
Eps. 88
Baru juga setengah perjalanan, Mas Rendy membelokkan kendaraannya di sebuah toko kue. Dia berniat untuk membelikan kue kesukaan ibunya. Tentu saja aku tahu apa kue kesukaan Bu Rita. Yaitu bolu pandan coklat dengan toping keju yang melimpah. Tentu kue itu juga aku sangat menyukainya.
"Kita mampir dulu ke sini beliin kue buat ibu."
"Iya, Mas."
Aku dan Mas Rendy bergegas masuk ke dalam tok kue. Lalu tanpa basa basi meminta karyawan toko untuk membungkus dua kotak kue bolu pandan coklat dengan toping yang melimpah.
"Lis, kamu mau sekalian beli? Bilang aja biar aku yang beliin."
"Enggak, Mas. Biar nanti saja aku beli sendiri."
"Yang penting buat ibu kamu dulu biar cepet sembuh."
Tampak Mas Rendy menghembuskan nafas dengan kasar dan tanpa membalas ucapanku tadi. Mungkin kah dia kesal padaku karena aku menolak tawaran dia. Tapi ya sudah lah, aku tidak terlalu memikirkannya.
Setelah semua sudah dibayar, kami bergegas ke parkiran. Dan segera melajukan kendaraan agar cepat sampai ke tujuan. Mengingat hari juga sudah semakin siang.
Tak butuh waktu lama, akhirnya sampai juga di rumah Mas Rendy. Saat kaki menginjakkan rumah, sepintas teringat akan sesuatu dalam fikiranku. Masa lalu yang sangat sulit sekali untuk aku lupakan. Meskipun sudah berusaha semaksimal mungkin, namun kenangan itu semakin teringat.
"Lis, kenapa kamu malah ngelamun?"
"Ayo, buruan masuk! Ibu sudah nungguin. Pasti ibu bakalan bahagia jika melihat siapa yang datang "
"Eh, i.. iya."
Mas Rendy menarik tanganku ahar aku segera masuk ke dalam. Jantung ku semakin tidak beraturan. Suasana di dalam rumah ini sama sekali tidak berubah dari dulu waktu pertama kali aku ke sini sampai sekarang. Tidak ada yang berubah sedikit pun.
Aku sampai di depan pintu sebuah kaamar. Dan Mas Rendy segera membuka pintu tersebut lalu masuk dengan menggandeng tanganku. Aku melihat Bu Rita sedang tertidur. Ku perhatikan wajahnya tampak pucat dan sedikit kurus. Aku jadi tidak tega untuk melihatnya.
"Mas, kenapa ibu nggak dibawa ke Rumah Sakit saja?"
"Wajahnya pucat banget, emang ibu sakit apa?"
Mas Rendy tertunduk dan mengusap kasar rambutnya. Lagi lagi dia menghembuskan nafas dengan kasar. Ku perhatikan tampak ada kesedihan di raut wajahnya. Aku semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
__ADS_1
"Maaf Mas, kalau boleh tahu apa kamu sedang ada masalah?"
"Kalau kamu tidak berkenan menjawab, aku nggak akan memaksa." Ku tepuk pundaknya dengan lembut.
"Bapak sudah meninggal, Lis. Dua bulan yang lalu."
"Innalillahi. Astagfirullah, maaf aku tidak tahu berita tentang itu."
"Aku turut bersedih, Mas. Semoga bapak dilapangkan kuburnya, dan kamu sekeluarga diberikan ketabahan."
"Iya, Makasih."
"Semenjak bapak meninggal, ibu jadi sering melamun. Jarang bicara, sering telat makan dan akhirnya ibu sakit."
"Aku sudah membawanya ke Dokter, bahkan ke Rumah Sakit juga pernah."
"Ibu pernah dirawat beberapa waktu. Kala itu sempat sembuh, sehat. Namun selang beberapa hari dia jatuh sakit lagi hingga sekarang."
"Dan terakhir aku mendengar ibu pernah berbicara jika dia ingin bertemu dengan kamu."
"Maka dari itu aku menyuruh kamu untuk ke mari."
"Sudahlah, yang terpenting kamu mau menyempatkan diri menjenguk ibu. Jika ibu terbangun, pasti akan bahagia dan bisa tersenyum lagi seperti dulu."
Ku remas jemari tanganku. Aku sangat merasa bersalah pada Bu Rita. Andai saja aku mau menjenguknya dari kemarin kemarin. Pasti beliau saat ini sudah bisa tersenyum.
Ya Tuhan, sungguh miris sekali mendengar cerita dari Mas Rendy. Dulu adiknya meninggal karena kecelakaan ketika pulang lamaran dari rumahku. Berikut keaadaan Mas Rendy sendiri juga amnesia karena benturan yang sangat kencang. Alhamdulillah kini Mas Rendy sudah pulih dan bisa mengingat semuanya.
Namun takdir berkata lain. Disaat Mas Rendy sudah sembuh dari amnesianya, status aku sudah menjadi istri orang. Yang tak lain adalah mantan sahabatnya sendiri, yaitu Mas Rohman.
Namun siapa sangka, cobaan Mas Rendy tak sampai di situ. Ternyata bapaknya meninggal dua bulan yang lalu. Dan kini ibunya tengah terbaring sakit dan belum kunjung sembuh. Sungguh aku tidak menyangka jika semuanya akan menjadi seperti ini. Ingin menyesal, namun itu juga percuma. Karena nasi sudah menjadi bubur, dan waktu tidak mungkin bisa diputar kembali.
Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Aku sangat turut prihatin dengan kondisi keluarga Mas Rendy saat ini. Tapi aku bisa apa untuk Mas Rendy. Aku nggak bisa berbuat banyak. Hanya mampu mendoakan, supaya Bu Rita lekas pulih kembali seperti dulu.
"Mas, aku harap kamu tetap sabar ya untuk merawat ibu. Aku yakin ibu bisa sembuh."
"Iya." Ku perhatikan wajah Mas Rendy tampak berkaca kaca.
__ADS_1
"Lis, bolehkah aku memelukmu?"
"Apa, Mas?"
"Aku tidak akan macam macam padamu. Aku hanya butuh sebuah pelukan."
"Ba... Baik, Mas." Aku dan Mas Rendy berpelukan. Aku dapat merasakan detak jantungnya yang kencang, dan tubuhnya yang hangat.
Aku tahu dia sedang dalam keadaan yang terpuruk. Dan dalam situasi seperti ini hanya sebuah pelukan yang mampu menenangkan fikiran.
Aku melepaskan pelukan Mas Rendy. Lalu aku melihat ke arah Bu Rita. Perlahan aku menggenggam telapak tangannya. Dingin yang aku rasakan. Wajahnya juga sangat pucat, kerutan juga semakin terlihat.
Aku merasakan sebuah gerakan jemari Bu Rita bergerak. Dan benar saja, tak lama setelah itu beliau terbangun dari tidurnya. Dia melihatku tanpa henti. Aku mencoba tersenyum padanya. Namun belum ada respon darinya. Mungkin beliau belum begitu fokus dengan penglihatannya karena baru bangun dari tidurnya.
"Bu..." Sapaku pada Bu Rita.
"Ini Lissa, ibu apa kabar?"
Spontan Bu Rita menangis setelah aku menyapanya. Aku sedikit takut dan segera berdiri. Aku takut jika beliau menangis karena marah padaku.
"Mas, kenapa ibu menangis?"
"Nggak apa apa, Lis. Kamu tenang saja."
"Bu, ibu kenapa menangis? Ini Lissa sudah menyempatkan diri ke mari untuk menjenguk ibu."
"Ibu hanya sedih, nak. Ibu sekarang kesepian. Ibu hanya punya Rendy saja. Bapak sudah nggak ada, adik kamu juga nggak ada." Aku tak kuasa menahan air mata ketika melihat tangisan Bu Rita pecah. Air mataku pun menetes dengan begitu saja. Melihat Mas Rendy dan Bu Rita sedang berpelukan, aku berniat pergi ke dapur untuk membuatkan makanan.
"Bu, apa ibu sudah makan?"
"Ibu tidak lapar, nak."
"Bu, ibu jangan seperti ini. Makanlah sedikit bu, supaya perut ibu terisi dan tidak kosong."
"Jangan terus terusan seperti ini. Kalau ibu nggak sembuh sembuh, apa ibu nggak kasian sama Mas Rendy."
"Mas Rendy setiap hari memikirkan ibu. Dia berharap ibu bisa sembuh, dan bisa tersenyum lagi seperti dulu."
__ADS_1
Tangisan Bu Rita kembali pecah. Beliau kembali memeluk Mas Rendy dengan mengusap rambutnya. Aku semakin tidak kuat untuk menyaksikan kejadian yang mengharukan ini. Semoga saja setelah aku ke sini, Bu Rita mau makan agar cepat pulih seperti dulu.