Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 89


"Ibu, Mas Rendy aku permisi ke dapur dulu. Aku mau masakin buat ibu." Saat aku hendak melangkah pergi, tiba tiba Bu Rita memanggil aku. Dan aku pun menahan langkah ku.


"Tunggu, nak."


"Iya, bu. Ada apa? Apa ibu butuh sesuatu?"


"Kemari lah, nak. Duduklah di samping ibu." Aku pun berjalan lalu duduk di samping Bu Rita sesuai dengan permintaannya.


"Iya, Bu. Ada apa?" Bu Rita menggenggam erat jemariku. Beliau juga mengelus perutku yang kin sudah semakin membesar.


"Nak, ibu kangen sekali sama kamu."


"Tidak bisakah kamu di sini menemani ibu?"


Entah mengapa aku bulu kudukku berdiri setelah mendengar ucapan beliau. Jantungku juga berdebar tak karuan.


"Bu, sebelumnya aku minta maaf yang sebesar besarnya."


"Bukan maksud aku tidak mau menemani ibu. Tapi ibu tahu sendiri jika aku sudah bersuami."


"Sepertinya sangat tidak mungkin jika aku di sini lama lama, bu. Karena suami aku juga membutuhkan aku."


"Maafin Lissa, Bu."


Tanpa basa basi Bu Rita memelukku. Aku dapat merasakan jika beliau sedang menangis meskipun tanpa suara. Yang aku katakan memang benar, aku tidak mungkin berada di sini lama lama. Karena ada Mas Rohman yang membutuhkan aku.


"Sudah, ibu jangan menangis."


"Lissa janji, nanti akan coba bicara baik baik sama Mas Rohman. Siapa tahu nanti Mas Rohman memberikan ijin untuk aku sering sering datang ke mari merawat ibu sampai sembuh."


Mendengar perkataan aku, dapat ku lihat senyum Bu Rita. Wajahnya tampak bahagia sekali. Dan aku juga dapat melihat Mas Rendy yang tadinya murung sekarang tampak bahagia.


"Lis, aku ada tawaran buat kamu."


"Tawaran apa itu, Mas."


"Apa tidak sebaiknya kamu bekerja saja di sini menemani ibu."


"Hanya menemani ibu saja, tidak dengan melakukan pekerjaan yang lain."


"Ehm, maaf Mas bukan aku menolak tawaran kamu. Tapi ada baiknya aku ijin dulu sama Mas Rohman."


"Takutnya nanti ada salah faham jika aku tidak ijin."


"Ya sudah, baiklah kalau begitu. Aku tunggu kabar baik dari kamu."

__ADS_1


"Iya, Mas. Ya sudah, kalau begitu aku pamit ke dapur dulu."


Aku melangkah keluar dari kamar dan menuju dapur. Ku buka kulkas dan terdapat beberapa bahan makanan yang bisa dimasak. Ada ayam potong dan tempe. Aku masih berfikir, enaknya dibuat apa dengan dua bahan ini.


'Lebih baik aku bikin soto ayam saja. Simple tapi seger.'


Aku mulai meracik bumbu dapur dan mulai memasaknya. Kurang lebih satu jam aku berada di dapur, dan alhamdulillah soto ayam dan tempe goreng sudah aku hidangkan di meja makan.


Aku brgegas kembali ke kamar Bu Rita untuk memberitahu jika makanan sudah siap. Semoga saja Bu Rita mau makan makanan buatan aku.


"Ibu, Mas Rendy, makanan sudah siap. Sebaiknya makan dulu selagi masih hangat.


"Makasih ya, nak. Ibu jadi merepotkan kamu."


"nggak apa apa, Bu. Cuma masak saja aku juga bisa walaupun rasanya nggak ada istimewanya."


"Jangan ngomong seperti itu, apapun itu makanannya selagi layak untuk dimakan harus disyukuri."


"Ya sudah, mari bu saya bantu jalan."


Bergegas aku menuntun Bu Rita untuk aku bawa ke ruang makan. Dapat ku rasakan genggaman erat dan hangat dari telapak tangannya. Ku tarik kursi dan ku persilahkan Bu Rita untuk duduk. Tak sampai di situ, aku juga mengambilkan nasi beserta soto ayam dan tempe gorengnya.


"Ini bu, silahkan dimakan. Semoga ibu suka."


"Iya, nak."


"Kamu mau diambilin juga, Mas?"


"Ya sudah, kalau begitu aku mau nyuapin ibu saja. Supaya ibu makannya banyak."


"Jangan, nak. Ibu bisa makan sendiri. Lebih baik kamu juga makan saja."


"Benar kata ibu, Lis. Lebih baik kamu juga ikut makan. Kamu pasti lapar, sini aku ambilkan."


"Nggak usah, Mas. Aku bisa ambil sendiri."


Segera aku ambil nasi beserta kuah soto yang masih panas. Dan kami bertiga makan bersama. Dan dapat ku lihat raut wajah Mas Rendy tampak bersedih. Matanya pun berkaca kaca.


"Mas, apa kamu baik baik saja?"


"Iya, aku baik baik saja."


"Lalu, kenapa kamu tampak sedang sedih?"


"Aku... Aku hanya saja teringat saat kita makan bersama dulu."


"Saat masih ada bapak dan adikku, Lis."

__ADS_1


Lagi lagi aku tak kuasa mendengar kesedihan Mas Rendy. Ingin sekali aku meneteskan air mata ini, namun aku malu dengan keadaan. Keluarga Mas Rendy sangat baik sekali padaku. Dulu sampai sekarang aku sudah bersuami juga sifatnya tidak berubah. Tetap memperlakukan aku dengan baik.


"Mas, jangan kamu ingat ingat terus. Aku tahu itu sangat menyedihkan."


"Tapi alangkah baiknya kamu doakan bapak dan adik kamu. Supaya mereka tenang di sana."


"Kamu itu harus bangkit dari keterpurukan, Mas. Kamu harus semangat untuk menjalani semua ini."


"Ingat Mas, masih ada ibu yang harus kamu jaga dan kamu rawat."


"Iya, Lis. Kamu bener, aku harus bangkit."


"Ibu juga, ibu nggak boleh terus terusan seperti ini. Ibu juga tetap harus bangkit lagi."


"Kasian Mas Rendy, Bu. Dia sangat sedih dan khawatir sama ibu."


Bu Rita menggenggam erat tanganku. Lagi lagi beliau meneteskan air matanya. Lalu beliau memeluk aku dengan erat. Segera ku usap air mataku yang menetes di pipiku. Supaya tak terlihat oleh Bu Rita dan Mas Rendy jika aku sempat menangis.


Setelah akuenasihati Bu Rita dan Mas Rendy, kami melanjutkan makan bersama. Alhamdulillah ibu mau makan dan dia bilang makanan yang ku masak sangat enak sekali. Ibu juga makan dengan lahapnya. Melihatnya seperti ini aku turut bahagia. Akhirnya ada kemajuan pada ibu.


Waktu sudah semakin siang. Dan aku sampai lupa membuka ponsel. Aku bergegas mengambil ponsel di dalam tas yang aku bawa. Aku takut jika ada pesan penting dan belum aku buka. Terutama dari Mas Rohman.


Dan benar saja, ada beberapa kali panggilan dan beberapa chat masuk dari Mas Rohman. Aku buru buru membalasnya. Karena tadi aku juga lupa mengabari kalau aku pergi ke tempat Mas Rendy untuk menjenguk Bu Rita.


[Sayang]


[Jangan lupa makan siang]


[Sayang, kenapa pesanku tidak kamu balas?]


[Kamu masih marah sama aku, sayang?]


[Mas minta maaf.]


[Sayang, kamu ke mana? Kenapa teleponku tidak kamu angkat?]


Aku sangat merasa bersalah pada Mas Rohman karena mengabaikannya. Aku benar benar kelupaan, karena tidak memberitahu jika aku akan pergi tadi. Aku pun segera membalas pesan darinya.


[Mas, maaf aku lupa mengabari kamu tadi karena aku buru buru.]


[Maafin aku, Mas karena aku pergi tidak pamit kamu terlebih dahulu.]


[Aku sedang berada di Rumah Mas Rendy untuk menjenguk Bu Rita.]


[Sekali lagi maaf, Mas.]


Tak berselang lama balasan pesan darias Rohman Masuk. Mungkinkah dari tadi Mas Rohman menunggu balasan pesanku hingga ponselnya stanby.

__ADS_1


[Cepat pulang, sayang. Kamu jangan capek capek, nanti bisa sakit.]


[Atau perlu aku pesankan taxi online untuk menjemput kamu?]


__ADS_2