
Eps. 82
"Mas."
"Iya, sayang. Ada apa?"
"Aku... aku minta maaf, ya?"
"Maaf? Untuk apa, sayang?"
"Ehm.. Aku.."
"Katakan, sayang. Kamu kenapa?"
"Ehh, enggak apa apa. Aku hanya mau minta maaf sama kamu, mas. Karena udah curiga sama kamu."
"Sudahlah sayang, tidak perlu dibahas lagi. Lebih baik kita istirahat saja. Besok kan mau jalan jalan lagi, masih ada tempat yang mau kita kunjungi."
"Iya, Mas."
"Sini, sayang."
Aku tidur dalam pelukan Mas Rohman. Kurasakan kehangatan pada tubuhku. Dan mata ini semakin lama semakin redup karena tak mampu lagi untuk terjaga. Akhirnya aku mulai tertidur. Begitu juga dengan Mas Rohman.
**********
Sorot sinar matahari masuk melalui celah kaca. Sehingga mmembuat mataku sedikit silau. Aku terbangun dari tidurku. Tak ku dapati Mas Rohman di sebelahku. Entah dia sedang berada di mana.
Aku bergegas mengambil ponsel. Mungkin saja Mas Rohman mengirimkan aku sebuah pesan. Kebetulan sudah dua hari ini aku tidak membuka ponsel. Karena begitu bahagianya, hingga lupa tidak membuka pesan.
Dan benar saja, chat masuk sudah menumpuk banyak. Ku baca satu persatu pesan. Mulai dari Mas Rohman, karena dia suami aku. Walaupun pesan dari Mas Rohman tidak berada di bagian paling atas. Tapi aku tetap memilih untuk membukanya terlebih dahulu.
[Sayang, aku keluar sebentar buat cari makan sama minum.] Pesan dari Mas Rohman.
[Mbak, kapan pulang ke Salatiga?] Dari adikku
[Say, kamu apa kabar? Aku kangen sama kamu.] Pesan dari sahabatku, Rere.
[Woii, kemana aja? Sombong sekali, mentang mentang udah ada suami sekarang nggak pernah menyapa aku.] Pesan dari Andry
[Nak, adik kamu minta dibelikan brownis Tugu Jogja katanya.] pesan dari ibu mertuaku.
[Lis, kamu sedang berlibur dengan Rohman?] Pesan dari Mas Rendy.
[Ibuku lagi sakit, pengen sekali ketemu sama kamu.]
__ADS_1
Apakah benar ibunya Mas Rendy sedang sakit. Atau itu hanya akal akalan Mas Rendy saja biar bisa bertemu denganku. Fikiranku kembali kacau saat semua sudah baik baik saja.
Tapi jika memang benar Bu Rita sedang sakit, apakah aku harus menjenguknya. Karena kata Rendy itu adalah permintaan dari ibunya. Aku serba bingung sendiri jadinya.
Apa mungkin aku harus meminta ijin dulu sama Mas Rohman saja ya. Mungkin dia mengijinkan jika memang Bu Rita benar benar sakit dan ingin bertemu denganku.
Aku mulai membalas satu persatu pesan yang masuk tadi. Takut disangka sombong atau gimana gimana sama yang sudah kirim pesan.
[Iya, Mas. Jangan lama lama, ya.] Pesan untuk Mas Rohman.
[Belum tahu, ini aku masih di Jogja.] Pesan untuk adikku.
[Hallo say, maaf aku akhir akhir ini jarang sekali pegang ponsel. Kabar aku baik baik saja. Kamu bagaimana? Aku juga kangen banget sama kamu. Kapan kita bisa ketemu, pengen banget kumpul sama kalian lagi seperti dulu.] Pesan untuk Rere, sahabatku.
[Maaf Ndry, aku nggak ada maksud buat lupa sama kamu. Tapi aku jarang banget pegang ponsel.] Pesan untuk Andry.
[Iya, Mas aku lagi di Jogja. Mas Arman yang mengajak aku. Apa beneran ibu kamu lagi sakit, Mas?]
[Atau ini hanya akal akalan kamu saja biar bisa bertemu sama aku?]
[Tapi jika memang benar ibu kamu lagi sakit dan mau ketemu aku, aku mau minta ijin sama Mas Rohman dulu untuk menjenguknya.]
Aku keluar dari aplikasi whatsap. Lalu aku bergegas membersihkan diri. Guyuran air hangat membuat tubuhku terasa hangat. Fikiranku yang tadinya kacau, sekarang menjadi lebih tenang.
Saat aku selesai mandi, aku sudah mendapati Mas Rohman sudah duduk di sofa. Dia nampak memainkan ponselnya. Entah dia swdang menghubungi siapa aku juga tidak tahu. Namun aku tidak terlalu memperdulikan itu semua.
"Kok kamu tadi tidak bangunin aku, Mas?"
"Kan kamu masih tidur, sayang. Kasian kamu kalo aku bangunkan."
"Kan aku pengen ikut jalan jalan ke luar, Mas."
"Iya, maaf sayang." Sentuhan hangat tangan Mas Rohman mampu meluluhkan hatiku.
"Iya udah, Mas. Kamu beli apa?"
"Beli bubur ayam sama teh hangat. Ini ada roti juga misalkan kamu nggak mau makan bubur."
"Nanti pasti akan aku makan semua, Mas."
"Makan yang banyak, sayang."
"Iya, Mas."
Mas Rohman membukakan satu bungkus bubur ayam. Lalu memberikannya padaku. Aku bergegas memakannya karena memang aku juga sangat lapar sekali.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu akan menjenguk ibunya Rendy yang lagi sakit?"
Sontak aku terkejut dengan ucapan Mas Rohman. Dari mana dia tahu jika ibunya Mas Rendy sedang sakit dan ingin bertemu dengan aku. Apa jangan jangan Mas Rohman sudah baca pesan di ponselku. Karena memang posnel milikku aku letakkan di meja dan itupun tanpa aku sandi.
"Kamu kenapa terkejut begitu, sayang?"
"Mas, kamu.."
"Iya, sayang. Maafkan aku karena sudah lancang buka buka ponsel kamu."
"Awalnya aku hanya iseng saja pengen lihat lihat. Tapi aku tidak sengaja buka pesan kamu. Dan aku sudah baca semuanya."
"Ma... maaf, Mas. Aku tidak ada maksud apa apa. Silahkan kalau kamu mau marah sama aku, Mas."
"Ssstttt.., sudah sayang kamu jangan bicara seperti itu lagi. Aku memang suami kamu, tapi aku juga tidak bisa mengekang kamu. Karena kamu juga butuh kebebasan."
"Sayang, aku mencintai kamu sangat tulus sekali. Aku hanya ingin kamu menjadi satu satunya orang di hati aku. Begitu pupa sebaliknya, aku harap kamu juga begitu."
"I... iya, Mas."
"Apa kamu mau menjenguk ibunya Rendy, sayang?"
"Ehm, aku.. aku tidak tahu, Mas."
"Tidak perlu sungkan, sayang. Berangkatlah jika kamu ingin menjenguknya. Bawakan sesuatu yang pantas untuk dibawa."
"Kamu memberi ijin, Mas?"
"Jika niatmu hanya untuk menjenguk ibunya Rendy, tentu aku akan mengijinkan kamu. Meskipun aku takut jika kalian nanti akan bertemu."
"Tapi aku akan tetap selalu percaya padamu, sayang."
"Terimakasih, Mas. Kamu sudah percaya sama aku. Kamu memang lelaki yang paling baik. Meskipun...."
Tak lagi aku lanjutkan kata kataku. Karena aku takut jika apa yang pernah aku lakukan tanpa sepengetahuan Mas Rohman terbongkar semuanya. Aku yakin, meskipun Mas Rohman sangat baik, pasti dia bisa marah juga.
"Meskipun apa, sayang?"
"Tidak, Mas. Tidak perlu dibahas lagi. Itu tidak penting, kok."
"Kamu itu malah bikin Mas jadi penasaran saja, sayang."
"Kita lanjutkan makan saja, Mas. Nanti keburu dingin malah tidak enak jadinya."
Mas Rohman tersenyum padaku. Dan kami berdua kembali melahap sarapan pagi yang sudah dibeli tadi. Tak ada lagi yang kami bahas dan seketika makanan kami habis tidak tersisa.
__ADS_1
Selang beberapa jam, aku beberes barang barangku karena siang ini akan chek in. Dan akan mengunjungi wisata lain di kota Jogja ini. Aku memilih pergi ke Candi Prambanan saja. Karena sudah kama sekali tidak ke sana. Terakhir aku berkunjung saat aku masih kelas enam SD.