Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 64


Pagi yang cerah dengan udara yang begitu segar. Selang infus sudah dilepas. Dan aku bisa bergerak bebas. Aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan mas Rohman sedang membeli sarapan.


Aku jadi sangat merasa bersalah pada mas Rohman. Gara gara aku, dia jadi ijin tidak masuk kerja. Padahal baru saja kemarin dia berangkat karena habis cuti. Hari ini sudah ijin lagi karena menemani aku di rumah sakit.


Aku dan mas Rohman memang sengaja tidak memberi tahu keluarga. Karena tidak mau mereka panik. Lagi pula aku juga sudah merasa enakan. Kata dokter semua baik baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Usai mandi aku sudah melihat mas Rohman di kursi. Ternyata dia sudah datang dengan membawa dua bungkus bubur ayam. Salah satu makanan kesukaan aku.


"Mas, udah dari tadi?"


"Baru saja masuk, sayang. Kamu habis mandi, ya?"


"Iya, mas. Badanku lengket banget, gerah juga. Aku mandi aja. Lagian udah nggak pakai infus."


"Ehm, kalau begitu kamu makan dulu selagi buburnya masih hangat."


"Iya, mas."


*********


Siang ini aku sudah diperbolehkan pulang. Karena memang kondisi aku yang memang sudah benar benar membaik. Hanya saja harus banyak istirahat dan makan makanan bergisi.


Aku mulai membereskan barang barangku. Sedangkan mas Rohman sedang mengurus administrasi. Sambil menunggu, aku membuka ponsel yang tidak aku buka selama aku di Rumah Sakit. Mungkin saja ada pesan yang penting dan harus dibalas.


Sepuluh panggilan tidak terjawab dan beberap chat masuk melalui aplikasi whatsap. Ada nomor bu Rita dan ada juga nompr baru tidak dikenal. Aku malas sekali menanggapi pesan oleh nomor asing. Lebih baik aku abaikan saja. Begitu pula dengan pesan dari bu Rita yang tak lain adalah ibunya Rendy. Aku enggan untuk membuka apalagi membalasnya.


Aku sebenarnya sudah tidak ingin lagi berurusan dengan mereka. Namun dia selalu saja tiba tiba muncul. Mengingat kejadian kemarin sebenarnya aku sangat jengkel juga dengan perempuan itu. Jika tidak sedang hamil pasti sudah ku jambak dia. Aku acak acak mukanya biar kapok. Sebel sekali rasanya jika melihat wajahnya.


Aku yakin pasti dia akan mengulangi hal yang sama jika bertemu denganku lagi. Di depan Rendy dan bu Rita saja dia berani berbuat nekat. Apalagi jika tidak ada orang lain. Bisa tidak selamat aku.


Mas Rohman sudah selesai mengurus administrasi dan masuk ke ruangan tempat aku dirawat semalam. Wajahnya berbinar dengan senyum manis dan lesung pipi yang menghiasi wajahnya. Aku selalu dibuat terkesima memandang pesonanya.


"Kamu kenapa sayang, kok senyum senyum gitu liatin aku?"


"Hmmm, nggak ada apa apa kok mas. Hanya seneng aja hari ini udah boleh pulang. Di Rumah Sakit lama lama juga nggak enak."

__ADS_1


"Makanya kalau dibilangin jangan bandel. Gini kan jadinya."


"Hehe, maaf mas."


"Ya sudah ayo kita pulang sekarang, sayang."


"Iya, mas."


Sepanjang koridor aku berjalan dengan menggenggam erat tangan mas Rohman. Sesekali kami bercanda agar terlihat mesra. Aku sangat beruntung sekali mendapatkan suami seperti mas Rohman. Yah, walaupun status dia dulunya adalah seorang duda. Tapi aku tidak mempermasalahkannya. Selagi mas Rohman juga bisa memperlakukan aku dengan baik.


Saat asik bersenda gurau, lagi lagi aku dipertemukan dengan seseorang yang membuat fikiranku jadi semakin kacau. Niat hati ingin melupakan dia, namun lagi lagi sekarang dipertemukan kembali.


Rendy, dan bu Rita kin sudah berdiri di hadapanku dan mas Rohman. Kami menghentikan langkah serentak. Kami saling berhadapan dan saling adu pandang.


Entah mengapa aku merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan. Dadaku bergemuruh dan tubuhku bergetar hebat. Tiba tiba saja aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Aku takut akan sesuatu terjadi padaku.


Ku genggam erat tangan mas Rohman. Ku perhatikan tatapan Rendy sangat tajam. Aku merasa dia seperti menyimpan dendam padaku. Tapi aku juga tidak mengerti apa yang sedang ada dalam fikirannya. Aku lebih baik memilih diam.


Sebuah kata dilontarkan dari mulut Rendy dan itu sangat membuat aku sangat shock. Aku berharap ini adalah sebuah mimpi disiang hari. Dan aku sangat tidak mempercayai keadaan yang sekarang. Ini sangat sulit sekali untuk dimengerti.


"Lissa."


Rendy memangil namaku. Apalah aku salah dengar. Tidak mungkin dia dengan tiba tiba memanggil namaku. Sedangkan dia sedang lupa ingatan karena kecelakaan itu.


"Ka.. Kamu manggil aku?"


"Ya, aku manggil kamu?"


"Apa kamu mengenali aku?"


"Tentu aku sangat mengenali kamu, Lissa. Kamu itu calon istriku."


Bak disambar petir disiang hari. Aku seakan tidak percaya dengan apa yang diucapkan Rendy barusan. Apakah dia sudah sembuh sehingga ingat siapa aku dan siapa dia sebenarnya.


Jika memang benar begitu, ini sangat mustahil. Tidak mungkin dengan tiba tiba ingatan dia bisa kembali begitu saja. Aku snagat tidak percaya dengan ini. Pasti ini hanya sebuah mimpi saja.


Aku mencubit tanganku. Dan ternyata aku merasakan sakit. Ini bukan mimpi, dan ini benar benar nyata adanya. Orang yang tadinya sudah tidak mengenali aku, dengan tiba tiba muncul di hadapanku dan memanggil namaku.

__ADS_1


"Ibu, apa yang terjadi padanya? Kenapa dengan tiba tiba dia bisa mengenali aku, bu?"


"Rendy sudah sembuh, nak. Dia sudah mengingat semuanya."


"Ingat semuanya ibu bilang? Ibu sedang tidak bercanda, kan?"


"Buat apa ibu bercanda, nak. Kamu ingat tidak waktu kemarin ketika di Mall Rendy mengalami sakit kepala?"


"Iya bu, saya ingat."


"Itu karena ingatannya kembali. Dan semuanya Rendy sudah ingat. Itu semua berkat kamu, sayang."


"Ehm, Lissa ikut senang bu." Ku perhatikan wajah mas Rohman tampak tidak suka dengan kehadiran Rendy. Dia menyuruhku untuk segera berpamitan. Karena tidak mau berlama lama berhadapan dengan dia.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya, ibu. Saya harus pulang dan istirahat."


Rendy menghadang jalanku. Dia menghalangi aku seolah ada sesuatu yang belum terselesaikan. Aku semakin takut untuk berhadapan dengannya.


"Ada apa, mas?"


"Di mana cincin tunangan kita?"


"A..apa, mas? Cincin tunangan kita?"


"Apa kamu lupa kita pernah tunangan? Atau kamu pura pura lupa, Lissa?"


Karena kesal mas Rohman yang sedari tadi hanya diam sekarang maju ke depan. Dia sudah mulai terpancing emosi dan sedikit marah. Mas Rohman dan Rendy saling berhadapan dan beradu mata. Aku khawatir jika mereka berdua terlibat keributan di sini.


"Asal kamu tahu, Lissa sekarang sudah sah menjadi istriku. Dan kami berdua sudah menikah."


"Apa..?" Tampak Rendy sangat terkejut mendengar ucapan mas Rohman. Dia seolah tidak percaya jika aku dan mas Rohman memang benar benar sudah menikah.


"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Kalian jangan bercanda, ya."


"Maaf mas Rendy, kami memang sudah menikah."


"Tega kamu, Lis ninggalin aku begitu saja?"

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud seperti itu, mas. Hanya saja waktu itu kamu benar benar tidak mengenali aku. Dan kamu lebih memilih perempuan itu dibanding aku."


__ADS_2