Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 43


"Akan aku usahakan datang."


"Terimakasih, Vin."


"Iya sama sama. Ya sudah kalau begitu aku permisi dulu, ya. Teman temanku sudah menunggu. Sampai bertemu lagi mas Rohman dan Lissa."


Mas Rohman menganggukkan kepala dan tersenyum. Begitu pula dengan aku, melambaikan tangan padanya. Entah hatiku seperti tidak baik baik saja melihat mas Rohman bertemu mantan istrinya.


Yang jadi pertanyaan, kenapa mereka berdua bercerai. Apakah aku harus bertanya pada mas Rohman. Sepertinya ini sangat tidak mungkin. Tapi nggak ada salahnya juga sih tanya. Biar aku juga tahu apa yang harus diperbaiki dalam berumah tangga nanti.


Niatku nanti jika ada waktu yang tepat, akan akan bertanya tentang Vina. Dan mengapa mereka bisa bercerai. Tapi jika nanti mas Rohman tidak mau menjawab, aku juga tidak akan mempermasalahkannya.


Kendaraan sudah melaju meninggalkan mall tempat kami berbelanja. Tak terasa ternyata aku pergi hamoir setengah hari. Cuaca yang sengat terik membuatku sedikit pusing. Ingin sekali aku merebahkan tubuh di kasur yang empuk lalu memejamkan mata.


Kendaraan masih melaju dan perjalanan masih lumayan jauh. Kali ini mas Rohman menghentikan laju kendaraannya. Dia berhenti di sebuah warung makan padang. Kebetulan juga perutku sudah terasa lapar. Jadi ini waktu yang tepat untuk mengisi perut.


Kami masuk dan duduk di kursi secara berhadapan. Seorang pelayan datang menghampiri. Aku memutuskan untuk memesan nasi dan ayam saja. Karena memang itu makanan kesukaan aku. Sedangkam mas Rohman memesan nasi rendang.


Sambil menunggu, kami berdua mengobrol tentang hal hal kecil. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya sesuatu yang selama ini aku pendam. Rasa ingin tahulu sangat tinggi. Disamping itu aku juga ingin tahu mungkin hal ini bisa dijadikan untuk pelajaran.


"Mas, aku ingin bertanya sesuatu. Mungkin pertanyaan ini sangat bersifat pribadi. Tapi jujur mas, aku ingin tahu."


"Boleh, tanya apa?"


"Tapi kalau kamu nggak mau jawab, aku tidak akan memaksa."


"Iya, sayang. Kamu mau tanya apa? Tanyalah, selagi aku mau jawab pasti aku jawab."


"Tapi mas janji jangan marah, ya."


"Aku nggak bakalan bisa marah sama kamu."


"Ya sudah, mas. Ehm, kalau boleh tahu kamu dulu sama Vina bercerai gara gara apa mas? Sebelumnya aku minta maaf, mas. Aku nggak ada maksud apa apa. Hanya saja kita dalam hitungan hari akan menikah. Alangkah baiknya kita saling terbuka. Mungkin dengan kegagalan kemarin bisa dijadikan pelajaran. Supaya nanti ke depannya bisa lebih baik lagi."


"Hmm, iya sayang aku mengerti maksud kamu."

__ADS_1


"Apakah kamu mau menjawabnya, mas? Aku tidak akan memaksa kok jika kamu keberatan."


"Sebaiknya makan dulu, sayang. Aku janji nanti sesampai di rumah pasti akan aku ceritakan. Yang penting sekarang isi dulu perutmu. Jangan sampai kelaparan."


"Ya sudah, mas."


Sebenarnya aku sedikit kecewa. Namun apalah dayaku, aku juga tidak bisa memaksa mas Rohman untuk menjawab. Jika nanti dia benar benar menepati janji untuk menjawab, aku akan merasa lega. Agar tidak ada lagi yang ditutupi antara kita berdua.


Kami berdua memutuskan untuk makan. Tidak ada obrolan sama sekali ketika makan. Kami fokus dengan piring masing masing. Aku segera menghabiskan makananku dan ingin cepat cepat pulang. Aku merasakan punggunggku sangat sakit sekali. Mungkin juga karena efek kecapekan.


Usai makan kami bergegas untuk pulang. Kendraan melaju dengan kecepatan sedang. Lima belas menit kemudian akhirnya kami sampai di rumah mas Rohman. Aku segera turun dan masuk ke rumah.


Ku ucap salam, dan salamku dijawab Mirna adiknya mas Rohman. Tak ku dapati ibu dan bapak. Sepertinya sedang tidak berada di rumah.


"Assalammualaikum."


"Waalaikumsakan." Mirna menyambutku dengan senyuman.


"Kok sepi? Bapak sama ibu ke mana, Mir?"


"Oh, aku kira ke mana. Ya sudah, ini buat kamu. Dan ini nanti tolong berikan pada ibu dan bapak , ya. Aku capek sekali pengen rebahan."


"Apa ini mbak?" Mirna penasaran dan membuka kantung plastik yang aku berioan padanya.


"Waw, bagus banget. Ini buat aku mbak, mas?"


"Iya buat kamu nanti pas acara nikahan kami, Mir."


"Tau aja seleraku. Aku suka , deh. Makasih banyak mbak, mas."


"Itu mas Rohman yang beliin, Mir. Terimakasihnya sama mas Rohman saja."


"Tapi calon istriku yang memilihkannya." Sahut mas Rohman.


"Ya pokoknya aku makasih sama mbak dan mas. Aku suka banget ini sangat bagus."


"Iya sama sama, Mir. Ya sudah, aku ke kamar dulu mau istirahat. Jangan lupa nanti berikan ini untuk ibu dan bapak."

__ADS_1


"Oke mbak, mas. Selamat istirahat."


Aku beranjak dan bergegas masuk ke dalam kamar. Ku lepas hijab dan ikat rambutku. Kepala ku agak mendingan. Mungkin ikat rambutnya kekencangan, jadi kepalaku agak pusing.


Aku merebahkan tubuhku di kasur. Dan mas Rohman pun juga merebahkan tubuhnya di sebelahku. Saat aku ingin memejamkan mata, tiba tiba mas Rohman berbicara. Ternyata dia menepati janjinya ketika makan tadi.


"Sayang, apa kamu benar benar ingin tahu alasan aku bercerai dengan Vina?"


"Tentu saja, tapi jika kamu keberatan untuk menjawabnya, aku tidak akan memaksa."


"Baiklah sayang, aku akan bercerita. Memang seharusnya kamu tahu. Dan tidak ada yang ditutupi antara kita."


"Iya, mas."


"Rumah tanggaku dulu baik baik saja. Kita sangat romantis. Dulu awal pernikahan, Vina ingin sekali hidup mandiri. Dan akhirnya kami memutuskan untuk mengontrak rumah. Seiring berjalannya waktu, rumah tanggaku yang tadinya baik baik saja jadi sering bermasalah. Kami sering cekcok karena hal sepele."


"Bukan cuma itu saja, bahkan Vina sering mengatur hidupku. Harus begini, dan jika dia ada keinginan tidak dipenuhi maka dia akan marah. Dan semakin hari aku semakin tidak tahan. Semakin hari Vina itu semakin egois."


"Hingga suatu saat terjafi cekcok yang sangat parah. Bahkan Vina berani memukul aku. Sepertinya dia sangat tidak menghargai aku."


"Maaf mas, Vina memukul kamu?"


"Iya, dia memukulku menggunakan sapu."


"Tapi apakah kamu membalasnya?"


"Mungkin aku bisa saja membalasnya. Tapi aku masih menghargai jika dia seorang wanita. Dan aku tidak membalasnya. Bahkan Vina juga tak segan segan mengusir aku dari rumah."


"Waktu kamu di usir, apakah kamu benar benar pergi?"


"Ya, aku benar benar pergi. Tapi aku tidak pulang ke rumah orang tuaku. Aku hanya tidak mau mereka ikut campur dan terbebani dengan Masalahku. Aku memutuskan untuk menyewa kamar kost."


"Apakah Vina mencari kamu selama kamu pergi, mas?"


"Sama sekali tidak. Bahkan tanpa sengaja aku memergoki dia chekout dari sebuah hotel bersama seorang laki laki. Dan itu untuk ke dua kalinya aku melihat pemandangan seperti itu. Aku juga memotrtnya untuk aku jadikan bukti. Dan tanpa fikir panjang, aku menggugat cerai dirinya."


"Apakah sampai detik ini kamu masih mencintainya, mas?" Seketika mas Rohman menoleh dan dapat ku lihat wajahnya sangat tegang. Apakah mungkin dia masih mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2