Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Bagian 12


__ADS_3

"Saya, Dok."


Jawab lelaki itu takzim.


"Puji Tuhan operasi Bu Nisa berjalan lancar."


Ujar dokter itu tersenyum.


"Sebentar lagi bisa dipindah ke ruang perawatan."


Jelas dokter.


"Alhamdulillah, Terimakasih banyak bantuannya, Dok."


Azzam menangkupkan kedua tangan dengan badan yang sedikit membungkuk.


"Sama-sama,"


Ujar dokter. Lelaki bergelar SpOg itu kemudian meninggalkan kami.


Ya Allah, terimakasih.


Lega rasanya mendengar operasi Nisa berhasil.


Sesaat aku dan Azzam saling berpandangan. Mata teduh itu menatapku penuh arti.


Cepat-cepat aku menunduk. Agar tak berlama-lama menatap netra milik lelaki itu. Entah kenapa aku masih belum bisa bersikap wajar di hadapannya.


***


Tiga hari sudah aku menemani Nisa di rumah sakit. Menumpang di rumah Mbak Myra, karena aku tak mungkin seharian bersamanya.


Dan selama itu pula Mas Kamal tidak menghubungiku sama sekali. Akupun takut mengirim pesan atau menelponnya duluan. Khawatir ada rasa tidak nyaman pada Mas Kamal. Mungkin benar pria itu kecewa atas kejadian beberapa hari lalu. Dan memutuskan untuk menjauh dariku.


Mungkin memang bukan pria itu jodoh yang disiapkan Allah untukku.


"Nisa aku pamit ya,"


Pamitku pada Nisa siang ini.


Karena kondisi Nisa yang berangsur membaik, aku memutuskan untuk kembali ke Surabaya.


"Buru-buru banget. Nggak nunggu Azzam dulu."


Aku menggeleng.


"Gue udah tiga hari di sini, gak enak kalo lama-lama."


"Baiklah, maaf banget udah ngrepotin ya."


Ujarnya seraya memelukku.


"Selama aku bisa, aku pasti ada untuk elu."


Aku membalas pelukkannya.


"Salam buat Azzam ya."


Uucapku seraya merapikan pakaian yang sudah masuk ke koper.


Azzam saat ini sudah masuk bekerja kembali. Dia hanya diizinkan cuti 3 hari untuk menemani istrinya di rumah sakit.


***


Aku seperti dejavu saat menyusuri lorong ruang tunggu Hang Nadiem. Pikiranku melesat ke kejadian beberapa bulan lalu. Saat pertama aku bertemu Mas Kamal di tempat ini. Lelaki menawan yang bisa membuatku move on dari Azzam.


Namun sepertinya hal itu akan segera berakhir. Sampa saat ini pria itu tak menghubungiku lagi. Tak seperti saat sebelum Azzam hadir di depan kami. Dulu pria itu kerap menghubungi, meskipun hanya melalui pesan di ponsel.


Dua jam perjalanan kulalui dengan memejamkan mata. Berusaha untuk tidak menyesali kedatangan Azzam yang merusak semua rencana kami.


Karena aku sadar, semua tak akan terjadi tanpa izin Allah. Hidup, mati jodoh sudah diatur olehNya. Tak mungkin kita bisa merubah. Jika benar Mas Kamal bukan jodohku, aku ikhlas.


Gontai aku melangkah keluar dari ruang kedatangan bandara Juanda. Mencari taksi untuk mengantarku pulang ke rumah.


"Kalilaa..!"


Seseorang berteriak di depan trolly yang berjajar rapi di area luar bandara.


"Mas Kamal."

__ADS_1


Pekikku.


Mataku mengerjap setengah girang. Ternyata prasangkaku tidak terbukti. Lelaki itu kini berdiri menyambutku.


Kurasa ratusan bunga kini bertaburan di hatiku.


Segera kudorong troliku ke arahnya.


Senyum lelaki itu mengembang bahagia.


Sama bahagianya dengan aku saat ini.


"Kok tahu aku di sini?"


Tanyaku heran saat sudah berada di hadapannya.


Pria itu menyodorkan hapenya kepadaku.


"Nih.."


Ujarnya tersenyum.


Di layar ponsel terlihat fotoku yang tengah berada di Bandara Hang Nadiem yang terpasang di medsosku dengan caption.


#Welcome to Surabaya again


"Ishh..kepoo banget sih."


Ujarku nyengir.


"Makanya jangan update status melulu. Diculik orang baru tahu rasa."


Ujarnya terkekeh.


"Untung sekarang yang nyulik ganteng ha..ha..ha!"


Kulihat pria itu terbahak sembari ngeluyur mendorong troliku menuju mobilnya.


"Apaan sih..."


Aku mengejarnya dari belakang.


Ujarnya seraya membuka pintu mobil untukku.


Aku tersipu malu. Menatap wajah calon imamku yang penuh cinta.


Kemudian mengambil duduk di kursi depan.


"Aku nganter sekalian ketemu Bapak ya Lila."


Ujarnya seraya mengenakan seat belt.


Aku mengangguk "Boleh."


Kemudian mengulas senyum pada pria di sampingku.


Pria itu membalas dengan senyuman yang teramat manis. Ah, sungguh membuat hati ini meleleh.


30 menit kemudian kami sudah berada di depan halaman rumahku. Aku turun dari mobil. Sementara Mas Kamal mengambil koperku dari bagasi mobilnya.


"Assalamualaikum."


Ujarku seraya mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam."


Suara derap langkah kaki ibu mengarah ke ruang tamu.


"Lho udah pulang nduk? Gimana Nisa?"


Tanya ibu memberondongku. Kucium tangan wanita itu.


"Lho ada Nak Kamal, mari masuk dulu,"


Mas Kamal mengangguk. Kemudian mengikutiku mencium tangan ibu.


"Alhamdulillah Nisa udah sehat Bu."


Jawabku sambil merebahkan diri di sofa. Perjalanan Batam Surabaya membuat diri ini sedikit lelah.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Terus Azzam gimana?"


"Ya gitulah Bu,"


Jawabku pendek. Sepintas kulihat Mas Kamal melihatku dengan tatapan penuh tanda tanya. Seperti ada yang mau dia tanyakan kepadaku.


"Bapak mana Bu?"


"Di rumah sakit. Jenguk Pak RW yang lagi dirawat,"


"Wah bakal lama ini."


Ujarku seraya melihat ke arah Mas Kamal.


"Ada apa to? Nak Kamal mau ketemu Bapak?"


Tanya Ibu. Aku memang belum sempat memberitahu Bapak dan Ibu tentang niat Mas Kamal untuk melamarku. Biarlah lelaki itu yang mengatakan hal itu kepada mereka.


"Iya Bu."


Jawab Mas Kamal.


"Ada apa Nak Kamal?"


"Saya ingin meminta izin untuk melamar Kalila Bu."


Ucapnya takzim.


"Ya Allah Nduk!"


Ibu menatapku teduh. Kulihat matanya dipenuhi embun yang siap menjatuhi pipinya yang mulai keriput.


"Bener Nak Kamal?"


Tanya Ibu seolah tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.


"InsyaAllah Bu."


Mas Kamal mengangguk dengan mantap.


Tak terasa hati ini gerimis mendengar perkataanya.


"Alhamdulillah Nduk."


Ujar ibu merengkuhku ke dalam pekukannya. Lirih beliau terisak. Air mata bahagia mengalir dari netranya. Ibu merasa hari ini Allah telah mengabulkan doa-doa yang selalu dia langitkan kepada Allah. Doa agar anaknya segera dipertemukan dengan sang imam.


Begitu juga dengan diriku. Tak terasa bulir bening menetes ke pipi.


"Ya sudah tunggu, Ibu telpon Bapak dulu."


"Kalo masih lama gak usah Bu, nggak apa-apa. InsyaAllah besok saya ke sini lagi dengan Paklek."


"Walah..ya sudah kalo gitu Nak Kamal."


"Kalo gitu saya pamit dulu Bu, Kalila aku pamit sekarang aja ya."


Mas Kamal bangkit dari duduknya mencium tangan Ibu.


Aku segera berdiri "Iya Mas, hati-hati ya."


Segera aku mengiringi lelaki itu melangkah menuju mobilnya.


"Besok aku kesini lagi ya, jangan keluyuran...ha..ha..ha.."


Ujarnya terbahak.


"Ish..emang aku ayam keluyuran."


Lagi-lagi pria itu tergelak. Kemudian beranjak masuk ke dalam mobil.


"Assalamualaikum calon istri."


"Waalaikumsalam."


Jawabku tersipu. Kulihat senyum lelaki itu merekah. Dia melambaikan tangan kemudian melajukan mobilnya.


Astaga, kenapa jantung ini serasa mau copot. Apa aku terlalu bahagia?


Ah rasanya tak sabar menunggu esok hari.

__ADS_1


__ADS_2