
"Assalamualaikum."
Kuketuk pintu tiga kali.
"Waalaikum salam. Iya tunggu."
Teriakan ibu dari dalam rumah membuat hati ini tiba - tiba saja rapuh. Tak sabar ingin segera menumpahkan rasa sedih yang berjejal dalam diri.
Seketika aku menghambur ke tubuh wanita yang melahirkanku 29 tahun silam itu saat melihatnya di balik pintu. Tangisku pecah.
Aku tergugu di pundaknya.
Dasternya basah oleh air mata yang menderas.
Ibu tak berkata apa-apa. Wanita itu hanya mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang.
Beliau tahu betul saat ini aku hanya perlu menangis. Belum tepat saatnya bertanya apa yang terjadi pada anak semata wayangnya ini. Untuk beberapa lama aku tenggelam dalam tangisan di pundaknya.
Ibu membimbingku menuju kursi di ruang tamu saat tangis ini sedikit mereda. Tangannya yang keriput mengusap air mata yang terus mengalir. Kemudian memeluk hangat tubuhku.
"Ganti baju dan istirahat dulu nduk."
Ujarnya.
Aku mengangguk.
Bergegas menuju ke kamar mandi di bagian belakang rumah. Kemudian merebahkan diri di kamar setelah berganti pakaian.
Kulihat ibu menghampiri saat aku tengah memeluk guling bersarung biru tosca.
Mengelus kembali kepalaku.
"Bapak mana bu?"
Tanyaku lirih.
"Bapak pergi ke rumah Pak Lurah. Ngurus surat keterangan."
Ucapnya lembut.
Kini kepalaku sudah berpindah dari bantal ke pangkuannya.
"Apa Bapak pernah cerita soal Azzam ke ibu?"
Terlihat ibu menghela nafas dalam.
"Iya nduk, kamu sudah tahu semua?"
Aku mengangguk. Lagi - lagi mataku basah.
"Kamu jangan marah ya sama Bapak.
Pinta Ibu. Kulihat air mata menetes di pipinya yang telah keriput.
"Ibu jangan nangis, Lila janji gak akan marah sama Bapak."
Sontak aku bangkit dan memeluk ibu erat.
Aku tak sanggup melihatnya menangis.
"Maafkan Bapakmu karena sudah mendatangi keluarga Nak Azzam. Saat itu ibu sudah melarang, namun Bapakmu ngotot pergi ke sana."
Pandangan wanita sepuh itu menerawang seperti berusaha mengingat peristiwa 3 tahun lalu.
"Bapakmu keberatan kamu menikah sama Azzam. Beliau bilang, malu sama orang punya menantu yang bapaknya pernah dipenjara."
Sesak kembali menerobos dalam hati. Seolah aku bisa merasakan sakitnya hati pemuda itu.
"Ketahuilah Nduk, setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dan Bapakmu saat itu merasa, bahwa tidak menikah dengan Azzam adalah yang terbaik untukmu."
Ibu menatapku teduh.
Merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.
"Sekarang Bapak sadar, bahwa apa yang dilakukannya saat itu adalah sebuah kesalahan."
"Tahun lalu, bapak dan ibu sudah silaturahmi ke rumah Bu Harti untuk meminta maaf. Namun belum bertemu Azzam."
"Kamu jangan bahas lagi masalah itu di depan Bapak ya."
Pinta ibu sedikit memelas.
"Iya bu."
Aku kembali memeluk erat tubuhnya.
"Kamu tahu dari mana?"
"Azzam, Bu. Dan sekarang dia udah nikah Bu."
Aku kembali terisak di pelukannya.
"Nikahnya sama Nisa Bu.. hu..hu.."
Lagi - lagi tangisku berhasil mengguncang tubuh tua ini.
Ibu mendekapku erat.
Seolah ikut merasakan kepedihan yang kini mendera gadisnya. Mengelus kepalaku, berusaha menguatkan anaknya yang saat ini ada di titik terendah dalam hidupnya. Hingga tak terasa aku terlelap di pelukannya.
Sudah 4 hari aku berada di rumah. Hatiku mulai membaik. Aku berusaha merelakan Azzam untuk pergi dari kehidupanku. Seperti yang dinasehatkan ibu padaku bahwa hidup, mati, jodoh sudah ditentukan oleh Allah. Siapapun nanti jodohku, pasti Allah mempertemukan di saat yang tepat. Nggak usah ngeyel minta sama Allah untuk dijodohkan dengan satu nama yang kita inginkan. Karena DIA tahu siapa laki-laki terbaik yang pantas mendampingi kita.
Di sisi lain sikap bapak juga sudah berubah drastis. Beliau menjadi lebih sabar. Dan seperti yang diminta ibu, aku tak mengungkit masalah kedatangan beliau di rumah Azzam 3 tahun silam.
----
Waktu menunjukkan pukul 18.00 saat aku menjejakkan kembali kaki di kota industri ini. Dari bandara aku menumpangi taksi menuju kos ku yang ditempuh selama 30 menit. Perasaanku terasa lega setelah bertemu ibu. Benar sekali apabila ada yang bilang bahwa ibu adalah pelipur lara sejati.
__ADS_1
Kini hatiku tengah berjuang mengikhlaskan takdir yang diberikan Allah kepadaku. Merelakan Azzam untuk Nisa. Meskipun nantinya butuh waktu yang tak singkat.
Menghilangkan rasa jengkel pada Nisa yang sempat merasuki jiwa. Padahal dia tidak salah dalam kisah yang begitu rumit ini.
----
"Assalamualaikum, selamat pagi Nisaa."
Teriakku dari pintu ruangan departemen kami.
"Waalaikumsalam, Ya Allah Kalila. Kamu sudah datang?"
Teriaknya dari mejanya.
Aku mengangguk seraya mengulas senyum padanya.
Kulihat Nisa sumringah.
Di matanya aku kembali menjadi Kalila yang dikenalnya dahulu.
"Lets go buka oleh - oleh."
Aku merangkulnya. Kami terkekeh.
Maafkan aku Nisa, aku janji akan tetap menjadi sahabatmu seperti dulu.
---
2 purnama berlalu sejak pertemuanku dengan Azzam di pesawat. Sampai hari ini aku tidak pernah bertemu dia lagi. Aku memilih menghindar darinya. Aku rela tak keluar kantor bersama Nisa saat jam pulang, agar tak perlu bertemu Azzam saat dia menunggu istrinya di gerbang kantor.
Aku juga selalu tak hadir dalam acara - acara yang diadakan departemen QA yang melibatkan keluarga karyawan supaya tak berjumpa dengan lelaki itu. Aku terpaksa mencari - cari alasan agar mereka tak bertanya kenapa aku selalu absen. Aku juga sering pura - pura fokus depan komputer saat jam pulang, agar Nisa tak mengajakku pulang bareng.
Semua itu kulakukan agar tak perlu bertemu lagi dengannya sehingga bisa mengeluarkan namanya dari hati.
Sampai detik ini Nisa tak mengetahui cerita masa lalu kami. Itu membuatnya tak canggung menceritakan tentang kehidupan rumah tangga barunya dengan Azzam kepadaku. Dia berkata bahwa Azzam adalah sosok yang sangat baik dan bertanggung jawab. Memperlakukan istri dengan sangat baik.
Ah Nisa, sangat beruntung bisa memilikinya.
Aku tak memungkiri, jika terkadang rasa iri dan cemburu masih saja hadir saat wanita itu bercerita tentang suaminya di hadapanku. Namun aku buru -buru menyingkirkan rasa itu dari hati.
---
"Kok kayak gak fokus tadi pas meeting?"
Tanyaku pada Nisa.
"Perut gue sakit banget Lila."
Jawabnya merintih sembari
kedua tangan memegang perut.
"Hari pertama mens ya?"
Perlahan dia mengangguk.
"Ya Allah Nis, ngapain dipaksain masuk sih?"
Selama 2 tahun bersama, aku tahu bahwa hari pertama haid adalah hari yang paling menyiksa baginya. Namun dia selalu tak bisa mengantisipasi hal itu. Siklus yang tidak teratur setiap bulannya, membuat dirinya tidak bisa memprediksi kapan hari itu tiba.
Setiap hari pertama tamu bulananya datang, dia selalu meringkuk di klinik perusahaan. Perutnya kram. Sangat sakit. Begitu yang dia rasakan. Bahkan pernah dia mengalami pendarahan saat datang bulan.
"Kalila..."
"Ya Allah, Nisa!"
Teriakku mengagetkan seisi ruang QA.
Nisa sudah terduduk lemas sambil memegangi perutnya di atas lantai keramik.
Pak Edi dan lainnya segera mengerumuni kami. Dengan sigap beliau menggendong Nisa sembari berlari ke klinik yang ada di lantai bawah.
Aku dan Mbak Myra ikut berlari mengikuti dari belakang.
"Dokter, tolong!"
Teriak Pak Edi sesampai di klinik.
Dokter dengan sigap memeriksa Nisa yang lemas seolah tak bertulang. Wajahnya pucat.
"Maaf Pak, Nisa harus dibawa ke rumah sakit. Karena dia harus segera diberi tindakan lanjutan."
Ujar dokter wanita itu.
"Baik Dok .. Myr cepat siapkan mobilmu!"
Perintah Pak Edi berteriak.
"Ya Mas."
Mbak Myra berlari keluar dari klinik menuju parkiran mobil. Aku dan Pak Edy menyusul di belakangnya dengan menggendong Nisa.
Wanita itu melajukan mobilnya dengan kencang. Beruntung saat ini siang hari, jadi jalan raya tak begitu padat dengan kendaraan. Nisa berbaring di jok tengah memegangi perutnya sambil merintih kesakitan. Keringat dingin mengucur dari tubuhnya.
"Sabar Nis ... sebentar lagi kita sampai rumah sakit."
Aku menggenggam erat tangannya. Menguatkannya.
10 menit kemudian kami sampai di rumah sakit. Beruntung para perawat dan dokter bertindak sangat sigap. Nisa segera dibawa ke UGD dan diberi tindakan.
Aku, Mbak Myra dan Pak Edy menunggu di luar ruangan dengan cemas.
Beberapa saat lamanya dokter telah keluar dari ruang UGD. Beliau menjelaskan bahwa Nisa sudah melewati masa kritis dan bisa dipindah ke ruang perawatan.
Ah, lega mendengarnya.
Kami bertiga diperbolehkan masuk ke
__ADS_1
ruang perawatan oleh dokter yang memeriksa Nisa.
Kulihat dia masih terbaring lemah dengan infus di tangan kanan.
"Nisa, syukurlah kamu sudah membaik. Tapi maaf banget aku sama Mas Edy harus segera balik kantor lagi. Ada meeting yang tidak bisa kami tinggal. Jadi gak bisa lama-lama di sini."
Ucap Mbak Myra.
"Iya Mbak. Makasih banyak Mbak, Pak Edy."
Nisa mengangguk lemah.
"Lila, tolong jaga Nisa ya. Aku sudah menghubungi suaminya, katanya sebentar lagi kesini."
Ya Allah, kenapa harus aku yang disuruh menjaga Nisa. Itu artinya aku akan bertemu Azzam lagi.
Oh tidak. Aku tidak mau!
Setengah mati aku berusaha menghindarinya selama dua bulan ini.
Kini aku dipaksa untuk bertemu dengannya. Satu ruangan pula.
"Saya juga mau bikin presentasi buat monthly meeting besok mbak."
Aku mencari alasan agar tak disuruh tetap di rumah sakit.
"Udah, biar aku minta Andi aja yang ngerjain."
Ucapan Pak Edi memusnahkan harapanku untuk melarikan diri dari tempat ini.
"Baik Pak."
Ujarku pasrah. Tak mungkin mendapatnya dala kondisi seperti ini.
Pak Edi dan Mbak Myra kini telah meninggalkan kamar Nisa. Aku duduk di samping ranjangnya.
"Elu tidur aja, biar aku jagain."
"Makasih ya Lil, maaf gue selalu ngrepotin elu."
Ujarnya lirih.
"Nggaklah Nis. Udah kamu tidur aja ya, nanti kalo suamimu datang ku bangunin."
Aku mengulas senyum untuknya.
Perempuan itu mengangguk. Kemudian memejamkan matanya. Wajahnya terlihat lelah. Mungkin karena tenaga yang terkuras saat merasakan kesakitan yang teramat sangat.
1 jam berlalu, namun Azzam tak kunjung tiba di rumah sakit.
Ish, dimana lelaki itu saat istrinya sakit?
Krieet..
Terdengar derit pintu terbuka.
Jangan - jangan itu Azzam. Kutata hati sedemikian rupa agar aku bisa menstabilkan emosi saat berhadapan dengannya. Kurapikan hijab dan bajuku. Aku harus bisa bersikap sebiasa mungkin di hadapannya nanti
"Permisi mbak, ini buat makan malam pasien."
Huftt.. ternyata suster yang datang.
Aku menarik nafas lega walaupun sempat kecele.
"Ya mbak, makasih taruh situ aja."
Suster melangkahkan kaki menuju nakas di samping ranjang Nisa, kemudian meletakkan nampan berisi makanan di atasnya.
Wanita berbaju putih itu beranjak pergi setelahnya.
Kulihat Nisa masih terpejam. Layar handphoneku menunjukkan jam 17.00. Aku beranjak dari kursi menuju ranjang kosong di sebelah. Kunaikkan tubuhku dan berbaring. Memainkan games di gawaiku.
'Hoaammm...'
Rasa kantuk mulai mendera. Azzam tak kunjung tiba. Kuputuskan untuk terpejam sebentar. Toh Nisa juga masih tidur.
Perlahan kubuka mata. Netraku mengerjap-ngerjap melihat sekeliling. Rupanya aku benar terlelap.
"Nis..Nisa!"
Teriakku saat menyadari wanita itu tidak ada di ranjangnya.
"Nisa..elu dimana?"
Aku bergegas turun dari kasur berwarna biru seraya merapikan hijab yang berantakan.
"Hei gue di kamar mandi!"
Teriakan Nisa berbaur dengan suara gemericik air yang keluar dari kran.
Aduh, kenapa anak ini tidak minta tolong.
Badannya kan masih lemes. Aku takut terjadi apa - apa dengannya. Bagaimana dia beraktivitas di toilet, sementara tangannya yang sebelah telah tertancap infus.
Hoaamm...
Dengan setengah sadar, aku buru - buru menyusulnya. Berlari kecil, aku menuju ruangan yang ada di pojok kamar ini.
Brukk!!
Aku menabrak tubuh lelaki yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Tepat di depan pintu. Tubuhku sedikit oleng saat beradu dengan tubuhnya yang besar.
Tangan kekar itu spontan memegang lengan kecilku agar aku tak terjatuh.
Harum parfum dari tubuhnya melesak ke dalam hidung. Aroma yang sangat kukenal.
__ADS_1
Aku mendongak menatapnya.
Kini wajah kami hanya berjarak beberapa centi. Sangat dekat.