia juga nungguin aku selama koma. Kamu tahu nggak kira kira siapa?"


Rere sempat diam sejenak. Seakan ingin mengatakan sesuatu. Namun dirinya sempat ragu. Tapi akhirnya dia memberi tahuku siapa wanita paruh baya yang aku maksud itu.


"Ehm, kamu beneran mau tahu siapa dia?"


"Iya, aku penasaran aja sebenarnya siapa."


"Dia beberapa kali datang kemari say. Ibunya Rendy, jagain kamu. Sepertinya dia sayang banget sama kamu. Tapi sayang takdir berkata lain."


"Sudahlah say, tidak perlu diingat lagi. Yang lalu biar saja berlalu."


Dari pembicaraan kami berdua sampai melupakan jika ada Rohman. Kami merasa tidak enak. Karena sedari tadi asik mengobrol.


Rohmanpun hanya diam sambil tersenyum memperhatikan kami berdua. Lalu dia sibuk dengan ponselnya.


"Oh iya say, Andry kemana. Kenapa dia tidak kemari menengokku."


"Oh tadi dia buru buru pulang karena kurang enak badan. Dia titip salam buat kamu kok."


"Oh gitu, iya deh nggak apa apa." Aku tersenyum lega karena sahabatku ternyata perhatian sekali denganku.


"Oh iya, Rohman kamu sudah lama di sini?"


"Iya, lumayan."


"Ehm, Rere ada sesuatu yang mau aku bicarakan. Ini soal mas Rohman."


"Iya aku sudah tahu. Aku tahu semuanya. Bahkan soal Rohman dan Chika aku tahu say."


"Apa? Kamu tahu semuanya?"


"Iya, aku dan Andry sudah tahu semua. Jika kalian memang berjodoh aku hanya bisa berdoa yang terbaik buat kalian."

__ADS_1


"Amin, makasih say."


Kami berdua kembali berpelukan. Tak terasa air mata ini menetes begitu saja. Tangis haru dan bahagia yang sekarang sedang aku rasakan. Setelah mengalami kepedihan beberapa waktu yang lalu.


"Oh iya mas, katanya kamu mau menceritakan tentang hubungan kamu sama Chika?"


"Nanti jika kamu benar benar sudah sehat pasti aku ceritakan."


"Apa tidak bisa sekarang saja, mas. Aku penasaran karena aku tidak mau aku dituduh yang bukan bukan."


"Sudah kamu tenang saja. Kalau kamu sudah diperbolehkan pulang, aku janji akan cerita semua."


"Ya sudah jika begitu, aku akan tunggu."


*********


Siang ini aku sudah diperbolehkan pulang. Ku kemasi barang barangku. Kebetulan ini hari Minggu, jadi aku diantar ke kost oleh Rohman. Karena dia sedang libur kerja.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke kost. Rohman menuntunku untuk masuk ke kost. Kemudian menyuruhku untuk istirahat.


Dia begitu telaten membersihkan kamarku. Karena memang cukup kotor setelah sekian lama aku tinggalkan. Sesekali dia menoleh kepadaku sembari tersenyum.


Entah mengapa jika aku melihat senyumnya selalu saja berbunga bunga hatiku. Senyum manis dengan lesung pipinya. Entah mengapa rasanya adem sekali jika melihat senyumnya.


Begitupun dengan aku, karena mengantuk aku juga memejamkan mata. Hingga tak terasa hari sudah gelap. Setelah beberapa jam kami terlelap, akhirnya kami terbangun.


Ku ambil ponsel dan ku perhatikan layar depan. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Jika dipikir pikir lumayan lama juga kami tertidur.


Rohman bangkit dari tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi. Dia tampak membasuh wajah dan sedikit membasahi rambutnya.


Melihat Rohman yang baru saja keluar dari kamar mandi, aku bangkit dari tempat tidurku. Bergegas aku menuju kamar mandi untuk buang air kecil dan membasuh wajah.


Rohman dengan sigap menuntunku. Namun aku menolaknya, karena badan sudah merasa enakan.


"Non, aku bantu."


"Nggak usah, mas. Aku udah sehat kok."


"Nggak apa apa, non. Nanti aku takutnya kamu kenapa kenapa. Biar aku bantu saja."


"Nggak usah, mas. Aku baik baik saja, bisa jalan sendiri. Aku beneran udah enakan, serius. Kamu nggak usah khawatir."


"Ehm, ya sudah kamu hati hati jalannya."

__ADS_1


"Iya, mas."


Ku basuh wajah dan sedikit kubasahi rambut ini. Rasanya begitu segar sekali meski hari sudah gelap. Fikiranku kembali tenang dan kesehatanku mulai membaik. Walaupun terkadang bayangan orang di masa lalu seketika melintas dalam benakku.


Aku berjalan keluar dari kamar mandi. Kudapati Arman tengah duduk di ranjang sembari sibuk dengan ponselnya. Namun sesekali dia melihat ke arahku yang sedng berjalan menghampirinya.


Aku duduk di sebelahnya. Dan Rohman merangkul pundakku tidak lupa dia tersenyum padaku. Bergetar hatiku saat aku duduk bersebelahn dengannya. Apalagi dengan senyum manisnya dengan lesung pipinya. Membuatku tersenyum dalam hati.


Suasana terasa hening karena kami saling diam. Aku bingung bagaimana memulai obrolan agar tidak terasa canggung. Namun jika terus terusan diam seperti ini aku takut akan terbawa suasana. Akhirnya ku memutuskn untuk memulai percakapan.


"Mas, apa kamu benar benar serius dengan aku?"


"Kenapa kamu bertanya soal itu lagi, non?"


"Ehm, anu mas aku hanya ingin memastikan saja. Karena kamu tahu sendiri keadaanku sekarang seperti apa."


"Sudah non, tidak ada yang perlu dibahas lagi. Semua sudah jelas, aku benar benar serius sama kamu."


"Baiklah mas, kalau begitu aku minta maaf."


"Sudahlah tidak perlu minta maaf. Oh iya, kamu mau makan apa? Ini sudah malam, kamu belum makan dari tadi siang."


"Aku malas banget makan."


"Jangan gitu, non. Kamu harus makan habis itu minum vitamin. Ingat kamu lagi hamil jangan malas makan."


"Tapi beneran mas, alu nggak nafsu makan."


"Ehm, gini aja. Aku belikan kamu cemilan ya. Mungkin biskuit atau roti biar perut kamu tidak kosong."


"Ya udah terserah kamu saja, mas."


"Kalau gitu aku ijin keluar sebentar. Kamu tunggu di sini saja, nggak usah kemana kemana."


"Hmmm, iya iya."


Rohman pamit keluar untuk membelikan aku camilan. Sementara aku kembali berada di kost sendiri hanya bertemankan sepi. Sama seperti hari hari kemarin.


Seketika terlintas dalam fikiranku tentang bayangan seseorang. Orang yang kemarin masih ada di sini. Namun tiba tiba dia pergi jauh meninggalkan aku. Dan tidak akan pernah kembali lagi.


Tak terasa air mata ini mengalir begitu saja membasahi pipiku. Mengingat akan hari bahagia yang sudah di depan mata, mendadak hilang begitu saja.


Perih luka yang aku rasakan saat ini. Namun aku tetap berusaha tegar demi calon buah hatiku. Aku harus kuat demi hari esok dan seterusnya. Aku tidak boleh rapuh dan harus tetap berjuang.

__ADS_1


__ADS_2